Tuesday, December 19, 2006

Siapa Percaya Kita Miskin

Di ajang seminar, diskusi, isi berita, sampai gelar demonstrasi, sepertinya telah sepakat, Indonesia sedang krisis. Indonesia tengah sulit. Terlebih saat bahan bakar minyak melonjak, jumlah orang miskin tambah meruyak. Tetapi siapa percaya? Semua mal di seluruh kota Indonesia tiap akhir pekan berjubel manusia. Bergerak padat bak robot, memuaskan diri berbelanja. Dari wajah-wajahnya tak tersirat muka susah apalagi miskin.

Suguhan paradoks lain cukup mudah menohok mata. Mobil mewah keluaran anyar dengan angka miliaran rupiah seliweran di jalan-jalan. Tak hanya di Jakarta. Di beberapa kota besar Indonesia, kendaraan kaum the haves itu cukup gampang ditemui. Begitu subur ajang pamer “kaya” ini di Indonesia. Tak ada aturan yang menata untuk menjaga keirian sebagian lain yang tak berdaya. Selama tidak merugikan, semua bebas menggelar isi gudang rumahnya kalau perlu. Tentang perasaan itu, sepakat berdalih hak azasi manusia.

Bandingkan dengan Kualalumpur yang lebih tertib, aman, nyaman, dan kaya ketimbang Jakarta. Jumlah mobil mewah dapat dihitung. Masyarakat Malaysia cenderung bersahaja. Cukup nyaman dengan mengendarai mobil Protonnya. Kalau toh ada merk Mobil Eropa, dari pengemudinya dapat diketahui bukan warga asli Malaysia. Itupun dipastikan ia orang yang benar-benar kaya, pengusaha, bukan pegawai pemerintahan. Cara nyetirnya juga tidak plintat plintut, karena dibeli bukan dari hasil korupsi.

Belajar bersahaja ini, Kota Helsinki, Finlandia, memberi teladan prilaku hidup. Dengan pendapatan per kapita Finlandia 28.500 dollar AS, menjadi salah satu yang terbaik di dunia, penduduknya tak silap apalagi gagap. “Kami tidak suka hidup berlebihan,” kata Hans Markele, usahawan di Helsinki. Menurutnya, warga Finlandia terbiasa tidak banyak kebutuhan. Terbiasa dalam semangat hidup sederhana. Punya satu mobil dan dua sepeda, ya sudah cukup. Tidak perlu sampai memiliki 10 mobil sebab yang dipakai cuma satu (Kompas, 20/5).

Tentang semangat hidup, geliat warga Shenzhen, China, memberi inspirasi lain. Meski penduduknya tak semakmur provinsi tetangganya, Hongkong, tetapi gerak kebangkitan seakan terus berkobar. Di surga para penggila belanja ini, sejak pukul 06.00 pagi sampai 22.00, semua manusia bergerak mencari nafkah. Pusat kota menyemut oleh orang-orang yang berdagang, menjual jasa tato, sampai pendorong gerobak. Tak ada orang berleha-leha, meski ongkos buruh di sana relatif rendah. Satu nilai yang dapat dipetik dari mereka adalah pertunjukan semangat dan gaya hidup bersahaja. Meski kaum mudanya teramat bebas dan urakan, tetap pada batas kemampuan mengukur diri.

Tak heran, jika seorang majikan TKW Indonesia di Macau, kota otonom China, terbelalak melihat foto rumah pembantunya yang diimpor dari Indonesia. “Kamu kaya ya, rumahmu besar, punya halaman, rumahku ini tak ada apa-apanya. Berarti negaramu kaya, kenapa kamu mau diekspor jadi pembantu di tempatku?” TKW yang sudah empat tahun di Macau inipun diam. Padahal rumah megah itu hasil dari gajinya, bukan atas peran negaranya. Setidaknya saat ia didamprat majikan masih punya harga diri. “Rumahku lebih megah ketimbang apartemenmu yang sumpek ini.”

Kesadaran Bersama

Maka siapa yang percaya Indonesia sedang miskin? Jika saja seluruh elemen bangsa tak berlaku timpang, mungkin bisa sepakat meninggal ketertinggalan. Bukan mengejar ketertinggalan. Demi nasionalisme untuk kebangkitan nasional, katanya. Dengan sadar diri bangsa sedang miskin, semua rakyat dapat menakar diri. Instropeksi dan mengkonsumsi berdasarkan kebutuhan, bukan melulu kesenangan. Prilaku hidup bersahaja seperti rutinitas warga tiga Negara di atas layak dijiplak. Negara punya tanggung jawab meneladani gaya hidup itu.

Saatnya, pemerintah merubah pola pikir rakyatnya melalui akses informasi dan komunikasi. Pemerintah semestinya merangkul seluruh elemen jaringan media massa cetak dan elektronik, untuk menyampaikan visi bangsa. Merangkul bukan berarti menginterfensi dan mengekang kebebasan informasi. Tetapi mengajak kerjasama untuk komunikasi membangun bangsa yang sedang terpuruk. Seperti yang dilontarkan pemimpin LKBN Antara, Asro Kamal Rokan, “Kritiklah pemerintah dengan memberi solusi”.

Tayangan hedonis dalam lakon sinetron-sinetron semu sudah saatnya diarahkan, agar sutradaranya menghasilkan karya-karya yang mengobarkan visi bangsa. Bukan sekenario yang menjual mimpi, meraih kaya dengan jalan pintas. Dari ngaji setan sampai menghalalkan segala cara agar cepat terbebas dari kemiskinan. Diakui atau tidak, tayangan yang menghujam ke relung hati rakyat melalui televisi ini, besar pengaruhnya dalam merubah pola hidup masyarakat. Pemerintah musti mencubit rakyatnya agar bangun untuk tidak jadi bangsa pemimpi.

Jika tidak berdaya merubah tatanan hidup rakyat – dengan cara mengarahkan informasi dan komunikasi agar tersaji mendidik – lantas apa fungsi pemerintahan dalam sebuah Negara? Ironis jika pemerintah kalah oleh sutradara penjual mimpi dan klenik. Perubahan sosial di masyarakat pada akhirnya ditentukan oleh seorang sutradara. Kita malu, bagaimana orang Malaysia mengapresiasi Indonesia atas asumsi kehidupan di lakon sinetron. “Orang Indonesia kaya-kaya”, kata Azzira, wanita asal Kualalumpur penggemar sinetron Indonesia.

Padahal bicara kaya, masyarakat Ibu Kota masih sebagian besar memakai kompor minyak tanah. Dan sebentar lagi minyak tanah akan lenyap dari wajah Jakarta, berganti elpiji. Semoga kebijakan itu bukan atas asumsi tak ada lagi orang miskin di jantung kota. Tugas negara mengkomunikasikan kebijakan semacam ini ke lapisan bawah. Dibarengi aksi nyata dengan memberikan tabung gas secara cuma-cuma misalnya. Agar tak ada protes dan anarki.

Pemerintah melalui Jubir-jubirnya di setiap departemen, perlu melakukan penetrasi komunikasi kebijakan ke tingkat akar rumput. Jika visi bangsa itu ada, harus kembali dikumandangkan. Rakyat diteladani kesehajaan agar ketimpangan tidak jomplang. Dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika, perlu saling menjaga rasa agar tak ada cemburu dan dendam sosial.

Saatnya kita sepakat untuk lari meninggalkan kemiskinan. Bukan pamer kemiskinan dengan unjuk kemewahan bagi yang mampu, dan tampil kusam bagi yang miskin. Itu jika masih ada yang merasa, bahwa kita memang sedang miskin. Tulisan ini pernah dimuat di Filantropi, REPUBLIKA, Jumat (25/5/06)

Read More......

Kelu Ismail Ratuloli


“Berangkatlah demi tugas agama. Setelah urusan selesai segeralah pulang”, pesan Khadijah Alwan (35) pada suaminya. Wanita itu tengah mengandung tujuh bulan calon bayinya pertama. Mendapat ijin istri tercinta, Ismail Ratuloli (33) ringan melangkah meninggalkan desanya di Kelubagolit, Flores Timur. Dibenak Ismail, amanah kurban dari Tebar Hewan Kurban (THK) mesti segera ditunaikan.

THK tahun 2005 itu Ismil dapat tugas yang jauh. Dengan waktu hampir sebulan ia harus menyampaikan kurban di 3 kabupaten. Ngada, Manggarai, dan Ende. Namun seiring kebahagiaan Ismail yang segera dianugerahi anak, ujian datang menyesakkan. Dua minggu di lapangan ia terima kabar tak enak dari kampungnya. Kala itu ia sedang persiapan THK di Desa Mbai, Aesesa, Ngada. Khadijah terkena malaria yang menyebabkan suhu badannya tinggi. Di ujung telepon dengan suara lirih Khadijah berpesan, “Tidak apa-apa saya masih kuat. Kalau tugas selesai segeralah pulang”.

Ismail cukup tenang. Dua hari ia coba bertahan. Besoknya Ismail coba menghubungi istrinya di rumah. Telepon tidak terhubung mungkin cucaca buruk yang menyebabkan telepon satelit di rumah tak hidup. Semalaman calon bapak ini tak jenak tidur. Pikirannya gelisah khawatir nasib calon jabang bayi. Setelah pagi menjelang, ia coba kembali menghubungi istrinya. Ismail lega, telepon tersambung. Tetapi kabar makin buruk.

“Kalau sudah selesai cepatlah pulang, yang penting selesaikan dulu amanah dan tugas”, hanya kalimat itu yang didengar Ismail dari istrinya. Kali ini suara sang istri amat lemah. Ismail paham akan keteguhan Khadijah yang selalu mendukung aktivitas dakwah dan kemanusiaannya. Namun kali ini Ismail merasa kondisi istri sangat darurat. Setelah bermusyawarah dengan team THK di Ngada, Ismail ijin pulang menengok istri.

Sayang, di perjalanan kapal yang ditumpangi Ismail terhadang badai. Butuh waktu semalam menunggu badai reda. Sesampai di Larantuka, Ismail ganti perahu kecil yang biasa dipakai nelayan cari ikan. Ia nekat menerobos badai. Suara sang istri amat mengiang memanggil dirinya. Sepanjang jalan Ismail gundah. Setelah menempuh waktu dua hari perjalanan sampai juga ia disamping sang istri.

Suhu badan Khadijah makin tinggi. Badannya lemah sudah. Beberapa kali ia tak sadarkan diri. Pulau tempat Ismil tinggal terpecil dan juh dari rumah sakit. Untuk membawa Khadijah ke rumah sakit, harus dibawa pakai perahu kecil menuju Larantuka. Jika cuaca baik perjalanan ke sana memakan waktu tiga jam. Tetapi hari itu badai makin ganas. Tidak mungkin Khadijah dibawa ke rumah sakit. Dengan berbagai upaya dan doa, Ismail berusaha agar Khadijah bertahan hingga badai reda. Dua hari sudah di rumah dalam kecemasan.

Setelah badai tak lagi ganas, dengan perahu nelayan Ismail membawa istrinya ke rumah sakit. Bak disambar petir Ismail mendengar kabar dari dokter yang menangani Khadijah. Janin yang dikandung Khadijah meninggal. Suami istri itupun berduka. Anak yang sudah tujuh tahun dinanti-nanti pergi. Menurut saran pihak rumah sakit, perlu waktu seminggu untuk memulihkan kesehatan Khadijah. Dan dalam duka yang menyelimuti hati mereka, Khadijah berbisik pada suaminya.

“Berangkatlah kembali. Selesaikan tugas dan amanah jangan sampai mengecewakan amanah orang”. Ismail terpaku. Pedih batinnya. Benar memang yang dikatakan istrinya. Untuk prosesi THK ada berbagai syarat yang wajib dipenuhi. Terutama laporan untuk pekurban. Di pulau-pulau sasaran THK, Ismail nyaris tak mungkin mendelegasikan tugas itu. Sulit mecari orang bisa menulis, juga langka mencari orang yang bisa memfoto karena begitu tertinggalnya komunitas masyarakat itu.

