Loading...

Monday, August 27, 2007

Kebo Dungu


Tukang bubur keliling di bilangan pasar Minggu, Rabu pagi lalu, tiba-tiba menjadikan kelangkaan minyak tanah sebagai sarana marketing. “Bubur! Bubur! Ayo makan bubur saja, tidak ada minyak. Yang tak bisa masak ayo semua makan bubur!”

Sekilas, Pak Min, penjual bubur itu seperti sedang bercanda. Tetapi lama-kelamaan, sepanjang jalan yang melintas di gang kontrakan padat di Sebret Dalam Pasar Minggu, suaranya terus meneriakkan penawaran itu. Mendengarnya, ingin mulut terbahak. Tapi malu, karena ucapan Pak Min benar adanya. Sudah dua minggu lebih, di kampung sebret dalam saja, minyak tanah lenyap. Belum daerah lain khususnya di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Di Sebret Dalam, sudah beberapa pagi tak ada nasi uduk. Banyak pedagang gorengan juga tak jualan. Belum lagi pedagang makanan kecil lainnya. Di kampung Pulo Kecil, Sukawijaya, Bekasi, sebagian besar masyarakat malah sudah sebulan masak menggunakan dedak (kulit biji padi).

Jika tak kepepet orang jarang mau masak pakai dedak. Masalahnya, nyalanya redup dan perlu waktu cukup lama untuk mematangkan masakan. Di sebagian desa di Jawa, biasanya dedak dibakar di kandang sapi untuk menghangatkan sapi dan mengusir nyamuk.

Di sengaja dan tidak, realita orang terbelit minyak tanah ikut memeriahkan pesta kemerdekaan Bangsa Indonesia ke-62. Sebuah usia yang makin tua, namun tetap susah karena ditingkahi kenakalan anak cucunya yang gemar korup dan bertengkar rebutan bangkai saudara sendiri.

Antrian minyak tanah yang mengular, mirip jalan pakai bangkiak panjang saat lomba Agustusan. Tapi bangkiak dari besi baja, yang berat untuk diangkat, apalagi diayunkan ke depan. Karena tak kuat mengangkat, wajah mereka meringis dan peluhnya bercucuran. Anehnya, wajah-wajah menyedihkan ini, ada yang menggemarinya sebagai tontonan. Orang kesusahan dianggap lucu, tak jarang ada yang tertawa terpingkal-pingkal.

Minyak tanah, bagi warga miskin sudah urat nadi. Maka, sebagian kalangan memandang, minyak tanah sebagai simbol kemiskinan. Lantas, agar simbol itu hilang minyak tanah dilenyapkan dari area jantung Ibukota. Para inisiator yang menelorkan pelenyapan minyak tanah ini, tentu sudah menghitung dengan cerdas dan detail. Hanya, yang terlewat, mereka sangat kelihatan bukan orang yang paham kemiskinan. Akibatnya, keputusan ini bukan membantu pemerintah mengurangi kemiskinan, malah menambah dendam sosial yang makin menggunung. Pemerintah, makin dicap sebagai pihak yang tambah terang-terangan tidak berpihak pada rakyat kecil.

Mengganti minyak tanah dengan gas, diyakini pemerintah nilainya lebih hemat. Tapi pemerintah lupa, apakah membeli gas bisa dengan eceran seperti membeli minyak tanah satu liter. Membeli sesuai dengan lembar rupiah kumal, yang terselip di saku lusuh keluarga miskin. Pemerintah jadi seperti memaksakan standar hidup keluarga miskin, untuk mengejar standar hidup orang kaya. Ini sungguh tidak manusiawi.

Terus Berkorban

Kapan sebenarnya pemerintah ini mau berpihak pada rakyat kecil. Mengapa juga gemar melihat orang hidup sengsara, sementara sebagian lain gemar pamer kekayaan. Kurang apa lagi, pengorbanan rakyat kecil di negeri ini untuk bangsanya?

Kemana juga para wakil rakyat itu, di tengah keperihan para konstituennya yang sedang butuh teman mengadu. Parlemen seperti adem ayem, melihat rakyat kelabakan. Tiap yang menyentuh esensi dasar hidup rakyat, anggota dewan kerap membisu. Pura-pura sibuk dan tak mau tahu. Sebaliknya, jika menyangkut urusan dapur pribadi, gigihnya luar biasa. Bahkan, untuk perkara selingkuh, parlemen amat cekatan menyikapinya.

Wajar, jika Wibisono, pedagang nasi goreng di bilangan Mampang Prapatan meradang hebat.

“Apa maunya pemerintah ini! Saya perasaan tidak pernah merepotkan negara, kok malah hidup saya diacak-acak. Ditindas terus menerus, punya wakil rakyat juga loro untu kabeh (sakit gigi semua), tak ada yang becus. Rakyat kecil diproyekin terus”, umpat bapak tiga anak asal Jawa Timur yang sudah seminggu tidak jualan itu.

Menurut Wibisono, rakyat kecil selama ini sudah sabar narimo. Tetapi, makin hari ketenangan hidup rakyat kecil terus diobok-obok. Ia mengibaratkan, selama ini rakyat kecil ibarat kebo (kerbau).

Wong cilik seperti saya ini tidak ada bedanya sama kebo (kerbau). Dikasih rumput dimakan, tidak dikasih ya diam saja. Habis mau apa lagi, wong kondisi ekonomi sulit seperti ini. Arep gae ontran-ontran mundak nambah sengsoro (mau membuat ribut malah bikin sengsara)” kata Wibisono kesal.

