Ini, cara Pantau membuat peserta kursus Jurnalistik Sastrawi XII bisa terbahak-bahak. Satu, dua, tiga! Kaki kanan diangkat tinggi-tingga. Saya yang sulit senyum, tiba-tiba terkekeh-kekeh. Demikian pula teman-teman yang lain. Mengesankan. Tapi jika pijakan tak seimbang, badan bisa-bisa terjengkang.
Berikut data teman-teman yang jadi korban "Ketawa ala Pantau", dicopy dari dapurnya Mas Andreas Harsono:
Aditya Heru Wardhana, saat ini bekerja sebagai video journalist di Trans TV sekaligus aktif di Aliansi Jurnalis Independen cabang Jakarta. Ketika training broadcaster dua tahun lalu, ia mendapat tugas membaca naskah berjudul "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan" karya Alfian Hamzah. Sejak itu timbul niat ingin menulis seperti itu, yang elok dan memikat. Sejak kuliah sudah asyik membaca tulisan-tulisan di majalah Pantau. Mengikuti training jurnalisme sejak tahun 2002.
Adriana Sri Adhiati, saat ini bekerja untuk Down to Earth sebagai researcher, campaigner and websiter co-administrator (part-time) di London. Sejak tahun 2005 selalu mengkampanyekan isu-isu yang berhubungan dengan agrarian reform, policy reform in natural management and ecological justice in Indonesia.
Asep Mohammad BS, sejak tahun 2000 bergabung dengan majalah Swa sebagai wartawan. Pengalaman menulis sejak April 1999 ketika menjadi Kepala Publikasi dan Dokumentasi di organisasi non pemerintah Pusat Ilmu dan Kajian Perbukuan. Artikelnya sering dimuat diberbagai media masa seperti harian Pikiran Rakyat, Suara Karya, Galamedia, Suara Publik dan Risalah.
Edy Purnomo, setelah lulus dari sastra Universitas Indonesia tahun 1991, Edy kemudian mulai bekerja di majalah Manajemen Produktivitas hingga 1993. Tahun 1993-2000 bekerja pada harian Bisnis Indonesia, harian Indonesia Shangbao tahun 2001-2002. Sejak tahun 2002 sampai sekarang bekerja di harian Investor Daily.
Emmy Kuswandari, bergabung di harian sore Sinar Harapan sejak 2001. Semasa kuliah sudah akrab dengan jurnalistik karena mengambil jurusan jurnalistik dan ikut andil pada majalah kampus di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Emmy tercatat sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen, Coordinator for Gender Imago Dei Studi, anggota Gerakan Antikekerasan terhadap Perempuan Indonesia. Mendapat "Rule of Law and Independence Press Fellowship in Massachussets" di dekat Boston pada 2000.
Endah Imawati, bekerja di media sejak tahun 1994 di tabloid anak-anak Hoplaa. Baru tahun 2000 menulis untuk harian Surya Surabaya (masih dalam satu grup). Kebanyakan dia bercerita tentang keluarga, remaja, sedikit gaya hidup, perjalan, dan feature. Dia mengatakan tak pernah menulis tulisan yang berat. Karya yang dihasilkannya antara lain kumpulan cerita anak, novel remaja dan cerita bersambung.
Frans Obon, sejak 1994 bekerja di mingguan Dian. Bergabung dengan harian Flores Pos sejak didirikan tahun 1999 oleh Yayasan Dian dan menjabat sebagai Manajer Liputan sampai 2003. Sejak 2003 sampai sekarang menjadi Manajer Produksi (Pracetak). Secara rutin dia menulis untuk Bentara (Tajuk Flores Pos). Selain menjadi wartawan, Frans juga mengajar di Universitas Flores di Ende.
Frans S. Imung, mulai mengenal dunia jurnalistik pada awal 1997. Pertama menjadi wartawan pada majalah ekonomi, dengan fokus pasar modal, Uang & Efek (almarhum). Selanjutnya ikut membidani lahirnya majalah Investor pada masa krisis tahun 1998. Saat ini sebagai editor di majalah Investor.
Hillarius U Gani, pernah menjadi reporter Lampung Post sebelum akhirnya bergabung dengan Media Indonesia tahun 2001 sampai sekarang. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia pernah mengikuti diklat jurnalistik yang diadakan Media Indonesia (2001), pelatihan jurnalistik pemula oleh LP3Y Jogjakarta tahun 2002 dan Jurnalistik oleh UNDP di Bogor.
Lisa Suroso, saat ini menjabat sebagai redaktur majalah Suara Baru. Menulis untuk media sejak Desember 2004. Dia juga pengurus pusat Perhimpunan Indonesia Tionghoa bagian humas. Dia banyak terlibat dalam kegiatan sosial organisasinya dalam bencana alam di Aceh dan Flores.
Rozzana Ahmad Rony, panggilannya Nana, mengetahui kursus ini dari temannya, Alexander Mering, redaktur harian Borneo Tribune. Ia merupakan satu-satunya peserta dari Malaysia. Sejak tahun 2006, dia bekerja sebagai journalist di Utusan Sarawak, sebelumnya tahun 2003-2006 bergabung di Sarawak Tribune. Kegiatan lainnya adalah menjadi anggota Kuching Journalists Association dan anggota Sarawak Women for Women Society.
Said Abdullah Dahlawi, mulai menulis secara profesional sejak menjadi wartawan di harian Sijori Mandiri, Batam April 2005. Sejak mahasiswa suka mengirimkan artikel yang diterbitkan Radar Mojokerto dari Kelompok Jawa Pos di Jombang, Jawa Timur dan sering diminta untuk mengisi artikel di bulletin Motive yang dikelola secara independen oleh mahasiswa.
Stefanus Akim, merupakan salah satu wartawan Equator dari Kelompok Jawa Pos, yang keluar kemudian mendirikan harian Borneo Tribune di Pontianak. Borneo Tribune sendiri mulai launching tanggal 19 Mei 2007. Sejak duduk di bangku SMA, Akim sudah bergelut dibidang jurnalistik sebagai pemimpin redaksi majalah Sidus, dilanjutkan ketika kuliah aktif sebagai anggota dan pengurus Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura di Pontianak.
Sunaryo Adhiatmoko, saya sendiri.
Yayan Ahdiat, sejak 1989 menulis di Suara Pembaruan, Pelita, Jayakarta, Berita Buana, Suara Karya, Republika dan Media Indonesia. Tahun 1993-1998 bergabung di Majalah VISTA-TV, kemudian menjadi redaktur majalah Sportif tahun 1998-2000, redaktur Lippostar.com tahun 2000-2002. Tahun 2002 sampai sekarang menjadi redaktur pelaksana View Magazine.
Yuyun Wahyuningrum, mahasiswa penerima beasiswa di Universitas Mahidol, Thailand mengambil jurusan Human Rights and Social Development. Saat ini sedang mengerjakan tesisnya di Jakarta dan tinggal bersama ibunya di daerah Kalibata. Telah bekerja di isu-isu sosial yang berkenaan dengan gender, hak azasi manusia, pembangunan, perempuan dan anak sejak tahun 1998. Yuyun tidak pernah menulis untuk media, kebanyakan dia menulis untuk esai akademis di jurnal bukan di media massa.
Thursday, August 02, 2007
Ketawa ala PANTAU
Mematahkan Gengsi Melawan Kemiskinan
Pada 1989, Anggoro Aji, belum pernah membaca buku Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran. Buku yang sarat dengan amunisi, untuk menggebrak masa depan pendidikan rakyat Jepang. Pada tahun 1882, buku ini terjual 600.000 naskah.
Di antara pesan penting yang ada di dalam buku itu, menyatakan: Manusia tidak dilahirkan mulia atau hina, kaya atau miskin, tetapi dilahirkan sama dengan yang lain. Siapa yang gigih belajar dan menguasai ilmu dengan baik akan menjadi mulia dan kaya, tetapi mereka yang jail akan menjadi papa dan hina.
Anggoro Aji, bocah gunung yang lahir terpanggang paceklik pada 1977, di pedesaan lereng pegunungan Abimanyu. Sebuah desa yang tandus dan kering, di selatan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Pada 1989, ia turun gunung untuk melanjutkan sekolah ke bangku SMP, di pusat kota. Sendirian.
Dalam kurun tiga tahun, ia me
nyiasati hidup dan menyelesaikan sekolahnya dengan kerja di rumah seorang petani cukup mampu di kota itu. Mencangkul, mencari kayu bakar, dan kerja kasar lainnya, dilakoni dalam umur belasan tahun. Cucuran peluh bocah itu pun, mengantarkannya sampai lulus SMP.
Anggoro Aji, dengan bangga kembali ke kampungnya di lereng Abimanyu. Kedua orang tuanya, tak mampu menepis haru. Anggoro Aji, si bocah hilang telah kembali. Tetapi para tetangganya mencibir, “Kalau derajatnya orang miskin gak perlu ngoyo (nekat)”. Telinga bocah itupun memerah. Seharian, ia menangis di pangkuan ibunya.
Beberapa hari di kampung, Anggoro Aji diusik gelisah. Kegigihannya untuk sekolah tak lagi terbendung. Ia makin tak tahan melihat kemiskinan keluarganya yang akut.