Dengan segudang duka dan pedihnya, Ismail tinggalkan istri di rumah sakit menuju Ngada dan kabupaten lainnya di NTT. Amanah THK pun selesai dijalankan dengan berbagai sedu sedan yang dialami Ismail. Apakah ujian itu berhenti? Ternyata belum. Pada THK Januari 2006, Isamil kembali diuji berat. Sekali lagi ia kehilangan calon bayinya yang kedua bertepatan saat ia menunaikan tugas THK. Terlebih Khadijah Alwan, kerinduannya pada jabang bayi pupus sudah.

“Kedua anak saya meninggal saat hari raya kurban. Untuk membesarkan hati, saya selalu ingat Nabi Ibrahim yang mengorbankan Ismail. Mungkin inilah kurban yang harus saya tunaikan”, kata Ismail berkaca-kaca. Semoga THK tahun ini, Allah menganugerahi Ismail Ratuloli seorang anak kembali.

Read More......

Melengkapi Catatan di Tanah Rencong

Minggu, 27 Agustus 2006, di Kantor Komite Peralihan Aceh (KPA). Sholawat Badar dan lantunan Hikayat Prang Sabil mengiringi pencalonan diri Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar. Dalam sejarah politik tanah air pasca reformasi, pasangan ini amat berani. Lantaran keduanya maju dalam pentas Pilkada tanpa dukungan partai politik. Calon kepala daerah ini pun mendapat julukan “calon independen”.

Sebagai pelengkap deklarasi. Selarik pernyataan dibacakan di depan publik. Juru Bicara KPA Sofyan Dawood membacakan naskah deklarasi pasangan yang diberi nama Perjuangan dan Perdamaian.

“Setelah melihat dan mendengar aspirasi rakyat dan dorongan dari berbagai pihak yang setuju dengan agenda perubahan dan perdamaian, mayoritas rakyat menghendaki personel GAM dan Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) untuk dapat maju dalam pemilihan umum mendatang,” kata Sofyan Dawood membacakan naskah yang ditandatangani oleh 33 anggota Majelis GAM, panglima wilayah, serta juru bicara GAM se-Aceh.

Tak pelak. Sebagai mantan petinggi GAM, Irwandi Yusuf tak dapat mengelak dari stempel GAM-nya. Cap itu amat melekat. Namun menjelang detik-detik Pilkada diawali. Pada 27 November 2006, melalui konferensi pers di Banda Aceh, KPA Pusat mempertegas sikap menjelang pelaksanaan Pilkada. Keputusan yang mengagetkan bagi para kandidat. Mereka tidak akan memberikan dukungan terhadap calon manapun dan bersikap netral dalam pemilihan mendatang.

Muzakkir Manaf sebagai Ketua KPA Pusat menegaskan, dalam Pilkada pertama yang digelar pasca penandatanganan Nota Kesepakatan Damai Helsinki ini, KPA akan bersikap netral dan tidak akan memberikan dukungan pada salah satu kandidat. “Ketua KPA Pusat dan ketua KPA wilayah bersikap netral dalam Pilkada,” kata Muzakkir.

Sebenarnya bukan calon independen ini saja yang berasal dari GAM. Hasbi Abdullah yang menjadi calon wakil gubernur perpasangan dengan Humam Hamid juga anggota GAM. Bedanya, pasangan ini diusung melalui bendera Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Bahkan para petinggi GAM di Swedia dan di Aceh secara terbuka mendukung pasangan Human – Hasbi.

Pemenang Independen

Saat menegangkan itupun tiba. Pada 11 Desember lalu, rakyat Aceh menentukan pemimpinnya. Hasil perhitungan cepat LSI-Jaringan Isu Publik memperlihatkan pasangan Irwandi-Nazar mendapatkan hasil penghitungan suara yang mutlak dibandingkan kandidat lain. Demikian pula penghitungan versi Komisi Independen Pemilihan (KIP) NAD, menunjukkan pasangan independen ini masih unggul.

Kabar keunggulan pasangan independen inipun membelalakkan banyak pihak. Terutama kalangan partai politik. Mereka seakan tak percaya dengan realita yang bagi partai politik amat menyesakkan. Cap bahwa Parpol gagal menyiapkan kader pemimpin yang mengakar kiranya layak disematkan. Seiring raba-raba yang menjalari kecurigaan sebagian mereka akan adanya intervensi asing lantaran kemenangan calon independen.

Sebagaimana Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno, mengaku kaget dengan kemenangan tokoh GAM itu. "Dengan kemenangan kelompok GAM akan memudahkan masuknya campur tangan asing di Aceh," katanya. (Media Indonesia OL/13/11).

Terbalik dengan kecemasan Soetarjo, Menko Polhukam, Widodo AS, justru berpendapat siapa pun pemenang Pilkada di Aceh, mereka adalah warga negara Indonesia (WNI) yang telah memenuhi syarat-syarat administrasi dan perundang-undangan untuk mengikuti pemilihan kepala daerah.

Terlepas dari merebaknya pendapat yang senang dan kecewa. Jika akhirnya calon independen menduduki tampuk pimpinan di NAD, sungguh menjadi sejarah baru dalam peta politik tanah air. Menyibak fakta mulai adanya “kebosanan” rakyat pada Parpol. Jalur yang kerap dimaknai sebagai keharusan dalam memilih pemimpin. Dan Pilkada Aceh membuka cakrawala rakyat Indonesia dalam menentukan masa depannya.

Pilkada Aceh, bukan tidak mungkin akan menginspirasi Pilkada di tempat lain. Lahirnya pemimpin yang murni dari kompromi rakyat bukan kompromi partai politik. Pemimpin yang bisa mencicipi selera rakyat, bukan selera birokrat. Masyarakat Aceh mendambakan figur pemimpin Aceh yang benar-benar mengetahui penderitaan dan harapan rakyat Aceh. Mereka juga menginginkan figur pemimpin yang tidak melupakan janji-janjinya saat kampanye lalu. Yakni membawa kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Apresiasi ini layak diberikan pada rakyat Aceh. Dengan kesadarannya mereka memilih tanpa silau gebyar panji-panji dan bendera Partai. Pun saat kampanye, Irwandi-Nazar menyuguhkan pada rakyat Aceh tentang pentingnya nilai-nilai budaya di NAD. Seperti yang tampak dalam besutan busana mereka saat kampanye selalu mengenakan pakaian adat Aceh. Selera lokal disajikan untuk memikat hati pemilihnya.

Jika pada akhirnya, pemenang independen Pilkada Aceh memegang pucuk pimpinan, kemenangan ini dapat dimaknai sebagai kemenangan rakyat Aceh. Tiap kebijakannya tentu lebih didengar karena ia pilihan rakyatnya, bukan pilihan partai. Pun, dalam mengelola pemerintahan, mestinya lebih berani menolak kompromi partai yang cenderung tak menguntungkan rakyat. Pemenang independen mesti benar-benar independen dalam menjalankan roda pemerintahan.

Bertahun-tahun mimpi ini menyemai di sanubari. Menyaksikan kelahiran pemimpin yang memahami selera rakyat. Pilihan rakyat. Jika kalangan partai legowo dengan pemenang independen, tentu tak akan menggali lobang untuk menjegal. Aceh pun menunggu, sungguhkah jika calon independen sah memenangi Pilkada, benar-benar terpilih untuk melayani selera rakyat?

Read More......

Pengorbanan tak Kenal Lelah


Sekali lagi kita saksikan pengorbanan rakyat hari ini. Minyak tanah langka di pasaran. Pengorbanan apalagi yang belum lengkap diberikan masyarakat miskin?

Tiap obat mujarab rasanya pahit. Tetapi ia mengandungi zat penyembuh yang dapat mengusir sakit. Lidah boleh menolak tetapi ia mesti ditelan agar badan kembali sehat. Bertahun-tahun maskapai penerbangan nasional menelan pil pahit. Garuda, sebutan pendek untuk Garuda Indonesia Airways (GIA), diplesetkan menjadi ‘’Good And Reliable Under Dutch Administration’’. Kurang lebih sama dengan maskapai penerbangan nasional Philipina, PAL, yang sempat diledek sebagai ‘’Plane Always Late’’. Dengan menelan pil pahit itu, kini Garuda sembuh dari sakit panjang dan menjadi maskapai nasional yang bergengsi dan pantas dibanggakan.

Harus mecicipi susah memang untuk menjadi besar. Perlu pengorbanan, kegetiran, dan perjuangan yang tak berujung. Tentang pengorbanan ini, almarhum Hary Rusli pernah membuat sebagian kita mesem pahit. Lantaran dalam peringatan HUT RI di Jakarta Selatan, Kang Hary memplesetkan lagu Garuda Pancasila. Syair itu diubah sedemikian menusuk hingga berbunyi, “Garuda Pancasila, Aku lelah mendukungmu, Sejak proklamasi, Selalu berkorban untukmu. Pancasila dasarnya apa, Rakyat adil makmurnya kapan....”

Sontak banyak orang meradang dan marah. Lagu yang demikian heroik mendadak diacak-acak. Tuduhan sebagai tidak nasionalis dan patriotis pun dilayangkan pada Kang Hary kala itu. Kenakalan almarhum seniman itu sah saja ditanggapi dengan beragam komentar. Tetapi ada pesan yang ingin dilesakkan Kang Hary pada bangsa ini sebagai wujud kecintaannya pada rakyat. Sebagai tanda nasionalismenya yang sejati. Memang, ibarat dokter plesetan Garuda Pancasila adalah pil yang teramat pahit.

Kejadian-kejadian mutakhir membuktikan, plesetan Kang Hary tidak salah: Rakyat selalu berkorban. Terutama rakyat kelas bawah. Untuk menyambut kunjungan 6 jam Presiden Amerika Serikat, George Walker Bush, rakyat melalui APBD Bogor iuran sebesar Rp 6 Milyar. Ditambah lagi pengorbanan rakyat secara langsung akibat pengamanan Bush, yang menurut Fraksi PKS DPRD Bogor dan pengusaha jumlahnya mencapai 82 Milyar.

Cerita Bush memang telah menjadi bubur. Tapi bila organisasi raksasa NU, Muhamadiyah, dan MUI saja sedari awal sudah secara tegas menolak atau minimal menyayangkan prosesi kehadiran Bush, belum cukupkah itu melukiskan besarnya pengorbanan rakyat.

Kepergian Bush dari Bogor, diikuti dengan kepergian sejumlah wakil rakyat untuk studi banding atau kunjungan kerja ke luar negeri. Biayanya milyaran juga, dan ditanggung rakyat lewat APBN. Hasilnya? Wallahu a’lam bisshawwab. Lagi-lagi rakyat mesti berkorban.

Beberapa hari ini wajah jaman revolusi seakan diputar kembali. Masyarakat kesulitan minyak tanah. Dapur tidak dapat ngebul. Bukan rahasia umum lagi jika ada ribuan, mungkin juga jutaan masyarakat yang dalam tiga hari terakhir tidak dapat memasak. Lantas apa lagi alasan pemerintah untuk menjawab realita ini. Tidak ada yang jelas. Mengambang dan cari selamat sendiri-sendiri. Asal dapur di rumah tak padam untuk apa dibahas. Kata arifnya, rakyat harus sabar memahami kesulitan negara. Lagi-lagi rakyat wajib berkorban.

Beri Keteladanan

Sebulan lagi, kita diingatkan akan datangnya Hari Raya Kurban. Dalam pesan kurban, ada keteladanan yang dapat dipahami sebagai pengejawantahan pengorbanan untuk rakyat. Kurban diwajibkan bagi yang mampu untuk kaum dhuafa. Cermin agar pemimpin berkorban untuk rakyat dan negaranya. Bukan terbalik rakyat yang berkorban habis-habisan untuk negaranya sementara para pemimpin abai dengan sulitnya minyak tanah hari ini.

