Tuesday, October 21, 2008

Malaikat di Surau Kami

Ini cerita tercecer yang dipungut, kemudian ditulis dan dibukukan oleh penerbit REPUBLIKA. Sebagai buku ketiga saya. “Malaikat di Surau Kami”, mengajak Anda hadir lebih dekat di komunitas masyarakat kecil. Mereka orang-orang yang tinggal di kolong jalan tol, tempat pembuangan sampah, bedeng bedeng di lahan kosong tak bertuan, dan sudut sudut permukiman kumuh.



Sorotannya, lebih pada kehidupan surau. Menyinggung sedikit kehidupan sosial masyarakat, dan menyindir naluri kemanusiaan kita. Apakah Allah SWT, menghadirkan malaikat dalam aktivitas ibadah kita, atau justru syetan yang lebih dominan. Secara strata ekonomi dan sosial, kita boleh di atas angin. Tapi urusan keberkahan
, bisa jadi mereka yang sujud di antara tumpukan sampah yang kita buang sembarangan, lebih dipilih Allah.

Di penghujung 2005, Yayasan Al-Azhar mendirikan lembaga amil zakat. Tiga tahun berselang, masyarakat mengenalnya sebagai LAZ Al-Azhar Peduli Ummat. Dalam ranah perzakatan di Indonesia, kelahirannya masih amat hijau. Tapi, sentuhan midas Anwar Sani – Direktur dan pendiri LAZ Al-Azhar – membuat lembaga ini melesat cepat. Kini, dalam pentas pengelolaan zakat di tanah air, lembaga ini bersaing sejajar dengan lembaga sejenis yang tumbuh lebih awal.

Tapi, ia tidak tiba tiba ada. Mulanya, surau rapuh di permukiman pemulung, Bantar Gebang, Bekasi, menorehkan cerita ikhwal lembaga ini berdiri. Kemudian menyusul, surau surau yang lain, di komunitas marginal. Program pertama menandai kelahiran LAZ ini, diberi tajuk, “Benah Rumah Ibadah”.

Melalui lembar Dialog Jumat di harian REPUBLIKA, yang saat itu saya penulisnya, LAZ Al-Azhar Peduli Ummat, melaporkan langsung dari lapangan, cerita tercecer, mushola dan surau surau yang terlantar. Rumah ibadah yang berdiri apa adanya, namun tetap teguh jamaahnya berpegang pada tali iman. Feature itu, menuai respon dari banyak pembaca. Donatur yang terpanggil hatinya, turut menegakkan kembali tiang tiang surau yang nyaris ambruk.


“Fantastis!”, Anwar Sani terpukau. Ia berterima kasih pada pembaca yang telah terlibat, menata kembali surau surau yang ditulis dalam buku ini.

Surau surau itu, nyaris terabai nasibnya. Karena ia terselip di gang gang sempit, sudut kampung, dan tercecer di antara tumpukan sampah komunitas pemulung. Bangunannya berbentuk kubus, sebagian tanpa kubah. Bahan material yang digunakan, mayoritas puing puing bangunan bekas rumah rumah elit. Karpet yang terbentang untuk sajadah, juga limbah sampah bekas permadani yang dibuang di pinggir kali. Seseorang memulungnya, mencuci berkali kali agar baunya lebih segar, kemudian m
embawa pulang untuk karpet surau.

Tidak hanya bentuknya yang perih dipandang, kebanyakan surau ini juga berada di atas tanah illegal. Ini tanah terlarang sebenarnya. Tapi lahan kosong, selalu membetot perhatian orang untuk menempatinya. Di Jakarta yang padat, tak akan selamat jika lahan dibiarkan tidur. Ada saja orang yang tiba tiba berani mendirikan bedeng. Satu mulanya. Putaran waktu, kemudian menjadikan tanah kosong yang diakui milik negara ini, berubah jadi perkampungan.

Seakan, membenarkan hadits Nabi, ‘’Siapa saja yang telah menghidupkan sebidang tanah mati, maka tanah itu adalah miliknya”” (HR. al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan Abu Dawud). Umar bin al-Khaththab ra. juga pernah mengatakan, “Orang yang memagari tanah tidak berhak (atas tanah yang dipagarinya) setelah (membiarkannya) selama tiga tahun.”

Mereka kerap disebut sebagai pendatang illegal. Tiap saat akan tergusur, tanpa kompensasi dan ganti rugi. Anehnya, komunitas yang terbentuk itu, dapat membentuk satu lingkungan RT, bahkan RW. Punya KTP, KK, dan rekening listrik. Tapi, inilah Jakarta. Apa yang tidak bisa di sulap, di metropolitan yang makin kumuh dan amburadul ini.

Mengapa, mereka butuh surau surau itu?

”Ini benteng terakhir bagi kami. Hidup makin sulit, kalau iman tidak kuat, pilihannya tinggal dua. Merampok apa bunung diri”, tandas Rohadi. Ia seorang pemulung, asal Indramayu yang numpang di bendeng kolong jembatan tol Pluit.

Kita bisa jadi gemetar, mendengar pengakuan itu. Dengan segala keterbatasan hidup, orang orang kecil mampu bertahan lantaran punya tempat kembali. Mereka bisa meredam nafsu yang mendidih, dengan tafakur di dalam surau. Memahamkan diri, bahwa sejatinya kesulitan kesulitan ini, tangga uji dari Allah SWT, untuk hamba-Nya.

Surau di komunitas marginal, juga punya peran sosial. Ia jadi tempat sekolah, bagi anak anak kurang mampu. Mereka mendaras Al Quran, secara cuma cuma dari sang guru ngaji yang super dhuafa. Wujud, surau yang berantakan bukanlah sebab seorang dhuafa kufur nikmat, enggan sholat, dan tak mengenal Tuhan. Tapi, surau yang dinding dan atapnya sulaman limbah sampah, tempat suci untuk berdilaog dengan Allah SWT.

”Insya Allah, malaikat malaikat Allah lebih betah bersama kami di tempat seperti ini”, terang Mas Picis. Ia mantan preman Senen yang kini jadi seorang dai.
Bila kumpulan feature ini, diberi judul ”Malaikat di Surau Kami”, seperti terinspirasi oleh keyakinan Mas Picis. Seraya menelaah diri akan paradigma rumah ibadah yang kerap tidak tepat.

Orang, kerap berlomba megah megahan bangun Mesjid. Ditingkat tinggi tinggi, dipancangi besi kekar, direkat semen padat, dan dikeramik batu pualam. Kubahnya, ada yang dari emas malah. Mesjid, dibuat tampak agung dan gagah. Tapi, kerap kali jamaahnya sepi. Tak jarang, saat subuh, hanya ada satu satunya orang. Dia yang adzan, iqomah, imam, dan ma’mum. Seorang diri di usia uzur, merangkap semuanya.

Maka, denyut nadi surau surau itu, menyibakkan pelajaran lain dari makna rumah ibadah. Ia tak sekadar dibangun, tapi kita punya kewajiban mengisi dan meramaikannya. Jangan jadikan mesjid mesjid megah sebagai gudang kemubaziran. Jika itu yang terjadi, benar kata Mas Picis, Allah lebih senang mengirim Malaikat di Surau Kami.

Judul Buku: Malaikat di Suarau Kami
Penulis: Sunaryo Adhiatmoko
Penerbit: REPUBLIKA

Read More......

Tuesday, September 23, 2008

Patani Damai Dalam Kepungan Tentara Thailand

Akhir Mei lalu, saya mampir ke Provinsi Pattani, Thailand Selatan. Tiga hari di sana, nuansanya mirip Aceh saat DOM dulu. Hampir satu kilometer setelah keluar dari batas wilayah Provinsi Songkhla memasuki Provinsi Pattani, Thailand wilayah selatan. Mendadak sinyal telepon seluler (ponsel) hilang. Ternyata seluruh nomor ponsel yang beroperasi di wilayah ini harus terdaftar. Jika tidak, alamat diblokir total.



Ketentuan khusus ini diberlakukan sejak tiga tahun lalu. Yang terkena aturan ini, nomor ponsel yang beroperasi di Provinsi Pattani, Narathiwat dan Satun. Semua nomor harus didaftarkan ke counter khusus dengan menunjukkan bukti identitas diri. Jika tidak, maka yang muncul di layar handphone hanyalah tulisan emergency calls only.

“Pemblokiran ini dilakukan karena, katanya, peledakan bom jarak jauh dilakukan orang tak dikenal dengan menggunakan telepon genggam. Tapi saya tidak tahu juga itu,” kata Zainuddin, seorang supir mobil sewaan yang membawa saya dan Khairul Ikhwan wartawan detikcom berkeliling di Thailand Selatan, Jumat (30/5/2008).

Pattani merupakan salah satu dari lima provinsi di kawasan selatan yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Mereka bagian dari sekitar delapan persen penduduk Thailand yang berjumlah 65 juta jiwa. Sejak lima tahun silam, suhu keamanan sedikit memanas di sini.

Ketidakpuasan akan sikap pemerintah yang berpadu dengan silang-sengkarut masalah lainnya sejak tahun 1970-an, memunculkan kelompok sempalan Pattani United Liberation Organization (PULO) yang menginginkan kawasan ini merdeka sebagai sebuah negara. Pemerintah menanggapinya dengan mengirim serdadu. Proses berikutnya berbagai ledakan dan penembakan yang merenggut korban jiwa terus terjadi. Korban berjatuhan seiring dengan upaya perdamaian yang tengah dijalin.

Kasus terakhir, dua hari lalu sebuah ledakan terjadi dan melukai empat tentara yang sedang patroli di Distrik Khok Pho, Pattani, sementara di Provinsi Yala tentara menembak mati seorang militan. Kejadian semacam ini menjadi runitas berita yang muncul di media massa tentang Thailand sebelah selatan. Masalah ini pula yang membuat sejumlah negara seperti Inggris dan Amerika Serikat mengeluarkan travel warning bagi warganya yang datang ke Thailand.


Namun jika masuk ke sudut-sudut kota Pattani maupun Narathiwat, semua aktivitas berjalan seperti biasa. Pagi hari, warga yang baru keluar dari masjid setelah menunaikan salat shubuh, duduk di warung tepian jalan menyantap sarapan tanpa khawatir apapun. Di pasar ikan, tentara duduk di sudut dengan genggaman erat senjata laras panjangnya, sementara seorang ibu menawar dengan sengit harga kepiting dengan penjual.

“Sebenarnya di sini tidak ada masalah. Semuanya berjalan dengan biasa, tetapi tentara terlalu banyak. Dan malam hari, jika keluar akan banyak pemeriksaan. Hanya tidak nyaman saja. Mungkin kalau tidak banyak tentara, semua akan baik-baik saja,” sambung Zainuddin.

Sepanjang jalan menjadi hal yang menyebalkan bagi Zainuddin. Hampir setiap dua kilometer dia harus mengurangi kecepatan kendaraan karena portal dan barikade jalan yang melintang dan berjejer rapi. Tentara dengan senjata laras panjang AK-47 dan baju antipeluru, menatap setiap kendaraan dengan wajah curiga. Zainuddin pun terpaksa menurunkan kaca dan menebar senyum hampa setiap melewati barikade ini.

Bagi Zainuddin, yang terpenting adalah kedamaian. Dia tidak perlu segala politik kekuasaan dan keamanan. Hanya bagaimana dia bisa mengemudikan kendaraannya dengan damai, tanpa harus menebar senyum hampa saban melewati barikade sepanjang dua kilometer. (rul/)

Read More......