“Tapi mas, kalo kebonya itu dipecuti (dicambuk) terus-terusan tidak dikasih makan, sing angon (gembalanya) seperti drakula. Tapi jangan kuatir, itu jika sing angon sudah benar-benar mau mbeleh (menyembelih), baru resolusi (revolusi maksudnya)”, sindirnya.

Wibisono, ingin suaranya didengar pemerintah dan wakil rakyat. Pesan yang disampaikan itu sarat makna. Rakyat kecil, hingga titik nadir masih memilih hidup damai, ketimbang revolusi. Tetapi, pejabat juga jangan menjadi “kebo dungu”. Saat rakyat kesulitan, makan tetap kenyang dan tidur nyenyak.

Bukankah Indonesia baru dikuliahi Muhamad Yunus. Peraih nobel dan perintis Grameen Bank, yang sukses memberdayakan masyarakat bawah Bangladesh. Muhammad Yunus sebagai milyarder memilih hidup sederhana, dan memperlakukan hartanya lebih banyak untuk beramal.

Demikian juga Nabi Muhammad saw. Sambil menolak kasur empuk pemberian seorang wanita Anshar, Nabi Muhammad berkata pada istrinya, ‘’Duhai Aisyah, demi Allah, jika aku mau pasti Allah akan menghidangkan kemewahan dunia. Semua itu telah disediakan Allah, tapi aku tidak mau.’’

Sampai meninggalnya, Nabi Muhammad Saw masih menggadaikan baju besinya pada seorang Yahudi. Tapi, bukan berarti beliau tidak kaya semasa hayatnya. Beliau mendapat penghasilan besar dari rampasan perang. Sering juga Nabi menerima hadiah dari umat yang sangat mencintainya. Tapi hampir semuanya Rasulullah infakkan.

Kini, tatkala dapur-dapur rakyat kecil sulit ngebul, pengorbanan apa yang akan diberikan pemimpin di negeri ini. Sekali lagi, jangan melulu rakyat kecil berkorban habis-habisan. Bangunlah, jangan nyenyak jadi kebo dungu.

Read More......

Merangkai Harapan di Tanjung Tiram





Program Dompet Dhuafa Republika untuk wilayah Indonesia Timur, tidak hanya menyentuh Flores dan Papua. Pada 2006, pendayagunaan zakat ini juga masuk ke Kabupaten Konawe Selatan, Kendari, Sulawesi Tenggara. Program yang dijalankan, pemberdayaan budidaya rumput laut.

Pendampingan program dilakukan melalui, Program Bina Masyarakat Mandiri, Desa Tanjung Tiram, Moramo, Konawe Selatan. Terdapat 45 Kepala Keluarga (KK), atau 30 persen dari jumlah penduduk miskin di desa itu. Keberadaan desa yang berada di wilayah pesisir, amat menunjang kelangsungan program ini. Dampak ekonomi sudah terlihat, setelah para petani rumput laut memetik panen tiap 40 hari sekali.

Menurut Ahmad Ismean, pendamping masyarakat Tanjung Tiram, sejak DD mengawali program budidaya rumput laut di desa itu, dampaknya mempengaruhi masyarakat lainnya. “Sekarang hampir 90 persen warga sini menanam rumput laut, mereka melihat keberhasilan warga yang ikut program DD sebelumnya”, Ahmad Ismean mengungkapkan.

Hal ini juga diakui Samudi, ketua induk dan ketua kelompok Program Bina Masyarakat Mandiri. Ia mengaku rata-rata petani sekali panen dapat uang Rp 1 juta. Bagi masyarakat Tanjung Tiram, penghasilan sebesar itu sudah lebih dari cukup. Penerima program ini, kebanyakan warga dari daerah Raha. Sebuah wilayah minus, tandus, dan sulit air. Raha yang tandus, diakui warga setempat, kampung asal Wakil Ketua DPD, Laode Ida.

Tak lupa, Wanasia (21), salah seorang ibu petani berpesan untuk DD. “Terima kasih bantuan DD, semoga dompetnya tambah tebal”, katanya terkekeh. Mendengar itu, Samudi geli. Lantas menimpali. “DD tidak punya dompet, yang tambah tebal dompet donaturnya”.

Perbincangan segar di bawah rindang pohon bakau hari itu, amat berkesan. Sembari memanen rumput laut.

Read More......

Sekolah Gratis Laode Ardin


Angin yang berhembus kencang, membuat kibar bendera merah putih makin menampakkan kewibawaannya. Meski langit di atas Desa Watubangga, Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara sedang gelap. Di bawah sang saka itu, 52 anak Tsanawiyah dan Ibtidaiyah, mendongak ke langit memberi penghormatan. Upacara peringatan 17 Agustus di Yayasan Anshorullah pagi itu, berlangsung khidmad.

Yayasan ini, mengelola sekolah gratis untuk anak-anak kurang mampu dan yatim piatu. Resmi berdiri pada 2004, dikelola oleh sepasang suami istri, Laode Ardin dan Endang Salmiati. Dalam serba keterbatasan, sekolah berdiri di atas lahan 1880 meter persegi. Sebagian wakaf seorang donatur, separonya dibeli dari kocek Laode pribadi. Bahkan masih ada tunggakan, untuk membebaskan tanah itu. Terdapat tiga lokal bermaterial dinding kayu dan atap seng. Satu lokal untuk masjid, luasnya mampu menampung sekitar 40 jamaah sholat. Sementara dua lokalnya, untuk ruang kelas dan tempat tinggal Laode bersama istri dan enam anaknya. Lokasi yayasan, berada lebih kurang 10 kilo meter dari Bandara Wolter Munginsidi, Kendari.