Jika memang berkorban menjadi nafas bangsa ini untuk enyah dari kesulitan, mestinya ini dijiwai secara berjamaah. Jiwa berkorban harus tercermin dalam berbagai aktivitas pengelolaan negara. Para pemimpin dan kaum elite negeri ini harus menunjukkan semangat untuk berkorban bagi kepentingan rakyatnya. Tidak hanya rakyat yang diminta untuk berkorban, tetapi para pemimpin pun harus memberikan contoh.

Tidak berkhianat terhadap amanah jabatan yang diembannya merupakan salah satu contoh pengorbanan yang dilakukan. Karena pengkhianatan terhadap amanah, hanya akan membawa bangsa ini pada kehancuran. Rasulullah SAW telah mengingatkan kepada kita dalam salah satu haditsnya: “Amanah itu akan mendatangkan rizki, dan khianat itu akan mendatangkan kefakiran.” Kemiskinan yang terjadi saat ini, bukan tidak mungkin adalah karena pengkhianatan yang dilakukan oleh para pejabat negeri ini.

Para pemimpin pun hendaknya tidak hidup bermewah-mewahan di tengah penderitaan masyarakatnya. Mereka harus bisa lebih berempati terhadap kondisi kehidupan rakyatnya. Salah satu keberhasilan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam membangun masyarakat adalah kemampuannya untuk berempati dan berkorban untuk rakyatnya. Ia merelakan harta bendanya untuk disumbangkan kepada Baitul Maal, bahkan isterinya pun diminta untuk melepas perhiasan yang dimiliki dan disayanginya.

Sungguh ini merupakan contoh indah pengorbanan yang dilakukan para pemimpin umat di zaman dahulu. Kalau para pemimpin dan kaum elite suatu negeri telah terperangkap pada pola hidup bermewah-mewahan yang disertai oleh suatu sikap mendustakan dan menentang ajaran Allah, maka hal ini merupakan tanda-tanda kebinasaan suatu negeri.

Allah telah menegaskan hal ini dalam QS Al-Isra (17) : 16-17,: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. Dan betapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui dan Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.”

Idul Adha yang sebentar lagi tiba, layak dijadikan momentum bersama untuk melakukan koreksi secara total terhadap berbagai aktivitas dan kebijakan yang telah kita lakukan. Para pemimpin dan rakyat harus segera menyadari berbagai kesalahan yang telah dilakukan. Masing-masing elemen bangsa harus mau mengendalikan berbagai ego kepentingannya, dan lebih mengedepankan semangat untuk berkorban bagi kepentingan rakyat dan bangsa.

Jika ini tak mampu terwujud. Benar resep pahit dari dokter Hary Rusli, Aku lelah mendukungmu, Sejak proklamasi, Selalu berkorban untukmu. Dan kita tak perlu marah.

Read More......

Mustahik Gusung Pandang


Terik matahari memanggang kampung Gusung Pandang, Pulau Koja, Sikka, Nusa Tenggara Timur. Alamnya kering dan gersang. Musim kemarau begini bukan saja bahan makanan yang sulit. Air minum juga langka. Bertahun-tahun kondisi yang demikian keras terjadi. Selalu berulang tiap tahunnya. Mengandalkan musim tanam ladang dengan pengairan air hujan sekali setahun membuat potret kemiskinan makin nyata.

Zaidun (58), seorang kepala kampung Gusung Pandang mengisahkan. Musim kemarau begini paceklik amat mencekik. Hasil tanam di ladang delapan bulan lalu tak mencukupi untuk kebutuhan makan hingga musim penghujan tiba. Kelakar Zaidun, “Kami sama hewan itu sama, yang membedakan kami manusia dia binatang. Kalau nasib sama-sama hidup tinggal menunggu maut. Tak ada hal lain yang bisa kami harap”. Namun kata Zaidun, hidup mesti berlanjut. Sebuah keluarga harus bertahan tak boleh menyerah oleh tempaan kekeringan. Maka melihat denyut hidup mereka, kita akan mendapati sebuah semangat hidup yang hebat.

Tanah yang retak karena kepanasan, coba digali jika ada terselip ubi-ubian di dalamnya. Pengharapan lain pada buah pisang yang direbus sebagai pengganti makanan pokok. Biasanya jagung. Itupun stoknya sudah habis. Amat rumit mendiskripsikan bagaimana mereka tetap survive. Apalagi tinggal di pulau yang jauh dari fasilitas umum menambah keadaan makin memprihatinkan. Tidak ada transportasi darat kecuali jalan kaki. Menggunakan jalur laut sudah tentu perlu biaya. Apalagi harga BBM sangat besar dampaknya.

Menyusuri pulau-pulau terpencil di wilayah timur, sekilas yang tampak keindahan lautnya. Kegersangan daratan terbiaskan pemandangan bawah laut nan menawan. Kitapun berdecak. Betapa luas samudra nusantara ini. Sungguh melimpah ruahnya kekayaan laut negeri ini. Logikanya, tidak ada mestinya orang miskin apalagi sampai sulit makan. Mereka bisa memanfaatkan sumber daya laut yang kaya itu.

Bagi sebagian masyarakat yang tinggal di pesisir, laut memang bisa jadi pengharapan. Tetapi sebuah pulau juga dihuni manusia lain di dalamnya. Tak semuanya punya bakat jadi pelaut. Yang tinggal di daratan telah menemukan hidupnya dengan bekerja sebagai petani. Meski hasil panen yang dipetik hanya setahun sekali. Jika memaksa mereka melaut sama halnya menyuruhnya menjemput maut. Sebaliknya, orang pesisir seperti Suku Bajo jika dipaksa ke darat pasti mereka sulit hidup. Maka tinggal di atas air laut bagi Suku Bajo adalah ketenangan dan kenyamanan. Sementara bagi orang daratan itu amat menakutkan.

Semua sudah ada dunianya sendiri-sendiri. Tantangannya kini bagaimana membuat sinergi darat dan pesisir. Dapatkah hasil laut menjadi subsidi memenuhi kebutuhan hidup masyarakat daratan selama musim paceklik begini. Itu juga tidak mudah. Karena hasil pertanian dari daratan tidak cukup mampu menjadi barter. Buah berladang berbulan-bulan itu mayoritas untuk simpanan menyongsong masa kemarau. Akhirnya posisi tawar petani di pulau terpencil yang curah hujannya rendah menjadi lemah.

Cerita ini baru sebatas persoalan memenuhi kebutuhan perut. Pendidikan sudah pasti jauh panggang dari api. Lantas bagaimana dengan akidahnya? Ibrahim (45) seorang ustad di sana mengungkapkan statementnya yang membuat bulukuduk kita berdiri. “Kami minoritas di sini yang hidup banyak susahnya. Jarang ada yang kuat untuk mengembangkan dakwah di daerah minus dan keras masyarakatnya ini. Jangan terkejut jika berlahan-lahan Islam akan tinggal nama saja di sini”.

Bukan gertakan Ibrahim berkata. Melihat geliatnya, ada sebuah kondisi kepepet yang dapat menggiring itu menjadi kenyataan. Dan jika itu terjadi, kita lantas latah akan selalu kebakaran jenggot. Marah dan menyalahkan mengapa mereka tidak setia pada agamanya.

Memihak Lokal Melihat kondisi yang demikian pelik. Perlu mengutak-atik program apa yang sesuai untuk membantu menembus jalan buntu itu. Agar di musim paceklik begini keperihan hidup dapat tersembuhkan. Sejak beberapa tahun lalu Baznas Dompet Dhuafa sudah masuk ke wilayah tak terjamah ini melalui program Tebar Hewan Kurban (THK). Namun THK baru sebatas oase di tengah gurun tandus yang panas. Hadir setahun sekali. Membuat sekadar mesem kecut dan penyampai pesan bahwa saudara di belahan lain Indonesia masih peduli dan empati.

Harus ada program jangka panjang yang dapat mensinergikan peran dakwah, kemandirian, dan pemberdayaan ekonomi. Itulah mengapa Kapal Laut berkapasitas 30 ton hari ini berlayar dari pulau ke pulau di Flores. Dengan fasilitas kapal ini ada 18 pulau di kepulauan Flores disinggahi dan didampingi. Kapal berbendera Baznas Dompet Dhuafa ini menjadi penghubung silaturahim dan menebarkan manfaat serta amanah zakat, infak, dan sedekah.

Sebagaimana yang sudah berjalan saat ini, kapal dioperasionalkan lembaga lokal yang punya visi dakwah dan ekonomi. Mereka didorong menjadi pemain bisnis lokal yang membela kepentingan masyarakat. Untuk mensuplai kebutuhan pokok di 18 pulau terpencil itu misalnya, kapal membawa beras yang diambil langsung berlayar dari Makasar. Kapal juga mengangkut hasil laut dan pertanian masyarakat dari pulau-pulau itu untuk dipasarkan di pusat kota maupun antar pulau.

Selama ini baik hasil laut maupun bumi di Indonesia Timur sebagaian besar ditadah langsung saudagar luar negeri. Transaksi terjadi di atas laut. Masyarakat asli dibuat tak berdaya memasarkan hasil alamnya lantaran tidak punya sarana transportasi. Dalam kondisi alam yang jauh dari fasilitas umum, masyarakat dibuat tak berdaya. Menyerah pada harga yang dipatok saudagar asing. Akhirnya hasil perasan peluh masyarakat hanya mampu untuk kebutuhan makan sehari. Tak dapat belanja lebih apalagi menabung.

Direktur Program Baznas Dompet Dhuafa, Kusnandar dalam salah satu misi programnya untuk Indonesia Timur menegaskan, akan melahirkan saudagar-saudagar lokal yang berpihak pada musathik. Namun ia mengakui, selama ini kendala terbesar yang dihadapi, sulitnya mencari mitra yang punya etos dan semangat mujahid. Padahal Indonesia Timur yang kaya potensi alam memerlukan SDM yang tangguh. Dalam berbagai kasus, program bisnis mitra kerap gagal karena belum mampu menyandingkan dengan visi bisnis dengan visi sosial.

Tidak dapat dielak, kondisi minus masyarakat Indonesia Timur perlu advokasi dan perhatian khusus. Kapal-kapal besar berbendera asing yang leluasa berlayar melalui derasnya arus laut di perairan Indonesia Timur, perlu diselingi kapal-kapal lokal yang berpihak pada masyarakat asli. Meski belum terlalu berarti, namun langkah berani memulai bisa dapat nilai tertinggi dari sekadar habiskan energi di meja diskusi.

Kapal sudah berlayar. Meski baru satu namun jelajahnya menembus pelosok yang tak pernah kita tengok. Hasil alam antar pulau dampingan mulai saling ditukar. Jual beli secara syariah menjadi prinsip transaksi. Melihat tingkat kemanfaatannya, perlu ada lebih dari 10 kapal untuk Indonesia Timur yang dikelola dengan tepat. Menjadi sarana transportasi dan distribusi hasil alam yang murah dan berpihak. Juga menyambung hidup lebih baik bagi masyarakat Indonesia Timur di kala paceklik.

Read More......

Wednesday, November 15, 2006

Sarjana Penggembala


Meneladani Sarjana Penggembala

Siapa rela pulang ke desa selepas Sarjana. Membangun kemandirian di kampung halaman dengan sumberdaya lokal. Pendidikan mestinya menuntut diri berani dan kreatif.

Katak dalam tempurung. Pepatah itu pas dirasai Kasman Ibrahim (40). Bapak 4 anak lulusan Sarjana Hukum 1989, dari Universitas Mataram. Bertahun-tahun ia terpenjara diam di kampungnya, Risa, Woha, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ilmu hukum yang dipelajari begitu sarat membebani gerak hidupnya. Tinggal di kampung miskin yang tergantung musim panen padi sekali dalam setahun, Kasman sosok yang disorot. Ia yang dengan kemiskinannya mampu merampungkan Sarjana Hukum menetap di kampung halaman dalam kondisi sulit.