Satu Jam di Myanmar


Dari sisi imigrasi, Myanmar jelas berbeda dibanding negara Asean lainnya. Kebanyakan pemegang paspor dari Asean harus memiliki visa untuk memasuki negara ini. Termasuk Indonesia. Tapi bisa juga masuk ke Myanmar tanpa visa melalui Tachileik.

Tachileik merupakan sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 700 kilometer dari Yangon di Myanmar yang berbatasan dengan Kota Mae Sai, di Provinsi Chiang Rai, Thailand. Ini pintu perlintasan warga kedua negara.


Warga Thailand bisa melewatinya dengan hanya membawa kartu identitas, mengisi formulir untuk melintas dan membayar 30 Baht atau sekitar Rp 9.000 dengan kurs Rp 300 di imigrasi Thailand dan membayar 10 Bath di imigrasi Myanmar. Warga Myanmar juga begitu persyaratannya. Bisa membayar dengan mata uang Baht atau nilai yang sama dalam mata uang Myanmar, Kyat.

Di Tachileik. seluruh warga asing bisa masuk, namun tidak boleh keluar dari kota ini. Paling ke kawasan sekitarnya seperti Kengtung atau Mengla. Prosesnya mudah. Begitu keluar dari imigrasi Thailand, jalan kaki menyeberangi jembatan Nam Ruak dan 200 meter berikutnya langsung memasuki imigrasi Myanmar.

Nah, paspor kemudian diserahkan kepada petugas. Disuruh duduk di depan petugas, dan wajah pun difoto. Paspor itu tetap dipegang petugas dan hanya bisa diambil jika keluar nanti. Gantinya akan diberikan entry permit, kartu izin masuk berwarna coklat seukuran paspor dengan tulisan Union of Myanmar. Lengkap dengan foto yang dijepret petugas di ruang imigrasi tadi. Untuk Izin yang berlaku maksimal 14 hari ini ada pungut biaya. Silakan pilih, bayar 500
Baht Thailand atau US$ 10. Mau tinggal selama 14 hari atau hanya satu detik, biayanya sama.

Begitu keluar imigrasi, suasana berbeda langsung terlihat. Ibarat gula datang ke sarang semut, para pengasong rokok, makanan, paket wisata, dan pengemis langsung merubung. Semua berbicara cepat dalam bahasa Myanmar atau Thailand. Jika tidak mengerti kedua bahasa itu, suaranya akan terdengar seperti bunyi tiang telepon dipukul dengan batu, tang.. tung.. tang.. tang...

Namun yang membuat sport jantung justru penguntit. Dia melangkah pelan mengikuti kemana pun objek incarannya pergi. Memastikan turis tidak macam-macam. Kegiatan memotret di kawasan perbatasan ini juga mencemaskan. Bisa saja tiba-tiba datang seorang intel dengan ekspresi marah dan bertanya mengapa memotret sembarangan, tentu saja dengan bahasa lokal.

Setelah ditunjukkan entry permit, sang intel biasanya paham dan kemudian menyatakan jangan memotret ke arah pintu imigrasi maupun petugas imigrasi, lalu menunjukkan jari telunjuk ke atas. Oh, peringatan pertama.

Karena cuma sekadar meninjau dan tidak bermaksud menginap, maka rentetan pengalaman selama satu jam ini sepertinya hampir menggambarkan bagaimana situasi di Myanmar selain Tachileik. Maka, satu jam terasa sudah demikian lama berada di Tachilek, saatnya kembali ke Thailand.

Di imigrasi Thailand turis tak perlu bayar apa-apa, tak banyak larangan, dan yang terpenting mereka bisa memberi izin tinggal 30 hari tanpa visa. Setelah satu jam di Tachilek, rasanya menurun drastis minat mengurus visa untuk memasuki Myanmar. Satu jam mungkin sudah cukup di Myanmar.khairul

Read More......

Kucing-Kucingan Bantu Myanmar


Satu pekan mengurus visa di Kedutaan Myanmar di Bangkok, hasilnya nihil. Telepon ke Jakarta, pengajuan visa yang melalui kedutaan Myanmar di Jakarta juga belum dikabulkan. Sementara, telepon dari Rangon terus meminta kami bisa hadir di lokasi.
Karena masih tertutupnya akses untuk mengirimkan bantuan secara terbuka ke Myanmar, saya yang memikul tugas Dompet Dhuafa Republika, mengambil jalan tikus kedua kalinya. Kami menyelundupkan bantuan seperti mengirim paket narkotika. Melalui jasa penitipan gelap. Tim relawan kami di Thailand dan Myanmar, mendistribusikan bantuan dengan cara yang rumit.
Berikut saya kutip penggalan kisah dari misi kemanusiaan ini. Sebagaimana ditulis detik.com.
Koordinator Relawan DD di Thailand, Lu Lu Sern menyatakan, sejak mulai mendistribusikan bantuan pada awal pekan lalu, hingga saat ini bantuan yang sudah diterima para korban meliputi tenda plastik, logistik berupa makanan dan obat, pakaian wanita, sarung serta uang tunai.
“Mereka terharu dapat bantuan masyarakat Indonesia, dan berharap bantuan itu terus dapat dikirim, sebab sebagian mereka tidak kuat menunggu berhari hari, kadang di bawah hujan hanya untuk mendapatkan bantuan makanan,” kata Sern, kepada detikcom, Senin (2/6/2008) di Mae Sot, kota kecil di Thailand yang perbatasan langsung dengan Myanmar.
Sern menyatakan, barang-barang bantuan yang didistribusikan itu dibeli di sekitar Kota Rangon. Mereka tidak bisa membawa logistik, semacam tenda yang lebih, atau alat memasak dan pemurni air. Sebab jika dibawa dari Thailand, pemeriksaan sangat ketat di perbatasan dan di sepanjang jalan menuju penampungan para korban.
“Sementara izin masuk secara resmi belum kita peroleh. Kami mengirim bantuan masyarakat Indonesia secara sembunyi. Tentu dengan perasaan khawatir,” kata Sern yang berkewarganegaraan Thailand.

Read More......

Rumitnya Tembus Myanmar

Cerita tentang Myanmar panjang. Juga rumit. Banyak yang ingin saya tumpahkan, tapi waktu belum memberi pikiran tenang. Agar tak basi ditelan waktu, saya terpaksa mengutip rumitnya menembus Myanmar sebagaimana ditulis Detik. Semoga bisa menjadi pengantar cerita perjalanan membawa misi kemanusiaan ke Myanmar.


MYANMAR – Dompet Dhuafa Republika (DD) menyalurkan secara langsung bantuan untuk korban bencana alam Nargis di Myanmar. Bantuan ini terpaksa disampaikan secara berantai karena sulitnya mendapatkan visa untuk masuk ke Myanmar.


Penyerahan bantuan disampaikan Sunaryo Adhiatmoko Ketua Tim DD, Selasa (27/5/2008) kepada perwakilan korban di Tachilek, sebuah kota kecil di Myanmar yang berbatasan dengan Kota Mae Sai, Thailand.


"Sebenarnya kita sudah mengajukan visa untuk memasuki Myanmar, namun seperti diketahui, pemerintah Myanmar menutup diri. Maka bantuan itu kita sampaikan di sini di wilayah khusus di Myanmar yang bisa dimasuki dari Thailand tanpa harus menggunakan visa," kata Sunaryo di Tachilek yang berada sekitar 700 kilometer dari Yangon, Myanmar.

Secara keseluruhan, kata Sunaryo, total bantuan yang diberikan pada tahap awal senilai Rp 100 juta. DD merasa perlu langsung menyampaikan bantuan tersebut secara langsung, karena banyak korban yang belum mendapat bantuan.

"Sejumlah korban yang berada di kawasan Laputta, Ayeyarwady, menyatakan mereka belum mendapat bantuan karena berbagai persoalan," kata Sunaryo.

Perwakilan korban yang menerima bantuan tersebut, melakukan perjalanan darat hampir selama dua hari menuju Tachilek. Namun hanya berani menerima bantuan dalam mata uang negaranya Kyat, bukan mata uang asing. Itupun jumlahnya terbatas, karena khawatir pemeriksaan yang demikian ketat. Mereka juga meminta nama maupun fotonya jangan sampai muncul di media massa karena khawatir diperiksa tentara.

"Jadi bantuan itu disampaikan melalui jasa pengiriman uang di Thailand, agar bisa diterima di Yangon. Ini sulitnya karena kita tidak berada di lokasi. Tetapi tidak masalah, yang penting bantuan dari masyarakat Indonesia sudah mulai disalurkan," kata Sunaryo.

Naryo menyatakan, DD secara khusus merasa perlu datang secara langsung sebab penduduk Muslim Myanmar yang menjadi korban cukup besar. Laporan yang mereka terima menyebutkan, ada sekitar 6.000 ummat Islam yang tewas dan 10 ribu lainnya menjadi pengungsi di Myanmar yang menjadi korban bencana Nargis yang terjadi 2 Mei lalu.

"Kita belum dapat mengkonfirmasi data awal tersebut. Namun berdasarkan informasi dari tim jaringan relawan DD di sana, jumlahnya memang banyak. Jika sudah bisa masuk ke sana, Insya Allah kita bisa mendistribusikan bantuan yang lebih banyak," kata Sunaryo.

Read More......

Thursday, May 01, 2008

Di Balik Pesona Gunung Egon

Gunung Egon, tegak angkuh. Ia menancap kokoh di Pulau Flores. Dari lereng gunung yang dalam kurun 2 tahun, sudah tiga kali meletus itu, pesona keindahan alam menakjubkan. Sejauh mata memandang, terbentang lautan biru tak bertepi. Dibalik pesonanya, gunung Egon ternyata juga menyimpan bahaya.



Jika Egon meledak dahsyat, kemana penghuni pulau ini lari. Menuju gunung, berhadapan dengan lahar panas dan hujan debu. Turun ke pesisir, terhadang samudra. Bayangan ini mungkin terlalu dramatis, tapi melihat Egon yang terus aktif, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Waspada dan siaga, pada akhirnya hal penting yang harus dilakukan masyarakat setempat.

Seperti gunung Merapi di Yogyakarta dan gunung Kelud di Kediri, masyarakat di sekitar gunung Egon, juga memiliki kearifan lokal sendiri. Mereka seakan tahu, kapan gunung berbahaya dan kapan ia bersahabat. Pada zaman yang telah lahir teknologi pembaca aktivitas gunung api, idealnya bisa dipadukan antara kearifan lokal dengan kecanggihan teknologi.

Meski pada realitanya, masyarakat di sekitar daerah rawan bencana, kerap mengabaikan ramalan teknologi itu. Seperti, di desa Bahukrenge yang berjarak kurang dari 3 km, dari bibir kawah Egon. Meski pada 2004, para ahli volcanologi telah merekomendasikan desa ini dikosongkan, masyarakat bergeming.

Adeo Datus Dewa, kepala desa Bahukrenge, menolak untuk mengosongkan desa itu. Sebuah desa bak surga, di gugusan kepulauan Flores yang kering dan tandus. Desa ini penghasil sayuran dan beras. Tempat subur bercocok tanam dan jauh dari paceklik yang selalu menghantui masyarakat NTT, umumnya.

“Ini tanah kami, warisan dari nenek moyang kami. Di sini tanahnya subur. Kami tidak takut gunung meletus”, tandas Adeo Datus Dewa, kukuh.

