Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Tuesday, February 26, 2008

Menyeberangi Arus Untuk Sekolah

Anak-anak Dusun Sliwung Utar, Kecamatan Panji, Situbondo ini, tengah berjuang menyeberangi arus deras sungai Sampean. Mereka memaksa pergi sekolah, setelah dua pekan meliburkan diri karena kampung mereka hanyut oleh banjir bandang yang melanda Situbondo, Sabtu (9/2). Dengan rakit batang pohon pisang, mereka membawa seragam sekolah. Ayo, jangan jangan menyerah nak!





Read More......

Saturday, November 24, 2007

Selamat Hari Guru


Usai Jepang tercabik-cabik, digempur sekutu pada perang dunia kedua, Kaisar Hirohito, kala itu tak mencari tahu berapa tentara tewas dan pertahanan apa yang tersisa. Pikiran tercepatnya, malah tertuju pada keingintahuannya, berapa guru yang masih hidup. Kaisar Hirohito, meyakini harta Jepang yang tersisa dalam hancur lebur perang itu, tinggal bulir-bulir ilmu pengetahuan yang tercecer di otak para guru yang masih hidup. Setelah semua ilmu pengetahuan dan peradaban yang dibangun Jepang, nyaris musnah.

Demikian pula, mantan Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy, yang kala itu masih menjabat senator, merasa geram tatkala Rusia menyalip kecanggihan teknologi negaranya. Rusia unggul lebih dahulu, setelah berhasil meluncurkan satelit pertama di dunia, Sputnik I, pada 4 Oktober 1957. Kennedy lantas melempar tanya pada bangsanya, “What's wrong with our classrooms?". Pertanyaan itupun seperti melecut bangsa AS untuk berbenah diri dalam menata pendidikan. Sepertihalnya, Kaisar Hirohito, John F Kennedy juga percaya, guru memegang simpul utama dalam perubahan kemajuan di Negeri Paman Sam.

“No teacher, no education”, demikian Presiden Vietnam, Ho Chi Minh menunjukkan kekagumannya pada peran guru. Pernyataan itupun, dijadikan pondasi pemerintahan Vietnam dalam membangun bangsa berbasis pendidikan, dengan peran guru sebagai intisarinya.

Negeri serumpun Malaysia dan negeri gigseng, Korea Selatan, juga meletakkan peran guru sebagai pilar membangun kemajuan bangsa. Kedua negara itu pun, dalam tempo 10 – 15 tahun melesat cepat sebagai negara makmur dan canggih dalam teknologi serta ilmu pengetahuan.

Pun, Indonesia juga sangat menghormati peran guru. Sebagaimana Presiden RI Soekarno pada 21 November 1945 menyatakan, bahwa guru bukan penghias alam, tetapi membentuk manusia. Bahkan, perjuangan guru Indonesia juga melegenda dalam “Guru pahlawan tanpa tanda jasa”. Tapi pahlawan itu, hingga kini masih memerankan tokoh dalam lakon “Oemar Bakrie”.

Guru di negara maju, berada pada top of mind para pemimpin dan masyarakatnya. Guru, sebagaiamana diungkapkan George Splinder (1983), sosok yang sangat strategis dalam perambat kebudayaan, proses akulturasi, dan penanaman nilai-nilai luhur suatu bangsa. Pun, guru dalam pandangan Islam berperan sebagai penyampai ilmu yang benar (mu’allim), pengembang proses pendidikan (murabbi), penitip pelajaran dan kemahiran (mudarris), pengajar budi pekerti (mu’adib), dan pembentuk jiwa kepemimpinan (mursyid).

Tetapi guru di negeri kita, adalah pahlawan yang terluka. Batin menjerit, jika mata boleh mengintip isi tas yang ditenteng “Oemar Bakrie” saat menuju tugas mengajar. Tas “Oemar Bakrie” berisi buntelan nasi, berbeda dengan guru di negara maju yang tasnya bersi laptop dan buku. Layak jika sebagian pihak meyakini, rendahnya penghargaan pada guru dalam bentuk mencukupi kesejahteraannya, dipicu sebagai faktor yang membuat gerak pendidikan Indonesia lambat seperti siput.