Kasman menjadi buah bibir. Bahan cibiran dan gunjingan tetangga, ada seorang sarjana merana di desa. Mestinya, menuruti kemauan banyak orang, Kasman menjadi seorang pengacara. Hidup sukses dalam kaca mata duniawi dengan gelimang harta. Mendiami rumah mewah dan megah. Menjalin relasi dengan para politikus, selebritis, dan pengusaha, misalnya. Minimal ia menjadi seorang pegawai negeri. Jabatan amat terhormat dan diperebutkan hampir oleh semua orang desa di Indonesia.

Logika-logika umum itu sampai detik ini harus diakui masih merasuk di sanubari mayoritas kita. Pendidikan tinggi ditempuh untuk merengkuh sukses hidup dalam kacamata kekayaan yang kasat mata. Gelar acapkali dikaitkan dengan realita kesuksesan hidup pemiliknya. Sekalipun seseorang dilabeli gelar berderet, jika hidup dalam kondisi miskin tetap saja ia bukan apa-apa. Pendapatnya, meski benar, dianggap omong kosong. Meminjam istilah Betawi, “Ngomong doang lo”.

Wajar, jika selepas bangku kuliah sebagian besar sarjana kita enggan pulang ke desa. Kota-kota besar kerap jadi sasaran mereka menetap. Kembali ke kampung tanpa status pegawai negeri atau pekerja kantoran seakan aib yang memalukan. Mending nganggur di kota ketimbang pulang jadi bahan omongan. Ngontrak di gang sempit yang kumuh terlihat lebih nyaman daripada tinggal di rumah sederhana dengan pekarangan luas di desa. Di kota orang acuh. Tidak usil mengurusi siapa kamu.

Sungguh, kesadaran manusiawi berat menerima ini. Karena saat berangkat meniti ilmu, gelar dijadikan kuda troya menuju puncak kesuksesan duniawi. Pengorbanan harta benda untuk menuju tangga sarjana seakan wajib terbalas senilai harta benda. Dan Kasman, satu dari ribuan sarjana yang menjadi pendobrak budaya itu. Bukan lantaran ia putus asa tak mampu mengadu gelarnya di kota. Ia memang tak tertarik sejak semula berangkat dari desa menuju Universitas Mataram.

“Tidak semua ilmu harus diterbangkan ke kota. Orang desa juga perlu ilmu. Mereka juga harus pintar dan maju, bukan orang kota saja yang boleh merasakan pengetahuan. Semua kita sama di pelosok dan di kota-kota besar”, katanya, saat menjamu kami menginap di padang rumput, perbukitan Risa malam bulan purnama Senin (6/11) lalu.

Tak sekadar omong kosong Kasman berucap. Tinggal di rumah panggung yang tiangnya doyong dan kayu-kayunya rapuh, istri Kasman juga seorang Sarjana Administrasi Negara, bernama dra. Sarifah. Untuk menempuh hidup sehari-hari, Kasman jadi petani. Menanam padi setahun sekali mengandalkan sawah tadah hujan. Saat kemarau begini, semua wilayah di Bima dan Pulau Sumbawa umumnya dihajar kekeringan. Hidup betapa makin sulitnya. Tiap tahun kondisi ini terjadi.

Kasman mesti mematahkan gengsi. Ia bertekad merubah sistem nilai yang mengakar di tengah masyarakat. Sebagai ustad sekaligus penghulu, kedekatan Kasman Ibrahim dengan masyarakat cukup mengakar. Namun, tak cukup sebatas kata, perubahan itu bisa dilakukan. Orang awam perlu contoh dari apa yang diucapkan. “Kamu saja jadi sarjana masih miskin, mengapa kami harus sekolah tinggi-tinggi”, kata Kasman mengingat ucapan masyarakat yang mencemoohnya.

Seloroh yang masuk akal. Harus ada bukti dari setiap ungkapan. Sarjana Hukum, bagi Kasman bukan ilmu untuk mengakali kaum kecil. Menghukum yang benar dan membebaskan yang dipenjara karena kejahatannya. Hukum mesti tegak membela kebenaran, melindungi rakyat jelata dari kepongahan penguasa. Yang dimaknai penguasa bukan saja pemimpin zalim. Tetapi juga orang-orang yang dengan kewenangannya memperalat orang miskin. Biasanya mereka berperilaku layaknya raja-raja kecil.

Penghulu ini dengan keluguan dan kesederhanaannya berusaha membela masyarakat dari kezaliman raja-raja kecil di desa. Dengan pendidikannya Ia tidak mengakali orang desa. Kasman mengadvokasi dengan caranya sendiri dalam membela orang-orang miskin. Pun maksud yang demikian hebat, belum tentu gampang dipahami masyarakat. Mesti ada bukti dalam wujud materi!

Setelah gengsi dikubur mati. Tiap hari usai Subuh, Kasman bersama Sarifah menggiring kambing ke perbukitan di Risa. Kedua pasangan sarjana ini menjadi penggembala kambing. Dari perjuangan yang terseok dan kesabaran jiwa penggembala, Kasman kini memelihara 107 ekor kambing. Empat anaknya sekolah dengan baik. Mereka diniatkan harus lulus sarjana. Mencari ilmu dan kembali membangun desa tumpah darahnya.

Pendidikan di Bima memang menemukan ruhnya. Kondisi masyarakat yang membuat kita berdecak. Semiskin-miskinnya orang Bima sebagian besar pasti lulusan SMA. Jangan kaget jika di Bima menemukan satu keadaan masyarakat amat minus tetapi tingkat pendidikannya tinggi. Pendidikan bagi masyarakat Bima menjadi kebutuhan dasar. Keduanya adalah naik haji. Agar tercapai, makan sekali sehari dengan garam dan asam sudah rutinitas masyarakat Bima yang miskin.

Sayangnya menurut Kasman, sarjana dan kalangan terdidik di desanya belum mampu membunuh gengsi. Sarjana berladang sungguh malunya. Sarjana menggembala betapa mengenaskannya. Sementara dari keadaan alam Bima yang sungguh keras di kala kemarau seperti ini, masih menyimpan potensi lain. Yakni peternakan kambing dan sapi. Masih banyak potensi yang dapat digali daripada sekadar mengharap-harap pegawai negeri. Jabatan prestisius yang dicari-cari.

“Gaji pegawai negeri sesungguhnya tanpa korupsi, dengan memelihara kambing masih besar menjadi petani dan berternak kambing”, aku Kasman sembari mengungkapkan siapa sudi sekolah tinggi-tinggi hanya untuk jadi petani dan penggembala kambing. Sebagai tanda keseriusannya, Kasman sekeluarga kerap menginap di bukit menjaga ternaknya.

Kasman Ibrahim, potret dari kalangan berpendidikan tinggi di negeri ini. Yang berani terjun kembali ke tempat dimana ia hidup dan besar. Tak malu karena gelar yang disandangnya. Tidak menambah pengangguran dengan kembali berkarya di desa. Mengelola potensi yang ada dengan memanfaatkan ilmu yang dipelajari bertahun-tahun.

Kini meski masih miskin, Kasman didengar ucapannya karena ia memberi teladan bagaimana mencapai kemandirian. Tanpa harus menjadi pegawai negeri, tanpa stres mengirim lamaran kerja kesana kemari yang kerap ditolak, dan tanpa harus mengotori status berpendidikan tinggi dengan korupsi.

Kasman Ibrahim, sang penggembala yang menginspirasi. Kenapa tidak kita turut jejaknya. Ketimbang menghabiskan usia dengan berharap durian runtuh di kota. Mari mandiri di desa layaknya Kasman Ibrahim.

Read More......

Jakarta Mimpinya Orang Desa

Jakarta Mimpinya Orang Desa

Rutin saban tahun. Lepas lebaran, kaum pendatang mencoba melempar kail di Ibukota. Ada yang pakai umpan, ada yang cuma kail. Jakarta, kota sejuta mimpi bagi orang desa.

Pusat kemacetan, perempatan dan lampu merah, mulai sepi pengemis. Kawasan perumahan elit juga tak lagi ditemui kumpulan pembawa gerobak yang mirip pemulung sampah. Seiring berlalunya Ramadhan, pengemis dan peminta bergaya pengais sampah kembali ke asalnya. Mereka seakan mafhum, di luar Ramadhan musim kering sedekah mulai tiba. Tahun depan, jelang Ramadhan mereka akan datang kembali ke ibu kota menyongsong saat banjir zakat, infak, dan sedekah.

Wajah-wajah sarat masalah itu boleh saja berkurang di Jakarta. Tetapi jumlah mereka yang semula meruyak, berlahan digantikan para pendatang lain. Tentu tidak untuk mengikuti jejak sebagai pengemis. Pendatang baru, memandang Jakarta pesona yang bertabur bunga. Jakarta dengan cantik semunya berhasil menarik perhatian penduduk nusantara. Peran media seperti televisi, yang kerap menampilkan gemerlapnya kehidupan kota tak dielak ikut mendorong laju pertumbuhan urbanisasi.

Orang-orang miskin di desa yang lugu makin terpesona tatkala musim lebaran, para pemudik berkisah cerita sukses. Umumnya, perantau di Jakarta yang berniat pulang kampung mayoritas sudah cukup berhasil. Sementara yang masih berjuang merasa enggan pulang. Tak salah jika Suwaji (26), pendatang baru asal Tulungagung menyimpulkan bahwa Jakarta tempat yang cocok untuk mendapatkan penghidupan lebih baik. Ia lihat tetangganya yang mudik pulang dengan mengendarai mobil pribadi.

Sartono, bujang asal Bojonegoro bahkan tak betah lagi tinggal di rumah. Di desa tak ada tempat bekerja. Bercocok tanam juga tanah sepetak. Buka usaha tiada modal. Pemuda dengan masa depan suram. Sayangnya, Suwaji dan Sartono menjejak Ibu Kota yang tak ramah pada orang susah bermodal nekat. Keduanya meyakini, langkah terjal Jakarta cukup kuat diinjak dengan doa dan restu orang tua.

Tak ada yang salah dengan Suwaji dan Sartono. Desa, jika kita selami nyaris tak menjanjikan apa-apa. Berkoar pemerataan ekonomi, itu ramai di kota-kota. Desa tetaplah merana. Diskusi kayanya potensi desa-desa di Indonesia tetap saja mentok pada wacana. Ramai di ruang seminar. Bahan diskusi yang tak habis-habisnya dibahas pada level pemerintahan dan anggota dewan sejak bertahun-tahun.

Tak pelak, telinga kita kerap mengiang statement, “Mengapa mereka tidak bangun desanya. Malah datang ke kota tanpa bekal keahlian. Bukankah daerah kita ini makmur dan subur”. Ungkapan yang amat mudah dilontarkan orang-orang yang telah mapan dan menemukan dunianya di kota. Jikapun subur dengan tanahnya, hasil pertanian di musim panen selalu saja jeblok. Petani tak henti-henti diakali. Dikadali dari tengkulak sampai level kebijakan. Tetap saja lahan subur itu tak membuat orang desa makmur.

Alam yang kaya juga tak mendongkrak taraf hidup orang desa. Jikapun mencicipi, mereka mesti mencuri di tanah sendiri. Tambang desa yang harusnya menjadi pundi kemakmuran, nyatanya milik konglomerat kota. Lebih sadis, dikuasai orang asing. Bila ada sebagian kecil yang menggali tambang sendiri mereka diuber, ditangkap sebagai pencuri. Penambangan illegal yang bisa jadi dicap merugikan negara.

Hutan yang luas juga tak berdampak pada kemakmuran orang desa. Di Jawa Timur, ada seorang pencuri kayu tewas dihajar petugas. Lantaran ia ketangkap basah menebang beberapa pohon pinus. Saat musim kemarau dan paceklik merajam desa, hutan bisa jadi sumber yang diharap-harap. Orang itu bernama Doguno, meninggal dengan mengenaskan hanya karena ingin menyambung hidup sampai musim tanam singkong tiba.