Tatkala gunung Egon meletus, Selasa malam, (15/4), Adeo dan warga Bahukrenge, hanya panik sesaat. Mereka menghambur keluar rumah, cari tempat perlindungan. Setelah fajar menyingsing, mereka kembali ke desa lagi. Meski debu tebal menutup desa dan bau belerang menyengat, warga Bahukrenge seperti sudah terbiasa.

Padahal, letusan gunung Egon, April lalu cukup dahsyat. Semburan debunya mencapai radius puluhan kilometer, dengan ketebalan mencapai 0,5 cm. Desa desa di lereng gunung Egon yang terkena dampak parah letusan ini, meliputi, Egon Gahar, Hale dan Hedi, Nangatobong, dan Bahukrenge. Bahkan, debu Egon sampai di sepanjang trans Maumere – Larantuka.

Sebelum hujan turun, bau belerang dan debu, amat mengganggu kesehatan warga Desa Bahukrenge. Tapi mereka enggan mengungsi, karena menganggap letusan ini sudah biasa terjadi. Mereka bertahan di dalam rumah. Setelah air hujan mengendapkan debu, warga Bahukrenge kembali aktif bercocok tanam.

Masyarakat desa ini, sebenarnya pernah direlokasi. Tapi gagal, mereka kembali ke Bahukrenge lagi. Seperti diakui Adeo, kesuburan lahan menjadi alasan kuat penolakkan itu. Setiap Rabu, Bahukrenge diramaikan para pendatang dari desa desa bawah dan pesisir. Seperti dari kota Maumere. Bahukrenge, tiap Rabu jadi pasar sayur. Mobil pick up berdatangan ke desa itu, mengangkut hasil bumi lereng Egon. Pada hari biasa, ganti warga Bahukrenge yang turun ke kota menjual hasil pertaniaannya.

Menurut Adeo Datus Dewa, hasil pertanian desa Bahukrenge, dapat mencukupi kebutuhan sayur mayur masyarakat se-Flores. Namun, meski daerah subur, masyarakat desa ini tak sesejahtera petani di Lembang, Bandung, dan petani di pulau Jawa. Kehidupan mereka, masih mentok di bawah garis kemiskinan.

Tingkat pendidikan masyarakat Bahukrenge, juga rendah. Sejak letusan Egon 2004, di desa ini tidak ada lagi sarana pendidikan dan fasilitas umum lainnya. Gedung sekolah dasar yang semula ada, sudah ditutup, pindah ke desa Egon Gahar. Anak anak Bahukrenge, harus menempuh jarak 3,5 km, menuju desa paling bawah, jika ingin sekolah.

Medan menuju Bahukrenge cukup sulit. Selain jalannya sempit, juga berliku, dengan aspal yang mulai hancur. Pasca letusan itu, akses jalan raya juga terputus oleh debu tebal. Dua pekan kemudian, baru bisa dibuka dengan pengeruk traktor.

“Kami tak dapat menjangkau Bahukrenge. Bantuan hanya bisa sampai di desa bawah”, terang Iman Surahman, koordinator lapangan Dompet Dhuafa Republika (DD) yang terjun membantu korban letusan gunung Egon.

Menurut Iman, distribusi air bersih yang dilakukan relawan DD, hanya sampai di Desa Nangatobong, Egon, dan Egon Gahar. Desa Bahukrenge, tidak dapat ditembus dengan truk tangki air.

“Bahukrenge memang paling rawan bahaya. Tapi kelihatannya, masyarakat tidak punya pilihan lain kecuali harus menetap”, kata Iman yang selama satu pekan berada di lokasi.

Tak mudah memang, menerapkan teori dan standar keselamatan jiwa secara ideal. Saat menyentuh urusan perut dan kelangsungan hidup, marabahaya seakan tidak menakutkan. Mereka telah mengakrabi ancaman bencana, dengan kearifan lokal, berdasar keyainan mereka.

Jika keyakinan itu salah? Entahlah, yang pasti cara hidup menantang maut seperti itu, kerap kita jumpai di masyarakat kecil negeri ini. Mereka yang berada dekat dengan daerah rawan bencana, maupun mereka yang terjerat akar kemiskinan.

Satu hal bisa kita pelajari, mereka tak menjalani hidup ini, dengan cara cara mudah, seperti korupsi. Mereka punya semangat, keberanian, dan harga diri, untuk hidup bermartabat.

Read More......

Bilakah Sampannya Kembali

Hati Mursydin (52) sekan teriris iris. Tiap ia kenang sampannya yang hilang. Deburan ombak yang mengempas pesisir Maumere, seperti membawa pulang sampan kecil itu. Ia tengok, tapi selalu hampa. Dia hanya dapati perahu ukuran besar yang berlabuh di pantai. Mursydin mulai kerap termenung. Batinnya guncang, memikirkan sampan itu.


Waktu sampan belum hanyut ke laut, Mursydin menggunakannya untuk mancing ikan. Ia bisa menghidupi istri dan 9 anaknya. Sejak sampan hilang, Mursydin terpaksa minjam sampan pada saudara dan tetangganya. Ia menunggu berjam jam, sampai pemilik sampan mendarat. Setelah itu, ia baru bisa melaut dengan cuaca yang tak mampu ia pilih. Mursydin tak leluasa seperti dulu, dapat memilih saat saat jam ikan kumpul.

Satu bulan setelah sampan hilang, ujian lebih berat menimpa lelaki mualaf itu. Malam itu, cuaca buruk mengintai pesisir Maumere. Tapi Mursydin tidak menyadari, karena telinganya tidak dapat lagi mendengar suara apapun. Ruhmania (42), sang istri, telah mengingatkan dengan bahasa isyarat, kalau angin di luar kencang. Tapi Mursydin diam. Ia malah beranjak tidur. Pulas.

Kali ini, deru angin makin mengerikan. Perkampungan di pesisir Maumere, seperti tersapu. Ruhmania yang baru mau tidur, terbelalak. Ia segera membangunkan anak anaknya. Sementara suaminya tetap pulas.

“Hai bapak! Kita punya rumah mau terbang ini! bangun!”, teriak Ruhmania cemas. Mursydin malah mendengkur.

“Anak anak, bangunkan bapak kalian!”, Ruhmania panik.

“Bapak! Bapak! Ayo bangun!”, jerit anak anaknya sembari memukul mukul tubuh ringkih Mursydin.

“Hai! Ada apa kalian bangunkan bapak!” nyawa Mursydin belum kumpul. Ia masih bingung. Tatkala kepalanya mendongak ke langit, ia mulai sadar.

“Lho! dimana aku tidur!” Mursydin bangun, kaget. Ia tengok atap rumahnya sudah hilang. Benda benda di sekitarnya juga bergoyang hebat. Kini ia mulai panik. Tangannya, bergegas menarik tangan istri dan anak anaknya.

“Ayo kita lari!” Mursydin bergegas. Sembari masgul, Ruhmania dan anak anaknya mengikuti arah lari Mursydin.

Belum 100 meter berlari, mereka berhenti. Dalam pendar pendar lampu kapal, Mursydin menengok sejenak rumahnya.

“Brusss!” ombak tinggi naik lebih dari 100 meter dari pantai. Rumah Mursydin lenyap seketika. Mursydin lemas. Ia lunglai tak mampu lari lagi.

“Ya Allah, apalagi yang Engkau ambil dari kami”, gugat Mursydin lirih.

Esok pagi, ia tengok rumahnya sudah tidak berbekas. Sejak itu, bersama korban lainnya, Mursydin tinggal di tenda darurat. Suatu hari, ia pernah didata untuk menandatangani kertas bantuan. Isi bantuannya, seng, paku, kayu, dan beras. Tapi setelah datang, yang ia terima bersama korban lainnya, hanya seng. Point yang lain, tidak pernah sampai, hingga kini.

Dari 9 anak Mursydin, hanya satu yang sekolah. Itupun karena ada yang menitipkan di panti asuhan Surabaya. Anak itu yang kelak diharap harap Mursydin, bisa membawa pulang kembali sampannya yang hilang. Namun, penantian itu tidak pasti. Sementara, keluarga Mursydin, harus melanjutkan hidup.

Menurut Ruhmania, Mursydin malu sampai kini masih pinjam sampan. Pikirannya jadi tertekan. Tapi hanya itu yang dapat diperbuat saat ini. Sampai sampai, ia berangan angan, jika kelak punya sampan akan meminjamkannya ke orang lain.

Sore itu, angin di pesisi Maumere cukup kencang. Di depan tenda daruratnya, Mursydin memandang laut Flores. Mungkin ia masih berharap, sampannya kembali, menyembul dari dasar laut. Mungkinkah Mursydin?

Read More......

Ancaman Rawan Pangan


Pangan langka dan mahal tidak saja menerpa secara langsung warga termiskin di dunia. Inflasi, yang didongkrak harga pangan dan minyak, juga mulai menggerus ekonomi dan dikeluhkan di banyak negara. Topik pembicaraan terus berkembang dan makin mengarah pada probabilitas terjadinya stagflasi global.



Presiden World Bank, Robert Zoellick, awal April lalu mengingatkan, krisis pangan bisa memicu perang. Menurutnya, akan ada 33 negara di seluruh dunia yang mengalami masalah instabilitas politik dan sosial, akibat tingginya harga bahan pangan dan harga bahan bakar minyak.

Ungkapan Zoellick bukan pepesan kosong. Kini, kerusuhan akibat kelangkaan bahan pangan terjadi di Mesir, Pantai Gading, Madagaskar, Kamerun, Filipina, Papua Nugini, Mauritania, Mexico, Maroko, Senegal, Uzbekistan, dan Yemen. Perdana Menteri Haiti, bahkan dimakjulkan dari jabatannya, gara-gara soal perut yang menyebabkan lima warga mati, ditembak dalam kerusuhan massal.

Padahal, menurut Amartya Zen (1998), sepanjang sejarah dunia, sebenarnya tidak pernah bumi ini mengalami kekurangan dalam penyediaan bahan pangan. Tapi yang terjadi, distribusi tidak merata sehingga krisis demi krisis kerap terjadi.

Bahkan, FAO dalam laporannya tahun 2004 menyatakan, peningkatan produksi pangan dalam 35 tahun terakhir telah melampaui laju pertumbuhan penduduk dunia, sebesar 16%. Lantas mengapa rawan pangan mengancam?

Masalahnya adalah, negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, ‘’mengatur’’ pertanian negara- negara lain, agar menguntungkan pertanian mereka sendiri. Misalnya lewat tangan WTO (World Trade Organization), mereka melakukan politik pertanian internasional mazhab Neo-liberalisme dengan memaksakan kesepakatan AOA (Agreement on Agriculture) WTO.

Menghadapi ancaman rawan pangan ini, berbagai negara, kini bergegas melakukan langkah antisipasi, setidaknya menjamin pengadaan pangan. China telah memperbaharui program insentif di sektor pertanian dengan dukungan Rp 80 triliun dana. India dan Filipina, memilih pembangunan prasarana pedesaan, pengadaan bibit unggul dan sarana pendukung pertanian. Lantas, apa yang kini bisa dilakukan Indonesia?

Setidaknya, kita bisa mulai melakukan moratorium liberalisasi perdagangan. Tahan ekspor komoditas pangan, menstabilkan cadangan emas, menyimpan hasil pertanian (padi, jagung, kedelai, dll) bukan malah dijual ke luar negeri, tidak mencari utang baru, menentukan skala prioritas kebutuhan pokok di setiap lini, dan meninjau ulang semua investasi asing, terutama yang terkait tambang dan sumberdaya alam.