Guru Sukarela
Dalam serba keterbatasannya bangsa ini menghargai guru, tak sedikit orang yang tetap jalan lurus menekuni profesi ini. Digaji negara sebagai pegawai negeri, maupun relawan yang malah membiayai sekolah anak muridnya. Mereka tetap mendidik, lantaran geram melihat generasi bangsanya yang makin mundur ke belakang. Guru-guru tangguh itu, tersebar di berbagai pelosok tertinggal. Mereka memahat kebodohan, agar terbentuk generasi maju, di pulau-pulau terpencil yang terputus akses pendidikan.

Dia, Laode Ardin dan istrinya, Endang Salmiati. Sepasang suami istri yang hidup di komunitas tertinggal, Desa Watubangga, Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Laode, dalam serba keterbatasannya mendirikan sekolah gratis. Bukan karena ia kaya, tetapi ia gelisah sebagaimana Jhon F Kennedy dan Ho Chi Minh resah.

“Sesulit apapun kehidupan, kita bisa atasi jika kita punya bekal ilmu. Tetapi, anak-anak kurang mampu seperti di tempat kami yang pelosok ini terputus akses pengetahuannya. Hanya jika kita ikhlas untuk mengubah bangsa ini menjadi maju, ilmu secara suka rela bisa kita tularkan”, kata Laode Ardin Agustus lalu.

Laode mendirikan sekolah Tsanawiyah dan Ibtidaiyah, dengan 52 anak didik. Bangunan sekolah dari papan sederhana, didirikan dengan jerih payahnya sendiri. Dia mengajar bersama istrinya, hingga peluhnya membuahkan hasil, tatkala murid-muridnya lulus UAN 100 persen.

Guru-guru pilihan yang tak kalah gigihnya, sepertihalnya Zulfan. Ia generasi Banggai Kepulauan, yang memimpikan anak-anak Banggai menjadi bagian dari bangsa yang maju. Zulfan memperjuangkan berdirinya SMA Pertama di Mansamat, Tinangkung, Banggai. Meski sekolah yang dibangun Dompet Dhuafa ini akhirnya berdiri, para guru di sekolah itu tak sempat berpikir kesejahteraan dapurnya. Bukan lantaran tak ingin, mereka mengaku cukup terbayar, jika lima generasi Banggai kelak terentas dari kebodohan.

Di Flores, juga berdiri kukuh Sang Guru, Arifudin Anwar. Ia membangun sekolah gratis di kampungnya, Pulau Adonara, Kelu Bagolit, Flores Timur. Murid-murid di sekolah Arifudin, berasal dari pulau-pulau kecil, terpencil, bahkan sebagian tak ada dalam peta Indonesia. Mereka tinggal dan menetap di asrama sekolah yang sederhana, dari dinding bambu dan atap ilalang.

“Apa yang kami makan, itulah yang mereka makan. Jika persediaan beras kami habis, kami menggantinya dengan pisang. Apalagi di musim kemarau, kami akan mengalami masa-masa sulit. Tapi kami tak menyerah, anak-anak tetap semangat”, terang guru yang juga ustad itu. Kelangsungan pendidikan gratis di sekolahnya ditopang dari usahanya sebagai pedagang.

Kerja keras Laode Ardin, Zulfan, dan Arifudin serta sosok-sosok di belahan lain yang kita lupakan, mengingatkan kita pada perjuangan bangsa Jepang usai hancur lebur oleh bom atom. Meski gaji guru di Jepang kini mencapai 200 ribu Yen, sekitar Rp 16 juta per bulan, guru-guru di Jepang dulu juga pejuang tanpa gaji. Jika buah manis itu kini dipetik, itu hasil tanam seluruh masyarakat Jepang.

Di tengah kondisi bangsa yang belum mampu membuat lompatan dahsyat, kiranya kita perlu menanam benih bersama-sama. Kita bisa ciptakan ruang belajar di rumah, untuk sanak kerabat dan tetangga yang anak-anaknya terputus akses pendidikannya. Kita bisa menjadi guru, untuk mereka yang tidak sekolah. Selamat hari guru, tetap mengabdilah pahlawanku!