Bandingkan dengan para perampok hutan yang dilabeli keren dengan Illegalloging itu. Adakah yang sudah tewas layaknya Doguno. Jauh panggang dari api. Ketangkap saja sulit. Orang desa dari banyak sisi tetap saja terhimpit dan dipersulit. Tak mampu maju. Bertahan hidup saja sudah lebih dari cukup. Tak bervisi masa depan, mengenyam pendidikan saja sungguh sulitnya. Jika bermimpi tinggi, di Ibukota Jakartalah orang desa ingin mewujudkannya.

Maka, Jakarta, sumber dari segala sumber itu menjadi madu yang diserbu. Jakarta juga dicaci, dibenci, dan dicintai. Jantung negara yang menabur sejuta harapan masa depan.

Bercermin Pada M Yunus

Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank yang meraih Nobel Perdamaian 2006 sedang jadi sorotan dunia. Di negaranya Bangladesh, dengan Grameen Bank-nya, sampai Mei 2006, telah melayani 6,61 juta peminjam, 97 persennya kaum perempuan. Bank ini telah memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa, dan tidak hanya melayani peminjam dari Bangladesh, tetapi juga negara-negara lain.

Kita tidak tahu. Apakah di negaranya, juga ada tradisi urban pasca lebaran. Melihat jumlah desa yang dilayani Grameen Bank mestinya di jantung kota Bangladesh tak dibanjiri pencari kerja dari desa. Namun, M Yunus simbol perlawanan perang hakiki. Yakni perang melawan kemiskinan. Layak jika Nobel Perdamaian yang lazimnya diberikan pada tokoh-tokoh yang erat dengan perang fisik, tahun ini dianugerahkan pada M Yunus.

Ada ungkapan menarik yang pernah dilontarkan pria beruban ini. Sebuah kejujuran hatinya dalam melihat kemiskinan. Ia tak malu mengaku salah dalam memandang perekonomian dari kaca mata akademisnya. "Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan. Saya mulai membenci diri saya sendiri karena bersikap arogan dan menganggap diri saya bisa menjawab persoalan itu (kemiskinan). Kami profesor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kami. Sejak itu saya putuskan kaum papa harus menjadi guru saya," ungkapnya penuh penyesalan.

Selaras dengan gerakan M Yunus, Pada akhir 1994, Dompet Dhuafa Republika (kini BAZNAS DOMPET DHUAFA) yang waktu itu masih nebeng di Gedung Republika, menjadi tuan rumah penandatanganan ''Deklarasi Buncit''. Salah satu butir deklarasi yang disepakati puluhan pimpinan holding BMT maupun pimpinan BMT di Jakarta dan sekitarnya ini, menyerukan agar BMT dijadikan gerakan nasional.

Tak lama kemudian, pada 7 Desember 1995, Presiden Soeharto mencanangkan ''Gerakan Nasional 1000 BMT''. Sayangnya, gaung gerakan ini tak segagah namanya. Banyak orang Islam sendiri yang masih bertanya: makhluk apa gerangan BMT (Baitul Maal wat Tamwil)? Menurut Adiwarman Karim yang pernah diundang ke Chicago hanya untuk menerangkan BMT, hal itu lantaran para pejuang BMT terlalu bersemangat. Sementara, kondisi sosial-ekonomi ketika itu belum mendukung, meskipun secara politik ada pemihakan.

Seperti kata pepatah: Li kulli maqamin, maqaalun. Wa likulli maqaalin, maqaamun (Setiap kondisi butuh ungkapan yang tepat. Dan setiap ungkapan, butuh waktu yang tepat pula). BMT, menurut Adiwarman, konsepnya bagus, tapi saat itu belum siap diangkat menjadi gerakan nasional.

Meski demikian, gerakan BMT terus berjalan. DD sendiri sudah mensponsori pendirian 60 LKMS (Lembaga Keuangan Mikro Syariah) termasuk BMT. Mereka tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, DKI, DIY, dan Sumatera. BMT yang masih berjalan ada 47, 44 di antaranya bertahan dalam keadaan sehat. Sebagaimana Grameen Bank, hampir mayoritas nasabah BMT itu para wanita. BMT Beringharjo, yang dipimpin Mursida Rambe, seorang Ibu dua anak sampai saat ini memiliki 16 ribu nasabah pedagang kecil di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, dengan asset BMT 14,6 milyar.

Masih jauh memang dari apa yang dilakukan Grameen Bank. Tetapi langkah serupa telah cukup lama dimulai di Indonesia. Gerakan semacam ini memang tumbuh dan berkembang di desa. Demikian pula BMT yang mendampingi kalangan usaha mikro dalam permodalan yang memihak orang-orang desa yang miskin. Ini salah satu solusi bagaimana menghidupkan desa dengan mengembangkan usaha. Agar masyarakatnya tak melulu meralat nasib ke ibu kota.

Kita layak merenungkan sentilan M Yunus dalam memahami angka penyerbu Ibukota yang meningkat untuk mencari nafkah hidup. Nyatanya, kemiskinan di negeri ini tak mampu diurai dari belakang meja tanpa terjun langsung pemikirnya ke lapangan. Agar kaca mata memandang yang dipakai kaca mata orang miskin, bukan kaca mata orang pintar.

Benar katamu M Yunus, “Kami profesor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kami”.

Read More......

Monday, October 30, 2006

Mengintip Suku Kokoda


Tak cukup sekadar syahadat. Mereka perlu hidup mulia dan bermartabat. Ladang kebajikan memanggil kita di ranah Papua.

Landasan pacu pesawat di bandara Domine Edwar Osok (DEO) Sorong menjadi saksi bisu. Saat tiap pagi anak-anak dan orang tua dari Suku Kokoda lalu lalang menyeberangi landasan pacu. Tak hendak mereka naik pesawat di bandara yang menjadi transit para bule datang dan pergi itu. Mereka berpacu dengan mendaratnya pesawat untuk mengantri air bersih. Air yang membuat merinding. Keruh, berbau, dan diambil dari kubangan berlumpur di area bandara.

Tidakkah ada pilihan lain? Jawabnya mudah, seperti kebanyakan orang Papua, mereka contoh satu suku yang tak punya pilihan hidup. Berlahan terhimpit di tanah kelahirannya yang luas dan kaya. Suku Kokoda yang muslim ini hidup di pinggiran pantai dekat bandara DEO, Sorong. Mereka hidup di atas rumah panggung yang compang-camping. Mengumpulkan batu karang untuk dijual sebagai nafkah hidup. Sungguh jauh dari garis sederhana. Jangan dikata itu tabiat apalagi esksotik yang layak diwisatakan. Tetapi Suku Kokoda muslim di pinggiran bandara itu adalah potret komunitas orang Papua yang dimarginalkan.

Pemandangan makin mencabik tat kala pada pagi hari anak-anak Suku Kokoda mengenakan seragam sekolah merah putih. Sekilas terlihat ada nuansa pendidikan di kampung itu. Anak-anak begitu cerianya menenteng robekan buku kumal tanpa pensil. Mereka berlarian menuju Mushola Baitul Muttaqin Kokoda yang bangunannya paling layak. Di dalam dan serambi mushola mereka duduk bersimpuh seakan menunggu datangnya guru. Sejam berlalu, tak ada tanda-tanda aktivitas belajar dimulai. Penasaran pun mengusik sembari mencari-cari di mana letak sekolah mereka.

Akhirnya terkuak, sebuah jawaban yang menohok batin. Memukul kesadaran betapa selama ini kita termangu bisu. Seakan mereka menyuguhkan hidup tanpa beban. Menyibak generasi Papua masa depan, seperti generasi tanpa pengharapan. “Tidak ada guru di sini, juga tidak ada sekolah. Anak-anak senang saja pakai seragam karena mereka ingin seperti umumnya anak-anak pendatang yang sekolah. Mushola ini seperti menjadi tempat sekolah bagi mereka”, ungkap Agung Sibela, dai kelahiran Ternate yang mendampingi komunitas muslim Suku Kokoda.

Jawaban itu bak petir memecahkan gendang telinga. Wajah-wajah polos anak-anak Suku Kokoda makin membuat kaki berat beranjak. Menatap mata mereka yang penuh harap, angan melayang ke Jakarta. Saat anak-anak kita tengah menikmati nyamannya belajar di sekola-sekolah Islam berkelas mahal, anak-anak Suku Kokoda menikmati kemalangan belajar. Persaudaraan sesama muslim mendadak tergugat. Penindasan dan penjajahan kebodohan itu ternyata nyata ada di kulit kita. Maka tak perlu malu mengaku jika kita nyaris acuh pada nasib saudara kita itu.

Stigma Buruk

Berbincang Papua, kerap terngiang di pendengaran bahwa mereka komunitas yang bodoh, jorok, tidak bisa diatur, dan malas. Tuduhan yang kerap dilontarkan pendatang maupun orang-orang luar Papua. Acap kali mencari jawab apa musabab mereka terbelakang, nyaris jawaban itu sama dilontarkan. Tetapi beruntung masih ada orang seperti Agung Sibela yang berfikir dengan kearifan lokal. Bahwa stigma itu tidak sepenuhnya benar. Ada sis-sisi lain yang tak pernah disentuh untuk mereka. Yakni kearifan lokal, keikhlasan, dan kesabaran dalam mendampingi mereka.

Untuk mengubah nasib orang Papua tidak cukup dengan menghadirkan pendatang sebagai transmigran. Nyatanya dalam persaingan, orang lokallah yang akhirnya tersisih. Sementara pendatang cenderung bertahan dengan meluaskan daerah kekuasaannya. Hal ini dapat dimafhumi karena mereka harus menyiapkan nasib anak cucu pada rentang masa depan. Seorang pengusaha travel yang punya dua KTP, Jakarta dan Sorong malah sangat semangat menuding orang-orang lokal itu pemalas. Padahal ia langganan pelaksana proyek Pemda Sorong.

Jika memahami orang Papua dengan kaca mata pendatang yang pengusaha, maka masyarakat lokal adalah beban. Meminjam istilah Agung Sibela, pendatang yang pedagang atau pengusaha tak mau tahu nasib orang asli Papua. Selama mereka tidak saling mengganggu, peduli amat mau jadi apa kelak generi Papua. Pada akhirnya yang ketiban tanggung jawab adalah pemerintah sebagai pengatur negara yang begitu luas. Musti begitu, betapa elok jika pendatang pun turut mengambil tanggung jawa itu. Apa sebab? Karena ia hidup dan membangun kerajaan bisnis dari tanah yang menjadi hak rakyat Papua.

Membangun masyarakat Papua memang tak mudah. Terlebih saat pendatang dari luar negeri bebas bercokol di tanah kaya ini. Persoalan menjadi pelik. Sebagian orang pedalaman malah sudah pintar dalam hal-hal tertentu. Misalnya mematok tanah yang akan dijadikan pemerintah untuk sarana infrastruktur membangun jalan penghubung misalnya. Mereka minta ganti rugi di atas batas kewajaran, akhirnya Pemerintah menjadi stagnan. Padahal dengan pembangunan itu akan memudahkan transformasi budaya dan nilai. Sehingga membangun masyarakat pedalaman makin mudah dan cepat.

Anehnya, ada seorang warga negara asing begitu leluasa punya sarana wisata di pedalaman Papua. Hotel dan tempat berlibur bagi turis untuk melihat eksotik alam papua dan masyarakat aslinya. Dengan membayar mahal para turis bisa melihat kehdupan asli suku pedalaman. Yang menurut mereka sebuah budaya yang wajib dilestarikan. Jika boleh berprasangka, kondisi masyarakat pedalaman Papua yang termarginalkan seperti disengaja sebagai obyek wisata. Maka akses pembangunan untuk mereka seperti dipangkas.

Untuk menangani kasus HIV/AIDS yang subur di Papua misalnya, amat sederhana yang dilakukan LSM asing. Cukup dengan membagi kondom gratis dan menaruh bebas begitu saja di hotel dan penginapan. Tidak ada transfer nilai-nilai berbudaya dalam melakukan hubungan seks. Seperti promosi bahwa hubungan itu hanya boleh dilakukan oleh suami istri yang terikat pernikahan. Di Sorong, kondisi prostitusi nyatanya juga makin subur. Dan kondom bagi mereka seperti telah menjadi solusi terbaik.