Pendirian sekolah ini, bermula dari pengajian anak-anak di rumah Laode Ardin. “Dulu saya numpang di rumah kosong di ujung desa ini. Sepi dan masih hutan cukup lebat. Setiap hari banyak anak-anak bermain dengan anak saya. Ketika saya tanya apa mereka bisa baca dan mengaji, tak satupun bisa membaca. Padahal mereka sudah masuk usia sekolah”, Laode menuturkan sejarah sekolah itu berdiri.

“Seiring hari, pengajian tambah ramai. Bahkan para orang tua juga ingin ikut belajar mengaji. Tetapi jika pengajian di rumah, saya takut jadi fitnah dikira memberi ajaran sesat. Akhirnya saya putuskan cari lahan buat mushola. Agar perjuangan lebih besar manfaatnya, saya dirikan Yayasan Anshorullah. Kemudian berkembang, saya dirikan Aliyah dan Tsanawiyah, mereka semua tidak dipungut biaya yang penting mau sekolah sudah cukup. Masalah dana itu urusan Allah”, kata Laode meyakini.

Diakui Laode dan istrinya, mengurus anak-anak kurang mampu tidak mudah. Kadang, ada yang tidak masuk berhari-hari. Kalau sudah begitu, Laode akan mendatangi rumah si anak menanyakan apa masalahnya. Ternyata, karena rumah jauh dan tidak punya ongkos untuk ke sekolah lagi. Atau, sandal jepit mereka yang biasa dipakai ke sekolah putus. Agar mau sekolah lagi, Laode merogoh kocek pribadinya untuk membantu anak-anak itu.

“Anak-anak sering pinjam sandal jepit untuk sekolah. Mereka tidak semuanya pakai sepatu, hanya beberapa saja. Kehidupan anak-anak di sini sulit”, terang Endang Salmiati yang pernah mondok di Al-Irsyad Pekalongan. Saking sulitnya kehidupan mereka, anak-anak perempuan umur di bawah 10 tahun sudah kerja kasar, sebagai buruh membuat batu bata.

Sesulit apapun kehidupan, Laode menanamkan pada anak didiknya untuk tetap mengejar pendidikan. Meski kondisi sekolah jauh dari layak, tetapi murid di sekolah ini pada UAN kemarin, lulus 100 persen. Mendengar kabar ini, masyarakat di daerah itu timbul kebanggaannya. Mereka mulai banyak yang menyekolahkan anaknya di Anshorullah. Sekolah yang gratis dan berpihak pada masyarakat miskin.

Untuk menghidupi pendidikan di sekolah ini, Laode sesekali dibantu uluran tangan donatur. Namun, tidak sering. Beruntung, di sekolah ini terdapat 10 relawan guru teman Laode dari Universitas Haluoleo (Unhalu) dan teman istrinya di IAIN Kendari.

Akhir-akhir ini, Laode sedang perih hati. Banyak anak-anak yatim yang ditinggal ayahnya pergi, atau ibunya meninggal. Mereka biasanya numpang di rumah kerabatnya dan harus kerja kasar. Rumah Laode yang sempit, kerap jadi pelipur lara saat-saat sulit bagi mereka. Maka, ia tengah merancang membangun panti asuhan. Tetapi ia akui butuh dana besar, dan itu cukup berat.

Laode dan istrinya adalah pejuang. Ia memancangkan tiang bendera di sekolahnya. Mengibarkannya tiap hari senin dan memeriahkannya tiap 17 Agustus. Pun, Laode telah ikut mengambil peran menjalankan amanat bangsa ini, untuk mengurusi orang miskin dan anak-anak terlantar.

Upacara hari itu, memang tak semeriah upacara di istana negara, yang menelan dana ratusan juta rupiah. Tetapi, upacara bendera di Anshorullah berlangsung khidmad, hikmah, dan wujud dari menghargai makna merdeka di negeri ini. Diam-diam, kita boleh merasa kerdil menatap perjuangan Laode dan istrinya.

Read More......

Etos di Kolong Jalan Tol

Geli mendengar kejujuran Ardi (29), yang berusaha melucu untuk mengurangi kekeluannya. Matanya nanar, melihat arang hitam, bekas puing rumah dan harta bendanya yang hangus terbakar. Setelah lebih dari sepuluh tahun tinggal di bawah jalan layang tol dalam kota, di Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, jerih payah pedagang kelontong itu musnah begitu saja.

“Enak, di sini adem. Nggak banyak polusi”, katanya sembari berusaha terkekeh. Lelaki asal Solo itu, seperti memaksakan diri untuk terbahak.

Setelah sempat terbakar, 22 Mei lalu, kolong jalan tol yang didiami kurang lebih 500 gubug ini, kembali ludes terbakar pada, selasa (7/8), pukul 9.45. Banyak di antara korban yang tidak ada di tempat, saat kejadian. Akhirnya mayoritas harta benda di rumah tidak bisa diselamatkan.

Sepertihalnya Eli (47), warga asli Tanjung Priok yang sudah tak punya kampung halaman ini, saat kejadian tengah bekerja di pabrik garmen Manggadua. Mengetahui tempat tinggalnya musnah, ia gemetar. Nyaris pingsan. Tetapi, ia mengaku berusaha untuk bertahan. Ia masih ingat anak-anaknya yang selamat.

“Untung anak saya bisa nyelametin surat-surat dan ijazahnya. Biarlah semua habis asal ijazah anak-anak selamat. Insya Allah rezeki masih bisa dicari”, tutur Eli berusaha tegar.