Read More......

Thursday, August 02, 2007

Mematahkan Gengsi Melawan Kemiskinan

Pada 1989, Anggoro Aji, belum pernah membaca buku Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran. Buku yang sarat dengan amunisi, untuk menggebrak masa depan pendidikan rakyat Jepang. Pada tahun 1882, buku ini terjual 600.000 naskah.

Di antara pesan penting yang ada di dalam buku itu, menyatakan: Manusia tidak dilahirkan mulia atau hina, kaya atau miskin, tetapi dilahirkan sama dengan yang lain. Siapa yang gigih belajar dan menguasai ilmu
dengan baik akan menjadi mulia dan kaya, tetapi mereka yang jail akan menjadi papa dan hina.

Anggoro Aji, bocah gunung yang lahir terpanggang paceklik pada 1977, di pedesaan lereng pegunungan Abimanyu. Sebuah desa yang tandus dan kering, di selatan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Pada 1989, ia turun gunung untuk melanjutkan sekolah ke bangku SMP, di pusat kota. Sendirian.


Dalam kurun tiga tahun, ia me
nyiasati hidup dan menyelesaikan sekolahnya dengan kerja di rumah seorang petani cukup mampu di kota itu. Mencangkul, mencari kayu bakar, dan kerja kasar lainnya, dilakoni dalam umur belasan tahun. Cucuran peluh bocah itu pun, mengantarkannya sampai lulus SMP.

Anggoro Aji, dengan bangga kembali ke kampungnya di lereng Abimanyu. Kedua orang tuanya, tak mampu menepis haru. Anggoro Aji, si bocah hilang telah kembali. Tetapi para tetangganya mencibir, “Kalau derajatnya orang miskin gak perlu ngoyo (nekat)”. Telinga bocah itupun memerah. Seharian, ia menangis di pangkuan ibunya.


Beberapa hari di kampung, Anggoro Aji diusik gelisah. Kegigihannya untuk sekolah tak lagi terbendung. Ia makin tak tahan melihat kemiskinan keluarganya yang akut.


“Bapak, Ibu, ijinkan aku menuntut ilmu. Aku mau merantau ke kota, aku ingin membuat bapak dan ibu bangga”, pinta Anggoro Aji memelas.


Untuk kedua kalinya, bocah itu meninggalkan tanah kelahirannya. Tak cukup bekal yang ia bawa, kecuali selembar ijazah. Surabaya, kota yang padat dan panas menjadi tujuannya. Enam jam naik bus, ditempuh dari daerah asalnya. Belum tahu, kemana ia mau singgah dan menetap. Anggoro Aji, mulai mengetuk pintu di perumahan-perumahan elit. Ia menawarkan diri, untuk bekerja sembari menunjukkan ijazahnya.


“Saya mau kerja apa saja, asal saya bisa sekolah”, Anggoro Aji menawarkan diri.
Dalam ingatannya, pada pintu rumah ke-29 lamarannya diterima. Ia mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sejak pukul empat pagi. Hingga ia dapat lulus SMA negeri di kota itu. Sayang, ia tak sempat membagi kebahagiaan dengan ayahnya. Saat pulang kampung ia hadapi kenyataan, ayahnya telah tiada. Anggoro Ajipun melanjutkan pengembaraannya sampai Jakarta. Kuliah, kerja, dan menikah.

Patahkan Gengsi

Senin lalu, saat tengah bercengkerama dengan istrinya, Anggoro Aji kedatangan seorang anak gadis. Anak itu datang ke rumahnya, di bilangan Depok untuk minta pekerjaan. Menurutnya, anak itu sedang butuh biaya sekolah. Ia mau jadi pembantu dan kerja halal lainnya, agar sekolahnya tidak putus.

“Saya terharu. Teringat masa lalu. Dia anak yang hebat, karena di Jakarta banyak orang mendewakan gengsi, tetapi dia mampu mematahkan gengsi. Tidak semua orang miskin mampu membunuh gengsinya. Mereka lebih suka ambil jalan pintas, korupsi atau merampok. Hanya untuk menutupi malu miskin itu”, kata bapak dua anak yang kini jadi pekerja sosial.