Lebih strategis lagi, kita harus berani keluar dari WTO. Bentuk perjanjian yang menjerat leher bangsa ini, sejak 1995. Kita perlu bererat-erat dengan negara negara yang bersih dan berpihak. Negara negara yang tidak melumuri bangsanya dengan darah bangsa lain, sebagai penjajah. Tapi, untuk memutuskan keluar, rakyat bangsa ini perlu berdoa sepenuh hati, agar pemerintah yang kita cintai ini, berani memilih jalan bermartabat itu.

Read More......

Friday, April 18, 2008

Ini Soal (Politik) Perut, Bung!

“Tanpa pertanian, penduduk dunia tidak dapat meneruskan kehidupan mereka”. (Adam Smith: The Wealth of The Nations, 1776).

‘’Krisis pangan bisa memicu perang,’’ Presiden World Bank, Robert Zoellick, mengingatkan 2 April lalu. Menurutnya, akan ada 33 negara di seluruh dunia yang mengalami masalah instabilitas politik dan sosial akibat tingginya harga bahan pangan dan harga bahan bakar minyak.

Seperti dilansir lembaga riset beras dunia (International Rice Research Institute/IRRI), dunia dihadapkan pada krisis pangan akibat tekor suplay pangan khususnya beras terhadap permintaan. Laporan Bank Dunia tahun lalu menyatakan harga gandum dunia melonjak 181% selama 36 bulan hingga Februari 2008, sedang harga pangan keseluruhan naik 83 persen. Harga beras dunia pun mengamuk menjadi US$700 per ton. Melonjak 50% dibanding harga akhir Januari lalu.

Ditengarai, ketekoran pangan akibat dua eksportir besar beras dunia yakni Thailand dan Vietnam, dihajar hama dan banjir. Padahal, selama ini Thailand mampu memproduksi 22 juta ton/per tahun dan mengekspor 7,5 juta ton diantaranya. Sedangkan Vietnam memproduksi 18 juta ton/tahun dan mengekspor 5 juta ton diantaranya.

Tak lama setelah Zoellick bersabda, kerusuhan-kerusuhan akibat kelangkaan bahan pangan terjadi di Mesir, Pantai Gading, Madagaskar, Kamerun, Filipina, Papua Nugini, Mauritania, Mexico, Maroko, Senegal, Uzbekistan, dan Yemen. Di Pakistan, batalyon pasukan diturunkan untuk mengamankan truk-truk pengangkut tepung gandum. Perdana Menteri Haiti bahkan dimakjulkan dari jabatannya, gara-gara soal perut yang menyebabkan 5 warga mati ditembak dalam kerusuhan massal.

Itu belum seberapa. David Ignatius, pengamat ekonomi dan kolumnis dari Washington Post, menulis, tingginya harga beras hanyalah masalah kecil. Ada masalah yang lebih besar yang segera tiba, yakni an
caman inflasi global terutama akibat kenaikan harga bahan pangan.

Berdasarkan data IRRI, saat ini 2,4 miliar penduduk dunia sangat bergantung pada beras. Dengan kontribusi belanja rumah tangga sebesar 20%, kenaikan harga akan memicu inflasi besar-besaran. Tentu saja yang paling terpukul adalah rumah tangga miskin, yang 70% anggaran pendapatannya dialokasikan untuk beras seperti di Indonesia.

Menurut prediksi FAO, 36 negara di kawasan Afrika, Asia, dan Amerika Latin mengalami krisis pangan, termasuk Indonesia. Global Information and Early Warning System dari FAO menyebutkan, Indonesia termasuk negara yang membutuhkan bantuan negara luar dalam mengatasi krisis itu, selain Irak, Afghanistan, Korea Utara, Bangladesh, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, dan Timor Leste.

Menurut Amartya Zen (1998), sepanjang sejarah dunia sebenarnya tidak pernah bumi ini mengalami kekurangan dalam penyediaan bahan pangan. Tapi yang terjadi, distribusi tidak merata sehingga krisis demi krisis kerap terjadi. Hal ini diakui oleh FAO dalam laporannya tahun 2004. Laporan menyatakan, peningkatan produksi pangan dalam 35 tahun terakhir telah melampaui laju pertumbuhan penduduk dunia, sebesar 16% yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kini pun, ketika dunia meneriakkan resesi pangan, produksi beberapa komoditas pangan dunia sebenarnya meningkat. Produksi gandum naik hingga 9,34 juta ton antara tahun 2006 dan 2007. Sedangkan produksi gula dunia meningkat sebesar 4,44 juta ton sepanjang tahun lalu. Produksi jagung, tahun 2007 lalu mencapai rekor produksi 781 juta ton atau meningkat 89,35 juta ton dari total produksi tahun sebelumnya. Hanya kedelai yang mengalami penurunan produksi sebesar 17%. Itu pun karena ada penyusutan lahan di Amerika Serikat sebesar 15% untuk proyek biofuel.

Lalu, apa masalahnya?

"Masalahnya adalah mutlak struktural," jawab Stuart dari Oxfam.

Oxfam, LSM di bidang kemanusiaan dan pembangunan, dalam laporan Agustus 2003 bertajuk ‘’Running into the Sand’’ mengungkapkan, negara-negara maju telah memberi subsidi satu miliar dollar AS per hari pada petani mereka.

Nilai subsidi itu besarnya enam kali lipat dari nilai bantuan yang diberikan pada negara-negara miskin. Negara-negara Uni Eropa telah mengucurkan subsidi kepada petani gula 50 euro/ton panen tebu. Sama dengan lima kali lipat harga pasar gula dunia.

Negara-negara maju
juga memberikan proteksi berupa hambatan tarif dan nontarif, bagi produk pertanian guna mencegah masuknya berbagai komoditas serupa yang berpotensi mematikan bisnis petani lokal. Misalnya, Jepang mematok bea masuk impor beras 400%.

Sebaliknya, negara-negara besar itu ‘’mengatur’’ pertanian negara-negara lain agar menguntungkan pertanian mereka sendiri. Misalnya lewat tangan WTO (World Trade Organization), mereka melakukan politik pertanian internasional mazhab Neo-liberalisme dengan memaksakan kesepakatan AOA (Agreement on Agriculture) WTO. Termasuk kepada Indonesia, yang meneken perjanjian ini sejak 1995 hingga kini.

Butir-butir kesepakatan AOA-WTO itu, Pertama, kesepakatan market access (akses pasar) komoditi pertanian domestik. Pasar pertanian domestik di Indonesia, harus dibuka seluas-luasnya bagi komoditi pertanian luar negeri.

Kedua, penghapusan subsidi dan proteksi negara atas bidang pertanian. Negara tidak boleh melakukan subsidi bidang pertanian, baik subsidi pupuk atau saprodi lainnya serta pemenuhan kredit lunak bagi sektor pertanian.

Ketiga, penghapusan peran STE (State Trading Enterprises) Bulog, sehingga Bulog tidak lagi berhak melakukan monopoli dalam bidang ekspor-impor produk pangan.

Karena itulah, Brasil dan India tahun lalu walk out dari perundingan empat negara (G-4) plus Uni Eropa di Postdam. Menteri perdagangan Brasil dan India tak mau dicurangi Amerika, yang memberikan tawaran pemotongan subsidi pertanian terlalu kecil. Amerika dan Uni Eropa, juga menekan India dan Brasil agar lebih membuka pasar mereka untuk produk-produk asing dengan kemudahan.

‘'Pertemuan ini tidak ada gunanya sama sekali,‘’ geram Menlu Brasil Celso Amorim. Menurut laporan BBC, Kegagalan pertemuan itu membuat masa depan perundingan WTO secara keseluruhan yang biasa disebut Putaran Doha menjadi tidak menentu.

Bisakah Indonesia punya nyali seperti India dan Brasil?

Dalam temu wicara dengan petani padi se-Jabar sekaligus panen benih padi varietas Mira-1, di Desa Rancadaka, Pusakanagara, Subang, 4 Juni 2007, Presiden SBY memaparkan enam pilar yang menjamin kem
ajuan di bidang pertanian Indonesia. Yakni: kebijakan pemerintah yang baik, inovasi teknologi, infrastruktur yang mendukung, budaya petani, lingkungan hidup, dan kepemimpinan.

Pemerintah sudah cukup baik dengan menerbitkan Inpres No. 3/2007 tentang perberasan, yang mengendalikan harga pembelian untuk menjaga kestabilan serta keadilan harga beras dan gabah. Sebab, "Jika diserahkan kepada mekanisme pasar, saya khawatir akan terjadi ketidakadilan dalam menentukan harga. Dalam hal ini tentu pemerintah memiliki tanggung jawab untuk membentuk keadilan tersebut," kata SBY.

Padahal, menurut David Burton, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, menanggapi proteksipertanian di Asia, "Saya kira tindakan terbaik adalah mengijinkan mekanisme pasar berjalan, dimana membiarkan harga-harga naik kemudian akan ada respon terhadap suplainya."

Menurut Komite Penghapusan Hutang Negara-Negera Dunia Ketiga, biang utama krisis pangan di negara-negara miskin justru adalah kebijakan imperialistik Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Seperti dilansir Televisi BBC 16 April lalu, komite yang berpusat di Belgia, itu menegaskan, IMF dan Bank Dunia, sejak 20 tahun lalu memaksa negara-negara Selatan menerapkan kebijakannya, sehingga menyebabkan kerugian besar negara-negara tersebut.

Komite ini menambahkan, kini rakyat negara-negara Selatan terpaksa harus membayar mahal program-program IMF dan Bank Dunia. Semestinya dua lembaga itu yang menanggung dosa dari kesalahan tak terampuninya ini. Tapi kini, IMF dan Bank Dunia malah berupaya menyembunyikan kesalahannya dengan memanfaatkan isu krisis inflasi dan pangan dunia.

Nah, sekarang, beranikah kita keluar dari ketiak IMF dan World Bank? Ini urusan (politik) perut, Bung! Jangan sampai tragedi Haiti terjadi di sini. pane fakri

Read More......

Pejuang Dari Babakan Sabrang

Rindu kami padamamu ya Rasul. Rindu tiada terperi…
Nuraini dan teman temannya, menyanyikan “Rindu Kami Padamu”, garapan Bimbo itu, dengan merdu. Petikan dawai gitar yang mengiringinya, membuat suara kian menyayat. Group paduan suara SMP Alternatif Cendekia ini, benar benar mengeluarkan vokal dengan hatinya. Mata mereka sampai berkaca kaca. Sedalam itukah?


Kelihatannya ada sebab lain. Sebelum lagu itu dinyanyikan, anak anak bercerita kisah hidupnya yang tak terperi. Nuraini misalnya, ia punya cita cita jadi penulis. Tapi kehidupan orang tuanya sulit. Sejak kecil, ia tinggal bersama neneknya. Demikian juga Atik, dia pernah tak makan saat orang tuanya tidak mampu beli sembako.

“Saya pernah kak tidak makan. Satu hari setengah”, celetuk Atik polos. Menurutnya tak hanya sekali, beberapa kali malah. Apalagi saat harga harga naik seperti hari ini, sulitnya amat terasa. Wajar, tatkala lagu yang syahdu itu dinyanyikan, mereka mendalami hingga tulang sumsum.

Nuraini, Atik, dan teman teman sebayanya, hanya mampu menempuh pendidikan di SMP Terbuka. Mereka secara ekonomi tidak mampu sekolah di pendidikan formal. Tetapi, tatkala ujian, mereka akan menginduk ke SMP Negeri setempat.