Jika kita terpantik peduli, melihat realita ini pastinya geram. Namun, dengan berbagai kepentingan yang diusung dari negara asalnya, pendatang asing itu sudah berbuat untuk masyarakat Papua. Sementara untuk Suku Kokoda yang muslim dan minoritas saja kita tidak berdaya. Bisa jadi, baru tahu malah. Kini, dapatkah energi kita dibagi untuk mewujudkan model komunitas muslim asli Papua yang sejatinya telah menguasai pesisir Papua jauh sebelum Indonesia merdeka.

Komunitas muslim Papua yang terstigma miskin, bodoh, jorok, dan malas menjadi ladang kemanusiaan untuk beramal. Tak cukup sekadar mensyahadatkan mereka dan mendadak marah tat kala mereka berpaling akidah. Jika pintu hidayah mereka telah terbuka, taggung jawab kitalah mendampingi dan menghapus stigma itu. Saatnya memberi contoh bagaimana Islam memanusiakan manusia dan menjadikan rakyat Papua tuan di tanahnya sendiri. Jangan tunggu cahaya Islam lenyap dari ranah Papua lantaran kita hanya asyik menyeru kebajikan di komunitas mapan.

Read More......

Menanti Kebijakan Berpihak

Negara sudah berpihak pada nasib birokrat dan pejabat pemerintah secara keuangan dapur. Lantas kapan dapur mustahik benar-benar dibela?

Saat Presiden mengumumkan kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) 15 persen, di benak kita barangkali berprasangka para PNS berjingkrak di malam 17 Agustus 2006. Kira-kira mirip nonton bareng Piala Dunia. Saat jagoannya melesakkan gol ke gawang lawan, lantas penonton bersorak-sorai meluapkan kegembiraannya. Nyatanya kado Negara untuk PNS menandai umur Indonesia ke-61 tahun ini, tak sepenuhnya disambut gembira.

Mardianto, seorang PNS di Depok menanggapi kenaikan gaji ini biasa saja. Tak ada yang istimewa. Menurutnya, saat gaji naik biasanya dibarengi harga kebutuhan pokok yang ikut menanjak. Lebih jauh, ia memahami maksud baik pemerintah ingin meningkatkan kesejahteraan PNS tetapi caranya kerap tidak tepat.

“Ibarat kita menyelamatkan bayi yang dibuang ke kali. Tetapi kita tidak pernah menyelamatkan atau menyentuh masalah dasar pembuang bayi itu. Jika itu yang dilakukan, masalah dasar yang ingin ditangani pemerintah tidak akan pernah selesai. Pemerintah akan terus menjadi pemungut bayi, sementara pembuang bayi tidak berhenti”, ungkap Mardianto mengibaratkan.

Tanggapan senada disampaikan Siti Rahayu, seorang pegawai swasta di bilangan Tamrin. Bagi ibu beranak tiga ini, saat Presiden mengungkapkan kenaikan gaji, sama halnya Presiden sedang mengumumkan kenaikan inflasi. Kebiasaan latah di negeri ini, acapkali ada kabar kenaikan dari pemerintah selalu disusul kenaikan harga-harga kebutuhan pokok.

“Lihat saja nanti, harga-harga pasti naik. Kalau PNS, kenaikan dapat ditomboki gajinya yang naik. Tapi kalau pegawai swasta seperti saya hanya terkena imbasnya saja, nombok terus”, kata Rahayu bersungut.

Menilik ungkapan Mardianto dan Rahayu, ada pertanyaan yang mengusik batin. Jika mereka yang punya penghasilan bulanan saja masih mengeluh, lantas bagaimana suara hati sebagian besar masyarakat yang kondisi ekonominya hari ini sulit. Berita orang tua mengakhiri hidup karena tak berdaya menanggung beban ekonomi hampir tiap hari hadir mengusik. Hidup dirasai begitu beratnya hingga mengakhiri nyawa menjadi satu-satunya solusi.

Bagi yang pernah hidup susah, meniti hari-hari tanpa jaminan asupan hidup sungguh sulit dan pelik. Jika iman tak kebal godaan syetan, dorongan berlaku kejahatan kerap tak terhindarkan. Keadilan bagi orang miskin selalu tegak dan tegas. Taringnya menakutkan dan wibawanya amat agung. Maka jika ada orang miskin mengutil, keadilan sangat tegas menyalahkan orang kecil ini berlaku dosa. Malah, tanpa tedeng aling-aling wajah sang maling diumbar bebas di media massa.

Sebaliknya, pada kalangan atas keadilan adalah biduk catur yang dipermainkan dan diatur. Saat mereka dengan jelas-jelas mencuri dan hidup dari fasilitas korupsi tetap saja nyaman mengenyam hidup. Jikapun apes menjadi tersangka, wajahnya sulit nongol di media massa.

Sumber isu dan berita memang selalu orang-orang miskin. Sedu sedan mereka merangkak hidup menjadi naskah yang selalu menyuguhkan cerita dramatis kemanusiaan bertumpuk-tumpuk. Saat mereka lalai hingga betindak jahat, juga berita yang tak habis-habisnya dikupas. Kamera tak akan berhenti membidik mereka untuk diketahui khalayak.

Tetapi sungguh rapi informasi membungkus geliat hidup kelas the haves. Berita tak mampu menyibak bagaimana mereka mampu survive dengan kenyamanannya. Dari mana asal dana-dana yang mengalir ke rekening pribadi juga tak terusik. Selama berstatus sebagai pejabat atau bisnisman, alasan hidup mewah sudah cukup masuk akal. Pun, saat mereka menuai korupsi, kenyamanan tetap saja abadi. Etika dan kehormatan begitu kokoh mejaga mereka. Berbeda saat seorang pencuri diarak keliling kampung karena mencuri ayam kampung.

Perlakuan semacam ini makin subur saban hari. Ketimpangan yang makin mejulang. Saat Presiden mengumandangkan naskah naik gaji sesungguhnya ia tengah menyenangkan kelompoknya. Sementara ia tersenyum dalam bingkai tulus atau politis, sebagian besar masyarakat miskin tercabik. Tidak ada yang salah pemerintah mensejahterakan pegawainya. Tetapi yang dinanti, kapan pidato Presiden menetapkan kenaikan jatah hidup untuk masyarakat miskin.

Selalu saja, kebijakan-kebijakan yang dibuat negara tak pernah sepenuh hati memihak mereka. Kenaikan anggaran dan pemberian fasilitas selalu demi kenyamanan birokrat yang dianggap mengurus rakyat. Pun, program-program yang ada kerap sebatas jargon-jargon. Kalau toh terealisasi, seberti BLT misalnya, operasionalnya kerap menyakitkan. Orang harus berantem lebih dulu untuk memperolehnya. Isinya selalu melukai hati, menyengsarakan, bukan meringankan beban.

Zuhud

Menuruti emosi, dalam kondisi ekonomi sulit hari ini ibarat sumbu pendek. Mudah marah dan mengamuk. Orang lemah bingung mengadu dan tak tahu kemana berkeluh kesah. Orang miskin nasibnya terabi, dipaksa mencari jalan hidup sendiri-sendiri. Mereka seakan ditohok, siapa suruh lahir dan hidup miskin. Tak berlebih jika dikata, mereka tidak ada yang mengurus, layaknya amanat UUD 45 yang diagungkan itu.

Untuk meredam ledakan ketidakadilan ini, kiranya ada peluruh hati yang dapat membentengi diri. Peluruh itu bernama zuhud. Perawi hadis Ibnu Majah mengisahkan, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ''Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang jika aku lakukan, maka aku akan dicintai oleh Allah dan juga oleh manusia.''

Rasulullah menjawab, ''Berlaku zuhud-lah kamu terhadap kenikmatan dunia niscaya kamu akan dicintai Allah, dan berlaku zuhud-lah kamu di tengah manusia niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.'' Hadis di atas mengisyaratkan suatu perilaku yang dapat mengantarkan seseorang meraih cinta Allah SWT dan manusia. Perilaku itu adalah zuhud. Berlaku zuhud tidak berarti berdiam diri dan tidak melakukan usaha apa pun untuk mendapatkan rezeki yang halal.

Zuhud bukan sikap malas. Seorang zahid (orang yang zuhud) sama sekali tidak identik dengan orang fakir yang tidak mempunyai harta apa pun. Seorang zahid adalah orang yang mendapatkan kenikmatan dunia tetapi tidak memalingkan dirinya dari ibadah kepada Allah. Zuhud adalah perbuatan hati (af'al al-qulub). Seorang zahid, dalam hatinya tumbuh keyakinan bahwa apa yang ada dalam genggaman Allah lebih bernilai daripada yang ada dalam genggaman manusia.

Dalam bermasyarakat, seorang zahid mampu menahan diri untuk tidak mengambil hak milik orang lain dengan cara yang dilarang oleh agama. Seorang zahid tidak akan dengki terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain. Ia sadar, perbedaan nikmat yang diberikan Allah kepada manusia adalah ujian bagi ketaatannya kepada Allah. Rasulullah SAW memerintahkan setiap Muslim untuk menjauhi sifat dengki karena dapat menghapus semua pahala kebaikan seperti api melalap kayu bakar.

Akhirnya relakan negara menaikan kesejahteraan pegawainya. Sementara orang miskin belajar sabar kekal, menerima ketidakberpihakan negara padanya dengan belajar zuhud. Maka tak perlu sungkan para birokrat dan pemimpin negeri ini bercermin pada orang miskin. Syukur-syukur jika berkenan mencicipi buah zuhud.

Read More......

Gagal UAN Bukan Kiamat

Pemerintah menetapkan standar 4,25 untuk lulus dalam UAN. Angka ini menghadirkan polemik di kalangan yang gagal melampauinya. Tetapi gagal UAN, bukan berarti kiamat. Jalan masih panjang.

“Ujian” kata yang tak asing di telinga. Mengandungi berjuta makna yang di dalamnya ada kerja keras, usaha, kejujuran, dan keiklhasan. Jika “ujian” itu terlampaui dengan baik, maka dapat dikata menang. Disebut berhasil, juga sukses. Bila “ujian” itu gagal dilalui, orang banyak merasainya sebagai kegagalan. Malah ada yang bilang, nasib buruk. Dunia seakan sudah kiamat. Tak ada lagi harapan. Ujian akhirnya dipandang sebagai batu sandungan meraih cita-cita.

Ketahanan tiap orang berbeda dalam melakoni ujian ini. Golongan yang dewasa dan matang cenderung lebih arif, bijak, dan sabar. Terbalik dengan kaum muda yang menatap ujian sebagai tantangan. Ujian bak tembok angkuh yang menantang andrenalin. Sayangnya, jika gagal melewati ujian ini tak jarang ditumbur frustasi. Jalan pendeknya, memilih bunuh diri karena memandang ujian sebagai tombol penekan untuk menentukan nasibnya. Seperti tak ada lagi jalan lain.

Senin (19/6), menjadi hari bersejarah bagi murid kelas III SMA/SMK. Saat hasil Ujian Akhir Nasional (UAN) diumumkan, dua gelombang perasaan beradu. Ledakan gembira, sorak-sorai berderai dari siswa-siswi yang mampu melampaui angka 4,25. Pun, tak sedikit yang meratap kaku karena gagal melampaui angka itu. Tak pelak, UAN dituding sebagai biang keladi kegagalan ini. UAN, tatanan yang dipandang anti kemanusiaan hingga diajukan ke Komnas HAM. UAN telah menjadi daya kejut yang mendebarkan.