Dalam banyak musibah bencana dan kebakaran, kebanyakan orang berpikir seperti Eli. Masih merasa beruntung jika nyawa masih di kandung badan dan kertas-kertas berharganya selamat. Orang seperti Eli meyakini, ijazah, misalnya, telah menjadi sebuah harapan. Semua boleh habis, tetapi harapan itu tak boleh mati, untuk menata kehidupan yang baru.

Tak seberuntung Eti, Wardi (41), hanya bisa menyelamatkan baju yang melekat di badannya. Lelaki asal Wonogiri yang sudah tujuh tahun menetap di kolong jalan tol itu, saat kejadian tengah kerja buruh di Kebunjeruk. Tatkala pulang, sepasang suami istri itu lunglai. Tidak ada yang tersisa. Nasib serupa juga dialami Susi (49), asal Demak yang bekerja sebagai pedagang sayur.

“Semua habis mas. Kerja dari jam tiga pagi nggak ada yang sisa sama sekali. Terus nyandi arep njaluk tulung (kemana mau minta tolong)”, kata Susi berkaca-kaca. Saat ini, bersama korban kebakaran lainnya, Susi tinggal di tenda-tenda darurat sekitar lokasi kebakaran.

Usai kebakaran ini, para korban sebenarnya tidak ingin terlarut-larut meratapi kesedihan. Mereka ingin segera membangun kembali tempat tinggalnya seperti dulu. Tetapi kebakaran hebat hari itu, telah merusak struktur bangunan jalan tol. Dinas Pekerjaan Umum, juga sudah memasang papan peringatan. Berisi larangan membangun kembali di atas lahan bekas kebakaran.

Mempercayai Orang Miskin

Kebakaran menjelang satu hari pesta demokrasi pemilihan gubernur DKI Jakarta itu, mengingatkan akan perjuangan orang-orang kecil menyiasati hidup. Jakarta, makin sesak, semrawut, dan liar. Jakarta, kejam, kata sebagian yang berputus asa. Jakarta, sorga, bagi yang beruntung nasibnya. Ia kota yang dicaci dan dicintai. Jakarta menebar pesona, sekaligus mala petaka.

Ini tanah Tohan. Gelitik seorang pendatang dari Jawa Timur. Bagi warga miskin, tanah Tuhan seakan memberi pembenaran untuk tidak menyia-nyiakan lahan kosong di Ibukota. Biaya hidup tinggi, mendorong orang di Jakarta untuk kreatif. Mulanya kardus sebagai dinding dan plastik bekas sebagai atap. Hari berganti bulan, tiba-tiba, gubug itu berubah jadi rumah permanen. Anehnya, dilengkapi sarana PLN dan jaringan telepon. Resmi, dari pemerintah setempat.

Tiba waktunya, lahan kosong yang tiba-tiba berpenghuni padat itu digusur. Atau tiba-tiba kebakaran. Tak pelak, konflik sosial pecah. Sebuah rumah tangga dan masa depan anak-anak tercerai berai karenanya. Mencari siapa bertanggung jawab, inilah yang sulit. Meski, UUD 45 yang dibanggakan itu, mengamanahkan orang miskin dan anak terlantar diurus oleh negara, naskahnya masih tetap rangkaian kata yang indah.

“Yang diamanahi UUD kan negara, bukan pemerintah to?” celetuk seorang pemangku jabatan suatu saat.

Selama ini, permukiman padat dan kumuh selalu dipandang sarang kerawanan sosial. Rumah bagi para kriminal dan sebagainya. Tetapi jika diintip dari celah kemanusiaan, komunitas ini dipenuhi orang-orang yang tak mau menyerah pada nasib.

Seperti mereka yang menghuni kolong jalan tol Pluit, tatkala kebakaran terjadi, mereka sebagian besar tak ada di rumah karena bekerja. Mereka kebanyakan bekerja di sektor informal sebagai pedagang kecil. Mereka juga hidup tidak membebani negara, apalagi merugikannya. Diurus atau tidak, hidup mereka tetap berlanjut.

Setelah musibah terjadi – penggusuran, kebakaran, dan pengusiran – memotong urat nadi kehidupan mereka yang tinggal di lahan kosong, kolong jembatan, dan kolong jalan tol. Mereka harus mengawali dari titik nol – biasanya tanpa bantuan pemerintah – untuk kembali merintis usahanya. Pada tahap inilah, mereka hanya punya semangat dan harapan. Muskil, jika pemerintah dan perbankan mau megucurkan pinjaman modal pada mereka. Karena orang miskin tak punya jaminan apa-apa, selain nyawanya.

Padahal, banyak orang miskin, dengan modal semangat dan harapan mampu membunuh kemiskinannya. Seperti halnya Ardi, Eli, dan Susi. Tetapi itu tak lama dan harus terampas oleh musibah. Kini, mereka dalam kemiskinan di titik nadir kembali. Mereka, kelompok orang-orang kecil yang punya etos tinggi. Tetapi tidak punya modal untuk membangun kembali usahanya yang telah jadi abu.

Maka, wejangan Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian 2006 asal Bangladesh, kepada Presiden SBY dan para pembantunya, pada selasa lalu, ibarat setitik embun di lautan padang pasir. Pejuang orang miskin itu, berwasiat agar perbankan Indonesia belajar mempercayai rakyat miskin. Tetapi, jika wasiat yang oleh Wakil Presiden, Yusuf Kalla, diakui sebagai pelajaran yang berharga itu, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, orang miskin di Indonesia akan tetap terpotong aksesnya untuk mencapai kesejahteraan. Ardi, Eli, dan Susi akan selamanya gigit jari, hidup di tengah bangsa yang bebal dan tak mau belajar.

