Showing posts with label sekolah gratis. Show all posts
Showing posts with label sekolah gratis. Show all posts

Friday, April 18, 2008

Pejuang Dari Babakan Sabrang

Rindu kami padamamu ya Rasul. Rindu tiada terperi…
Nuraini dan teman temannya, menyanyikan “Rindu Kami Padamu”, garapan Bimbo itu, dengan merdu. Petikan dawai gitar yang mengiringinya, membuat suara kian menyayat. Group paduan suara SMP Alternatif Cendekia ini, benar benar mengeluarkan vokal dengan hatinya. Mata mereka sampai berkaca kaca. Sedalam itukah?


Kelihatannya ada sebab lain. Sebelum lagu itu dinyanyikan, anak anak bercerita kisah hidupnya yang tak terperi. Nuraini misalnya, ia punya cita cita jadi penulis. Tapi kehidupan orang tuanya sulit. Sejak kecil, ia tinggal bersama neneknya. Demikian juga Atik, dia pernah tak makan saat orang tuanya tidak mampu beli sembako.

“Saya pernah kak tidak makan. Satu hari setengah”, celetuk Atik polos. Menurutnya tak hanya sekali, beberapa kali malah. Apalagi saat harga harga naik seperti hari ini, sulitnya amat terasa. Wajar, tatkala lagu yang syahdu itu dinyanyikan, mereka mendalami hingga tulang sumsum.

Nuraini, Atik, dan teman teman sebayanya, hanya mampu menempuh pendidikan di SMP Terbuka. Mereka secara ekonomi tidak mampu sekolah di pendidikan formal. Tetapi, tatkala ujian, mereka akan menginduk ke SMP Negeri setempat.

Sekolah terbuka yang berada di Desa Babakan Sabrang, Ciseeng, Bogor itu, dirintis oleh Hadisuryanto. Mulanya, ia seorang mahasiswa yang sedang KKN di desa itu, pada 2002. Hubungannya dengan masyarakat setempat, meluruhkan nurani Hadi. Ekonomi lemah dan pendidikan yang rendah, menjadi keprihatinan lelaki berambut gondrong itu.

“Saya senang tinggal di sini. Tahun 2003, saya buat sanggar belajar di rumah seorang ustad. Saya ngajar matematika, komputer, dan bahasa Inggris. Respon anak anak sangat antusias”, kenang mahasiswa Madina Ilmu, Depok itu.

Sejak itu, ia makin terpikat dengan kondisi anak anak Desa Babakan. Apalagi, kebanyakan anak muda di desa ini hanya lulus sekolah dasar. Mereka banyak yang nikah muda. Bulat sudah tekad Hadisuryanto, untuk membantu generasi Babakan mendapat mencerahan pengetahuan. Apapun caranya, mereka harus sekolah.

“Saya akan tetap bertahan, sampai saya bisa melihat anak anak mandiri. Karena mereka yang nanti akan melanjutkan perjuangan ini”, tekad ayah satu anak yang terpisah jarak ini. Hadi tinggal di Ciseeng, sementara istri dan anak pertamanya yang baru umur dua bulan, tinggal di Palembang.

Mendirikan sekolah gratis ternyata tak mudah. Hadi harus memutar akal, bagaimana sekolah itu bisa bertahan. Ia pun menghubungi teman teman kuliahnya, untuk menjadi guru di sekolah itu. Tak hanya dari teman satu kampus, guru gurunya juga datang dari mahasiswa Gunadarma Depok.

SMP Alternatif Cendekia, menempati kontrakan rumah Rp 3,2 juta per tahun, di Jl AMD Raya No 14. Juni ini, masa kontrak habis dan tak bisa diperpanjang lagi. Muridnya 78 Anak. Mereka juga berasal dari desa sekitar, seperti Cigombong, Ciseeng, dan Prigi. Anak anak, banyak yang jalan kaki dua jam untuk ke sekolah. Di dalam kelas, terdapat tiga unit komputer, beberapa buku pelajaran, dan meja duduk tanpa kursi. Karena sempitnya ruangan, jadwal sekolah dibagi dua, pagi dan sore.