“Bapak, Ibu, ijinkan aku menuntut ilmu. Aku mau merantau ke kota, aku ingin membuat bapak dan ibu bangga”, pinta Anggoro Aji memelas.
Untuk kedua kalinya, bocah itu meninggalkan tanah kelahirannya. Tak cukup bekal yang ia bawa, kecuali selembar ijazah. Surabaya, kota yang padat dan panas menjadi tujuannya. Enam jam naik bus, ditempuh dari daerah asalnya. Belum tahu, kemana ia mau singgah dan menetap. Anggoro Aji, mulai mengetuk pintu di perumahan-perumahan elit. Ia menawarkan diri, untuk bekerja sembari menunjukkan ijazahnya.
“Saya mau kerja apa saja, asal saya bisa sekolah”, Anggoro Aji menawarkan diri.
Patahkan Gengsi
Senin lalu, saat tengah bercengkerama dengan istrinya, Anggoro Aji kedatangan seorang anak gadis. Anak itu datang ke rumahnya, di bilangan Depok untuk minta pekerjaan. Menurutnya, anak itu sedang butuh biaya sekolah. Ia mau jadi pembantu dan kerja halal lainnya, agar sekolahnya tidak putus.“Saya terharu. Teringat masa lalu. Dia anak yang hebat, karena di Jakarta banyak orang mendewakan gengsi, tetapi dia mampu mematahkan gengsi. Tidak semua orang miskin mampu membunuh gengsinya. Mereka lebih suka ambil jalan pintas, korupsi atau merampok. Hanya untuk menutupi malu miskin itu”, kata bapak dua anak yang kini jadi pekerja sosial.
Hidup dalam jerat kemiskinan, menurut Anggoro Aji, yang pertama harus dimatikan adalah gengsi. Banyak anak putus sekolah, karena ketiadaan biaya. Tetapi mereka kerap menyerah oleh keadaan. Malu, jika tidak punya standar hidup setara dengan teman-teman sekolahnya yang mampu.
“Tak perlu malu jadi kuli, jadi pembantu, buruh, jika ingin hidup berubah. Banyak orang besar lahir dari kemiskinan. Tetapi mereka mencapai dengan perjuangan tanpa gengsi. Percayalah, tiap bulir keringat kita yang jatuh, Allah telah memberi nilai di dalamnya”, pesannya.
Anggoro Aji meyakini, jika anak muda kita lebih gede gengsi, bangsa ini tak akan pernah maju. Anak-anak muda kita perlu diberi teladan kebangkitan, layaknya Jepang. Negeri matahari terbit itu, memberi banyak inspirasi untuk generasinya bangkit dari Perang Dunia II. Dunia dibuat terbelalak. Bagaimana sebuah bangsa yang luluhlantak oleh bom atom dan kalah dalam Perang Dunia II, mampu menyalip peradaban Barat dalam berbagai bidang.
Profesor Ezra Vogel dari Harvard University, mengatakan, bahwa kejayaan Jepang Terjadi berkat kepekaan pemimpin, institusi, dan rakyat Jepang terhadap ilmu dan informasi serta kesungguhan mereka, menghimpun dan menggunakan ilmu untuk kehidupan mereka.
Ketika sedang berselancar di ruang maya, Anggoro Aji menemukan sebuah artikel yang ditulis Jaahid Nafsak berjudul Asas Kebangkitan Peradaban. Artikel itu, meresensi buku Prof. Dr. Wan Mohd. Nor Wan Daud, seorang guru besar di International Institut of Islamic Thought and Civilization—International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), yang memaparkan tentang budaya ilmu dan kebangkitan bangsa Jepang.
Diceritakan, bagaimana Jepang bangkit. Jepang telah menempatkan ilmu dalam posisi penting sejak Zaman Meiji (1860-an-1880-an). Pada akhir 1888, dikatakan, terdapat sekitar 30.000 pelajar yang belajar di 90 buah sekolah swasta di Tokyo. Sekitar 80 persennya berasal dari luar kota. Pelajar miskin diberi beasiswa. Sebagian mereka bekerja paroh waktu sebagai pembantu rumah tangga.
Namun, mereka bangga dan memegang slogan: “Jangan menghina kami, kelak kami mungkin menjadi menteri!” Para pelajar disajikan kisah-kisah kejayaan individu di Barat dan Timur. Salah satunya, buku Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran.
Sebagai potret orang yang pernah mengalami saat sulit menempuh pendidikan, Anggoro Aji merasakan, aroma pendidikan kita hanya berkutat pada mahalnya biaya sekolah. Anak-anak muda kita tak diajarkan ketangguhan, layaknya anak-anak kurang mampu berjuang untuk sekolah. Anak-anak muda kita, makin terbawa ke ranah dunia hiburan, ketimbang ditarik ke area perjuangan memajukan bangsa. Pergaulan bebas lebih cepat populer, ketimbang penguasaan terhadap sain dan teknologi.
Dalam pengalaman Anggoro Aji, kemiskinan tak boleh membuat hidup ciut dan takut. Kemiskinan harus dilawan. Dengan tekad dan semangat. Sebagaimana seorang pemuda Jepang bernama Kinjiro Ninomiya, yang hidup pada awal abad ke-20. Kegigihannya dalam memburu ilmu, menjadi inspirasi masyarakat Jepang. Kegigihannya terukir dalam puisi Jepang yang melegenda:
Pada awal pagi
Dia mendaki gunung mencari kayu api
Sehingga larut malam
Dia menganyam selipar (jerami padi)
Sambil berjalan
Dia tidak pernah berhenti membaca.
Read More......Thursday, July 19, 2007
Korea Selatan dan Gamawan Fauzi
Tadi malam, atau mungkin hari ini, Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi, sedang memenuhi janjinya. Mentraktir seorang tamu, pengusaha kertas dari Korea Selatan. Gamawan kalah bertaruh atas pertandingan sepak bola, antara Indonesia versus Korea Selatan yang berakhir 1 – 0, untuk k
emenangan Korea Selatan. Rabu kemarin.
“Kalau Indonesia menang, Anda traktir saya. Kalau Korea yang menang, Anda yang saya traktir”, tantang Gamawan. Hasilnya, sebagaimana ungkapan mantan Bupati Solok itu, bangsa kita harus banyak belajar pada Korea Selatan.
Gamawa Fauzi, sedang terkagum-kagum dengan Korea Selatan. Kunjungannya ke negeri gingseng beberapa waktu lalu, telah membuka cakrawala bagaimana kemajuan sebuah bangsa bisa dicapai dengan cepat. Ia mengaku, sedang mengorek banyak resep, dari pengusaha Pabrik Morin Paper Korea Selatan itu.
Pabrik Morin Paper, mewakili Korea Selatan menunjuk Sumatera Barat sebagai pilot project Hutan Tanaman Industri. Luas lahan yang disediakan 70 ribu hektar. Meliputi daerah luar kawasan hutan taman nasional Siberut dan arah selatan Kepulauan Mentawai. Investasi yang direncanakan bisa mencapai Rp 300 triliun.
“Saya akan belajar lagi pada dia. Di mana kunci kejayaan Korea dicapai. Saya akan menerapkan untuk masyarakat Minang ini”, tandasnya. Tersirat kekaguman dari wajah lelaki berkumis tebal itu.
Korea Selatan, menurut Gamawan, melalui kondisi sulit dengan perjuangan hebat. Penjajahan 35 tahun oleh bangsa Jepang, membuat lingkungan hidup rusak berat. Kayu-kayu hutan ditebang habis oleh Jepang. Pada 1960, pendapatan perkapita Indonesia sama dengan Korea. Kini, pendapatan bangsa itu melompat amat jauh dari Indonesia.
Sebelum perang dunia kedua, Korea tak dikenal dalam pentas dunia. Korea hanya sebuah negara pertanian yang miskin. Perang saudara juga telah meremukkan semua sendi kehidupan warga Korea. Sampai terbelah menjadi Korea Selatan dan Korea Utara. Miskin dan sengsara hingga titik nadir.
Tetapi, bangsa Korea Selatan bukan negara yang dihuni masyarakat yang selalu maingke ingke. Istilah Minang, dalam bahasa Gamawan yang berarti gemar merecoki terus menerus, atau banyak bertingkah. Mereka bangsa yang padu, dalam memompa tekad dan semangat untuk bangkit berjaya. Tidak sekadar slogan, tetapi diterapkan dalam nafas kehidupan sehari-hari.
“Pada umumnya, mereka setiap hari bekerja selama 16 jam. Mereka malu pulang terlalu cepat, karena tidak mau dianggap sebagai orang yang tidak berguna”, terang Gamawan.
Buah dari kegigihan ini, ditandai dengan kebangkitan pendidikan Korea Selatan yang dipuji sebagai salah satu negara yang angka melek hurufnya tertinggi di dunia. Ini menjadi fakta, bahwa orang Korea Selatan yang berpendidikan, menjadi modal utama percepatan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai negara itu, selama tiga dekade silam.
“Dan itu, tanpa demokrasi”, sentil Gamawan sembari mesem kecut.
Sejak didirikannya Republik Korea tahun 1948, pemerintah mulai menyusun sistem pendidikan modern. Lima tahun kemudian, 1953, pemerintah mewajibkan menyelesaikan sekolah dasar selama enam tahun pada usia antara 6 dan 11 tahun. Jumlah anak yang terdaftar pada tingkat dasar ini mencapai 99,8 persen, dan tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah. Tahun 2001 mulai diterapkan pendidikan wajib pada jenjang sekolah menengah.