Read More......

Thursday, August 02, 2007

Pesta Rumor di Tengah Kemiskinan


Waktu Erwin Kurniawan, mengakhiri hidup di dunia ini, ia tak sendiri. Terlebih dulu, ia diduga meracuni istrinya yang tengah hamil delapan bulan dan tiga anak lelakinya yang masih kecil. Warga Kandis, Riau itu, memilih episode singkat mengakhiri kemiskinan dengan jalan keji, pada Selasa, (5/6) dua bulan lalu.

Padahal, untuk para orang tua, Allah SWT, telah memberikan janji pada mereka. Kemiskinan mestinya tidak perlu menjadi alasan membunuh, jika ketauhidan manusia pada puncak keyakinan dan keteguhan. “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”. (al Isra: 31).

Kisah tragis anak manusia, yang menempuh jalan pintas karena tak tahan jerat kemiskinan ini, kerap terulang tiap tahunnya. Tetapi, kasusnya tidak menjadi heboh. Sehingga publik seakan menanggapi biasa-biasa saja. Bandingkan, jika kasus yang sama menimpa kalangan menengah ke atas. Beritanya, bisa jadi membombardir semua isi media massa. Pengaruhnya, penguasa segera sigap melakukan tindakan.

Orang miskin, seolah ditakdirkan untuk tercampak. Dalam banyak kebijakan mereka tersisih. Bukan komunitas yang diprioritaskan untuk segera dipikirkan. Beda, jika yang tersentuh luka kalangan atas, maka pembelaan dan pertolongan begitu cepatnya datang. Ironisnya, orang miskin hanya menjadi bintang, tatkala musim kampanye saja.

Jamaah haji kelaparan, dunia rasanya berguncang. Dari diskusi meja makan, hingga rapat kabinet ramai membicarakannya. Tetapi, ketika Erwin mengambil keputusan fatal karena tak tahan lapar, publik rasanya sepi-sepi saja. Karena derita Erwin, tidak berimbas pada kepentingan kalangan atas. Pun, negara juga tak bereaksi. Diam, membisu.

Senin lalu, saat Indonesia tengah ngerumpi tentang Zaenal Maarif dan Susilo Bambang Yudhoyono, kembali rakyatnya Presiden SBY meninggal karena kemiskinan. Tetapi, perseteruan “memalukan” itu, kelihatannya lebih penting ditonjolkan ke publik, ketimbang erangan sakaratul maut, yang menjemput nyawa orang miskin.

Ida Resdawati (36), ibu lima anak, warga Rejosari, Tenayang Raya, Pekanbaru, kehilangan dua anaknya yang meninggal, terkunci di dalam kamar kontrakan. Kejadian ini bermula, tatkala Ida berusaha menyiasati hidup untuk membesarkan anak-anaknya. Tanpa suami, menghidupi lima anak sungguh beban yang sarat. Untuk meringankan beban, dua anaknya sampai dititipkan pada kerabatnya di Pangkalan Kerinci.

Ida, meninggalkan rumah untuk bekerja sebagai tukang masak, di sebuah usaha makanan yang tak jauh dari kontrakannya. Ia berangkat sejak pukul 05.00, saat anak-anaknya masih terlelap. Ia baru akan pulang sore hari, bahkan sampai malam jika banyak pekerjaan.

Selanjutnya, peran ibu akan digantikan putrinya yang duduk di kelas 2 SD. Anak itu, akan memberi sarapan dan mengurus adiknya yang baru berumur tiga dan satu tahun. Sampai pukul 09.30, baru sang kakak akan berangkat sekolah. Untuk menjaga adiknya agar tak main keluar rumah, ia mengunci dua bayi itu di dalam kamar. Sebagaimana perintah sang ibu. Ida terpaksa menempuh cara ini, untuk mencari nafkah. Pilihan yang pelik.

Tetapi, Senin pagi itu hari naas bagi Ida. Entah mengapa, ia mengajak anaknya yang di bangku SD ikut ke tempatnya bekerja. Sebelum berangkat, Ida menyuruh anaknya membakar obat nyamuk, agar dua adiknya tetap lelap tak diganggu nyamuk. Tapi, dari situlah tragedi terjadi. Sepeninggal Ida, obat nyamuk membakar kasur, dan kebakaran di dalam kamar terkunci itupun tejadi. Dua bocah tak berdosa, meninggal. Ida pun, meratap dan menyesal.

Orang yang belum pernah miskin, barangkali enteng saja mengkritik kecerobohan Erwin dan Ida. Salah sendiri, miskin punya anak banyak. Hujatan yang kerap menyeruak, di pikiran sebagian orang. Dalam banyak hal, kaum dhuafa kerap disalahkan. Tetapi, pada lain kesempatan, kemiskinan juga ajang yang tak henti-hentinya didiskusikan dan diseminarkan. Juga lahan subur, untuk orang menjadikannya kuda troya, mencapai tampuk kekuasaan.

Dalam buku, Keresahan Pemulung Zakat, yang berisi esai-esai salah satu tokoh zakat Indonesia, Eri Sudewo, ia menulis gugahnya, Bahaya Kemiskinan. Dalam tulisannya, ia menuturkan, Islam sangat menentang kemiskinan. Namun Islam menuntun umatnya agar bisa merasai makna miskin. Puasa Ramadhan, misalnya, memaksa supaya tubuh ini bisa merasai ''nikmatnya'' lapar. Lantas, bila makan sehari cukup dua kali, mengapa mulut ini tak pernah bisa berhenti makan? Kalau kita pantas dengan pakaian yang terjangkau, mengapa harus memaksa menggapai yang mewah? Artinya kalau Islam meneladani kesederhanaan, mengapa justru kita terus berlebihan?