Pemerintah agaknya sudah gerah dengan realita rendahnya kualitas SDM bangsa. Untuk mengurai itu, salah satu kebijakan yang dilakukan dengan mematok standar kelulusan 4,25. Menurut Mendiknas, Bambang Sudibyo, patokan ini ingin agar terlahir lulusan terbaik. Targetnya, bisa menciptakan lulusan yang berkualitas nasioal dan internasional sekaligus. Palu telah diketok dan kebijakan dijalankan. Ditentang, diberondong lemparan kritik sekalipun kebijakan musti tetap tegak. Jika surut tak ubahnya singa tiada bertaring. Sebaliknya, dengan legowo pemerintah juga musti memberi solusi bagi yang kecewa oleh angka 4,25 itu.

Sayangnya tradisi bangsa ini gemar hidup pada aturan abu-abu. Menekuk-nekuk besi yang lurus, membolak-balikkan arah jalan yang benar. Enggan mengaku gagal, tak mau disebut kalah. Untuk mengakomodir kekecewaan bagi yang tak lulus, DPR teramat pintar menawarkan solusi dalam wujud ujian ulang. Untuk solusi sekelas itu, siapapun bisa memberikannya. Tak perlu selevel anggota dewan. Jika itu jalan keluarnya, lebih baik patokan angka 4,25 itu dihapuskan saja. Padahal dengan kekuasaannya, DPR dapat memberi solusi lebih cerdas dengan meminta pemerintah menggratiskan biaya pendidikan setahun bagi yang gagal UAN.

Pun, UAN telah menjadi standar gengsi. Tak ubahnya Sepak bola Piala Dunia yang mempertaruhkan gengsi, nasionalisme, dan harga diri. Tiga hal yang menakar ego setiap diri yang mau mengejar prestasi. Tak heran jika Zinedine Zidane sampai meringis oleh cakaran Johan Vogel. Meski dalam aturan, yang boleh aktif hanya bola dan kaki. Untuk tiga hal itu pula, Tomas Galasek dari Republik Ceko, enteng saja meniban pemain Amerika Serikat, Eddie Johnson dengan pantat. Kebrutalan-kebrutalan itu pun berlangsung sepanjang pertandingan. Meski sebelumnya bendera kuning bertuliskan “My game is fair play” dibentangkan sebelum pertandingan.

Standar gengsi ini pula yang turut menciderai UAN. Mirip-mirip Piala Dunia, “May game is fair play” tercoreng oleh ulah sebagian guru yang membiarkan anak didiknya mencontek saat ujian. Bocor soal pun sudah bukan rahasia lagi. Langkah ini bisa dibilang kepepet agar standar 4,25 itu terkejar. Telepon seluler pun main sikut dengan pesan singkatnya. Menukil Indonesian Corruption Watch, yang menyebut kecurangan pelaksanaan UAN sebagai akibat hasilnya menjadi prestise kepala sekolah dan kepala dinas. Jika demikian pemerintah masih gagal mengubah karakter bangsanya. Lantas apa arti 4,25 itu dipatok, jika mental maling dan tak percaya diri masih menjiwai dunia pendidikan.

Gagal bukan kiamat

UAN juga menghadirkan perlawanan kalangan yang tak lulus ujian. Mereka tak sendiri, para orang tua sebagian ikut terlibat mengajukan protes. Dari datang langsung ke gedung DPR, mendatangi Komisi Nasional Perlindungan Anak sampai Komnas HAM. Demikian hebat kiranya dampak UAN. Lulus dan tidak lulus akhirnya terkait dengan masalah hak azasi manusia. Keberatan ini dapat dimafhumi mengingat rata-rata anak mereka adalah juara di kelasnya. Sebuah kenyataan pahit menyaksikan sang juara tumbang di ajang UAN.

Kekecewaan ini ditambah hitung-hitungan biaya sekolah yang digelontorkan dari kocek orang tua selama ini. Bagi kalangan mampu, biaya sekolah setahun tidaklah terasa. Tetapi bagi orang tua sepeti Rofiq (40) yang anaknya gagal UAN, biaya SMA setahun sebuah beban berat. Sebagai tukang ojeg di bilangan pasar Ciputat, penghasilannya amat berat untuk menunjang hidup dan sekolah tiga anaknya.

“Saya tak marah sama anak. Kecewa pasti ada tapi kami sudah biasa hidup susah dan kecewa. Ini pelajaran buat anak agar dia belajar sungguh-sungguh. Hanya saya minta pada pemerintah agar biaya mengulang sekolah setahun itu digratiskan, biar saya dapat membiayai anak saya yang lain”, kata Rofiq yang sudah tujuh tahun ngojeg.

Orang susah seperti Rofiq cenderung arif menerima kenyataan. Jika saja ia mampu secara ekonomi mungkin akan turut bergabung dengan yang lain untuk berunjuk keberatan. Rofiq tak sempat, sejengkal waktu baginya ladang untuk mencangkul nafkah. Hikmah lain yang sarat pesan, ia memahami kegagalan anaknya sebagai ujian. Tempaan hidup yang sulit bertahun-tahun membuatnya lapang mengakui kalah dan gagal. Tetapi jiwa semacam ini tak tentu dimiliki semua orang yang menganggap kegagalan sebagai hikmah. Atau istilah yang membesarkan hati, “kegagalan, keberhasilan yang tertunda”.

Bercermin pada Rofiq, yang kurang dimiliki bangsa ini sepertinya, keberanian mengakui kegagalan. Nyaris tak ada yang berani tegak mengakui keunggulan lawan. Selalu ada celah untuk menjegal dan menggali lobang untuk menjebak. Kegagalan dipandang sebagai aib yang memalukan. Jarang yang merenungi kegagalan sebagai guru kehidupan. Kegagalan sebagai pintu lain yang ditunda Allah untuk pilihan yang lebih baik. Kita seakan tak siap hidup diatur. Padahal menengok bangsa tetangga, mereka mencapai kemajuan karena tegaknya aturan negara.

Jika sedari dini yang ditanamkan pada generasi muda adalah ketidak legowoan menerima kegagalan, maka gengsilah yang akan menjadi standar hidup. UAN yang mematok angka 4,25 telah menjadi pilihan pemerintah untuk mendongkrak kualitas generasi bangsa. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, negara tengah mencoba punya standar pendidikan. Sulit dan pahit, kiranya sistem pendidikan kita musti ada yang menggawangi. Asal tak terus dicurangi. Tugas orang tua kini, mendampingi putra putrinya menyelami makna kegagalan sebagai ujian untuk meraih hidup yang lebih baik.

Berkaca pada Piala Dunia. Selalu ada yang menang dan kalah. Gagal dan berhasil sudah keniscayaan. Gagal UAN bukan berarti kiamat. Masih ada celah dan kesempatan. Sebaliknya, angka 4,25 tiada arti jika karakter maling masih ditularkan pendidik pada anak muridnya, hanya karena standar gengsi nilai. Sebuah aib paling memalukan bagi dunia pendidikan kita.

Read More......

Dampak Koreksi Alam

Alam semesta dibentang luas dan di dalamnya diletakkan mekanisme keseimbangan. Janganlah kalian merusak keseimbangan itu. Tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan jangan kalian merusak keseimbangan.” (QS ar-Rahman/ 55:7-9)

Ikan sepat itu besarnya tak lebih dari jempol kaki. Melihat kelebatnya di dalam air keruh, tak tega untuk mengoyak. Nafasnya seperti megap-megap. Jika ditangkappun tak rela hati rasanya memakannya. Tetapi pemandangan di pinggir kali Desa Jombang, Satui, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, sore itu menyuguhkan kenyataan lain. Ikan-ikan kali yang tak menarik minat, nyatanya salah satu sumber penghidupan sebagian besar warga desa itu.

Seorang ibu dengan anak kecilnya, hampir setengah hari termangu di pinggir kali. Menggunakan joran dari bambu, ia berjam-jam mancing ikan-ikan kecil. Saat ember hitam kecil yang dibawanya ditengok, di dalamnya ada beberapa ikan sepat kecil. Melihat wujudnya, sejenak pikiran menduga-guga. “Ah, paling juga buat mainan anaknya”.

Dialog kecil pun terjadi. Nyatanya ikan itu tidak untuk mainan melainkan lauk makan. Bertahun-tahun rutinitas itu dijalani saban hari. Kali telah menjadi sumber pasokan gizi. Tak ada pasar, kalau toh ingin belanja perlu dana Rp 24.000,- untuk sekali pergi. Nilai yang amat besar untuk masyarakat yang tinggal di pedalaman. Bisa pergi ke pasar tak tentu dua bulan sekali. Pasar ibarat pusat kota yang kerap diimpikan untuk didatangi. Sayang tak semua orang dapat berkunjung ke pusat perdagangan tradisional itu.

Dari faktor alam, masyarakat Satui pedalaman yang sebagian kaum transmigran mustinya tak hidup miskin. Desa Jombang, dikepung hutan sawit yang katanya milik pengusaha Malaysia. Gunung-gunung di sekitarnya juga menimbun batubara dan permata. Menurut informasi warga, satu gunung yang mengandung hasil tambang dapat dilumat dalam waktu semalam dengan alat-alat berat. Siang masih bentuk gundukan, esok hari tumbang jadi cekungan.

Penghancuran gunung-gunung itu hasilnya, bukan berkah ketularan makmur yang dirasai masyarakat. Melainkan kiriman banjir yang merendam rumah mereka. Dua minggu lalu Satui tenggelam oleh banjir yag menghanyutkan harta benda. Beruntung, arusnya tak menggulung rumah-rumah panggung di desa itu. Setelah air susut rumah masih utuh, dapat ditempati lagi kecuali sebagian harta benda yang hanyut terseret arus.

Menurut masyarakat, banjir tak biasanya besar, paling hebat menggenangi kaki-kaki rumah panggung. Tetapi tahun ini ketinggian air mencapai atap rumah. Dilihat dari curah hujan, menurut mereka masih normal. Perusahaan pertambangan pun tak pelak ditengarahi sebagai biang keladi. Masyarakat hanya dapat diam, tak berdaya untuk protes. Apalagi untuk teriak sekeras-kerasnya, dari pedalaman tetaplah senyap tak terdengar.

Untuk keluar dari desa itu saja musti melalui jalan milik perkebunan dan pertambangan. Jalur lain melalui sungai. Maka protes dan geram cukup menancap di hati dan sekadar bisik-bisik di antara mereka. Beradu debat sudah pasti kalah. Dari pasokan makanan saja bak bumi dengan langit. Kaum berkuasa mengisi perutnya dengan daging dan susu. Sementara, masyarakat pedalaman lauk ikan sepat saja sudah istimewa.

Kabar banjir pun surut. Mengering, beriring nasib mereka yang ikut susut. Makin hari menanjak miskin. Tambah bulan menjadi bulan-bulanan. Beriring tahun kesulitan hidup akan terus turun temurun. Namun, jika hujan kembali datang, banjir bandang pastinya kan jadi langganan. Sumbernya, hutan dan gunung tak henti-henti dikuras tanpa sentuhan nurani. Tidak memikirkan keseimbangan alam. Kiblat yang jadi haluan adalah keuntungan bisnis dari kekayaan milik Allah ini.

Memahami alam

Kalimantan dan Sulawesi baru saja menuai banjir. Di Sinjai, Sulawesi Selatan, kedahsyatan banjir bandang dari gunung masih membekas. Rasanya, gerak tanah dan cuaca tengah berjalan menyeimbangkan diri. Maka kekeringan yang berdampak pada kelangkaan air dan gagal panen hari ini terus terjadi. Waduk di Jawa yang menampung curah air makin sepi pasokan. Berita hari ini pun berganti dalam hitungan jam. Dari banjir bandang secepat kilat jadi tema kekeringan.

