Monday, August 27, 2007

Kebo Dungu


Tukang bubur keliling di bilangan pasar Minggu, Rabu pagi lalu, tiba-tiba menjadikan kelangkaan minyak tanah sebagai sarana marketing. “Bubur! Bubur! Ayo makan bubur saja, tidak ada minyak. Yang tak bisa masak ayo semua makan bubur!”

Sekilas, Pak Min, penjual bubur itu seperti sedang bercanda. Tetapi lama-kelamaan, sepanjang jalan yang melintas di gang kontrakan padat di Sebret Dalam Pasar Minggu, suaranya terus meneriakkan penawaran itu. Mendengarnya, ingin mulut terbahak. Tapi malu, karena ucapan Pak Min benar adanya. Sudah dua minggu lebih, di kampung sebret dalam saja, minyak tanah lenyap. Belum daerah lain khususnya di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Di Sebret Dalam, sudah beberapa pagi tak ada nasi uduk. Banyak pedagang gorengan juga tak jualan. Belum lagi pedagang makanan kecil lainnya. Di kampung Pulo Kecil, Sukawijaya, Bekasi, sebagian besar masyarakat malah sudah sebulan masak menggunakan dedak (kulit biji padi).

Jika tak kepepet orang jarang mau masak pakai dedak. Masalahnya, nyalanya redup dan perlu waktu cukup lama untuk mematangkan masakan. Di sebagian desa di Jawa, biasanya dedak dibakar di kandang sapi untuk menghangatkan sapi dan mengusir nyamuk.

Di sengaja dan tidak, realita orang terbelit minyak tanah ikut memeriahkan pesta kemerdekaan Bangsa Indonesia ke-62. Sebuah usia yang makin tua, namun tetap susah karena ditingkahi kenakalan anak cucunya yang gemar korup dan bertengkar rebutan bangkai saudara sendiri.

Antrian minyak tanah yang mengular, mirip jalan pakai bangkiak panjang saat lomba Agustusan. Tapi bangkiak dari besi baja, yang berat untuk diangkat, apalagi diayunkan ke depan. Karena tak kuat mengangkat, wajah mereka meringis dan peluhnya bercucuran. Anehnya, wajah-wajah menyedihkan ini, ada yang menggemarinya sebagai tontonan. Orang kesusahan dianggap lucu, tak jarang ada yang tertawa terpingkal-pingkal.

Minyak tanah, bagi warga miskin sudah urat nadi. Maka, sebagian kalangan memandang, minyak tanah sebagai simbol kemiskinan. Lantas, agar simbol itu hilang minyak tanah dilenyapkan dari area jantung Ibukota. Para inisiator yang menelorkan pelenyapan minyak tanah ini, tentu sudah menghitung dengan cerdas dan detail. Hanya, yang terlewat, mereka sangat kelihatan bukan orang yang paham kemiskinan. Akibatnya, keputusan ini bukan membantu pemerintah mengurangi kemiskinan, malah menambah dendam sosial yang makin menggunung. Pemerintah, makin dicap sebagai pihak yang tambah terang-terangan tidak berpihak pada rakyat kecil.

Mengganti minyak tanah dengan gas, diyakini pemerintah nilainya lebih hemat. Tapi pemerintah lupa, apakah membeli gas bisa dengan eceran seperti membeli minyak tanah satu liter. Membeli sesuai dengan lembar rupiah kumal, yang terselip di saku lusuh keluarga miskin. Pemerintah jadi seperti memaksakan standar hidup keluarga miskin, untuk mengejar standar hidup orang kaya. Ini sungguh tidak manusiawi.

Terus Berkorban

Kapan sebenarnya pemerintah ini mau berpihak pada rakyat kecil. Mengapa juga gemar melihat orang hidup sengsara, sementara sebagian lain gemar pamer kekayaan. Kurang apa lagi, pengorbanan rakyat kecil di negeri ini untuk bangsanya?

Kemana juga para wakil rakyat itu, di tengah keperihan para konstituennya yang sedang butuh teman mengadu. Parlemen seperti adem ayem, melihat rakyat kelabakan. Tiap yang menyentuh esensi dasar hidup rakyat, anggota dewan kerap membisu. Pura-pura sibuk dan tak mau tahu. Sebaliknya, jika menyangkut urusan dapur pribadi, gigihnya luar biasa. Bahkan, untuk perkara selingkuh, parlemen amat cekatan menyikapinya.

Wajar, jika Wibisono, pedagang nasi goreng di bilangan Mampang Prapatan meradang hebat.

“Apa maunya pemerintah ini! Saya perasaan tidak pernah merepotkan negara, kok malah hidup saya diacak-acak. Ditindas terus menerus, punya wakil rakyat juga loro untu kabeh (sakit gigi semua), tak ada yang becus. Rakyat kecil diproyekin terus”, umpat bapak tiga anak asal Jawa Timur yang sudah seminggu tidak jualan itu.

Menurut Wibisono, rakyat kecil selama ini sudah sabar narimo. Tetapi, makin hari ketenangan hidup rakyat kecil terus diobok-obok. Ia mengibaratkan, selama ini rakyat kecil ibarat kebo (kerbau).

Wong cilik seperti saya ini tidak ada bedanya sama kebo (kerbau). Dikasih rumput dimakan, tidak dikasih ya diam saja. Habis mau apa lagi, wong kondisi ekonomi sulit seperti ini. Arep gae ontran-ontran mundak nambah sengsoro (mau membuat ribut malah bikin sengsara)” kata Wibisono kesal.