Dalam riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah SAW berpesan: ''Kemiskinan, kebodohan, dan penyakit merupakan musuh Islam. Ketiganya dapat menggoyah sendi kehidupan, menghancurkan ketentraman, menghalangi ukhuwah, serta meruntuhkan kemuliaan dan kejayaan bangsa''.

Menurut Eri Sudewo, pesan tersebut, maknanya tentu saja sangat dalam. Bahwa bahaya kemiskinan, tak hanya mengancam individual, melainkan juga akan melibas kehidupan masyarakat. Baik melabrak segi akidah-iman, akhlak-moral, maupun bakal merusak cara bersikap dan berpikir.

Demikian mengerikannya bahaya kemiskinan ini. Mestinya, energi pemimpin dan rakyat bangsa ini, dimanfaatkan untuk memikirkannya. Ketimbang sekadar menguras energi, untuk bisik-bisik masalah aib dan sahwat para pemimpin.

Read More......

Ketawa ala PANTAU

Ini, cara Pantau membuat peserta kursus Jurnalistik Sastrawi XII bisa terbahak-bahak. Satu, dua, tiga! Kaki kanan diangkat tinggi-tingga. Saya yang sulit senyum, tiba-tiba terkekeh-kekeh. Demikian pula teman-teman yang lain. Mengesankan. Tapi jika pijakan tak seimbang, badan bisa-bisa terjengkang.

Berikut data teman-teman yang jadi korban "Ketawa ala Pantau", dicopy dari dapurnya Mas Andreas Harsono:

Aditya Heru Wardhana, saat ini bekerja sebagai video journalist di Trans TV sekaligus aktif di Aliansi Jurnalis Independen cabang Jakarta. Ketika training broadcaster dua tahun lalu, ia mendapat tugas membaca naskah berjudul "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan" karya Alfian Hamzah. Sejak itu timbul niat ingin menulis seperti itu, yang elok dan memikat. Sejak kuliah sudah asyik membaca tulisan-tulisan di majalah Pantau. Mengikuti training jurnalisme sejak tahun 2002.

Adriana Sri Adhiati, saat ini bekerja untuk Down to Earth sebagai researcher, campaigner and websiter co-administrator (part-time) di London. Sejak tahun 2005 selalu mengkampanyekan isu-isu yang berhubungan dengan agrarian reform, policy reform in natural management and ecological justice in Indonesia.

Asep Mohammad BS, sejak tahun 2000 bergabung dengan majalah Swa sebagai wartawan. Pengalaman menulis sejak April 1999 ketika menjadi Kepala Publikasi dan Dokumentasi di organisasi non pemerintah Pusat Ilmu dan Kajian Perbukuan. Artikelnya sering dimuat diberbagai media masa seperti harian Pikiran Rakyat, Suara Karya, Galamedia, Suara Publik dan Risalah.

Edy Purnomo, setelah lulus dari sastra Universitas Indonesia tahun 1991, Edy kemudian mulai bekerja di majalah Manajemen Produktivitas hingga 1993. Tahun 1993-2000 bekerja pada harian Bisnis Indonesia, harian Indonesia Shangbao tahun 2001-2002. Sejak tahun 2002 sampai sekarang bekerja di harian Investor Daily.

Emmy Kuswandari, bergabung di harian sore Sinar Harapan sejak 2001. Semasa kuliah sudah akrab dengan jurnalistik karena mengambil jurusan jurnalistik dan ikut andil pada majalah kampus di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Emmy tercatat sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen, Coordinator for Gender Imago Dei Studi, anggota Gerakan Antikekerasan terhadap Perempuan Indonesia. Mendapat "Rule of Law and Independence Press Fellowship in Massachussets" di dekat Boston pada 2000.

Endah Imawati, bekerja di media sejak tahun 1994 di tabloid anak-anak Hoplaa. Baru tahun 2000 menulis untuk harian Surya Surabaya (masih dalam satu grup). Kebanyakan dia bercerita tentang keluarga, remaja, sedikit gaya hidup, perjalan, dan feature. Dia mengatakan tak pernah menulis tulisan yang berat. Karya yang dihasilkannya antara lain kumpulan cerita anak, novel remaja dan cerita bersambung.

Frans Obon, sejak 1994 bekerja di mingguan Dian. Bergabung dengan harian Flores Pos sejak didirikan tahun 1999 oleh Yayasan Dian dan menjabat sebagai Manajer Liputan sampai 2003. Sejak 2003 sampai sekarang menjadi Manajer Produksi (Pracetak). Secara rutin dia menulis untuk Bentara (Tajuk Flores Pos). Selain menjadi wartawan, Frans juga mengajar di Universitas Flores di Ende.

Frans S. Imung, mulai mengenal dunia jurnalistik pada awal 1997. Pertama menjadi wartawan pada majalah ekonomi, dengan fokus pasar modal, Uang & Efek (almarhum). Selanjutnya ikut membidani lahirnya majalah Investor pada masa krisis tahun 1998. Saat ini sebagai editor di majalah Investor.

