Showing posts with label kemiskinan. Show all posts
Showing posts with label kemiskinan. Show all posts

Friday, February 15, 2008

Dera Nurhayati Tiada Henti

Wanita setengah baya itu pantang mengeluh. Ia tegar bertahan, dari gempuran ujian yang datang silih berganti. Nurhayati (48), sosok ibu yang tangguh itu, bercocok tanam di lahan sempit di belakang rumahnya. Sekadar untuk menanam batang singkong yang dipetik daunnya, kangkung, juga bayam, cukup untuk dikonsumsi sendiri. Atau dijual jika hasilnya berlebih. Tetangga juga boleh minta, secara cuma-cuma.

Derita Nurhayati bermula, sejak suaminya menderita paru-paru. Selama empat tahun, sang suami tak mampu bekerja mencari nafkah sebagai kuli bangunan. Praktis, ia tampil menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi suami dan lima anaknya. Meski menderita sakit, cinta Nurhayati pada suami tak pupus. Hingga akhirnya, suami yang ia cintai itu meninggal pada 2003.

Dua bulan berselang, anak sulungnya yang sudah menikah meninggal dunia. batin Nurhayati makin teriris, tatkala almarhum anak lelakinya itu, menitipkan seorang anak bayi yang harus ia urus. Konon, menantu perempuannya, menikah lagi tanpa mau membawa anak kandungnya.

Kini, Nurhayati menghidupi empat anak dan satu cucu. Tugas yang berat, untuk seorang wanita yang bekerja serabutan. Kesabaran Nurhayati terus diuji, saat empat bulan lalu, anak bungsunya menderita sakit panas. Nurmela Sari (14), gadis itu, yang baru duduk di kelas tiga SMP. Ketiadaan biaya, memaksa Nurhayati merawat sendiri putrinya yang panas tinggi.

Satu pekan di pembaringan, mendadak, Mela, demikian anak itu dipanggil, tak mampu menggerakkan badannya. Nurhayati pun terpukul hebat, setelah mengetahui Mela ternyata lumpuh. Seiring hari, tubuh Mela kian kurus kering. Nurhayati sempat membawa anaknya itu ke RS Ciawi. Hanya beberapa hari, kemudian ia membawa pulang Mela, dengan hati tercabik-cabik. Ia tak punya biaya lagi, jika Mela harus dirawat intensif di rumah sakit.

Kini, hari-hari Mela dirawat sang bunda seperti bayi lagi. Ia disuapi, digendong, dan dibopong ke kamar mandi jika mau dimandikan. Kadang, saking letihnya, Nurhayati hanya mengelap Mela dengan air hangat, agar wajahnya sumringah.

Di rumahnya yang sederhana, tanpa dipan tempat tidur dan meja tamu, Nurhayati menjalani ujian berat ini. Ia tinggal di kampung Jampang, Gg. Masjid, RT.03/06, Jampang, Kemang, Bogor. Letaknya tak jauh dari perumahan Telaga Kahuripan. Selain bercocok tanam, Nurhayati merajut keset, pita bunga, dan mute kerudung. Kerajinan yang bahan bakunya diambil dari sebuah pabrik di Parung itu, kerap dikerjakan hingga larut malam. Kadang sampai jelang subuh.

Setiap tiga hari sekali, pihak pabrik akan mengambilnya. Setelah itu, Nurhayati menerima upah Rp 30.000,- sampai Rp. 50.000,-. Tergantung jumlah yang dihasilkan. Dalam penggal penggal doanya, Nurhayati mengaku kerap mengiba.

“Ya Allah, sudah semua ujian hamba jalani. Datangkanlah pertolongan-Mu ya Allah”, lirih, Mila menyingkap tabir doanya. Ia memohon sembari bersimpuh di samping Mela, yang berbaring tak berdaya. Sementara, anak itu akan menangis tiap mendengar doa-doa Ibunya.

“Maafkan Mela Bu”, isak Mela meremas hati.

Read More......

Wednesday, January 30, 2008

Generasi Tiwul dan Nasi Aking

Harga kebutuhan pokok bertahan naik. Pondasi dasar hidup rakyat ini terancam rapuh. Tiap kebutuhan pokok naik, maka melonjaklah harga-harga kebutuhan lainnya. Menanggapi kenaikan ini, terlihat pemerintah belum menerapkan percepatan langkah mengatasinya.