Belajar dari Korea Selatan, Gamawan menemukan kunci atas keberhasilan ini. Yakni, spirit dan nilai-nilai kemandirian. Tetapi, ia dihadapkan pada kenyataan yang cukup menyesakkan. Dalam survey yang dilakukan Pemda Sumatera barat 2006, warga Sumbar 74 persen berkeinginan jadi pegawai negeri sipil. Ini, sebuah indikasi yang menurut Gamawan sebagai turunnya nilai-nilai kemandirian dan spirit.
Pegawai negeri, bagi Gamawan bukan pekerjaan yang penuh tantangan. Terutama bagi masyarakat Minang yang punya akar budaya sebagai entrepreneur sejati. Jika pola pikir pekerja malas ini yang dipakai, maka mimpi menjadi mirip Korea Selatan, hanya angan-angan di ruang kosong.
Pentingnya Spirit
Orang Indonesia pandai berdalih. Sindir Gamawan. Mengapa Singapura maju? karena negaranya secuil. Mengapa Korea Selatan hebat? karena wilayahnya kecil. Mengapa Cina jadi raksasa, karena wilayahnya besar. Indonesia? Sulit menjadi bangsa setengah-setengah. Selalu saja dalih itu cerdas untuk berkelit.
Perilaku berdalih dan berkelit itu, yang tidak akan mampu menghapus kemiskinan dan kebodohan. Gamawan benar, dalih wilayah yang juga bermakna modal, kerap dijadikan biang keladi. Padahal, modal yang dimiliki bangsa ini dengan kekayaan alam dan kepulauannya yang luas sudah lebih dari cukup. Tak beralasan, dalih yang lebih cocok disebut sebagai kemalasan itu.
Jika diselami, sesuatu yang telah lama hilang dari bangsa ini sejatinya kepercayaan diri, semangat, dan kebanggaan pada bangsa sendiri. Melihat animo hebat dari pecinta kesebelasan Indonesia, di pentas Piala Asia, tidak bisa dipungkiri banyak orang hatinya bergetar. Tiba-tiba, kita seakan menemukan pemicu sebuah kebangkitan. Hingga, Presiden SBY pun merasa perlu untuk larut dalam nafas heroik di Gelora Bung Karno itu. Sayang, Korea Selatan menghentikan momen penting ini.
Korea Selatan memang layak menang. Ia punya segalanya. Teknik, setrategi, semangat, dan kecintaan pada negaranya. Itu pula yang mampu membungkam gemuruh ribuan suporter di kandang lawan. Ini sebuah pelajaran yang mestinya dipetik bangsa ini. Semua lapisan masyarakat hendaknya berkorban untuk membangun bangsanya. Bukan orang miskin melulu, yang dipaksa sabar narimo, berkorban, dan berjuang. Sementara, pemerintah, wakil rakyat, pengusaha, dan para penikmat bumi Indonesia ini, hidup untuk pribadi dan sanak keluarganya.
Dalam buku Rahasia Bisnis Orang Korea yang ditulis Ann Wan Seng, Orang Korea adalah bangsa yang gigih, tahan serangan, tidak takut diuji dan berani mengambil risiko. Orang Korea percaya tiada jalan yang singkat untuk berjaya. Mereka perlu mengawali dari bawah.
Prinsip ini yang dipegang oleh pengusaha Korea dan menjadi asas kejayaan mereka. Mereka mempunyai cita-cita yang tinggi bukan untuk kepentingan peribadi, tetapi untuk kejayaan bangsa dan martabat negaranya. Kejayaan mereka adalah kejayaan bangsa Korea. Pencapaian mereka adalah pencapaian negaranya.
Bahkan, dalam prinsip orang-orang Korea Selatan yang dipatri sedari kecil, agar selalu berada selangkah di depan. "Ketika orang lain sedang tidur, kamu harus bangun. Ketika orang lain bangun, kamu harus berjalan. Ketika orang lain berjalan, kamu harus berlari. Dan ketika orang lain berlari, kamu harus terbang."
Gamawan terpikat karenanya. Maka, dalam pengantar usai penandatanganan launching Dompet Dhuafa Singgalang (DDS), di Rattan Room Harian singgalang, Rabu (18/7), ia berwasiat bahwa yang terpenting untuk membantu penderitaan dan kemiskinan adalah spirit, layaknya yang dimiliki bangsa Korea Selatan.
“Saya terkesan dengan Dompet Dhuafa Republika, yang membangun lembaga dan menjalankan programnya dengan landasan nilai-nilai, semangat, dan kemandirian. Bukan modal yang jadi masalah di negeri ini, tetapi spirit itulah yang utama”.
Read More......Bilakah Tangismu Jadi Doa
”Lagi ngurusin cerai di Pengadilan Cilegon mas”. Khairunisa (34), membuka perbincangan. Nafasnya agak tersengal saat membuka pintu kontrakannya. Badannya kurus pucat. Wajahnya, seolah diselimuti kabut tebal masalah yang sarat. Buru-buru, ia mempersilakan duduk lesehan di atas karpet tua warna merah. Di pangkuannya, duduk putri keduanya yang berumur dua tahun, Dwi Mayanda Nuraini.
Anak itu, duduk di pangkuan ibunya dengan lemah. Badannya kurus, rambutnya merah keriting. Seperti kurang gizi. Pada 2006 lalu, Nuraini pernah muntah darah. Dokter tempat berobat bocah itu memvonis, Nuraini mengalami jantung bocor. Jika ingin sembuh, Khairunisa harus menyiapkan Rp 750 ribu untuk setiap kali berobat. Ia terbelalak. Sejak itu, hanya sekali Nuraini dibawa ke dokter. Tak pernah lagi hingga kini. Padahal dokter berpesan, umur dua tahun Nuraini harus menjalani operasi.
Khairunisa, sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan putrinya terus dikejar rasa sesal. Tiap melihat gerak tingkah Nuraini, seakan mencabik-cabik ulu hatinya. Pedih. Makin terasa dirajam batinnya, tatkala tahu derita Nuraini tak hanya jantungnya yang bocor. Anak yang sulit tersenyum itu, ternyata punya kelainan yang sangat mengganggu. Ia tidak memiliki lubang kelamin. Derita yang berlapis-lapis.
Khairunisa punya anak dua. Anak pertama, Dinda (9) terancam tak bisa sekolah di bangku sekolah dasar. Untuk menyiasati hidup, ia ngontrak Rp 175 ribu per bulan, di Lingkungan Serdang RT 04/08, Kota Bumi, Purwakarta, Cilegon, Banten. Dengan modal Rp 2 juta, ruang tamu disulap jadi warung untuk jualan kecil-kecilan. Tetap saja, ia tak sanggup memenuhi kebutuhan hari-hari, diri dan dua naknya. Kontrakan, kerap telat bayar.
”Kalau masih kurang untuk bayar kontrakan, saudara saya minjemin, ntar dibayar kalau sudah ada uang”, katanya lirih.
Dengan derita anaknya, ia tak sanggup mempertahankan bahtera rumah tangga. Suaminya, sudah delapan bulan pergi. Terpikat wanita lain, sampai akhirnya menikah. Sementara ia dan darah dagingnya sendiri tak dinafkahi. Cerai, setidaknya diyakini Khairunisa menanggalkan satu bebannya yang berat. Jikapun dipertahankan akan terus menikam perasaan.
”Dia tidak bertanggung jawab”.
Bahkan, rumah yang dulu ditempati Khairunisa juga sudah dijual untuk membayar utang-utang suaminya. Sudah tidak terukur, pengorbanan harta dan perasaan wanita itu. Ia hanya bisa berandai, jika suaminya tak menjual rumah itu, mungkin bisa dijual saat ini untuk membiayai operasi Nuraini.
Tetapi semua sudah habis. Ludes. Tinggal air mata yang belum kering. Masih mengalir deras sebagai pencurah segala beban. Makin kencang jeritan itu, tatkala ia menatap Nuraini tergeletak lemah. Menangis dan menangislah Khairunisa, agar isakmu menjadi doa untuk anak-anakmu.
Read More......Friday, July 06, 2007
Teror dari Balik Tanggul
Denyut lemah, korban lumpur Lapindo. Kehidupan yang terenggut monster lumpur, perlahan-lahan, nyata, dekat, dan menyiksa.
Ketika ditanya nama, Ia memperkenalkan namanya, Bu Bambang. Perempuan yang sudah merambat tua itu, tiap sore duduk termenung di tepi tanggul penahan lumpur lapindo. Matanya, menyapu hamparan lumpur yang membentang di hadapannya. Kemudian ia berdiri,
tatkala kaki mulai terasa keram. Lalu duduk berjongkok. Berdiri. Duduk lagi. Kali ini dengan menyelonjorkan kaki. Lima belas menit kemudian, kembali berdiri. Posisinya mulai berubah. Perlahan, ia membalikkan badan membelakangi danau lumpur.
Wajah cemas, dibungkus kerudung cokelat terlihat jelas. Dari tanggul setinggi kurang lebih 10 meter, Ia membayangkan, kalau tanggul itu jebol, lumpur akan menelan kehidupan di desanya, Renokenongo. Desa itu, sebagian tersisa, separonya sudah tenggelam. Di antara yang tersisa adalah keluarga dan rumahnya yang sederhana di RT tujuh.