Sekolah terbuka yang berada di Desa Babakan Sabrang, Ciseeng, Bogor itu, dirintis oleh Hadisuryanto. Mulanya, ia seorang mahasiswa yang sedang KKN di desa itu, pada 2002. Hubungannya dengan masyarakat setempat, meluruhkan nurani Hadi. Ekonomi lemah dan pendidikan yang rendah, menjadi keprihatinan lelaki berambut gondrong itu.

“Saya senang tinggal di sini. Tahun 2003, saya buat sanggar belajar di rumah seorang ustad. Saya ngajar matematika, komputer, dan bahasa Inggris. Respon anak anak sangat antusias”, kenang mahasiswa Madina Ilmu, Depok itu.

Sejak itu, ia makin terpikat dengan kondisi anak anak Desa Babakan. Apalagi, kebanyakan anak muda di desa ini hanya lulus sekolah dasar. Mereka banyak yang nikah muda. Bulat sudah tekad Hadisuryanto, untuk membantu generasi Babakan mendapat mencerahan pengetahuan. Apapun caranya, mereka harus sekolah.

“Saya akan tetap bertahan, sampai saya bisa melihat anak anak mandiri. Karena mereka yang nanti akan melanjutkan perjuangan ini”, tekad ayah satu anak yang terpisah jarak ini. Hadi tinggal di Ciseeng, sementara istri dan anak pertamanya yang baru umur dua bulan, tinggal di Palembang.

Mendirikan sekolah gratis ternyata tak mudah. Hadi harus memutar akal, bagaimana sekolah itu bisa bertahan. Ia pun menghubungi teman teman kuliahnya, untuk menjadi guru di sekolah itu. Tak hanya dari teman satu kampus, guru gurunya juga datang dari mahasiswa Gunadarma Depok.

SMP Alternatif Cendekia, menempati kontrakan rumah Rp 3,2 juta per tahun, di Jl AMD Raya No 14. Juni ini, masa kontrak habis dan tak bisa diperpanjang lagi. Muridnya 78 Anak. Mereka juga berasal dari desa sekitar, seperti Cigombong, Ciseeng, dan Prigi. Anak anak, banyak yang jalan kaki dua jam untuk ke sekolah. Di dalam kelas, terdapat tiga unit komputer, beberapa buku pelajaran, dan meja duduk tanpa kursi. Karena sempitnya ruangan, jadwal sekolah dibagi dua, pagi dan sore.

Tahun lalu, Hadisuryanto bertemu seorang dermawan. Tatkala melihat aktivitas SMP terbuka ini, orang itu luluh hatinya. Akhirnya, ia membatalkan rencana umrohnya bersama keluarga. Biaya untuk rencana umroh itu, akhirnya disumbangkan ke SMP Cendekia dalam bentuk 600 meter tanah. Saat ini, di lahan itu, tengah dibangun gedung sekolah. Hadi menerima bantuan itu syukur, juga masgul. Sebab, ia harus mencari dana tambahan untuk proses pembangunannya yang tertatih tatih.

“Jujur saja, kalau dulu saya tahu rasanya begini, saya nggak berani membuat sekolah ini mas. Benar benar berat. Tapi saya tak akan mundur”, tandasnya. Ia juga berencana, gedung itu nanti dapat menampung jenjang SMA. Rencananya, tahun ajaran ini.

Perjuangan Hadi tak sia sia. Anak anak di sekolah itu, mengaku bersyukur ada sekolah ini. Jika tidak, meraka pasti terhenti hanya di bangku sekolah dasar. Dengan pengetahuan, kini mereka punya asa. Nuraini ingin jadi penulis, Atik mau jadi guru, dan anak anak yang lain semua punya mimpi menggapai bintang.

Meski untuk itu, Hadi tak rampung kuliahnya. Terpisahkan dengan anak dan istri. Lelaki gondrong yang bersahaja itu, telah memberikan hidupnya, untuk anak anak yang termarginalkan. Kami malu padamu Hadi.

Read More......

Tuesday, April 15, 2008

Ini Indonesia Bung!

Mahalnya beras dan kelangkaan minyak tanah, tak mengusik hidup Abdullah (72) yang akrab disapa Pak Abdul. Sebab, warga Kampung Cibarani, Desa Karangnunggal, Cirinten, Banten, ini memang sudah beberapa bulan terakhir ‘’putus hubungan’’ dengan kedua komoditas itu. Tepatnya setelah harga beras dan minyak tanah membubung tinggi sehingga menjadi barang mewah buatnya.


‘’Sekarang kita mah pake kayu bakar dan makan singkong bae,’’ katanya sambil asyik menganyam kulit bambu untuk dibuat besek. Untuk membakar kayu, tak perlu minyak tanah. Cukup memakai dedaunan kering yang gampang dijumpai di kampungnya. Memang agak lama, tapi Pak Abdul sudah biasa menikmati kesusahan.

Istri, menantu, dan cucu Pak Abdul juga mulai terbiasa melawan kerasnya hidup. Mereka mewarisi ilmu anyam si kakek yang masih cukup gesit itu.

Spirit keluarga Pak Abdul tak lepas dari gemblengan Ustadz Dulhani, da’i Dewan Da’wah yang berdinas di perbatasan Badui Dalam. Dulhani berpesan agar jamaah pandai-pandai berkelit dari peliknya kehidupan. Baik tantangan alam maupun kebijaksanaan ‘’Jakarta’’ yang seringkali tidak masuk dalam hitungan hidup warga terpencil seperti warga Cibarani.

Maka ketika pemerintah memaksa rakyat beralih dari minyak tanah ke gas elpiji, Dulhani mengajak warga Cibarani beralih ke kayu bakar dan dedaunan kering. Sebab, kompor gas dan elpiji masih menjadi makhluk asing di Karangnunggal yang terpencil.

‘’Kalau pake kayu bakar nggak boleh karena dianggep balakan liar, ya kita bakar ranting dan daun kering. Kalau itu juga nggak boleh, ya kita bakar gubug kita,’’ tutur Pak Abdul sambil terkekeh geli. Menertawakan nasibnya sendiri.

Abdullah sekeluarga, bertahun-tahun memang hidup di gubug berdinding bambu. Mereka juga memperoleh penghasilan pas-pasan dari kerajinan tangan menganyam kulit bambu. Tapi, tentu saja pilihan pada bambu ini bukanlah agar mudah dibakar sewaktu-waktu.

Tapi, kalau tahu, tempe, beras, minyak tanah, sudah jadi barang mewah, suatu saat nanti mungkin Pak Abdul memang harus menjadikan gubugnya sebagai bahan bakar. Who knows. Ini Indonesia, Bung! (Pane Fakhri)

Read More......

Friday, April 11, 2008

Lonceng Kematian LAZ

Ssst, draft RUU Zakat pengganti UU 38/1999, sampai di tangan. Di era keterbukaan, menggagas diam-diam mematangkan misteri. Harusnya melegakan, tapi resah yang terpicu. Bola jelas bakal liar, yang implikasinya meluas. Kebijakan seolah cuma uji coba. Tak peduli pada tatanan yang telah terpola sebaik apapun. Gairah zakat berkat paduan strategi dan siasah selama ini porak poranda. Struktur yang terbentuk pun terjungkal sia-sia. Bingung, yang meretas kebingungan lain. Ketidakpastian, itulah kepastian yang dihadapi di tiap perubahan UU.


Enam Soal

RUU Zakat setidaknya punya delapan perkara. Tulisan ini merupakan satu dari delapan rencana tulisan berseri. Kini kita kupas pasal 7 ayat 2. Isinya: “Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang telah dikukuhkan di instansi pemerintah dan swasta diubah statusnya menjadi Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dari Badan Amil Zakat (BAZ) setempat”.

Ada enam masalah berkait dengan pasal ini. Pertama nasib LAZ memang tak pernah dihargai. Pasalnya jelas. Karena LAZ seperti DD Republika, RZI, PKPU, BM Hidayatullah dan DPU DT merupakan produk masyarakat. Bukan ingin mendahului kehendak Allah SWT. Tapi tanpa LAZ, dunia zakat di Indonesia tak bakal marak. LAZ terbukti menginspirasi lahirnya tiga hal penting. Pertama UU 38 tentang Pengelolaan Zakat disahkan tahun 1999. Kedua LAZ membuahkan hasil terbentuknya sub-direktorat zakat di Depag. Dan ketiga, tanpa LAZ mustahil BAZNAS ada.

Tapi pameo ’air susu dibalas dengan air tuba’, bukan tanpa makna. LAZ sang inspirator, justru sedang dikubur oleh lembaga yang lahir berkat LAZ. Sementara beberapa negara luar yang telah kirim dutanya – seperti Tanzania tahun 2002 – amat tertarik dengan LAZ sebagai satu role model. PPZ (Pusat Pungutan Zakat) Malaysia, bahkan juga jajaki aliansi twin sister dengan DD Republika.

Di 2002 itu juga, Indonesia masuk dalam 59 negara gagal yang dibahas World Economic Forum dan Universitas Harvard. Ciri negara gagal, di antaranya angka kriminal dan kekerasan tinggi; korupsi meraja lela; miskinnya opini publik; serta tingginya suasana ketidakpastian (Meuthia Ganie-Rochman, Kompas, 4 Jan’08). Kontradikitf: di sisi pengelolaan zakat, LAZ jadi role model. Di penyelenggaraan negara, Indonesia masuk dalam contoh studi pembangunan negara gagal.

Soal kedua alih-alih asset, di mata pemerintah, LAZ adalah pesaing. Aroma ini sudah tersedak di UU 38/1999. Begitu semangatnya, hingga arsitek UU 38/1999 gagal sembunyikan ketersinggungannya karena zakat dikelola masyarakat. Padahal konsep negara modern, menuntun pemerintah tak perlu berlelah-lelah kerjakan serba sendiri. Lebih-lebih kemiskinan yang 120 juta orang (World Bank), harusnya mentawadhukan pemerintah lebih rendah hati. Syukur-syukur bisa melafal hamdallah karena hadirnya LAZ. Apalagi sebagai negara gagal, mestinya pegiat zakat dihadiahi medali. Lho, malah diancam.

Dan justru itulah soal ketiga, kreatifitas bottom up dicoba diberangus. Padahal dalam konteks negara gagal, kreatifitas jadi penghela untuk lepas dari keterpurukan. Bottom up jelas bukti konkrit masyarakat yang tak pernah bisa diam. Lantas bukankah kreatifitas bottom up LAZ, hasilkan pengelolaan zakat ala Indonesia. Khasanah pengelolaan zakat dunia diperkaya. Konteks zakat, hanya bisa dikuak muamalahnya dengan kreatifitas. Gaya top down Orde Baru, ternyata masih kuat melekat. Maka kemandegan, itulah tanda-tanda dunia zakat Indonesia ke depan.

Keempat, karena dunia zakat mandeg, motivasi pun tergerus. Kebijakan ini menambah contoh, ihtiar selalu disumbat. Apakah karena pemerintah, kebijakan mematikan pun otomatis dianggap maruf? Demotivasi pegiat zakat, bakal terpicu hebat. Begitu RUU disahkan, dunia zakat Indonesia pasti ditinggal orang-orang terbaiknya. Kebijakan yang ‘mengganggu’ ini, berpotensi gagalkan tujuan kebijakan itu sendiri.

