Showing posts with label papua. Show all posts
Showing posts with label papua. Show all posts

Friday, February 01, 2008

Nyawa Dai Papua Disandera Rp 200 juta


Menebar dakwah di Papua tidak mudah. Setidaknya itu yang dirasakan Agung Sibela. Dai asli Ternate ini, sudah lebih dari 12 tahun meretas dakwah bagi warga Papua, di pesisir dan pedalaman. Ia tak segan blusukkan ke dalam hutan, menyeberangi laut yang ombaknya ganas untuk menuju komunitas pesisir.

“Saya pernah terdampar waktu mau ke Babo”, kenangnya. Dari Sorong, perlu satu malam untuk sampai di Babo.

Ganasnya medan, bagian dari terjalnya dakwah yang harus dilalui Agung. Belum lagi karakter masyarakat yang keras. Tiap kaki melangkah, rasanya tak boleh salah. Harus tepat seperti aturan adat yang berjalan di komunitas yang dikunjunginya.

Selain dakwah ke lapangan, Agung juga memanfaatkan radio sebagai sarana dakwah. Menempati ruang sederhana, di menara Masjid Agung, Sorong, Agung mengajak anak-anak muda untuk menjadi aktivis dakwah. Meski masih memperjuangkan ijin gelombang frekuensi ke Jakarta, radio itu 24 jam memutar syiar Islam. Responnya luar biasa. Konon, Agung belajar mengelola radio ini di RAS FM Jakarta.

Tak jauh dari Sorong, Agung yang belum lama diangkat menjadi PNS di Depag Sorong ini, juga punya binaan warga Suku Kokoda. Lokasinya di pinggir lapangan udara Dominic Edward Osok (DEO), Sorong. Suku Kokoda, sebuah komunitas muslim yang terbelakang secara ekonomi dan pengetahuan.

“Banyak pendatang mencari ekonomi di Papua ini. Tapi yang mau mengemban misi dakwah tidak banyak, makanya perkembangan orang Papua ini lambat”, kata Agung prihatin.

Ia mengakui, dakwah di Papua memang rumit. Apalagi warga Papua di mata pendatang, warga yang malas. Agung berharap, siapa pun yang memetik hasil bumi Papua, hendaknya juga memikirkan nasib orang Papua.

“Jangan hanya mau hasil buminya, tapi tak mau mengurus masyarakatnya”, tandasnya.

Selain Suku Kokoda, Agung Sibela juga punya binaan warga Suku Abun di pedalaman Klamalu, Sorong. Perjuangan Agung membantu Suku Abun ini, juga tak kalah dramatisnya. Ia harus mencari donatur untuk membebaskan lahan baru untuk ditinggali komunitas Suku Abun yang masuk muslim.

“Alhamdulillah, Dompet Dhuafa akhirnya yang membebaskan lahan untuk bermukim Suku Abun. Bahkan sekarang sudah dibangunkan masjid juga”, terangnya.

Tidak hanya suku Papua asli, Agung Sibela juga berdakwah hingga jauh masuk ke masyarakat transmigran di Klamono. Daerah ini berada di pedalaman, tempat transmigran asal Jawa dan transmigran lokal. Kondisi ekonomi mereka sangat memprihatinkan. Tapi semangat mereka mempelajari Islam kuat.

Sayang, Agung saat ini tengah diuji berat. Dua orang santri dari Babo, Papua, yang ia pesantrenkan di Bekasi, meninggal tertabrak kereta api di Bekasi, beberapa pekan lalu. Kasusnya jadi panjang, tatkala orang tua santri minta ganti rugi Rp 200 juta. Sebagai jaminan, saat ini salah seorang dai, teman Agung Sibela disandera oleh keluarga santri di Babo. Menurutnya, nyawa harus ditukar nyawa. Prinsip suku di sana, pohon tidak akan mati jika tidak dipindah. Jika tak dapat menebus Rp 200 juta, nyawa sang dai sebagai gantinya.

“Saya sedang negosiasi dengan keluarga mereka. Juga mencari penyelesaian di Jakarta dengan berbagai pihak. Yah… ini resiko dakwah di daerah primitif”, kata Agung getir. Kita bantu Agung, atau kita biarkan sang dai mati menebus Rp 200 juta? Wallahualam.

Read More......