Tahun lalu, Hadisuryanto bertemu seorang dermawan. Tatkala melihat aktivitas SMP terbuka ini, orang itu luluh hatinya. Akhirnya, ia membatalkan rencana umrohnya bersama keluarga. Biaya untuk rencana umroh itu, akhirnya disumbangkan ke SMP Cendekia dalam bentuk 600 meter tanah. Saat ini, di lahan itu, tengah dibangun gedung sekolah. Hadi menerima bantuan itu syukur, juga masgul. Sebab, ia harus mencari dana tambahan untuk proses pembangunannya yang tertatih tatih.

“Jujur saja, kalau dulu saya tahu rasanya begini, saya nggak berani membuat sekolah ini mas. Benar benar berat. Tapi saya tak akan mundur”, tandasnya. Ia juga berencana, gedung itu nanti dapat menampung jenjang SMA. Rencananya, tahun ajaran ini.

Perjuangan Hadi tak sia sia. Anak anak di sekolah itu, mengaku bersyukur ada sekolah ini. Jika tidak, meraka pasti terhenti hanya di bangku sekolah dasar. Dengan pengetahuan, kini mereka punya asa. Nuraini ingin jadi penulis, Atik mau jadi guru, dan anak anak yang lain semua punya mimpi menggapai bintang.

Meski untuk itu, Hadi tak rampung kuliahnya. Terpisahkan dengan anak dan istri. Lelaki gondrong yang bersahaja itu, telah memberikan hidupnya, untuk anak anak yang termarginalkan. Kami malu padamu Hadi.

Read More......

Friday, April 04, 2008

Dari Beras Hingga Pisang Rebus

Perlahan, matahari tenggelam di ujung barat Flores. Dari utara, Kapal Armada Bahari Mulia yang mampu mengangkut 15 ton muatan, merapat ke pelabuhan Pulau Adonara. Kapal kayu itu, dimuati biji mente dari Alor. Setelah bersandar, lima awak kapalnya turun. Mereka singgah sejenak di Desa Adonara, Kelubagolit, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kampung halaman mereka.


Pelayaran itu, dipimpin Arifudin Anwar. Ia salah seorang aktivis sosial di Adonara, yang mengelola pendidikan gratis, jenjang SMP dan SMA. Murid-muridnya, datang dari Maumere, Larantuka, Lembata, dan Alor. Mereka dari keluarga tidak mampu. Karena jarak kampung halaman mereka yang jauh, Arifudin membangunkan asrama sederhana untuk mereka tinggal.

Malam itu, ia si
nggah sejenak di rumah untuk menemui anak istri dan murid-muridnya. Ia perlu waktu empat jam, untuk bercengkerama dengan anak didiknya. Kemudian ia akan melanjutkan pelayaran, menuju Maumere untuk menjual mente.

Di dalam ruang tamu yang sederhana, istri Arifudin memanggil murid murid yang tengah belajar di dalam bilik asrama, untuk kumpul. Terdapat 69 murid SMP dan 25 murid SMA, yang sekolah di Yayasan Ikhwatul Mukminin itu. Dalam temaram penerangan lampu petromak, Arifudin bersila di hadapan anak muridnya. Tak ketinggalan, lima anak kandungnya sendiri
juga duduk berbaur dengan mereka.

“Selama ustad pergi, kata Ibu, kalian nakal ya”, kata Arifudin memecah keheningan. Anak-anak yang semula menund
uk, kaget. Mereka mendongak serentak menjawab.

“Tidak Pak Ustad!”

“Kalian makan apa hari ini?” Arifudin menyelidik.

“Alhamdulillah, masih bisa makan pisang dan ikan asin Ustad”, celetuk Ismail mewakili teman-temannya. I
a murid kelas dua SMA yang berasal dari Alor.

“Ismail! Kamu dapat salam dari mama kamu. Dia pesan, kamu tidak boleh nakal di sini. Belajar yang rajin”, tandas Arifudin. Di Alor, Arifudin menjumpai orang tua Ismail, untuk mengabarkan keadaan anaknya di sekolah. Demikian juga jika ia pergi ke Lembata, Maumere, dan Larantuka. Arifudin selalu menyempatkan bertandang ke rumah para orang tua murid. Mereka senang, tiap dapat kabar anak-anaknya sehat dan naik kelas.