Kelima, atas nama agama, kebajikan zakat yang telah nyata dicerabut. Di balik kebajikan, itulah kepercayaan. Namun karena dianggap benda mati, kepercayaan seolah mudah saja dialihkan pada lembaga bentukan pemerintah. BAZ-nya tak salah. Kredibilitas pemerintah yang jadi soal. Berbeda dengan calhaj yang terpaksa ‘mau’ diatur karena no choice. Bagi sebagian muzaki, gaya top down jadi problem. Begitu RUU disahkan, itulah aba-aba: Memilih salurkan langsung ke masyarakat, tetap ke LAZ meski diberangus atau turuti kehendak RUU.

Maka keenam, siapa bakal ambil alih tanggung jawab dan biaya kegiatan yang telah berjalan di masyarakat? Negara bukan hanya terbukti gagal lindungi, rakyat miskin malah terus bertambah. Sedang LAZ yang coba membantu, justru hendak dipunahkan. Dibantu malah tersinggung.

Tanggalkan Baju Zakat
RUU Zakat, agaknya kebijakan ketersinggungan. Gegabahnya menikam banyak pihak. Masyarakat pun digiring apatis. Mudahkah gapai tujuan yang dipandu nalar ego? Set back dan demotivasi. Begitu kekagetan banyak pihak menyimak RUU Zakat. Siapa yang tak geleng kepala, kreatifitas zakat yang telah terpola direngut. Atas nama agama pula, buah-buah kebajikan dicabuti.

Dengan RUU Zakat, ada yang terbahak, ada pula yang masghul. Sedikit yang mau tahu, namun banyak sekali yang tak peduli. Yang diam dianggap ‘sopan’. Yang aktif mengadvokasi dianggap sakit hati. Sambil mengamati ketidakpastian, harapan tinggal di DPR. Cermatkah DPR deteksi klausul tak produktif. Jika tidak, LAZ jelas tanggalkan ‘baju zakat’ untuk beralih ke LSM. Sebab Depsos yang ‘sekuler’ terbukti malah lebih bijak. Tak terbersit jadikan LSM dan NGO sebagai UPS (Unit Pegiat Sosial). Sementara muzaki yang masih ingin salurkan zakat, tetap bisa dilayani oleh LSM dengan nafas baru ini.erie sudewo

Read More......

Friday, April 04, 2008

Optimisme Hapet

Di mana optimisme itu terselip? Dalam relung sanubari pemerintah dan elit? Terbingkai dalam pikiran jernih, cerdik pandai? Terserak di tengah gemuruh kampanye partai politik? Atau, terendap dalam janji para Balon (bakal calon)? Entahlah. Optimisme memang misteri. Ia kata yang mudah kita cuap cuapkan. Tapi sulit dilihat serpihan wujudnya.




“Satejena oreng kodu optimis gadebbi kabedeen odi’ samangken”, (dalam menjalani hidup ini harus optimis) terang Hapet. Ia tukang becak di terminal bus Situbondo, Jawa Timur. Sudah 30 tahun profesi itu ia jalani. Melebihi separo dari hidupnya, kini menginjak umur 54 tahun.

Wujud optimisme itu, beru
saha ia buktikan dengan setia pada pekerjaannya. Kulit Hapet mulai kering keriput, tapi badannya yang kurus masih tampak sehat. Matanya cekung. Nafasnya kadang tersengal. Tapi ia enggan berhenti, menghisap lintingan tembakau.

“Beden kaule koat tak nedde asalkan aroko”, (saya kuat tidak makan asal merokok) akunya, dengan logat Madura murni.

Rokok, bagi Hapet dan kebanyakan pekerja kasar, pil ampuh menahan lapar. Jika dituruti, godaan perut bisa mem
buat bangkrut. Pulang ke rumah bisa tidak membawa uang. Maka, asap rokok menjadi penyumbat rasa lapar itu. Rokok yang mereka hisap, buatan sendiri, dari tembakau yang dilinting dengan kelobot (kulit jagung).

Entah darimana Hapet tahu, ungkapan optimisme itu. Membaca ia tak pandai, televisi juga tak punya. Mungkin, ia mendengar celetukan penumpang bus antar kota, yang riuh saban hari di terminal. Bisa juga mendengar dari penumpangnya.

Tak peduli dari mana, ayah lima anak itu dapat optimisme. Tapi sejak ia kali pertama mengayuh becak, itu optimisme
nya untuk melanjutkan hidup. Meski sampai kini, rumahnya masih bertulang ori (jenis bambu) dan dinding gedhek yang mulai lapuk, Hapet merasa hidup harus optimis.

Optimisme, membakar Hapet tak ciut oleh luapan sungai Sampean yang arusnya deras. Di musim penghujan, tidak ada jalan lebih dekat menuju kota, selain menyeberangi sungai itu. Tiap pagi, Hapet menenteng sebatang bambu untuk menyeberang.

Bambu itu, ia gunakan menopang badannya agar tak tenggelam. Dari pinggir awal men
yeberang, ia akan berusaha mengapung dan membiarkan dirinya terseret arus, hingga 200 meter untuk sampai di pinggirnya. Sementara tangan kanannya memeluk bambu, tangan kiri menjulang ke langit, menahan pakaian yang dibungkus plastik agar tak basah.

Selama musim penghujan, Hapet selalu menempuh jalan yang dekat dengan maut itu. Sebaliknya, tukang becak yang lain di desanya, memilih bertahan di rumah. Mereka baru akan menyeberang, jika air sungai surut dengan sampan penyeberangan. Tapi Hapet tak mungkin diam, hanya oleh rintangan alam itu. Keluarganya perlu makan.

Dengan optimisme dan ketangguhan sekuat itu, berapa rupiah uang yang dibawa pulang Hapet. Jumlahnya tak lebih dari Rp 20 ribu. Bahkan, sejak banjir sepeda motor, penghasilannya kini paling bagus Rp 15 ribu. Itupun hanya pada hari hari tertentu. Seperti liburan, lebaran, dan perayaan Maulid. Penumpang yang sepi, ditumbur harga kebutuhan pokok yang terus naik, membuat hidup tukang becak tak terperi. Tapi Hapet bergeming, harus tetap optimis.

Pikiran sederhananya, ia berusaha tak menyerah oleh kehidupan yang sulit. Kalau Hapet ingin hidupnya lebih baik, mungkin harus pindah pekerjaan. Namun, di senja usianya, Hapet hanya punya sepasang kaki untuk mengayuh pedal dan becak, yang besi besinya mulai karatan.
Hapet juga mustahil ber
saing, dengan sarjana yang kini sulit mencari kerja. Mau berdagang – kalau toh ada modal – nyaris tak ada lapak aman dari gusuran trantib. Sekali waktu, Hapet berangan tinggi, tapi optimismenya mentok di sadel becak.

Di masyarakat kecil kita, banyak yang punya ketangguhan semacam Hapet. Temui mereka di desa desa, trotoar, pasar, gang gang sempit, dan jalanan. Betapa kreatif masyarakat negeri ini. Mereka lihai menyiasati hidup, meski silih berganti bangkit dan limbung. Penggusuran pedagang yang mengusir mereka dengan bengis, tak membuat menyerah. Esok, datang menggelar dagangan lagi.

Menyelami detak jantung kehidupan masyarakat kecil, kita merinding melihat betapa optimisnya mereka mengurus diri sendiri. Mereka optimis, dalam serba keterbatasannya. Tidak saling ganggu, apalagi rusuh. Kecuali ada segelintir kecil yang memanfaatkan keluguannya. Menyulut api, atas nama demokrasi.

Optimisme Hapet, mestinya membuat bangsa ini maju dan agung.
Tinggal bagaimana nahkoda bangsa ini, membuktikan optimisme kebangsaannya. Tentu bukan optimisme dalam irisan idealisme dan pragmatisme. Jika itu yang dimaknai, pemimpin negeri ini kalah dengan optimisme Hapet, si tukang becak.

Pun, optimisme Hapet bening. Ia mengingatkan, kita harus optimis dalam hidup, dengan cara mencari rezeki yang halal. Wejangan yang kelihatannya berat, dijalankan pengelola negeri ini. Karena
acap bicara optimisme, kerap dari balik jubah korupsi dan manipulasi.

Dalam ketidakpastian ini, kita sepakat harus menghidupkan optimisme. Lantas, bagaimana ia bisa membumi dari sekadar kata kata? Jika mau dengan cara melankolis, mungkin dapat memetik optimisme cinta Maria, dalam film Ayat Ayat Cinta. Betapa optimisme cintanya, dalam merebut hati Fahry mengagumkan. Hingga Presiden SBY, mengaku menangis usai menonton film itu.

Sebaliknya, jika optimisme bangsa ini seperti Hapet, yang keluar bukan air mata. Melainkan kerja keras dan peluh bercucur.

Read More......

Dari Beras Hingga Pisang Rebus

Perlahan, matahari tenggelam di ujung barat Flores. Dari utara, Kapal Armada Bahari Mulia yang mampu mengangkut 15 ton muatan, merapat ke pelabuhan Pulau Adonara. Kapal kayu itu, dimuati biji mente dari Alor. Setelah bersandar, lima awak kapalnya turun. Mereka singgah sejenak di Desa Adonara, Kelubagolit, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kampung halaman mereka.


Pelayaran itu, dipimpin Arifudin Anwar. Ia salah seorang aktivis sosial di Adonara, yang mengelola pendidikan gratis, jenjang SMP dan SMA. Murid-muridnya, datang dari Maumere, Larantuka, Lembata, dan Alor. Mereka dari keluarga tidak mampu. Karena jarak kampung halaman mereka yang jauh, Arifudin membangunkan asrama sederhana untuk mereka tinggal.

Malam itu, ia si
nggah sejenak di rumah untuk menemui anak istri dan murid-muridnya. Ia perlu waktu empat jam, untuk bercengkerama dengan anak didiknya. Kemudian ia akan melanjutkan pelayaran, menuju Maumere untuk menjual mente.

Di dalam ruang tamu yang sederhana, istri Arifudin memanggil murid murid yang tengah belajar di dalam bilik asrama, untuk kumpul. Terdapat 69 murid SMP dan 25 murid SMA, yang sekolah di Yayasan Ikhwatul Mukminin itu. Dalam temaram penerangan lampu petromak, Arifudin bersila di hadapan anak muridnya. Tak ketinggalan, lima anak kandungnya sendiri
juga duduk berbaur dengan mereka.

“Selama ustad pergi, kata Ibu, kalian nakal ya”, kata Arifudin memecah keheningan. Anak-anak yang semula menund
uk, kaget. Mereka mendongak serentak menjawab.

“Tidak Pak Ustad!”

“Kalian makan apa hari ini?” Arifudin menyelidik.

“Alhamdulillah, masih bisa makan pisang dan ikan asin Ustad”, celetuk Ismail mewakili teman-temannya. I
a murid kelas dua SMA yang berasal dari Alor.

“Ismail! Kamu dapat salam dari mama kamu. Dia pesan, kamu tidak boleh nakal di sini. Belajar yang rajin”, tandas Arifudin. Di Alor, Arifudin menjumpai orang tua Ismail, untuk mengabarkan keadaan anaknya di sekolah. Demikian juga jika ia pergi ke Lembata, Maumere, dan Larantuka. Arifudin selalu menyempatkan bertandang ke rumah para orang tua murid. Mereka senang, tiap dapat kabar anak-anaknya sehat dan naik kelas.

“Anak-anak, malam ini saya akan melanjutkan perjalanan. Saya pesan, kalian belajar yang benar, jangan nakal. Selama saya pergi hanya ibu (istri Arifudin) yang mengawasi kalian. Jangan kecewakan guru guru
yang sudah bimbing kalian”, wasiat Arifudin, didengarkan seksama para muridnya.