Sebaliknya, pemerintah sibuk mengirimkan utusannya survey ke daerah-daerah. Lagi-lagi keputusan yang selalu telat dan lambat. Tak lupa, beberapa menteri mendadak rajin menulis artikel menyangkut kenaikan bahan pokok ini. Mereka berusaha menjelaskan duduk persoalannya. Mengapa dan sebab apa bahan pokok ini naik.

Dari beberapa artikel yang dimuat di Koran nasional, terdapat sisipan pesan melaporkan peningkatan kinerja departemennya. “Agak promosi” memang. Tak ketinggalan, juga ditulis bagaimana konsep brilian menjaga ketahanan pangan di negeri ini. Meski nyatanya konsep ideal yang ditulis dalam artikel itu menguap begitu saja.

Bagi warga yang tinggal di Ibukota dan sekitarnya, seperak harga naik, dampaknya luar biasa. Mereka tidak dapat mengganti makan selain beras, jika harga beras melonjak. Tapi bagi warga pedesaan, tak mampu beli beras masih dapat merebus singkong atau ubi-ubian lainnya. Untuk sementara.

Tetapi, kearifan orang desa mengganti makanan selain beras ini, juga jangan dimaknai pemerintah sebagai hal yang biasa. Sebagaimana, Meteri Pertanian Anton Apriyantono, pernah menulis dalam artikelnya;

Perubahan mind set atas pangan, seperti "belum makan sebelum makan nasi", persepsi terhadap tiwul, nasi aking, dan bahan pangan lain sebagai makanan orang miskin dan kelaparan, harus dilakukan. Media diharapkan berkontribusi positif dalam mendorong diversifikasi dan bukan menyudutkan pemerintah serta memperolok masyarakat yang makanan pokoknya bukan nasi. (Kompas,16/1).

"Belum makan sebelum makan nasi", bukan pemeo. Orang kaya dan terpelajar bisa saja menggantinya dengan roti dan makanan mewah sejenis. Tapi orang desa yang kerja keras, banting tulang, memeras keringat, dan mengandalkan fisik, nasi sungguh suplai kekuatan paling dahsyat. Menggantinya tidak mungkin, karena biaya untuk mengganti jauh lebih mahal ketimbang nasi itu sendiri.

Demikian pula orang miskin di perkotaan. Harga sebungkus roti tawar bisa mencapai Rp 5.000, lebih mahal ketimbang satu liter beras dengan kualitas sedang. Jika satu bungkus roti tawar, tak kenyang dimakan satu hari seorang diri, sebaliknya satu liter beras bisa dimakan empat orang dengan tiga kali makan. Jadi, makan nasi bagaimanapun tetap pilihan paling ideal untuk orang miskin.

Sementara tentang tiwul dan nasi aking, Presiden SBY, yang lahir dan kecil di Pacitan, mungkin amat paham cerita nasi tiwul. Tetapi melihat postur badannya yang tinggi besar dan subur, kelihatannya SBY bukan bagian dari anak tiwul. Meski belum ada penelitian, biasanya generasi tiwul sulit memiliki badan yang subur.

Anak-anak generasi tiwul, selalu iri acapkali melihat putihnya nasi beras di piring tetangga. Bahasa Jawanya “ngiler”. Kalangan terpelajar, cerdik pandai, yang tak pernah miskin, barangkali melihat hal demikian sesuatu yang beradab. Maka telaah mendalamnya menukik, pada yang penting tercukupi gizi – meski rendah – dan tidak mati.

Orang pegunungan (misalnya Pacitan, Trenggalek, Ponorogo, Wonogiri, Tulungagung, Nganjuk), untuk bisa membeli secangkir beras harus kerja kuli bangunan ke kota. Sebagian anak gadis dan ibu-ibu, juga merantau ke kota menjadi pembantu rumah tangga.

Anak-anak mereka riang bukang kepalang, acapkali orang tua atau kakak mereka pulang dari rantau. Kegembiraan ini amat beralasan, karena kepulangan mereka dalam beberapa hari akan mengubah hidangan di dapur. Yakni makan nasi beras.

Marli (39), seorang ketua RT di Trenggalek blak blakan mengakui, warga di desanya hingga hari ini masih mengkonsumsi tiwul. Menurutnya, pesta nasi beras hanya dapat ditemui dalam moment-moment pesta perkawinan dan hajatan. Tiwul pun, juga masih kerap kekurangan. Masalahnya, lahan pertanian untuk menanam singkong di Jawa kini makin sempit.