Hillarius U Gani, pernah menjadi reporter Lampung Post sebelum akhirnya bergabung dengan Media Indonesia tahun 2001 sampai sekarang. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia pernah mengikuti diklat jurnalistik yang diadakan Media Indonesia (2001), pelatihan jurnalistik pemula oleh LP3Y Jogjakarta tahun 2002 dan Jurnalistik oleh UNDP di Bogor.

Lisa Suroso, saat ini menjabat sebagai redaktur majalah Suara Baru. Menulis untuk media sejak Desember 2004. Dia juga pengurus pusat Perhimpunan Indonesia Tionghoa bagian humas. Dia banyak terlibat dalam kegiatan sosial organisasinya dalam bencana alam di Aceh dan Flores.

Rozzana Ahmad Rony, panggilannya Nana, mengetahui kursus ini dari temannya, Alexander Mering, redaktur harian Borneo Tribune. Ia merupakan satu-satunya peserta dari Malaysia. Sejak tahun 2006, dia bekerja sebagai journalist di Utusan Sarawak, sebelumnya tahun 2003-2006 bergabung di Sarawak Tribune. Kegiatan lainnya adalah menjadi anggota Kuching Journalists Association dan anggota Sarawak Women for Women Society.

Said Abdullah Dahlawi, mulai menulis secara profesional sejak menjadi wartawan di harian Sijori Mandiri, Batam April 2005. Sejak mahasiswa suka mengirimkan artikel yang diterbitkan Radar Mojokerto dari Kelompok Jawa Pos di Jombang, Jawa Timur dan sering diminta untuk mengisi artikel di bulletin Motive yang dikelola secara independen oleh mahasiswa.

Stefanus Akim, merupakan salah satu wartawan Equator dari Kelompok Jawa Pos, yang keluar kemudian mendirikan harian Borneo Tribune di Pontianak. Borneo Tribune sendiri mulai launching tanggal 19 Mei 2007. Sejak duduk di bangku SMA, Akim sudah bergelut dibidang jurnalistik sebagai pemimpin redaksi majalah Sidus, dilanjutkan ketika kuliah aktif sebagai anggota dan pengurus Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura di Pontianak.

Sunaryo Adhiatmoko, saya sendiri.

Yayan Ahdiat, sejak 1989 menulis di Suara Pembaruan, Pelita, Jayakarta, Berita Buana, Suara Karya, Republika dan Media Indonesia. Tahun 1993-1998 bergabung di Majalah VISTA-TV, kemudian menjadi redaktur majalah Sportif tahun 1998-2000, redaktur Lippostar.com tahun 2000-2002. Tahun 2002 sampai sekarang menjadi redaktur pelaksana View Magazine.

Yuyun Wahyuningrum, mahasiswa penerima beasiswa di Universitas Mahidol, Thailand mengambil jurusan Human Rights and Social Development. Saat ini sedang mengerjakan tesisnya di Jakarta dan tinggal bersama ibunya di daerah Kalibata. Telah bekerja di isu-isu sosial yang berkenaan dengan gender, hak azasi manusia, pembangunan, perempuan dan anak sejak tahun 1998. Yuyun tidak pernah menulis untuk media, kebanyakan dia menulis untuk esai akademis di jurnal bukan di media massa.

Read More......

Mematahkan Gengsi Melawan Kemiskinan

Pada 1989, Anggoro Aji, belum pernah membaca buku Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran. Buku yang sarat dengan amunisi, untuk menggebrak masa depan pendidikan rakyat Jepang. Pada tahun 1882, buku ini terjual 600.000 naskah.

Di antara pesan penting yang ada di dalam buku itu, menyatakan: Manusia tidak dilahirkan mulia atau hina, kaya atau miskin, tetapi dilahirkan sama dengan yang lain. Siapa yang gigih belajar dan menguasai ilmu
dengan baik akan menjadi mulia dan kaya, tetapi mereka yang jail akan menjadi papa dan hina.

Anggoro Aji, bocah gunung yang lahir terpanggang paceklik pada 1977, di pedesaan lereng pegunungan Abimanyu. Sebuah desa yang tandus dan kering, di selatan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Pada 1989, ia turun gunung untuk melanjutkan sekolah ke bangku SMP, di pusat kota. Sendirian.


Dalam kurun tiga tahun, ia me
nyiasati hidup dan menyelesaikan sekolahnya dengan kerja di rumah seorang petani cukup mampu di kota itu. Mencangkul, mencari kayu bakar, dan kerja kasar lainnya, dilakoni dalam umur belasan tahun. Cucuran peluh bocah itu pun, mengantarkannya sampai lulus SMP.

Anggoro Aji, dengan bangga kembali ke kampungnya di lereng Abimanyu. Kedua orang tuanya, tak mampu menepis haru. Anggoro Aji, si bocah hilang telah kembali. Tetapi para tetangganya mencibir, “Kalau derajatnya orang miskin gak perlu ngoyo (nekat)”. Telinga bocah itupun memerah. Seharian, ia menangis di pangkuan ibunya.


Beberapa hari di kampung, Anggoro Aji diusik gelisah. Kegigihannya untuk sekolah tak lagi terbendung. Ia makin tak tahan melihat kemiskinan keluarganya yang akut.


“Bapak, Ibu, ijinkan aku menuntut ilmu. Aku mau merantau ke kota, aku ingin membuat bapak dan ibu bangga”, pinta Anggoro Aji memelas.


Untuk kedua kalinya, bocah itu meninggalkan tanah kelahirannya. Tak cukup bekal yang ia bawa, kecuali selembar ijazah. Surabaya, kota yang padat dan panas menjadi tujuannya. Enam jam naik bus, ditempuh dari daerah asalnya. Belum tahu, kemana ia mau singgah dan menetap. Anggoro Aji, mulai mengetuk pintu di perumahan-perumahan elit. Ia menawarkan diri, untuk bekerja sembari menunjukkan ijazahnya.