Hampir dua jam, Arifudin ber
tukar pikiran dengan anak asuhnya. Ia selalu membagi pengalamannya, menempuh perjalanan dari pulau ke pulau. Dibaginya kabar orang tua mereka di kampung halaman yang hidupnya sulit. Hikmah dan nasehat selalu tersemat.

“Saya tidak menuntut apapun dari kalian. Kalian tidak perlu pikirkan bagaimana biaya sekolah. Saya hanya minta kalian ganti dengan semangat belajar. Apa yang saya makan, itulah yang kalian makan. Saya tidak beda-bedakan di antara kalian”, nasehatnya.

Pertemuan mendadak seperti itu, kerap dilakukan Arifudin untuk melihat perkembangan anak muridnya. Ia sendiri, hari-harinya sibuk untuk mendampingi masyarakat dan berdagang. Sementara, untuk belajar mengajar, ada tujuh guru yang mengajar di sekolah itu. Di antaranya, istri dan adiknya.

Meski sekolahnya be
rdiri serba sederhana, tapi muridnya berasal dari empat Kabupaten di Flores Timur. Semua berasal dari keluarga miskin. Mereka tinggal di bilik bilik sederhana di sekitar sekolah, berdekatan dengan rumah Arifudin. Bilik itu diberi dinding gedhek dengan atap ilalang.

Mencukupi kebutuhan hidup 94 anak, tidak mudah. Arifudin harus bekerja keras. Selain dari usaha berdagang,
ia memanfaatkan hasil bumi yang tumbuh di atas lahan warisan orang tuanya, untuk mendukung operasional sekolah.

Bulan Agustus hingga September, Adonara memasuki musim paceklik. Stok jagung dan beras akan menipis. Dalam keadaan begini, Istri Arifudin dituntut kreatif. Agar anak anak tidak kelaparan, ia memanfaatkan pisang untuk penggan
ti beras dan jagung. Diolahnya pisang itu, dengan sedikit lauk ikan teri asin, sayur jantung pisang, daun singkong, dan rebung. Menu itu, ia gonta ganti agar selera makan anak-anak tak menurun.

Hidup di gugusan kepulauan Flores, umumnya memang sulit. Wilayah NTT, hampir rutin mengalami tiga musim hujan, dan sembilan musim kemarau. Kala hujan, curahnya rendah dan tidak merata. Meski hidup dalam kondisi alam yang demikian keras, Arifudin selalu menekankan anak muridnya untuk tidak menyerah. Ia berpesan, agar hidup yang selalu sulit menjadi tungku api menatah masa depan.

“Hanya kalian yang dapat mengubah nasib kalian. Lihatlah mama dan bapak kalian, hidupnya susah sampai sekarang. Lihat juga adik adik kamu, di pundak kalian harapan itu mereka tunggu”, lecut Arifudin, dalam.

Sekolah itu, didirikan pada 2002. Biaya pembangunan dan operasionalnya, sebagian bantuan dari donatur. Kondisi ekonomi murid yang sulit, tak memungkinkan sekolah memungut biaya pendidikan. Apalagi, seman
gat sekolah anak-anak di sana tergolong rendah.

Selepas pertemuan itu, Arifudin pamitan. Anak muridnya berduyun duyun mengantar, sampai ujung desa di tepi pantai. Dalam temaram petromak, anak-anak bersalaman. Mereka akan jumpa lagi, lima hari kemudian. Arifudin bersama anak buahnya, menarik jangkar. Kapal perlahan melaju, menuju Maumere. Menjelang sore, biasanya kapal baru sampai.

Di ujung desa menghadap laut Flores, anak anak menadahkan tangan, mendongak ke langit. Mereka tampak khusu berdoa. Semoga sang guru selamat. Diam diam, mungkin ada yang membatin, agar ustad pulang membawa beras. Tapi tanpa itu, mereka toh tetap semangat. Rumusnya perut terisi. Pisang rebus, cukup sudah membuat kenyang.

Read More......

Mengabdi dengan Kedhuafaan

Badannya perlahan bongkok. Usia yang merambat dan tempaan hidup, membuat Saminan (53) tak gagah lagi. Tapi semangatnya tetap kokoh, bergeming menahan gempuran kehidupan. Enam anak telah dibesarkan oleh cucuran keringatnya. Dua di antaranya, telah berkeluarga meneruskan trah Saminan. Empat lainnya, masih dalam tanggungannya. Berkumpul di dalam bilik berdinding gedhek yang sederhana.


Pada 1975 – 1984, Saminan pernah mencicipi angkuhnya Jakarta. Kurun sembilan tahun, ia menyusuri gang dan kompleks, menjajakan minyak tanah di bilangan Tanjung Priok. Meski telapak kakinya makin kebal, oleh jilatan aspal jalan yang mendidih, kehidupan Saminan tak jua berubah.

Gerobak minyak tanah itupun ditinggalkan. Ia beralih menjajal keperkasaan tangannya, dengan jadi kuli bangunan. Kala itu, Ibukota sedang giat memancangkan gedung gedung pencakar langit. Permukiman elit juga subur menjamur. Selama tenaga kuat, cari kerja bangunan tak sulit ketika itu. Meski Saminan kini tak tahu, pembangunan di Jakarta kian mati suri. Jalan jalan berlobang, gedung gedung yang dulu ikut dibangunnya, juga termakan uzur, seperti tubuhnya yang makin ringkih.

Saminan, akhirnya pulang kampung. Bersama Ratih (50), istri tercintanya, ia memutuskan damai tinggal di Kampung Kolengan, Jasinga, Bogor. Pengalaman merajut hidup di Jakarta, membakar api semangat Saminan, untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ia paham, tanpa pengetahuan, hidup akan terus sulit. Jika anak-anaknya, tak dibekali ilmu, Saminan sadar penderitaannya akan diwarisi anak cucu. Tapi keinginan yang meledak ledak itu, pecah di rongga dadanya yang mulai rapuh.

Menopang mimpi tinggi, dengan pondasi jualan Cilok, sungguh berat. Tapi Saminan, tetap teguh memikul gerobak Cilok itu. Ia susuri jalan jalan kampung, berhenti di keramaian, dan mampir di sekolah sekolah. Berangkat pukul tujuh pagi, ia akan kembali menjelang Magrib. Malam hari, Ratih menyiapkan Cilok untuk esok harinya. Jika Saminan nglokro, Muhidin – anak ketiga Saminan yang sekolah di SMP PGRI Kolengan – menggantikan pekerjaan Sang Ayah.

Tatkala Saminan jualan, Ratih, pergi mencari kayu bakar. Keluarga Saminan, memang tak berdaya menggunakan kompor, apalagi gas elpiji. Sejak dulu, keluarga itu penikmat tungku. Keuntungan Cilok Saminan, tak lebih dari Rp 15 ribu per hari. Ratih, dengan teliti membagi untuk biaya sekolah empat anaknya dan kebutuhan sehari-hari. Tatkala bahan Cilok (terigu dan minyak goreng) mahal, Saminan dan Ratih ingin menjerit. Tapi ketidakberdayaan itu, pahit ditelan sendiri.

Jika boleh berangan, Saminan ingin punya usaha toko sebenarnya. Meski ia belum paham, bahwa usaha inipun rawan bangkrut. “Kahayang abdi mah teu jualan Cilok terus, tapi hayang ngawarung supaya bisa ngabiayaan sakola anak sing luhur, jeung bisa nyukupan kabutuhan keluarga”, harapnya. (Ingin saya itu tidak hanya jualan Cilok terus, tapi ingin membuka toko, supaya bisa membiayai anak sekolah yang tinggi dan bisa memenuhi kebutuhan keluarga).

Dalam keterbatasannya, Saminan orang hebat di kampungnya. Saat tidak ada orang mau menjadi ketua RT, Saminan didapuk warga mengurus mereka. Jabatan sosial itupun, dilakoni Saminan selama 20 tahun. Tanpa cacat. Budi pekerti dan ketulusan Saminan telah memikat hati warganya.

Sore pekan lalu, Saminan mangkal di SMP PGRI Kolengan, salah satu tempatnya jualan. Ia pandangi panflet dan sepanduk calon bupati Bogor dan calon gubernur Jawa Barat yang menyebar tak jauh dari situ. Segudang janji dengan puja pujinya, berderet dan berlomba tentang kesejahteraan rakyat. Saminan hanya mesem. Mungkin dalam hati kecilnya berbisik.

“Dengan kemiskinan, sudah 20 tahun saya mengabdi tanpa gaji”.

Read More......

Friday, March 28, 2008

Catatan Tercecer dari Senegal

Selain Pemerintah Indonesia yang hadir dalam KTT OKI ke-11 di Dakar, Senegal, Dompet Dhuafa Republika, juga hadir dalam rangkaian acara yang sama. Diwakili Presiden Direktur DD, Rahmad Riyadi, DD mengikuti Konferensi Organisasi Kemanusiaan I Negara Anggota OKI.


Ada yang tidak biasa, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-11 Organisasi Konferensi Islam (OKI), yang digelar di Dakar, Senegal, pada 13 -14 Maret lalu. Sebelum KTT dimulai, organisasi kemanusiaan dari 57 negara anggota OKI di seluruh dunia berkumpul di Senegal, untuk menggelar Konferensi Organisasi Kemanusiaan I Negara Anggota OKI.

Dari Indonesia, Dompet Dhuafa Republika (DD), diundang OKI, sebagai wakil organisasi kemanusiaan di Indonesia. Konferensi ini, kali pertama sejak KTT OKI memasuki KTT nya ke-11. Sekaligus sebagai pra KTT OKI, yang dihadiri para pimpinan negara anggota OKI, pada 13-14 Maret. Tujuannya, untuk menyatukan langkah civil society dengan pengambil kebijakan di pemerintahan.

Sebagaimana kita mafhu
m, tugas OKI kian tahun makin berat. Aroma konflik dan perang, terus merebak melanda negara negara Islam. Belum lagi lingkaran kemiskinan yang membelit Asia dan Afrika. Juga bencana alam yang terus mengintai. Bahkan, KTT kali ini pun, juga dibayang bayangi konflik dan ketegangan baru yang menyerang negara negara anggota.

Pada akhirnya, organisasi kemanusiaan di negara anggota OKI, sudah saatnya terlibat membantu peran OKI. Konferensi ini, berlangsung pada 7 – 9 Maret, di sebuah cluster pantai peristirahatan di Saly Portudal, 80 km dari Kota Dakar, Senegal. Konferensi merumuskan action plan, yang akan dilakukan oleh organisasi civil society, untuk diusulkan dalam KTT OKI, empat hari kemudian.

Jika dipetakan, organisasi yang hadir, sebagian besar perwakilan negara-negara Asia dan Afrika. Namun, juga hadir peserta dari NGO muslim Eropa, Amerika, dan UN OCHA PBB yang menjadi observer. Para peserta bebas mengemukakan pendapatnya, dalam tiga bahasa, Arab, Inggris, dan Perancis.

Penyambutan peserta konferensi oleh negara bekas jajahan Perancis itu, ramah. Pemerintah Senegal, menyediakan Lounge khusus, untuk seluruh peserta konferensi. Mereka siaga 24 jam, di Bandara Internasional Dakar, untuk menyambut tamu dari berbagai negara. Semua tamu, disambut dengan standar VIP.