“Rumah saya retak-retak. Kalau malam tidak bisa tidur. Kuatir”, katanya, Sabtu sore lalu.
Sejak lumpur menyembur, ia terus mengawasi pergerakannya. Mulai tanggul satu meter, hingga tingginya melampaui tiang listrik. Matanya, menjadi saksi sebuah kehidupan dan peradaban yang lenyap, pelan-pelan. Kampung-kampung mulai hilang. Gerakan Lumpur yang merayap, terus mendekat dan makin merapat ke tempat tinggalnya. Jarak itu, kini tak lebih dari perjalanan kaki 10 menit.
“Lumpure iku lo rek, tambah-tambah terus, gak mandeg-madeg. Tanggule yo tambah duwur”, badannya kembali menghadap danau lumpur. (Lumpur bertambah terus, tidak mau berhenti. Tanggulnya juga makin tinggi).
Pandangannya, berselancar menyusuri garis tanggul yang mengular , membelah Renokenongo, Kedungbendo, dan di barat, Siring, Jatirejo, Besuki.
Tanggul yang melintasi Kedungbendo dan Renokenongo, dijadikan jalur alternatif yang menghubungkan Surabaya – Gempol. Jalan pintas itu, selalu padat pada pagi dan siang hari. Terutama saat hari libur. Warga setempat, kebanyakan korban lumpur memanfaatkan kepadatan itu dengan meminta sumbangan. Jarak tiap titik cukup rapat. Tak kurang dari 300 meter. Jika tiap titik meminta, “agak maksa” diberi Rp 1000, sampai lepas jalur tikus, bisa menghabiskan Rp 20 ribu. Entah, siapa yang mengijinkan tanggul penahan lumpur itu jadi jalan raya. Padahal rawan jebol.
Di dalam danau lumpur lapindo, setahun lalu, denyut kehidupan mengisi hari-hari. Terdapat 31 pabrik yang menyedot ribuan tenaga kerja. Sebagian masyarakat bekerja sebagai wiraswasta. Pengrajin kulit, bahkan telah menempatkan ekonomi masyarakat Porong cukup sejahtera. Mendadak, harmoni tercerai berai. Berganti endapan lumpur coklat pekat, hampir hitam dengan bau menyengat. Setajam bau kaos kaki yang sudah seminggu dipakai.
“Podo setres wis kabeh. Lho, yak opo, koyo ngene susahe. Lek gak kuat-kuat yo iso iso geblak”, keluh Bu Bambang, yang betah berjam-jam duduk di tanggul. (semua setres, bagaimana seperti ini. Kalu tidak tahan bisa jatuh terlentang).
“Omah podo ilang, sawah kerendem, pabrik tutup, hancur wis urip”. (rumah semua hilang, sawah terendam, pabrik tutup, hidup hancur).
Matanya masih tertuju pada endapan lumpur di depannya. Tiap duduk di tanggul, ia mengaku berdoa. Setahun sudah, ia dilecut takut, makan tak enak, tidurpun tak tenang. Kejadian tanggul jebol yang kerap terulang, menjadi teror menegangkan. Warga yang tinggal di sekitar danau lumpur, juga mengalami kecemasan yang sama.
Tidak hanya Bu Bambang yang rutin mengunjungi tanggul. Warga lain, yang rumahnya dalam posisi terancam, juga kerap menyambangi tanggul. Mereka hendak tahu debit Lumpur yang terus bertambah.
Lingkar tanggul, pelan-pelan makin menggunung. Luas penampungan lumpur, hampir menyamai luas danau Maninjau, di Sumatera Barat. Area persawahan di bawah tanggul berubah jadi sawah lumpur. Rerumputan kering, seperti terpanggang. Pepohonan layu, untuk kemudian mati. Tanah yang pernah dilalui Lumpur panas, menjadi retak-retak setelah kering. Air sumur warga di sekitar tanggul terasa asin dan bau.
“Tak ada yang berani lagi minum air sumur. Kalau dibuat mandi kulit jadi gatel”, kata Mondro, sambil membuktikan ucapannya dengan menjilat air yang diambil dari dalam sumurnya.
Mondro, salah seorang warga Renokenongo yang mengungsi di Pasar Baru, Porong. Dinding rumahnya retak-retak. Lantainya lembab. Posisi rumah dengan tanggul kurang lebih 500 meter. Sejak lumpur lapindo membanjiri sawahnya, Mondro berhenti jadi petani.
Di pengungsian, ia banting setir jadi tukang pijat dadakan. Dengan percaya diri, Mondro pasang iklan di secarik kertas. Ia menempelnya pada dinding tiang los pasar tempatnya mengungsi. “Pak Mondro, Tukang Pijat”.
****
“Tiap saya mengunjunginya, dia seperti menangis”, Sudarto mengenang.
Sudarto seperti berdialog dengan manusia, tiap menengok kampungnya di Renokenongo yang tenggelam. Tak ada suara. Tapi ia seolah mendengar suara tangisan yang menyayat. Lelaki berkacamata minus itupun tak tahan. Semula, matanya hanya berkaca-kaca, setelah larut, Sudarto bisa nangis terguguk guguk.
“Dulu susah payah kamu buat aku. Kamu bersihkan setiap hari. Setiap lebaran kamu ganti warnaku menjadi indah dan cerah. Sekarang, aku kamu tinggalkan. Kamu tidak berbuat apa-apa, saat lumpur yang mendidih menelanku. Mengapa kamu tega sekali”. Sudarto merangkai dialog.
Lelaki itu berumur 55 tahun. Ia salah satu dari tim 10, yang mewakili warga Renokenongo menuntut haknya pada Lapindo. Kulit mukanya mulai keriput. Matanya cekung. Postur badannya kurus kering. Anaknya empat. Anak pertama baru menikah, bareng jebolnya tanggul lumpur lapindo, 22 November 2006. Kini ikut jadi pengungsi. Anak kedua dan ketiga, putus sekolah STM gara-gara lumpur. Anak terkecil, berumur sembilan bulan. Bayi yang ikut mengungsi di Pasar baru porong itu terlihat sehat. Meski hanya disuplai air tajin.
Sejak kali pertama menikah, Sudarto hidup susah. Rumah belum punya. Numpang di rumah mertua, lama kelamaan tak jenak.
“Saya ngojek, istri kerja di pabrik. Tapi pabriknya sudah tenggelam”, katanya sembari membetulkan kacamata. Motor yang biasa dipakai ngojek, motor tua produksi tahun 1970-an.
Sejenak ia diam, kemudian nafasnya dihempaskan. Seakan keran air yang terbuka, Sudarto mulai mengucurkan drama hidup dan perjuangannya.
“Motor yang saya pakai bukan punya sendiri. Milik juragan, setorannya Rp 20 ribu per hari. Saya mendidik keluarga untuk hemat jika ingin punya rumah. Saya tiap hari selalu menabung, walapun hanya seribu”.
Lebih dari lima tahun Sudarto menekuni pekerjaannya. Tempat tinggalnya yang ada di kawasan Industri membuatnya cukup mudah cari penumpang. Jalan desa yang menghubungkan desa Renokenongo sampai Siring, jalur yang ia lalui tiap hari.
Jalan itu sudah tak berbekas lagi. Tertutup danau lumpur. Sepanjang jalan itu, rezeki seperti tinggal memungut. Selain Sudarto, banyak buruh pabrik yang lalu lalang, pagi, siang, sore, dan malam hari melalui jalan itu. Bengkel dan pertokoan juga hilang tanpa bekas. Sepanjang jalan kenangan, yang menghubungkan orang-orang kecil merangkai hidup. Tak ada lagi yang tercecer kini. Kecuali kisah pahit.
“Jalan yang melintas Renokenongo sampai Siring, ibarat kantor bagi saya. Tak menduga kalau akan lenyap begitu saja. Seperti mimpi, tapi nyata. Mengapa …”, kalimatnya berhenti.
Dari kelopak mata cekung lelaki itu, terlihat basah. Kepalanya menunduk sebentar. Lalu mendongak lagi dengan sorot mata sayu. Melukiskan betapa pedih hatinya.
Sudarto pekerja keras. Keuletannya mengojek perlahan-lahan membuahkan hasil. Ia mulai punya lahan 140 meter persegi. Di sela istirahat ngojek, ia mulai mengumpulkan bambu untuk bahan rumah. Ia mulai merangkai sedikit demi sedikit. Ibarat rayap yang membangun istananya. Pelan tapi pasti.
“Setelah bambu dan gedek terkumpul, saya pergi ke kebun tebu. Saya cari daun tebu kering yang bagus-bagus. Saya kumpulkan untuk dibawa pulang. Daun itu saya anyam untuk atap rumah”, kenangnya.
Kali ini dari bibir hitam Sudarto tersungging senyum. Sedikit sekali, ia melukiskan, betapa bahagia melihat rumahnya yang berdindinding gedek dan beratap daun tebu berdiri. Sebuah keluarga kecil yang bahagia, mulai ia tata di istana beratap daun tebu itu. Lama lama, senyum Sudarto berubah makna. Senyumnya jadi getir.