Karena jarang makan nasi beras ini, orang desa kadang kreatif. Sisa nasi yang tak dihabiskan, kerap dikeringkan oleh sebagian orang. Nasi sisa makanan orang yang sudah dikeringkan inilah, kemudian diberi nama “nasi aking”. Bahkan, sisa nasi tiwul juga dikeringkan. Kemudian dimasak tatkala cadangan gaplek (sigkong kering bahan baku tiwul) habis, sembari menunggu musim panen berikutnya.

Jika pemerintah melihat tiwul dan nasi aking ini hal biasa, sungguh sembrono. Jika bijak, kita bisa melihat lahan pertanian di Jawa, sebagaimana Marli bilang, makin sempit. Singkong tak sepenuhnya mampu menopang kebutuhan dasar mereka. Karena pada saat yang lain, singkong juga dijual untuk biaya sekolah dan kebutuhan dapur lainnya. Juga dijual, untuk membeli beras bagi anak-anak bayi, yang tak mungkin perutnya disumpal pakai tiwul.

Ini, realita kekinian yang perlu diselami hingga dasar. Mentan juga menulis: Andai masyarakat tidak mampu membeli beras dan tiwul sebagai pengganti, itu bagus karena dapat mengurangi permintaan terhadap beras dan melakukan diversifikasi ke bahan pangan lebih murah dengan gizi tidak terlalu inferior, apalagi jika dikombinasi bahan pangan yang bergizi tinggi seperti ikan dan sayuran.

Generasi tiwul, sulit beli ikan. Bahkan, sebagaimana warga pegunungan di Jawa Timur juga masih beli gaplek. Jika singkong yang mereka tanam dibelikan ikan sebagai lauk, ini kemewahan yang sulit dicapai sebagai rutinitas harian. Selain juga berisiko pada cadangan makanan pokok mereka.

Sungguh, pemerintah perlu jeli dan hati-hati mengangkat topik yang terkait langsung dengan perut rakyat miskin. Karena, niat baik pemerintah bisa jadi malah menyakitkan. Percayalah, tak ada yang mau menjadi generasi nasi tiwul dan generasi nasi aking. Jika masih ada pilihan lain. Karena pada dasarnya, mereka juga ingin berubah dan tak abadi menjadi generasi ini.

Read More......

Thursday, August 02, 2007

Pesta Rumor di Tengah Kemiskinan


Waktu Erwin Kurniawan, mengakhiri hidup di dunia ini, ia tak sendiri. Terlebih dulu, ia diduga meracuni istrinya yang tengah hamil delapan bulan dan tiga anak lelakinya yang masih kecil. Warga Kandis, Riau itu, memilih episode singkat mengakhiri kemiskinan dengan jalan keji, pada Selasa, (5/6) dua bulan lalu.

Padahal, untuk para orang tua, Allah SWT, telah memberikan janji pada mereka. Kemiskinan mestinya tidak perlu menjadi alasan membunuh, jika ketauhidan manusia pada puncak keyakinan dan keteguhan. “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”. (al Isra: 31).

Kisah tragis anak manusia, yang menempuh jalan pintas karena tak tahan jerat kemiskinan ini, kerap terulang tiap tahunnya. Tetapi, kasusnya tidak menjadi heboh. Sehingga publik seakan menanggapi biasa-biasa saja. Bandingkan, jika kasus yang sama menimpa kalangan menengah ke atas. Beritanya, bisa jadi membombardir semua isi media massa. Pengaruhnya, penguasa segera sigap melakukan tindakan.

Orang miskin, seolah ditakdirkan untuk tercampak. Dalam banyak kebijakan mereka tersisih. Bukan komunitas yang diprioritaskan untuk segera dipikirkan. Beda, jika yang tersentuh luka kalangan atas, maka pembelaan dan pertolongan begitu cepatnya datang. Ironisnya, orang miskin hanya menjadi bintang, tatkala musim kampanye saja.

Jamaah haji kelaparan, dunia rasanya berguncang. Dari diskusi meja makan, hingga rapat kabinet ramai membicarakannya. Tetapi, ketika Erwin mengambil keputusan fatal karena tak tahan lapar, publik rasanya sepi-sepi saja. Karena derita Erwin, tidak berimbas pada kepentingan kalangan atas. Pun, negara juga tak bereaksi. Diam, membisu.