Dalam konferensi itu, peserta dibagi dalam empat komisi. Mereka bertugas merumuskan tahapan aksi, yang menghasilkan empat rekomendasi yang disampaikan dalam KTT OKI. Empat rekomendasi itu meliputi: penguatan kapasitas organisasi dan database, perundang-undangan nasional dalam aksi kemanusiaan dan karitas di negara-negara anggota OKI , hubungan OKI dengan lembaga humanitarian di negara anggota, dan hubungan
antar organisasi kemanusiaan. Isi empat rekomendasi ini, secara lengkap dapat dilihat di www.dompetdhuafa.or.id.

Pelajaran Ukhuwah
Nyaris, DD tidak menghadiri forum organisasi internasional itu. Pasalnya, tenggat waktu tiga pekan – sejak undangan diterima – menyulitkan DD dalam pengurusan visa. Tapi keseriusan OKI mengundang DD, ditunjukkan dengan turun tangan langsung, membantu proses pemberangkatan Rahmad Riyadi ke Senegal. Artinya undangan ini spesial, bukan basa basi.

Di dalam forum tidak res
mi, beberapa NGO dan perwakilan OKI mengorek kiprah DD, di pentas kemanusiaan internasional. Agak malu malu, DD pun menyebut bantuan kemanusiaannya untuk Afghanistan, Irak, Palestina, Lebanon, Kamboja, dan Filipina. Nilai tiap bantuan masih kecil, di bawah 100 ribu dollar AS. Di luar dugaan, mereka merespon aktivitas kemanusiaan DD ini, sebagai program yang luar biasa.

Ketika bertukar pengalaman dengan organisasi kemanusiaan dari Iran, Eropa, Inggris, Mesir, Perancis, Banglades, Afrika, dan Malaysia, ada sebuah kesimpulan yang layak dipetik. Yakni, nilai bantuan kemanusiaan, bukanlah nominalnya, melainkan silaturahim dan ukhuwahnya. Sementara, DD sendiri masih sempit gerak, jika donatur tidak menghendaki bantuan kemanusiaannya untuk luar negeri.

Global Peace Mission, yang mewakili Malaysia dalam pertemuan itu misalnya, meski bantuannya tak besar, tapi telah merambah hampir ke seluruh komunitas muslim tertinggal di seluruh dunia. Mereka membawa misi bangsanya. Bahwa kehadirannya, sebagai wujud empati dan persaudaraan. Layak ji
ka di komunitas muslim Kamboja dan Filipina, Malaysia sangat menancap sebagai saudara bagi mereka.

Sikap demikian, juga ditunjukkan negara lain, seperti Iran. Organisasi kemanusiaan di negara itu, telah menebar silaturahim hingga penjuru Darfur Sudan, Sierra Leon, Nigeria dan Ethiopia. Mereka telah memaknai kepedulian ini pada intisari yang sesungguhnya. Bentuk ukhuwah yang dicontohkan negara negara itu, terbukti efektif, sebagai jalinan diplomatik tak resmi antar negara. Inilah, yang harus dipelajarai oleh masyarakat Indonesia.

Banyak nilai kemanusiaan antar bangsa, menjadi perbincangan hangat dalam konferensi organisasi kemanusiaan itu. Selanjutnya, pada puncak KTT OKI ke-11, sebagaimana diungkapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, para pemimpin negara pun, banyak yang bicara solidarity fund (dana solidaritas). Dengan target 10 miliar dollar AS.

Lantas, dengan angka kemiskinan tinggi dan bencana alam yang datang dan pergi, apakah Indonesia layak dapat jatah solidarity fund itu?, ”Indonesia akan menjadi pihak yang mendapat bantuan. Bila kita berkontribusi, maka kitapun akan mendapatkan manfaat yang nyata”, tandas SBY. (www.presidenri.go.id).

Sementara, DD dapat mewujudkan harapan konferensi organisasi kemanusian negara OKI itu, jika masyarakat Indonesia mendukungnya. Karena lembaga ini, tumbuh dan berkembang oleh dukungan dana masyarakat. Organisasi kemanusian di negara lain, telah memberi banyak pelajaran, bahwa ukhuwah melebihi segala galanya. Ini cara paling efektif membantu komunitas muslim di negara lain. Sekaligus sebagai duta yang membawa misi bangsa.

Read More......

Mudasir, Sudah Semua Diberikan

Hidup di Tempuran, Desa Nglebo, Suruh, dengan tanah tak lebih dari 300 meter persegi, sangat terasa sulit. Apalagi, desa itu berada di daerah pegunungan tak subur di Trenggalek, Jawa Timur. Tapi Mudasir (42), bergeming dengan kondisi itu. Ia tetap berusaha menghidupi keluarga dan menjadikan tanah sempit itu, untuk kemaslahatan masyarakat.



Lahan warisan sang mertua itu, dibagi untuk tiga fungsi, tempat tinggal, masjid, dan madrasah. Praktis, hanya tersisa satu petak kecil buat kandang kambing. Tak tersisa lahan untuk menanam singkong dan sayur mayur.

Maka, penopang makan sehari hari, Mudasir ikut menggarap lahan di hutan yang ditanami singkong – bahan baku nasi tiwul yang masih menjadi makanan sehari hari keluarga Mudasir – dan jagung. Meski bagiannya tak terlalu luas, tapi cukup untuk menyambung hidup. Secara ekonomi kehidupannya sulit, tapi ia tak mungkin meninggalkan desa itu, hanya untuk kepentingan pribadinya.

Mudasir, mengawali dakwah di Tempuran sejak 1991, setelah ia menikahi Sari, gadis setempat. Kini dikaruniai dua orang anak. Anak pertamanya, sekolah di SMK Hidayatullah, sekolah swasta kampung yang murah dan terjangkau. Anak kedua masih duduk di bangku SDN Nglebo II. Rumahnya sederhana, cukup untuk sekadar berlindung dari panas dan hujan. Tapi nuansa keberkahan tampak di dalamnya.

Kehadiran Mudasir yang hijrah dari kecamatan Karangan, membawa banyak perubahan di Tempuran. Dusun itu, dulu akrab dengan memuja kuburan, keris, dan berbagai ritual mistik dengan membakar kem
enyan. Almarhum mertua Mudasir sendiri, dulu seorang bandar judi dadu. Tapi di akhir usianya, ia menjadi orang tua yang taat sholat lima waktu. Bahkan tanah yang diwariskannya pun, dimanfaatkan untuk aktivitas ibadah dan pendidikan.

Seiring hari, kesadaran beribadah masyarakat di desa itu meningkat. Para orang tua, mulai menyuruh anak-anaknya belajar ngaji di masjid (lebih mirip mushola kecil) samping rumah Mudasir. Mereka, tak lagi membawa anak-anaknya ke orang-orang pintar, untuk ngangsu ilmu mistik dan perdukunan.

Tapi, saat budaya klenik itu sirna, budaya modern yang disuguhkan televisi, menyasar anak-anak desa Nglebo yang lugu. Dampaknya lebih mengerikan. Para remaja mulai akrab dengan narkoba dan mabuk mabukan. Bahkan, tak s
edikit anak anak yang berani melawan orang tua. Mereka menuntut dibelikan motor dan handphone. Di kala gema takbir Idul Adha dan Idul Fitri membahana, sekelompok orang bahkan memfasilitasi anak anak muda, untuk mabuk mabukan di dekat Masjid.

Dakwah Mudasir makin berat. Beruntung ia dapat pasokan pendatang baru, seorang ustad yang hijrah dari sebuah Pondok Pesantren di Pasuruhan, bernama Ustad Badar. Kedua guru ngaji itu pun bahu membahu, membendung kerusakan moral yang makin menjadi di desa yang berada di bawah kaki Gunung Linggo itu.

Keduanya sepakat untuk mendirikan Madrasah. Lahan yang kini siap, di pekarangan rumah Mudasir. Meski tak akan punya lahan lagi untuk bercocok tanam, tapi Mudasir mendapat dukungan kakak ip
arnya, Marli, yang juga menyetujui pemakaian sisa tanah itu. Namun, kendala dana jadi persolan yang sulit. Proposal Ustad Badar ke Departemen Agama, juga belum ada jawaban. Terpaksa, 75 murid yang kini belajar di Madrasah itu, sementara menempati ruang masjid, dengan sekat kelas sehelai kain tipis. Sisanya memanfaatkan serambi.

“Kalau sederhana, Rp 15 j
uta, insya Allah sudah jadi satu madrasah. Tapi ya nggak tahu, tahun kapan bisa ngumpuli dana sebesar itu, lha wong warga sini saja hidupnya pada susah mas”, bisik Mudasir lirih.

Melihat perjuangan Mudasir, sarat teladan yang layak ditiru. Dengan segala kekurangan ekonominya, ia berjuang meralat generasi di desanya. Tak hanya dakwah lisan, tapi ia telah berikan semua yang dimiliki. Sementara kita?

Read More......

Dampak Cuaca Ekstrem

Cuaca ekstrem melanda belahan bumi kita. Pagi yang cerah, tiba tiba digelapkan hujan dan badai yang datang tiba tiba. Kita hampir sulit menduga perkembangan cuaca tiap jamnya. Beberapa daerah yang biasanya tidak banjir, mendadak tenggelam. Curah hujan lebat, ditimpali hutan hutan di pulau Jawa yang tambah gundul, makin membuat alam kita remuk.


Allah SWT, tegas mengingatkan kita, bahwa kerusakan di muka bumi ini, buah keserakahan manusia di dalamnya. Lihatlah dampak kejahilan manusia itu, banjir bandang melanda di mana mana. Setelah Jakarta, banjir meluas hingga seluruh Jawa dan belahan wilayah di Indonesia lainnya. Semua merenggut korban harta, benda, dan jiwa yang tidak sedikit.

Bagi kaum dhuafa, kehilangan rumah karena tersapu banjir dan ladang hancur karena kekeringan, berarti akhir dari segalanya. Kebanyakan mereka amat terpukul bencana alam, karena tidak punya asuransi dan tabungan yang dapat membantu bangkit kembali.
Pendidikan anak anak dhuafa pun tercerai berai. Mereka tidak hanya harus hidup di pengungsian, tapi juga kehilangan kesempatan belajar. Banjir yang akhir akhir ini meluas, makin menambah daftar panjang kesusahan sebagian masyarakat negeri ini.

Ranah kemanusian tak lelah lelah, berpacu untuk membantu. Tapi, bencana yang tiada henti, seakan membuat gerak kemanusiaan limbung. Dahsyatnya bencana pun, kini mulai ditakar berapa banyak nyawa melayang dan peradaban yang hilang. Seruan peduli, ibarat teriakan menggema di bibir jurang menganga. Ini menyedihkan.

Bagi lembaga yang bergerak dalam kubang kemanusiaan, mestinya tak larut dalam kejenuhan itu. Seberapapun dampak bencana terjadi, ia tetap bencana yang menghadirkan kerugian dan kedukaan mendalam bagi korbannya. Tugas lembaga kemanusiaan, tetap hadir membantu semaksimal yang ia mampu. Tak boleh surut, lelah, dan menyerah.

Percayalah, masyarakat mampu kita, masih teguh nurani kemanusiaannya. Selama aktivitas kemanusiaan kita sampai pada yang berhak, transparan, dan dapat dipertanggung jawabkan, bantuan kemanusiaan itu masih akan terus mengalir.

Hati hati yang hidup, akan tetap berbagi, peduli, dan menengadah doa, untuk sesama yang tertimpa musibah. Wallahu’alam.

Read More......