Hidup dalam jerat kemiskinan, menurut Anggoro Aji, yang pertama harus dimatikan adalah gengsi. Banyak anak putus sekolah, karena ketiadaan biaya. Tetapi mereka kerap menyerah oleh keadaan. Malu, jika tidak punya standar hidup setara dengan teman-teman sekolahnya yang mampu.

“Tak perlu malu jadi kuli, jadi pembantu, buruh, jika ingin hidup berubah. Banyak orang besar lahir dari kemiskinan. Tetapi mereka mencapai dengan perjuangan tanpa gengsi. Percayalah, tiap bulir keringat kita yang jatuh, Allah telah memberi nilai di dalamnya”, pesannya.

Anggoro Aji meyakini, jika anak muda kita lebih gede gengsi, bangsa ini tak akan pernah maju. Anak-anak muda kita perlu diberi teladan kebangkitan, layaknya Jepang. Negeri matahari terbit itu, memberi banyak inspirasi untuk generasinya bangkit dari Perang Dunia II. Dunia dibuat terbelalak. Bagaimana sebuah bangsa yang luluhlantak oleh bom atom dan kalah dalam Perang Dunia II, mampu menyalip peradaban Barat dalam berbagai bidang.

Profesor Ezra Vogel dari Harvard University, mengatakan, bahwa kejayaan Jepang Terjadi berkat kepekaan pemimpin, institusi, dan rakyat Jepang terhadap ilmu dan informasi serta kesungguhan mereka, menghimpun dan menggunakan ilmu untuk kehidupan mereka.

Ketika sedang berselancar di ruang maya, Anggoro Aji menemukan sebuah artikel yang ditulis Jaahid Nafsak berjudul Asas Kebangkitan Peradaban. Artikel itu, meresensi buku Prof. Dr. Wan Mohd. Nor Wan Daud, seorang guru besar di International Institut of Islamic Thought and Civilization—International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), yang memaparkan tentang budaya ilmu dan kebangkitan bangsa Jepang.

Diceritakan, bagaimana Jepang bangkit. Jepang telah menempatkan ilmu dalam posisi penting sejak Zaman Meiji (1860-an-1880-an). Pada akhir 1888, dikatakan, terdapat sekitar 30.000 pelajar yang belajar di 90 buah sekolah swasta di Tokyo. Sekitar 80 persennya berasal dari luar kota. Pelajar miskin diberi beasiswa. Sebagian mereka bekerja paroh waktu sebagai pembantu rumah tangga.

Namun, mereka bangga dan memegang slogan: “Jangan menghina kami, kelak kami mungkin menjadi menteri!” Para pelajar disajikan kisah-kisah kejayaan individu di Barat dan Timur. Salah satunya, buku Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran.

Sebagai potret orang yang pernah mengalami saat sulit menempuh pendidikan, Anggoro Aji merasakan, aroma pendidikan kita hanya berkutat pada mahalnya biaya sekolah. Anak-anak muda kita tak diajarkan ketangguhan, layaknya anak-anak kurang mampu berjuang untuk sekolah. Anak-anak muda kita, makin terbawa ke ranah dunia hiburan, ketimbang ditarik ke area perjuangan memajukan bangsa. Pergaulan bebas lebih cepat populer, ketimbang penguasaan terhadap sain dan teknologi.

Dalam pengalaman Anggoro Aji, kemiskinan tak boleh membuat hidup ciut dan takut. Kemiskinan harus dilawan. Dengan tekad dan semangat. Sebagaimana seorang pemuda Jepang bernama Kinjiro Ninomiya, yang hidup pada awal abad ke-20. Kegigihannya dalam memburu ilmu, menjadi inspirasi masyarakat Jepang. Kegigihannya terukir dalam puisi Jepang yang melegenda:

Pada awal pagi

Dia mendaki gunung mencari kayu api

Sehingga larut malam

Dia menganyam selipar (jerami padi)

Sambil berjalan

Dia tidak pernah berhenti membaca.

Read More......