Senin lalu, saat Indonesia tengah ngerumpi tentang Zaenal Maarif dan Susilo Bambang Yudhoyono, kembali rakyatnya Presiden SBY meninggal karena kemiskinan. Tetapi, perseteruan “memalukan” itu, kelihatannya lebih penting ditonjolkan ke publik, ketimbang erangan sakaratul maut, yang menjemput nyawa orang miskin.

Ida Resdawati (36), ibu lima anak, warga Rejosari, Tenayang Raya, Pekanbaru, kehilangan dua anaknya yang meninggal, terkunci di dalam kamar kontrakan. Kejadian ini bermula, tatkala Ida berusaha menyiasati hidup untuk membesarkan anak-anaknya. Tanpa suami, menghidupi lima anak sungguh beban yang sarat. Untuk meringankan beban, dua anaknya sampai dititipkan pada kerabatnya di Pangkalan Kerinci.

Ida, meninggalkan rumah untuk bekerja sebagai tukang masak, di sebuah usaha makanan yang tak jauh dari kontrakannya. Ia berangkat sejak pukul 05.00, saat anak-anaknya masih terlelap. Ia baru akan pulang sore hari, bahkan sampai malam jika banyak pekerjaan.

Selanjutnya, peran ibu akan digantikan putrinya yang duduk di kelas 2 SD. Anak itu, akan memberi sarapan dan mengurus adiknya yang baru berumur tiga dan satu tahun. Sampai pukul 09.30, baru sang kakak akan berangkat sekolah. Untuk menjaga adiknya agar tak main keluar rumah, ia mengunci dua bayi itu di dalam kamar. Sebagaimana perintah sang ibu. Ida terpaksa menempuh cara ini, untuk mencari nafkah. Pilihan yang pelik.

Tetapi, Senin pagi itu hari naas bagi Ida. Entah mengapa, ia mengajak anaknya yang di bangku SD ikut ke tempatnya bekerja. Sebelum berangkat, Ida menyuruh anaknya membakar obat nyamuk, agar dua adiknya tetap lelap tak diganggu nyamuk. Tapi, dari situlah tragedi terjadi. Sepeninggal Ida, obat nyamuk membakar kasur, dan kebakaran di dalam kamar terkunci itupun tejadi. Dua bocah tak berdosa, meninggal. Ida pun, meratap dan menyesal.

Orang yang belum pernah miskin, barangkali enteng saja mengkritik kecerobohan Erwin dan Ida. Salah sendiri, miskin punya anak banyak. Hujatan yang kerap menyeruak, di pikiran sebagian orang. Dalam banyak hal, kaum dhuafa kerap disalahkan. Tetapi, pada lain kesempatan, kemiskinan juga ajang yang tak henti-hentinya didiskusikan dan diseminarkan. Juga lahan subur, untuk orang menjadikannya kuda troya, mencapai tampuk kekuasaan.

Dalam buku, Keresahan Pemulung Zakat, yang berisi esai-esai salah satu tokoh zakat Indonesia, Eri Sudewo, ia menulis gugahnya, Bahaya Kemiskinan. Dalam tulisannya, ia menuturkan, Islam sangat menentang kemiskinan. Namun Islam menuntun umatnya agar bisa merasai makna miskin. Puasa Ramadhan, misalnya, memaksa supaya tubuh ini bisa merasai ''nikmatnya'' lapar. Lantas, bila makan sehari cukup dua kali, mengapa mulut ini tak pernah bisa berhenti makan? Kalau kita pantas dengan pakaian yang terjangkau, mengapa harus memaksa menggapai yang mewah? Artinya kalau Islam meneladani kesederhanaan, mengapa justru kita terus berlebihan?

Dalam riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah SAW berpesan: ''Kemiskinan, kebodohan, dan penyakit merupakan musuh Islam. Ketiganya dapat menggoyah sendi kehidupan, menghancurkan ketentraman, menghalangi ukhuwah, serta meruntuhkan kemuliaan dan kejayaan bangsa''.

Menurut Eri Sudewo, pesan tersebut, maknanya tentu saja sangat dalam. Bahwa bahaya kemiskinan, tak hanya mengancam individual, melainkan juga akan melibas kehidupan masyarakat. Baik melabrak segi akidah-iman, akhlak-moral, maupun bakal merusak cara bersikap dan berpikir.

Demikian mengerikannya bahaya kemiskinan ini. Mestinya, energi pemimpin dan rakyat bangsa ini, dimanfaatkan untuk memikirkannya. Ketimbang sekadar menguras energi, untuk bisik-bisik masalah aib dan sahwat para pemimpin.

Read More......