Seiring hari, Sudarto makin terpacu bekerja keras. Rumah beratap daun tebu itu mulai ia bongkar. Dengan penghasilan ngojek dan gaji buruh pabrik istrinya, rumah permanen mulai dibangun. Atap daun tebu hilang, berganti genteng. Rumah Sudarto telah menjadi rumah sesungguhnya. Setara dengan rumah warga-warga lain di Renokenongo.
Amblesnya tanggul penahan Lumpur, yang diiringi ledakan hebat pipa gas Pertamina, 22 November 2006, merampas buah perjuangan Sudarto dengan cepat. Hari itu, Rabu, pukul delapan malam. Ledakan mengerikan, menjadi monster yang mulai melalap kehidupan di sekitar tanggul. Lumpur panas yang mendidih, seperti lahar merapi yang siap melumat, tiap benda yang dilewatinya.
Mulanya, perumahan Tanggul Angin Sejahtera yang kena. Permukiman itu kini hilang. Menyebabkan pengungsian besar-besaran di Pasar Baru, Porong. Hanya beberapa atap genteng rumah tingkat yang masih tampak. Saat ini mereka sudah tidak di pengungsian lagi. Mereka memilih mengontrak rumah. Belakangan, perjuangan warga pun cenderung sendiri-sendiri. Korban tidak padu dan bersatu.
Lidah Lumpur panas itupun mulai menjilat ke pekarangan rumah Sudarto. Hari itu, acara pernikahan anak pertamanya baru saja usai. Pengantin baru belum sempat istirahat. Apalagi masuk kamar.
“Kaki saya lemas. Hati saya mulai teriris-iris. Saya menangis sambil menyelamatkan barang-barang”, Sudarto berkaca-kaca.
“Saya seperti ikut merasakan sakit di sekujur tubuh, waktu lumpur panas mulai merendam rumah. Dari jauh saya lihat rumah seperti menjerit-jerit minta tolong. Saya dan istri hanya bisa diam. Rumah itu seperti punya tangan, ingin saya tarik. Kalau bisa seperti ingin ikut mengungsi”, Sudarto tertunduk. Suara isak menyumbat lobang hidungnya. Tangisnya pecah.
Sesaat kemudian ia kembali mendongak.
“Anak saya baru saja jadi penganten baru. Mereka terpaksa ikut mengungsi”, suaranya berat menahan perasaan yang ingin meledak.
“Mereka, tidur beralas terpal tanpa dinding. Saya merasa bersalah hari itu”, akunya.
“Kehidupan yang kami rintis sudah habis. Motor sudah ditarik juragan, istri berhenti kerja, anak-anak putus sekolah. Masya Allah, saya kadang berharap ini hanya mimpi. Tapi kalau saya cubit kulit, rasanya juga sakit. Ternyata ini bear-benar nyata…”, suaranya lirih.
Satu minggu dua kali, Sudarto kadang keluar dari pengungsian. Ia menengok istananya yang tinggal terlihat atap. Dia selalu berdiri, memandangai apa yang bertahun-tahun dibangun, dengan dekat. Beda dengan istrinya yang kini trauma. Tak berani untuk melihat kampungnya lagi.
“Maafkan saya, tidak berdaya menolongmu. Apa yang kamu rasakan juga saya rasakan. Saya dengar kamu menangis seperti juga saya. Kita sama-sama tidak berdaya”, pesan Sudarto, tiap kali beranjak pergi meninggalkan rumahnya untuk kembali lagi ke pengungsian.
****
Udara panas, menyengat suasana pengungsian, di Pasar Baru, Porong. Para pengungsi yang datang dari desa Renokenongo itu, menempati los-los pasar. Mereka para pengungsi yang bersatu dalam Paguyuban Rakyat Renokenongo Menolak Kontrak (PAGAR REKONTRAK). Mereka, pengungsi gelombang kedua pasca amblesnya tanggul yang diiringi ledakan hebat pipa gas pertamina, 22 November 2006.
Saat ini, terdapat lebih kurang 829 KK yang masih bertahan di pasar itu. Dari jumlah itu ada sebagian para pengungsi yang rumahnya dalam kondisi terancam, dan tak aman dari tanggul lumpur. Juga ada yang sudah terendam lumpur. Adapun, para korban lumpur yang berasal dari desa Kedungbendo, Siring, Jatirejo, Mindi, Besuki, Penjarakan, Kedungcangkring dan warga Perumtas sudah lama keluar dari pengungsian. Mereka menerima dana kontrak.
Di depan posko utama, terbentang sepanduk yang melintang di atas jalan yang menghubungkan los-los pasar. Tulisan warna merah darah di sepanduk itu berbunyi:
“TOLONG JANGAN DIGANGGU! INI TEMPAT PERTAHANAN KAMI YANG TERAKHIR TANAH, RUMAH DAN HARGA DIRI TELAH TERAMPAS! TINGGAL NYAWA YANG TERSISA SEBAGAI TARUHAN!”.
Sepanduk yang baru terpasang itu, sepertinya mengantisipasi berita yang beredar, bahwa pemerintah akan segera mengosongkan pasar itu dari pengungsian, bulan Juli ini. Kabar ini, tak pelak menyulut suasana pengungsian makin terasa panas.
“Kapan saja, kami ini siap pindah. Tapi ya bayar dulu ganti rugi rumah kami. Kan gampang saja sih”, tandas Mamun salah seorang guru ngaji yang mendirikan TPA di dalam pasar itu. Kesal.
“Kalau diusir paksa, kami ini sudah tak punya apa-apa. Silakan saja, paling tinggal caroknya!” sahut salah seorang pengungsi yang bertelanjang dada. Kumisnya tebal dan raup mukanya keras. Galak, kata anak-anak.
Tak hanya sepanduk. Dinding posko juga dipenuhi berbagai tulisan. “MANA JANJIMU WAHAI PEMIMPIN2 BANGSA JANGAN HANYA BISA MENANGIS !”. Senada dengan itu, “MENANGIS MEMANG DIBUTUHKAN, TAPI YG LEBIH PENTING DATANG KE PENGUNGSIAN, BIAR TAHU LANGSUNG KENYATAANNYA TIDAK HANYA KATANYA”.
Tulisan ini, seperti luapan kekecewaan warga Renokenongo, atas ketidakhadiran presiden SBY. Beberapa waktu lalu, SBY, mencoba menunjukkan empatinya, dengan memutuskan berkantor beberapa hari di Sidoarjo. Terakhir, SBY gagal hadir ke lokasi pengungsian maupun tanggul. Padahal, pihak unit kerja penanganan sosial lumpur sidoarjo sudah merapikan area tanggul, yang rencananya akan didatangi SBY.
Di tanggul setinggi 10 meter, yang berada di pinggir jalan tol itu, dilengkapi menara pengawas. Lima meter di bawah tanggul, disiapkan drum yang dilas menjadi rakit. Satu rakit, tersusun atas empat drum. Semua ada lima. Warna cat putih metalik masih terlihat baru. Seorang pengawas tanggul mengatakan, rakit drum itu dibuat untuk menyambut SBY.
“Rakitnya boleh dinaiki di lumpur pak”, tanya Ratno, seorang pengunjung asal Sukodono, penasaran. Dia kira rakit itu sarana untuk wisata lumpur.
“Kalau mau tenggelam boleh”, kelakar sang penjaga menimpali.
“Lho, terus untuk apa?” Ratno terkekeh.
“Ini dibuat untuk persiapan waktu SBY mau datang ke sini. Tujuannya untuk keamanan, kayak sampean gak tahu saja mas. Namanya juga sandiwara”.
Ratno, makin penasaran. “Kalau waktu itu SBY jadi kesini, terus benar-benar mau nyoba rakit ini di atas Lumpur, gimana pak”.
Penjaga tanggul keningnya berkerut. Dia seperti mencari jawaban yang tepat.
“Ya, silakan saja. Paling klelep (tenggelam). Malah bagus, biar beliau tahu kalau dikadali anak buahnya, hehe…”, jawab penjaga tanggul itu bercanda.
Ketidakhadiran SBY di lokasi pengungsian, menjadi perbincangan hangat di antara para korban. Terutama ibu-ibu penggemar SBY. Mereka menduga, SBY takut jika dikeroyok warga.
“Gak kesini takut dikeroyok warga beke (barangkali) mas”, kata Suryani.
“Kami ini kan rakyat kecil, masak sih berani ngroyok presiden. Padahal kalo kemarin datang, saya sudah mau cium tangannya lho mas. Apalagi wonge ganteng. Eee… malah wedi gak teko (takut tidak datang)”.
Suryani, seorang ibu yang memiliki dua anak. Di pengungsian, sudah enam bulan. Seperti para istri yang lain, Suryani juga mengalami kesulitan ekonomi. Para suami kehilangan pekerjaan. Hidup di pengungsian, dengan mengandalkan logistik nasi bungkus.
Pengungsi di pasar ini tidak mendapat Jadup (jatah hidup), seperti yang diperoleh korban lumpur yang meneriman dana kontrak. Mereka yang ngontrak mendapatkan jadup Rp 300 ribu setiap bulan, per kepala selama enam bulan.