Dari laporan yang dibeberkan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jateng, kerusakan lingkungan menyebabkan daerah aliran sungai tidak dapat berfungsi optimal. Pada musim kemarau sungai kering, dan musim hujan banjir bandang. Dirjen Sumber Daya Air, PU, Siswoko juga mengungkapkan kerusakan lingkungan menjadi salah satu sebab daerah aliran sungai tidak dapat menahan arus air dengan baik. Hingga berdampak pada kekeringan di daerah aliran sungai

Melihat gerak bencana alam (tsunami, gempa, banjir, dan kemarau) yang susul menyusul, sekali lagi kiranya perlu untuk memahami alam. “Alam semesta dibentang luas dan di dalamnya diletakkan mekanisme keseimbangan. Janganlah kalian merusak keseimbangan itu. Tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan jangan kalian merusak keseimbangan.” (QS ar-Rahman/ 55:7-9)

Di jagad raya ada keseimbangan kosmis. Di bumi ada keseimbangan ekologis. Dalam kehidupan manusia ada keseimbangn sosial yang lebih dikenal sebagai “Keadilan”. Tiap-tiap terjadi gangguan pada keseimbangan itu alam akan melakukan koreksi dan pemulihan. Alam bisa berdehem dan batuk, alam juga bisa menggeliat dan meronta. Semua peristiwa alam mengalir alami saja. Mereka bertindak sekadar menjaga kelangsungan hidup, memelihara keseimbangan dan bertasbih kepada Allah Sang Pencipta. Alam tidak bermaksud jahat dan Allah SWT tidak menempatkan kejahatan di alam.

Ketika sumber-sumber alam di permukaan bumi sudah dikuras secara serakah dan zhalim, alam tidak marah, ia hanya akan bereaksi dengan banjir dan longsor, atau gempa bumi dan letusan gunung berapi, untuk memulihkan ketersediaan sumber-sumber alam itu. Letusan Gunung Galunggung di awal tahun 80-an telah menambah sediaan pasir yang hingga kini tak habis-habisnya diangkut ke kota-kota besar sebagai bahan bangunan meski diangkut dengan ratusan gerbong kereta api setiap harinya. Juga letusan gunung selalu menyediakan kesuburan bagi daerah sekitarnya.

Allah SWT sangat menyayangi manusia, melebihi sayangnya manusia terhadap dirinya sendiri, dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Ia tak akan merusak karya-Nya sendiri dengan sia-sia. Einstein bilang: “Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan alam ini”. Kalau pun ada yang harus Ia hancurkan dulu, itu karena Ia hendak menata ulang agar segalanya menjadi lebih indah dan lebih harmonis lagi. Keseimbangan terus dijaga-Nya, perbaikan terus diselenggarakan-Nya, Ia adalah Sang Pemelihara Alam (Rabb al-Alamin).

Akhirnya, di manapun di muka bumi ini, ketika muncul keserakahan terhadap alam serta ketidakadilan sosial dan kezaliman, bumi akan terundang untuk melakukan langkah-langkah koreksi. Sesungguhnya Alam memberikan respon terhadap apa yang dilakukan oleh manusia. Sayang kita tak menyadarinya, dan menyebutnya ’bencana alam’ yang ganas dan jahat.

Read More......

Wakaf Gelicok

Wakaf Gelicok dikreasi sebuah komunitas masyarakat terpencil. Contoh wakaf untuk menghidupi pendidikan.

Wakaf “Gelicok”. Nama ini pastinya sangat asing di pendengaran kita. Tak sekadar asing, malah belum pernah ada, baik di Jakarta maupun di Indonesia. Gelicok mengemuka dan tengah semangat digalakkan di tengah masyarakat kepulauan terpencil. Tepatnya oleh masyarakat Mansamat, Tinangkung Selatan di Pulau Peling dalam deretan Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah.

Gelicok (Gerakan Lima Pohon Coklat). Masyarakat Desa Mansamat pada mulanya diusik gelisah oleh kebodohan yang menjajah generasinya. Sarana pendidikan di pulau yang berdiri tegak monumen Trikora itu amat memprihatinkan. Sampai delapan bulan lalu, masyarakat memimpikan punya sekolah tingkat SMA di pulaunya. Kerinduan akan pendidikan yang bertahun-tahun dipendam. Sebuah kesadaran yang luar biasa, bahwa mereka sadar hanya dengan pedidikan kemajuan daerah tertinggal dapat dicapai.

Saat Dompet Dhuafa Republika (DD) membuat program pembangunan pendidikan di pulau-pulau terpencil, Banggai Kepulauan (Bangkep) menjadi salah satu titik yang dipilih. Secara histories, DD memiliki kedekatan dengan masyarakat Bangkep sejak gempa Mei 2000 silam. Suasana mengharukan terjadi pada Desember 2005. Ketika itu masyarakat desa Mansamat berebut mewakafkan tanahnya untuk lokasi pembangunan sekolah. Dilihat dari letak, semua yang ditawarkan strategis, tanah datar dan di pinggir jalan. Sebuah pilihan yang sulit saat itu. Sampai akhirnya untuk menghindari kecemburuan masyarakat, lokasi ditetapkan di tanah milik pemerintah desa.

Delapan bulan berlalu. Sampai pada penghujung, Selasa (22/8) bangunan sekolah termegah untuk ukuran Bangkep berdiri. Masyarakat menamai sekolah yang diresmikan Presiden DD, Rahmad Riyadi dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkep, Anwar Hasan ini “SMA Pertama”. Masyarakat Mansamat meluapkan kegembiraannya, terlebih selama proses pembangunannya dikerjakan secara gotong royong.

Namun bukan bangunan fisik semata yang dibangun. DD melalui Lembaga Pengembangan Insani (LPI) memberikan pendampingan selama satu tahun. Seiring gedung dibangun, recruitment guru dilakukan. Terpilih enam guru dan kepala sekolah asli putra daerah. Mereka dibawa ke Jakarta selama satu bulan untuk training sistem pendidikan. Hingga dicapai standar pengajaran sekolah unggulan yang mulai diterapkan hari ini di SMA Pertama. Sejak sebulan lalu sekolah ini pun mulai mengawali proses belajar mengajar.

“Wah, belum ada sekolah sebagus ini di Banggai. Kami bangga sekali sudah punya sekolah sendiri. Keren, cara belajarnya juga tidak seperti sekolah umumnya. Punya komputer sendiri lagi”, komentar Sumiarti Abu Tiama salah seorang siswa yang sudah dua tahun lalu lulus SMP. Namun agar sekolah yang melibatkan swadaya masyarakat ini eksis, banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Apalagi sekolah ini digagas sebagai sekolah unggulan dengan biaya termurah dan dapat dijangkau masyarakat yang mayoritas dhuafa. Pertanyaan yang mencuat, apa mungkin dengan biaya murah pendidikan berkualitas dapat mereka wujudkan.

Tugas rumah jangka panjang itu meliputi biaya operasional sekolah dan gaji tenaga pengajar. Setelah fasilitas gedung dibangun dan sistem pendidikan diberikan, masyarakat harus memikirkan nasib jangka panjang sekolah yang sudah menampung 76 murid ini. Maka saat peresmian yang dikemas masyarakat dengan meriah hari itu, sekaligus masyarakat desa Mansamat mendeklarasikan “Gerakan Gelicok”. Setiap masyarakat menyumbangkan lima pohon coklat siap panen. Mereka melakukan itu atas inisiatif pribadi, hingga sampai pada saat peresmiaan itu diperoleh 315 pohon coklat yang akan dikelola pihak komite sekolah.

Mansamat di sisi lain juga wajah komunitas masyarakat yang ramah. Nilai-nilai gotong royong dan kepedulian masih bestari di desa ini. Tiap jengkal pekerjaaan yang membawa kemaslahatan bersama selalu dikerjakan secara berjamaah. Masyarakat selalu terbuka menerima tamu yang datang dengan itikad baik. Mereka tidak akan segan direpotkan. Pun tulus memberikan apa yang dipunyai jika itu mampu membahagiakan orang lain. Nilai-nilai yang saat ini sulit ditemui di belahan lain Indonesia.

Gelicok Wakaf Investasi

Masyarakat sebenarnya tidak memahami Gelicok sebagai wakaf investasi. Kesan yang terlihat amat sepele dan sederhana. Tetapi apa yang masyarakat Mansamat lakukan untuk mendongkrak peningkatan pendidikan, bentuk langkah nyata dari gerakan wakaf investasi. Saat kita tengah mencari model wakaf investasi yang mampu membawa kemaslahatan, Gelicok memberi contoh sederhana yang mudah ditiru. Langkah apik yang dipetik dari rembugkan kampung ini, kini menjadi salah satu solusi menghidupi keberadaan sekolah.

Dari 315 pohon coklat, tiap triwulan mampu menghasilkan lebih kurang Rp 3 juta. Hasil yang cukup besar untuk menghidupi kelangsungan pendidikan di Mansamat. Amran Ahmad (50), salah seorang penyumbang Gelicok yang memberikan lima pohon coklat tidak memahami apa yang ia berikan sebagai wujud wakaf investasi. Amran dilihat dari sisi ekonomi bukan seorang juragan colat. Di kebunnya ia hanya memiliki 50 pohon coklat. Rumahnya pun amat sederhana. Meski anaknya tidak ada yang sekolah di SMA Pertama, tetapi ia menyadari menjadi bagian dari pemanggul tanggung jawab masa depan generasi Mansamat.

“Kami sangat senang punya sekolah di sini. Anak cucu harus maju, kami yang tinggal di pulau ini sudah capek menunggu-nunggu. Orang Jakarta saja mau jauh-jauh datang kemari untuk membangun pendidikan, kami yang di sini tak boleh diam saja”, ungkap Amran semangat. Melihat animo masyarakat yang demikian tinggi, tak pelak Kepala Dinas Pendidikan Bangkep terperangah. Ia tak menyangka jika keinginan masyarakat memiliki sekolah sangat tinggi. Meski bukan sekolah negeri, ia berjanji akan memperjuangkan eksistensi sekolah ini di tingkat pemerintah provinsi.

“Di luar dugaan saya jika sekolah ini dikemas demikian hebat. Dilengkapi komputer dan ditambah standarisasi pendidikan sekolah sekelas Jakarta. Dari fisik saja, di seluruh Bangkep baru SMA ini yang lantai sekolahnya keramik. Saya juga kaget masyarakat begitu antusias sampai membuat gerakan Gelicok dengan menyumbangkan pertaniaan mereka yang menjadi penopang hidup sehari-hari”, komentar Anwar Hasan sambil berpesan agar Gelicok dapat ditularkan ke wilayah Bangkep lainnya.

Gelicok, kini tidak sekadar peran kepeduliaan biasa. Gelicok telah menjadi model wakaf investasi yang digagas komunitas masyarakat terpencil. Meski tentang wakaf investasi atau wakaf tunai itu sendiri, di kalangan masyarakat kita baru menanjak pada tingkat wacana. Tidak seperti Qatar, Mesir, dan Kuwait yang telah mempraktikkannya. Adapun hasil dari wakaf investasi ini di negara-negara itu berhasil untuk membiayai pendidikan dan ekonomi mustahik. Bahkan di pulau kecil Sisilia (Italia), ketika berada di bawah kekuasaan Islam, memiliki sekitar 300 sekolah yang seluruhnya dibiayai dari harta wakaf.

Meski di Indonesia masih terjadi perbedaan pendapat, namun wakaf tunai sebenarnya sudah menjadi pembahasan ulama terdahulu; salah satunya Imam az-Zuhri yang membolehkan wakaf uang (saat itu dinar dan dirham). Bahkan sebenarnya pendapat sebagian ulama mazhab al-Syafi’i juga membolehkan wakaf uang. Mazhab Hanafi juga membolehkan dana wakaf tunai untuk investasi mudharabah atau sistem bagi hasil lainnya. Keuntungan dari bagi hasil digunakan untuk kepentingan umum.

Hari ini, masyarakat Mansamat yang terpelosok telah memberi pelajaran berarti tentang membangun dunia pendidikan. Mereka telah menelorkan gerakan Gelicok yang akan menghidupi SMA Pertama. Dengan wakaf Gelicok, masyarakat Mansamat meneguhkan tekad. SMA Pertama harus menjadi SMA terunggul dengan biaya pendidikan terjangkau. Tak lupa mereka menitip pesan, jika ada masyarakat Jakarta terpanggil ikut Gelicok, sebatang pohon coklat pun akan sangat berarti.

Read More......