“Saya mau kerja apa saja, asal saya bisa sekolah”, Anggoro Aji menawarkan diri.
Dalam ingatannya, pada pintu rumah ke-29 lamarannya diterima. Ia mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sejak pukul empat pagi. Hingga ia dapat lulus SMA negeri di kota itu. Sayang, ia tak sempat membagi kebahagiaan dengan ayahnya. Saat pulang kampung ia hadapi kenyataan, ayahnya telah tiada. Anggoro Ajipun melanjutkan pengembaraannya sampai Jakarta. Kuliah, kerja, dan menikah.

Patahkan Gengsi

Senin lalu, saat tengah bercengkerama dengan istrinya, Anggoro Aji kedatangan seorang anak gadis. Anak itu datang ke rumahnya, di bilangan Depok untuk minta pekerjaan. Menurutnya, anak itu sedang butuh biaya sekolah. Ia mau jadi pembantu dan kerja halal lainnya, agar sekolahnya tidak putus.

“Saya terharu. Teringat masa lalu. Dia anak yang hebat, karena di Jakarta banyak orang mendewakan gengsi, tetapi dia mampu mematahkan gengsi. Tidak semua orang miskin mampu membunuh gengsinya. Mereka lebih suka ambil jalan pintas, korupsi atau merampok. Hanya untuk menutupi malu miskin itu”, kata bapak dua anak yang kini jadi pekerja sosial.

Hidup dalam jerat kemiskinan, menurut Anggoro Aji, yang pertama harus dimatikan adalah gengsi. Banyak anak putus sekolah, karena ketiadaan biaya. Tetapi mereka kerap menyerah oleh keadaan. Malu, jika tidak punya standar hidup setara dengan teman-teman sekolahnya yang mampu.

“Tak perlu malu jadi kuli, jadi pembantu, buruh, jika ingin hidup berubah. Banyak orang besar lahir dari kemiskinan. Tetapi mereka mencapai dengan perjuangan tanpa gengsi. Percayalah, tiap bulir keringat kita yang jatuh, Allah telah memberi nilai di dalamnya”, pesannya.

Anggoro Aji meyakini, jika anak muda kita lebih gede gengsi, bangsa ini tak akan pernah maju. Anak-anak muda kita perlu diberi teladan kebangkitan, layaknya Jepang. Negeri matahari terbit itu, memberi banyak inspirasi untuk generasinya bangkit dari Perang Dunia II. Dunia dibuat terbelalak. Bagaimana sebuah bangsa yang luluhlantak oleh bom atom dan kalah dalam Perang Dunia II, mampu menyalip peradaban Barat dalam berbagai bidang.

Profesor Ezra Vogel dari Harvard University, mengatakan, bahwa kejayaan Jepang Terjadi berkat kepekaan pemimpin, institusi, dan rakyat Jepang terhadap ilmu dan informasi serta kesungguhan mereka, menghimpun dan menggunakan ilmu untuk kehidupan mereka.

Ketika sedang berselancar di ruang maya, Anggoro Aji menemukan sebuah artikel yang ditulis Jaahid Nafsak berjudul Asas Kebangkitan Peradaban. Artikel itu, meresensi buku Prof. Dr. Wan Mohd. Nor Wan Daud, seorang guru besar di International Institut of Islamic Thought and Civilization—International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), yang memaparkan tentang budaya ilmu dan kebangkitan bangsa Jepang.

Diceritakan, bagaimana Jepang bangkit. Jepang telah menempatkan ilmu dalam posisi penting sejak Zaman Meiji (1860-an-1880-an). Pada akhir 1888, dikatakan, terdapat sekitar 30.000 pelajar yang belajar di 90 buah sekolah swasta di Tokyo. Sekitar 80 persennya berasal dari luar kota. Pelajar miskin diberi beasiswa. Sebagian mereka bekerja paroh waktu sebagai pembantu rumah tangga.

Namun, mereka bangga dan memegang slogan: “Jangan menghina kami, kelak kami mungkin menjadi menteri!” Para pelajar disajikan kisah-kisah kejayaan individu di Barat dan Timur. Salah satunya, buku Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran.

Sebagai potret orang yang pernah mengalami saat sulit menempuh pendidikan, Anggoro Aji merasakan, aroma pendidikan kita hanya berkutat pada mahalnya biaya sekolah. Anak-anak muda kita tak diajarkan ketangguhan, layaknya anak-anak kurang mampu berjuang untuk sekolah. Anak-anak muda kita, makin terbawa ke ranah dunia hiburan, ketimbang ditarik ke area perjuangan memajukan bangsa. Pergaulan bebas lebih cepat populer, ketimbang penguasaan terhadap sain dan teknologi.

Dalam pengalaman Anggoro Aji, kemiskinan tak boleh membuat hidup ciut dan takut. Kemiskinan harus dilawan. Dengan tekad dan semangat. Sebagaimana seorang pemuda Jepang bernama Kinjiro Ninomiya, yang hidup pada awal abad ke-20. Kegigihannya dalam memburu ilmu, menjadi inspirasi masyarakat Jepang. Kegigihannya terukir dalam puisi Jepang yang melegenda:

Pada awal pagi

Dia mendaki gunung mencari kayu api

Sehingga larut malam

Dia menganyam selipar (jerami padi)

Sambil berjalan

Dia tidak pernah berhenti membaca.

Read More......