Tanpa penghasilan dan lapangan kerja, membuat hidup di pengungsian makin sulit. Para Ibu harus kreatif. Agar anak-anaknya bisa makan, bisa sekolah, dan bisa jajan. Kreatifitas itu, yang menuntut mayoritas para istri di pengungsian, menjemur sisa nasi bungkus. Setiap keluarga, pasti melakukannya. Nasi yang dijemur itu, setelah kering menjadi karak. Setelah terkumpul satu kaleng, lalu dijual. Pembeli, dua kali seminggu datang ke pengungsian itu. Sekali datang tiga karung karak pasti dapat.
“Satu kaleng dihargai Rp 6000. Itupun, juga seminggu sekali baru dapat, kalau pas ada nasi sisa saja dijemur. Lumayan buat jajan anak. Sehari juga habis, kadang buat nambah ongkos sekolah”, kata Suryani.
“Kadang, aqua gelas yang ada di nasi bungkus gak diminum. Disimpan, dikumpulkan sampai berjumlah 48. Nanti dijual seharga Rp 6000. Pokoknya, apa sajalah yang penting bisa hidup”.
Tak hanya pembeli karak yang mendatangi pengungsi. Para sales perumahan, hampir tiap hari menawarkan brosur perumahan. Dari rumah tipe kuecil, sampai rumah mewah. Para pengungsi itu seakan calon konsumen yang menjanjikan. Mereka dipandang sebagai orang yang bakal mendapatkan uang banyak.
“Nih mas, ada Rp 6000 hasil jual karak. Bisa gak buat DP rumah”, kelakar Suryani pada sales yang menyodorinya brosur.
****
Waktu SBY menangis di Cikeas, Imron tak dapat melupakan peristiwa itu. Ia merasa, presiden telah setulus hati memikirkan nasib korban lumpur lapindo. Imron, salah satu perwakilan warga Kedungbendo, yang ikut rombongan ke rumah presiden bersama MH Ainun Najib (Cak Nun). Sayang, ia tak melihat langsung saat bulir bening jatuh dari kelopak mata SBY.
“Saya tidak ikut bertemu presiden. Hanya perwakilan saja yang diijinkan bertemu. Saya nunggu di luar. Kata teman-teman yang masuk ke dalam, presiden menangis”, kata Ketua RT 7, yang kini ngontrak di Perumtas II ini mengisahkan. Mendengar SBY menangis, Imron merasa lega. Perjuangannya terasa tidak sia-sia.
Imron memimpin 117 KK. Keberadaan mereka terpencar kemana-mana. Ada yang ngontrak di perkampungan, ada pula yang ngontrak di perumahan. Namun, jarak tak membuat persatuan mereka untuk memperjuangkan nasibnya terbelah. Komunikasi dan pertemuan tetap berjalan rutin.
“Kami di fasilitasi Cak Nun untuk perjuangan ini. Tak ada salahnya memberi kesempatan pada pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini”, tandasnya.
Waktu Kedungbendo belum terendam Lumpur, Imron salah seorang yang cukup terpandang di desanya. Selain bekerja sebagai pegawai negeri, ia juga mengelola wira usaha toko sembako.
Kedungbendo, menurut Imron, dihuni oleh masyarakat yang secara ekonomi makmur. Kebanyakan warganya punya usaha kerajinan kulit. Salah satu produsen tas kulit Tanggulangin yang terkenal itu. Warga Kedungbendo juga masyarakat dengan etos kerja tinggi.
Saat Lumpur masih bercampur air, Imron dan keluarganya tetap bertahan. Ia tak ikut segera mengungsi saat itu.
“Mau mengungsi sayang dengan dagangan. Apalagi saat lumpur lapindo terjadi, omzet dagangan meningkat. Kami tetap bertahan”.
Imron, menunjukkan foto-foto toko dan rumahnya sebelum terendam. Besar memang.
“Kami baru meninggalkan rumah pada 13 Desember 2006. Pukul dua pagi. Itu hari yang paling mengerikan sepanjang hidup saya. Sulit melupakannya”, kenangnya.
Hari itu, Rabu jam dua pagi. Suara bergemuruh terdengar sayup di kejauhan. Mirip suara hujan. Sedetik, dua detik, tiga detik, suaranya makin keras. Gemuruh itu terus mendekat, tambah dekat, lalu semua baru tersadar itu bukan suara hujan.
“Lumpur panas!” teriak warga Kedungbendo bersahutan.
Suanana pagi buta itu panik. Semua warga berlarian mengosongkan rumah. Dalam sejam, kampung kosong, berganti lumpur panas yang jadi penguasanya. Imro sendiri termegab-megab, mengungsikan harta bendanya yang lumayan banyak itu, sampai subuh.
Esok hari, Imron melihat desanya seperti dalam mimpi. Ia sulit percaya, kampungnya benar-benar hilang. Setelah penghuni pergi mengungsi, Imron mengajak warganya ronda. Saat itu banyak penjarahan mulai terjadi. Sulit membedakan mana kawan, mana lawan.
Imron mulai merasakan tidak hanya Lumpur yang mereggut rumahnya. Kabel listrik dan spidometernya, yang mula-mula hilang. Lalu merambat pada atap seng penutup teras rumahnya amblas. Besoknya, besi tiang teras sudah tidak ada. Kali ini bukan oleh Lumpur, melainkan tangan jahil manusia. Maling.
“Malingnya benar-benar nekat. Malah saya melihat ada sekelompok orang yang sengaja membawa kerekan untuk mengambil kabel listrik. Pokoknya, banyak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesulitan ini”, keluh Imron.
Tak hanya perilaku biadab para maling yang meresahkan. Para korban Lumpur lapindo ini juga terjepit dari banyak sisi. Ketika para korban menerima dana kontrak, tiba-tiba harga sewa rumah di Sidoarjo, nilainya sama rata dengan jumlah dana kontrak yang diterima. Rp 5,5 juta per dua tahun.
“Hampir semua pemilik rumah, mematok rata harga sewa kontrakan. Kami tak diberi pilihan sama sekali. Kecuali terpaksa menerima”, ungkapan Imron ini, diamini warga korban lumpur lain yang tinggal tak jauh dari blok kontrakannya. Penderitaan bagi para korban, sebaliknya bisnis menggiurkan bagi para pemain yang doyan mencekik orang-orang susah. Kegilaan ini, belum lagi melibatkan para calo yang pandai melipat dan menikung.
Perlakuan ini amat menyakitkan. Tetapi lebih menyedihkan lagi, korban lumpur lapindo ada di persimpangan jalan. Imron dan para korban lumpur lainnya merasa jadi anak tiri. Ketua RT ini masih ingat, tatkala menggalang bantuan kemanusiaan untuk korban tsunami di Aceh. Semua hati manusia rasanya seperti bersatu. Tetapi, korban lumpur lapindo dibiarkan terseok-seok sendiri. Tak ada mobilisasi bantuan kemanusiaan, sebesar Aceh dan Yogyakarta dulu.
“Aceh dan Yogyakarta juga Indonesia, Sidoarjo juga Indonesia. Mengapa kami dianaktirikan. Semua orang diam membisu. Ada apa ini, apa tega kalau melihat kami mati perlahan-lahan”, gugat Imron meradang. Dadanya seperti bergemuruh. Ia diam sesaat.
“Bahkan, dari perbankan juga memperlakukan kami seperti nasabah umumnya. Dulu pernah ada berita, kalau BI mengijinkan penangguhan utang. Nyatanya bunga bank masih berjalan normal. Saya cek utang saya Rp 40 juta, bunganya tak berubah. Pas saya lihat, saya hampir pingsan. Kaget, mau dibayar pakai apa ini”, Imron hampir menangis, bibirnya bergetar.
Friday, June 15, 2007
Demi Ijazah Anakku...
Suara gaduh pukul 21.30, Kamis 7 Juni itu mengusik ketenangan Ety. Setelah seharian memeras peluh, lelahnya tak tertahan. Tetapi keributan di luar rumah memaksanya bangkit dari tempat tidur dan
mendorong rasa ingin tahu Ety tentang keributan itu.
“Malam-malam ngapain pada bertengkar ganggu orang istirahat aja”, teriak Ety sambil keluar dari dalam kontrakan sempit yang di dalamnya amburadul. “Mbak Ety kebakaran! Cepat selamatkan diri!” teriak salah seorang tetangga sembari berlari. Ety terbelalak, ia segera sadar lalu balik lagi ke dalam kontrakan yang didalamnya empat anaknya sedang tidur lelap.
“Nak bangun! Bangun! Kebakaran!” teriak Ety membangunkan empat anaknya. Kelelahan setelah seharian bekerja membantu ibunya, anak Ety tak juga bangun. Di luar rumah, gemuruh jilatan api mulai mendekat. Warna kemerahan dan asap sudah mulai masuk ke ruang kontrakan Ety. Pucat pasi dan panik tampak jelas di raut wanita yang sejak 1992 ditinggal pergi suami ke Medan tanpa kabar berita itu.
“Butet! Ayo bangun nak! Kebakaran! Kebakaran!”, teriak Ety panik sambil matanya nanar mengawasi arah jilatan api. Keempat anak Ety hasil pernikahan dengan lelaki asal Medan itupun sontak bangun. Tanpa berpikir menyelamatkan barang-barang berharga, mereka segera lari sekencang-kencangnya menjauh dari kontrakan. Ety terengah-engah. Dalam kepanikannya, tiba-tiba terlintas harta paling berharga dalam hidupnya.