“Anak-anak, malam ini saya akan melanjutkan perjalanan. Saya pesan, kalian belajar yang benar, jangan nakal. Selama saya pergi hanya ibu (istri Arifudin) yang mengawasi kalian. Jangan kecewakan guru guru
yang sudah bimbing kalian”, wasiat Arifudin, didengarkan seksama para muridnya.

Hampir dua jam, Arifudin ber
tukar pikiran dengan anak asuhnya. Ia selalu membagi pengalamannya, menempuh perjalanan dari pulau ke pulau. Dibaginya kabar orang tua mereka di kampung halaman yang hidupnya sulit. Hikmah dan nasehat selalu tersemat.

“Saya tidak menuntut apapun dari kalian. Kalian tidak perlu pikirkan bagaimana biaya sekolah. Saya hanya minta kalian ganti dengan semangat belajar. Apa yang saya makan, itulah yang kalian makan. Saya tidak beda-bedakan di antara kalian”, nasehatnya.

Pertemuan mendadak seperti itu, kerap dilakukan Arifudin untuk melihat perkembangan anak muridnya. Ia sendiri, hari-harinya sibuk untuk mendampingi masyarakat dan berdagang. Sementara, untuk belajar mengajar, ada tujuh guru yang mengajar di sekolah itu. Di antaranya, istri dan adiknya.

Meski sekolahnya be
rdiri serba sederhana, tapi muridnya berasal dari empat Kabupaten di Flores Timur. Semua berasal dari keluarga miskin. Mereka tinggal di bilik bilik sederhana di sekitar sekolah, berdekatan dengan rumah Arifudin. Bilik itu diberi dinding gedhek dengan atap ilalang.

Mencukupi kebutuhan hidup 94 anak, tidak mudah. Arifudin harus bekerja keras. Selain dari usaha berdagang,
ia memanfaatkan hasil bumi yang tumbuh di atas lahan warisan orang tuanya, untuk mendukung operasional sekolah.

Bulan Agustus hingga September, Adonara memasuki musim paceklik. Stok jagung dan beras akan menipis. Dalam keadaan begini, Istri Arifudin dituntut kreatif. Agar anak anak tidak kelaparan, ia memanfaatkan pisang untuk penggan
ti beras dan jagung. Diolahnya pisang itu, dengan sedikit lauk ikan teri asin, sayur jantung pisang, daun singkong, dan rebung. Menu itu, ia gonta ganti agar selera makan anak-anak tak menurun.

Hidup di gugusan kepulauan Flores, umumnya memang sulit. Wilayah NTT, hampir rutin mengalami tiga musim hujan, dan sembilan musim kemarau. Kala hujan, curahnya rendah dan tidak merata. Meski hidup dalam kondisi alam yang demikian keras, Arifudin selalu menekankan anak muridnya untuk tidak menyerah. Ia berpesan, agar hidup yang selalu sulit menjadi tungku api menatah masa depan.

“Hanya kalian yang dapat mengubah nasib kalian. Lihatlah mama dan bapak kalian, hidupnya susah sampai sekarang. Lihat juga adik adik kamu, di pundak kalian harapan itu mereka tunggu”, lecut Arifudin, dalam.

Sekolah itu, didirikan pada 2002. Biaya pembangunan dan operasionalnya, sebagian bantuan dari donatur. Kondisi ekonomi murid yang sulit, tak memungkinkan sekolah memungut biaya pendidikan. Apalagi, seman
gat sekolah anak-anak di sana tergolong rendah.

Selepas pertemuan itu, Arifudin pamitan. Anak muridnya berduyun duyun mengantar, sampai ujung desa di tepi pantai. Dalam temaram petromak, anak-anak bersalaman. Mereka akan jumpa lagi, lima hari kemudian. Arifudin bersama anak buahnya, menarik jangkar. Kapal perlahan melaju, menuju Maumere. Menjelang sore, biasanya kapal baru sampai.

Di ujung desa menghadap laut Flores, anak anak menadahkan tangan, mendongak ke langit. Mereka tampak khusu berdoa. Semoga sang guru selamat. Diam diam, mungkin ada yang membatin, agar ustad pulang membawa beras. Tapi tanpa itu, mereka toh tetap semangat. Rumusnya perut terisi. Pisang rebus, cukup sudah membuat kenyang.

Read More......