“Ya Allah, ijazah anak-anak bagaimana”, guman Ety. Tanpa pikir panjang ia lari masuk kembali ke dalam kontrakan yang sudah dikepung api. Ety tak peduli lagi dengan jiwanya. Dug! Kepala Ety terbentur dinding kontrakan yang meninggalkan bekas memar dan biru di keningnya. Ety mengacak-acak isi lemari. Dia berpacu dengan kobaran api yang sudah melalap atap kontrakan. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Tanpa sadar api mulai terasa panas merapat ke badannya. Bersamaan itu pula ia segera menyambar ijazah. Selamat! Ety lari kencang menghampiri anaknya yang menunggu cemas sembari bertangisan melihat perjuangan ibunya.
“Kalau malam itu saya terpanggang api, demi menyelamatkan ijazah anak-anak saya rela”, kenang Ety berk
aca-kaca. Begitu bernilainya selembar kertas itu daripada nyawanya sendiri. “Saya ini miskin, bodoh, tidak sekolah. Nasib ini harus berubah pada anak-anak saya. Siang malam saya kerja keras agar anak-anak bisa sekolah. Ijazah itu sangat besar artinya”, tuturnya. Jago merah telah menghabisi semua yang dikumpulkan Ety dengan susah payah. Hanya pakaian di badan dan ijazah kini harta yang dimiliki.
Ibu tangguh ini punya nama lengkap Ety Alias Daroyah. Lahir di Tegal 42 tahun lalu. Sejak kecil Daroyah kerap didera sakit-sakitan. Ia tak ingat sudah berapa kali namanya diubah oleh orang tuanya agar Daroyah bisa bertahan hidup. Ganti nama bagi orang desa, diyakini sebagai alternatif penyembuhan. Di puncak kritis, ibunda Daroyah ingat Ety, nama kakak Daroyah yang telah meninggal karena sakit. Akhirnya Daroyah diganti nama dengan Ety. Jika jodoh ia akan hidup, jika memang takdirnya, orang tua merelakan Daroyah kecil menyusul kakaknya.
Kepasrahan itupun terjawab. Ety tetap bugar hingga kini. Ia telah menjelma sebagai sosok Ibu tangguh. Tak menyerah oleh kemiskinan yang menghimpit. Ia bertahan dan berjuang melawan. Membesarkan dan menyekolahkan anak-anak seorang diri. Buruh nyuci dilakoninya hingga kini. Pernah ia punya lapak minuman ringan di bilangan kampus Universitas Tarumanegara, Grogol. Tapi malang bagi wanita itu, lapaknya dipalak preman. Gerobak dan isinya direbut paksa penjahat itu. Ety tak patah arang, ia terus berjuang dengan satu tujuan menyekolahkan empat anaknya.
Itulah mengapa ijazah itu lebih berharga dari nyawanya. Ety meyakini selembar kertas itulah harta paling berharga bagi masa depan anak-anaknya. Jika itu terbakar betapa berat Ety mengulang perjuangan dari awal. “Saya rela mati asal ijazah bisa saya selamatkan. Saya tidak ingin anak-anak mewarisi kemiskinan ini. Apalagi kalau gak punya ijazah kata orang-orang susah cari kerja”, katanya sembari menggoreng tempe. Senin lalu, Ety masih menjadi relawan di Posko Baznas – Dompet Dhuafa. Keahliannya memasak disumbangkan untuk membantu para korban kebakaran lainnya. Demikian pula empat anak Ety juga terlibat membantu di posko dapur umum itu.
Kebakaran di Kampung Guji Baru RT 06/02 Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat itu menyisakan kepedihan di benak Ety. Tak hanya ia, 155 kepala keluarga lainnya juga kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Di antara bendera kampanye Pilkada
DKI yang bertebaran di lokasi kebakaran, Ety dan korban lainnya hanya bisa tersenyum getir.
Friday, May 11, 2007
Satu Borneo Dua Peradaban
Tidak ada barang yang terlalu istimewa dijajakan para pedagang di pasar krempyeng (pasar setengah hari) itu. Ada batu akik, kain lap, peralatan dapur, sampai hasil kerajinan tangan seperti lampit rotan dan sebagainya. Semua barang kaki lima yang umum di Indonesia ada. Tetapi orang rela datang jauh-jauh dari Kuala Lumpur, Kuching, dan Brunai Darussalam hanya untuk membeli barang-barang itu di pasar krempyeng Serikin, Serawak negara bagian Malaysia.
Orang Malaysia memang tidak menamai pasar yang 500 lebih pedagangnya asal Indonesia itu sebagai pasar krempyeng. Tetapi di Jawa, pasar yang beraktivitas setengah hari dan hanya dua kali (Sabtu dan Minggu) ini kerap disebut pasar krempyeng. Meski begitu omzet per hari setiap pedagang dapat mencapai 600 sampai 2000 Ringgit Malaysia.
Pasar Serikin hidup sejak pasar rakyat di Entikong, Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia pada tahun 2000 digusur pemerintah Indonesia. Menurut Ateng, mantan pedagang di Entikong yang kini bekerja serabutan, waktu pasar belum digusur, Entikong pusat perbelanjaan masyarakat Malaysia.
“Kami lumayan makmur berdagang di Entikong. Setelah pemerintah memindahkan zona dagang masuk ke wilayah Indonesia dengan membangunkan ruko, pembeli dari Malaysia tidak mau lagi datang. Mereka merasa tidak nyaman karena siapa mau menjamin kenyamanan mereka berbelanja. Apalagi mereka harus pakai paspor segala, ribet. Para pedagang yang jumlahnya ribuan saat itu bangkrut”, kata Ateng yang dulu sempat punya omzet 2000 Ringgit per hari.
Seorang pembeli di Pasar Serikin asal Kuala Lumpur yang tak mau menyebut namanya mengaku enggan datang berbelanja lagi ke Entikong. Menurutnya, suasana pasar kurang nyaman. Bahkan dia kerap melihat ada yang mabuk-mabukan di pasar. Selain juga rawan copet, katanya. Dia mendukung program pemerintah Malaysia yang melokalisasi pedagang Indonesia ke wilayah Serikin kini.
Di Entikong saat ini memang relatif sepi. Hari Sabtu dan Minggu tak ramai seperti tujuh tahun lalu. Bahkan pasar yang dibangun pemerintah Indonesia itu tak satupun ditempati pedagang. Karena para pedagang yang punya cukup modal memilih hijrah ke Serikin daerah perbatasan Indonesia – Malaysia yang ditempuh tiga jam dari Entikong.
Serikin telah menjadi surga para pedagang kaki lima Indonesia. Pemerintah Malaysia memfasilitasi para pedagang dengan memberikan lahan yang dibangun lapak-lapak. Sebagai kompensasi, tiap pedagang membayar 10 Ringgit per hari yang dikutip secara resmi oleh pemerintah setempat. Tidak ada kutipan liar layaknya di pasar kaki lima Indonesia yang dilakukan preman, Trantib, sampai aparat pemerintah.
“Saya sedih. Apa susahnya pemerintah saya melindungi pedagang kecil seperti yang dilakukan pemerintah Malaysia. Masak saya ini warga Indonesia tapi nasib saya diurus negara
lain. Rakyat kecil seperti kami tidak perlulah pemerintah pusing-pusing ngurus cukup memfasilitasi dan melindungi,” ungkap Sudirman, penjual kerajinan perak asal Padang yang sudah tiga tahun dagang di Serikin.
Perasaan senada juga disampaikan Asep, pedagang sepatu asal Cianjur, Jawa Barat. Demikian pula Zamzam pedagang pecah belah dari Pontianak yang sampai mampu membuat dua rumah mengaku bersyukur pemerintah Malaysia memberi ruang para pedagang untuk jualan. Menurut Zamzam suasana jual beli di Pasar Serikin sangat kondusif.
“Coba lihat, suasananya. Kami aman tak banyak kutipan dan gangguan preman. Pembeli juga nyaman dengan dompet dan tasnya. Bandingkan kalau pasar ini ada di wilayah sebelah (Indonesia), siapa bisa menjamin. Tapi kadang kami juga malu, orang Malaysia sering memandang bangsa kita sebelah mata karena prilaku kita sendiri”, kata Zamzam yang punya omzet sampai 2000 Ringgit per hari.
Fasilitas
i Kesenangan Rakyat
Para pedagang di atas dan teman-temannya yang kini eksis di Serikin mengalami dua tata pemerintahan yang berbeda. Meski Kalimantan dan Serawak masih satu Borneo, tetapi terjadi perbedaan peradaban yang jomplang. Wajar jika mereka harus mengagumi pemerintah Malaysia tanpa mengurangi rasa nasionalismenya pada Indonesia.
Satu meter melangkahkan kaki dari Entikong masuk ke zona Serawak, kita seperti ada di dalam mimpi. Keluar dari belantara rimba yang mengerikan masuk ke dalam sebuah negeri penuh peradaban. Sarana infrastruktur seperti jalan raya jauh lebih baik ketimbang jalan-jalan di Jakarta. Satu Borneo hadir dalam dua wajah peradaban.
Jika boleh bercanda, di Serawak juga banyak hutan seperti kalimantan. Entah apakah tata kotanya yang rapi sehingga hutan di Serawak pun terlihat seperti disisir klimis dan dipoles. Selain itu juga tidak tampak ketimpangan sosial sekalipun di Ibukota Serawak, Kuching. Perumahan penduduk punya standar sama. Demikian pula bangunan gedung pemerintah terlihat rapi dan bersahaja.
Pemandangan semacam ini jauh berbeda dengan di Indonesia. Orang Indonesia di kota maupun di desa bebas saja membangun rumah megah bak istana di antara rumah-rumah kumuh dan miskin. Orang kita juga amat bebas memamerkan harta kekayaannya di depan publik. Tak akan ada yang mengusik meski ia punya sepuluh mobil mewah dan sepuluh rumah megah. Maka wajah kapitalisme lebih mencolok di Indonesia yang miskin ketimbang Malaysia yang makmur.
Walau kita makin tertinggal jauh, tetapi Indonesia adalah surga bagi penggiat demokrasi. Siapapun boleh bicara bahkan mencerca. Jungkir balik sekalipun selama atas nama demokrasi sah-sah saja. Meski terkadang melanggar norma susila, kasar dan liar. Kebebasan semacam ini tak akan diperoleh di Malay
sia. Di pasar Serikin saja orang tidak mau menyebutkan namanya. Atau mungkin karena yang bertanya orang Indonesia. Tetapi seorang teman di Malaysia mengaku tak ada demokrasi di negeri jiran itu.
Namun begitu, pemerintah masih melayani kesenangan rakyatnya. Pasar Serikin misalnya. Pemerintah Malaysia melokalisasi pedagang dari Indonesia itu agar rakyat Malaysia terpenuhi selera belanjanya. Keamanan dijamin penuh dan rakyat merasa dilayani negaranya. Bahkan pedagang kita ikut mencicipinya. Tetapi demokrasi di Indonesia belum bisa menjawab kebutuhan itu.
Indonesia yang sudah luar biasa demokratisnya ini, hendaknya belajar pada Malaysia tata cara melayani rakyat. Untuk urusan sepele seperti pasar kaki lima, pemerintah Serawak saja mampu mencari solusinya. Hasilnya, meski harus terbang dengan pesawat dari Kuala Lumpur dan Brunai Darussalam, mereka tak enggan hanya untuk membeli serbet dapur ke Kuching.
Dari sisi budaya, untuk mencapai tata kehidupan sebanding dengan Serawak saja, memang tak cukup hanya berharap pada pemerintah. Kita mesti mulai belajar mau diatur untuk urusan yang baik. Membuang sampah pada tempatnya agar kota tak menjadi kumuh. Tertib di jalan raya dan patuh pada rambu-rambu lalu lintas. Juga belajar mementingkan kepentingan bersama ketimbang pribadi.
Pun pemerintah juga mes ti memberi teladan. Dari hal kecil, jangan korupsi seperakpun. Juga jangan sampai benar-benar niat korupsi sampai menyimpan uang di kamar mandi. Jika harmoni ini brjalan berirama, kira-kira itulah Indonesia yang beradab dan berbudaya. Read More......Wednesday, May 09, 2007
Mata Kemanusiaan
Baruilir, Balikpapan Barat, jelang sore yang gelap dengan rintik hujan tiada henti sejak siang hari. Di musim hujan begini, mentari seolah sepakat untuk cuma sekelebat memendar, kemudian lenyap. Langit di atas Kalimantan Timur menjadi makin pongah dengan kepekatannya, memayungi iring-iringan burung yang hendak terbang entah kemana.
Cuaca suram ini tak tampak dipandang Zaenudin (40) yang tuna netra. Di bilik kayu kecil terdengar ia bercanda dengan anak dan istrinya. Guruh menggelegar seolah diacuh, tawa buah hati yang masih bayi lebih indah ketimbang gemuruh petir yang memekakkan telinga. Sayup-sayup harmoni itu terdengar, membetot rasa ingin lebih mendekat.
Penasaran yang mengusik memaksa tangan mengetuk pintu yang sudah rombeng. Terbuka, bocah umur 6 tahun nongol membukakan pintu. “Masuk Pak”, sambutnya ramah.
Saat kaki menjejak pintu, mata mulai menyapu sudut-sudut ruangan yang sesak oleh perabot rumah tangga. Tiga anak kecil di dalam rumah itu segera rapat mendekat. Sorot matanya bening, raup mukanya yang lugu menyambut ramah. Jika pandangannya dibalas, buru-buru mulut mungilnya mesem malu.
Tak berselang lama, Zaenudin mendekat sembari meraba-raba dinding dari kamar belakang. Disusul istrinya, Astriani (32), menyembul dari ruang dapur sempit samping ruang tamu. Allahuakbar! Pekik takbir dalam hati. Astriani ternyata juga tidak dapat melihat. Sambil menggendong Muhammad Ramadani yang baru empat bulan, ia terbata-bata mendekat.
Lengkap sudah pasangan tuna netra dengan empat anak ini berhadapan di depan mata. Beberapa saat mulut terkatup rapat. Kagum dan haru membuncah saat melihat empat anak Zaenudin dan Astriani tumbuh normal, beradab, dan sopan. Tukang pijat ini pun menanyakan maksud dan tujuan kedatangan saya dan Ahmad Richard seorang teman di Kaltim.
Richard sejenak diam. Berlahan saya meraih bungkusan plastik dari tangannya. Di dalam terbungkus buku tebal untuk Zaenudin. Saya buka perlahan. Sembari mendengarkan perbincangan Richard dan Zaenudin saya sibak halamannya. Tak ada setetes tinta pun membekas di permukaan kertas tebal itu. Disingkap dari depan sampai akhir semua putih bersih.
Tiba-tiba perasaan terentak saat telapak tangan mengelus permukaannya. Kasar, hanya ada totol-totol kecil timbul. Mata terpejam mencoba konsentrasi merasai makna yang tergurat di atas kertas putih itu. Tak ada pesan tertangkap kecuali rasa kasar yang menggelitik telapak tangan. Yang dapat saya baca hanya cover depan, “Al Quran Braile”.
Saya tercenung, sejenak merenung. Segudang gundah melesak ke ceruk jiwa menghakimi ketidak bersyukuran. Karunia mata normal yang mampu melahap indahnya dunia nyaris tak kerap diajak menyorot ayat-ayat Allah yang tergores nyata di atas Al Quran. Cetakan dengan huruf hijaiyah yang nyata terlihat lebih banyak diacuhkan. Sementara totol-totol di atas permukaan kertas putih ini mencoba menuntun tuna netra memahami wahyu Illahi.
Astaghfirulah! Batin makin menjerit saat Al Quran Braile itu sampai di tangan Zaenudin. Wajahnya sumringah, gembiranya membuncah, lama senyumnya mengembang. Dia buka halaman pertama. Telapak tangannya terbata-bata meraba. Ada mesem mengawali sebelum nada indah meluncur dari rongga mulutnya. “Alif lam mim. Dzaalika al kitaabu lla raiba fiihi. Hudan lilmuttaqiin…”, al-Baqoroh terbaca nyaring oleh Zaenudin.
Duh, hati mengaduh malu. Saya membatu menatap wajah dan mulut Zaenudin yang komat kamit. Gemetar tangannya memantul pesan syukur ia mendapatkan apa yang bertahun-tahun dicari. Sementara saya tertampar malu bertahun-tahun menterlantarkan mata menyibak halaman-halaman maksiat. Dalam wajah dunia yang tak pernah ia nikmati, Zaenudin menggenggam aroma surgawi. Fasih lafadznya makin mengiris kepongahan diri yang miskin syukur.
Ramah sang istri, santun budi putra putrinya mewujudkan Zaenudin seorang ayah dan suami yang baik. Dengan mengandalkan keahlian sebagai tukang pijat, Zaenudin menjalani hidup penuh semangat. Bicara kesalehan sosial, ia malah memberi kita teladan. Sejimpit rezeki yang mamp
ir di dapurnya akan dibagi dengan puluhan penyandang tuna netra lain yang tersebar di Balikpapan.
“Kalau ada rezeki, saya dituntun anak mendatangi teman-teman senasib. Kami punya paguyuban, hanya dengan rasa senasib seperjuangan kami dapat melalui dunia yang indah tapi gelap pekat ini”, ungkapnya mencabik hati. Terlebih saat harga-harga yang hari ini terus merambat naik, membuat orang-orang seperti Zaenudin makin terjerat.
Saat Zaenudin memikirkan nasib kaumnya, kita tergagap malu. Siapa yang memikirkan nasib Zaenudin-Zaenudin yang lain. Buta mata Zaenudin tidak menutup buta hati. Samudra kemanusiaan membentang luas di jiwanya. Sementara kita yang terang mata kerap buta hati. Mata elang pemimpin pun terkadang sekadar tajam dalam sorot bengis melumat yang tertindas. Mata-mata nanar penuh siasat mengakali yang lemah untuk bertahan agar tetap gagah.
Berjuta pasang mata melihat dunia penuh culas dengan hiasan tumpah darah peperangan. Mata-mata yang menyuburkan kejahatan, merusak tatanan, dan merobek keagungan Tuhan. Sementara Zaenudin menikmati karunia matanya dengan pesan syukur. Tidak mengumpat apalagi mencaci Sang Pemberi. Mata Zaenudin mata kemanusiaan yang mampu melihat dunia dalam tatapan keadilan dan perdamaian. “Atas pesanmu yang sarat, saya makin bersyukur Zaenudin”.