“Tapi mas, kalo kebonya itu dipecuti (dicambuk) terus-terusan tidak dikasih makan, sing angon (gembalanya) seperti drakula. Tapi jangan kuatir, itu jika sing angon sudah benar-benar mau mbeleh (menyembelih), baru resolusi (revolusi maksudnya)”, sindirnya.

Wibisono, ingin suaranya didengar pemerintah dan wakil rakyat. Pesan yang disampaikan itu sarat makna. Rakyat kecil, hingga titik nadir masih memilih hidup damai, ketimbang revolusi. Tetapi, pejabat juga jangan menjadi “kebo dungu”. Saat rakyat kesulitan, makan tetap kenyang dan tidur nyenyak.

Bukankah Indonesia baru dikuliahi Muhamad Yunus. Peraih nobel dan perintis Grameen Bank, yang sukses memberdayakan masyarakat bawah Bangladesh. Muhammad Yunus sebagai milyarder memilih hidup sederhana, dan memperlakukan hartanya lebih banyak untuk beramal.

Demikian juga Nabi Muhammad saw. Sambil menolak kasur empuk pemberian seorang wanita Anshar, Nabi Muhammad berkata pada istrinya, ‘’Duhai Aisyah, demi Allah, jika aku mau pasti Allah akan menghidangkan kemewahan dunia. Semua itu telah disediakan Allah, tapi aku tidak mau.’’

Sampai meninggalnya, Nabi Muhammad Saw masih menggadaikan baju besinya pada seorang Yahudi. Tapi, bukan berarti beliau tidak kaya semasa hayatnya. Beliau mendapat penghasilan besar dari rampasan perang. Sering juga Nabi menerima hadiah dari umat yang sangat mencintainya. Tapi hampir semuanya Rasulullah infakkan.

Kini, tatkala dapur-dapur rakyat kecil sulit ngebul, pengorbanan apa yang akan diberikan pemimpin di negeri ini. Sekali lagi, jangan melulu rakyat kecil berkorban habis-habisan. Bangunlah, jangan nyenyak jadi kebo dungu.

Read More......

Merangkai Harapan di Tanjung Tiram





Program Dompet Dhuafa Republika untuk wilayah Indonesia Timur, tidak hanya menyentuh Flores dan Papua. Pada 2006, pendayagunaan zakat ini juga masuk ke Kabupaten Konawe Selatan, Kendari, Sulawesi Tenggara. Program yang dijalankan, pemberdayaan budidaya rumput laut.

Pendampingan program dilakukan melalui, Program Bina Masyarakat Mandiri, Desa Tanjung Tiram, Moramo, Konawe Selatan. Terdapat 45 Kepala Keluarga (KK), atau 30 persen dari jumlah penduduk miskin di desa itu. Keberadaan desa yang berada di wilayah pesisir, amat menunjang kelangsungan program ini. Dampak ekonomi sudah terlihat, setelah para petani rumput laut memetik panen tiap 40 hari sekali.

Menurut Ahmad Ismean, pendamping masyarakat Tanjung Tiram, sejak DD mengawali program budidaya rumput laut di desa itu, dampaknya mempengaruhi masyarakat lainnya. “Sekarang hampir 90 persen warga sini menanam rumput laut, mereka melihat keberhasilan warga yang ikut program DD sebelumnya”, Ahmad Ismean mengungkapkan.

Hal ini juga diakui Samudi, ketua induk dan ketua kelompok Program Bina Masyarakat Mandiri. Ia mengaku rata-rata petani sekali panen dapat uang Rp 1 juta. Bagi masyarakat Tanjung Tiram, penghasilan sebesar itu sudah lebih dari cukup. Penerima program ini, kebanyakan warga dari daerah Raha. Sebuah wilayah minus, tandus, dan sulit air. Raha yang tandus, diakui warga setempat, kampung asal Wakil Ketua DPD, Laode Ida.

Tak lupa, Wanasia (21), salah seorang ibu petani berpesan untuk DD. “Terima kasih bantuan DD, semoga dompetnya tambah tebal”, katanya terkekeh. Mendengar itu, Samudi geli. Lantas menimpali. “DD tidak punya dompet, yang tambah tebal dompet donaturnya”.

Perbincangan segar di bawah rindang pohon bakau hari itu, amat berkesan. Sembari memanen rumput laut.

Read More......

Sekolah Gratis Laode Ardin


Angin yang berhembus kencang, membuat kibar bendera merah putih makin menampakkan kewibawaannya. Meski langit di atas Desa Watubangga, Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara sedang gelap. Di bawah sang saka itu, 52 anak Tsanawiyah dan Ibtidaiyah, mendongak ke langit memberi penghormatan. Upacara peringatan 17 Agustus di Yayasan Anshorullah pagi itu, berlangsung khidmad.

Yayasan ini, mengelola sekolah gratis untuk anak-anak kurang mampu dan yatim piatu. Resmi berdiri pada 2004, dikelola oleh sepasang suami istri, Laode Ardin dan Endang Salmiati. Dalam serba keterbatasan, sekolah berdiri di atas lahan 1880 meter persegi. Sebagian wakaf seorang donatur, separonya dibeli dari kocek Laode pribadi. Bahkan masih ada tunggakan, untuk membebaskan tanah itu. Terdapat tiga lokal bermaterial dinding kayu dan atap seng. Satu lokal untuk masjid, luasnya mampu menampung sekitar 40 jamaah sholat. Sementara dua lokalnya, untuk ruang kelas dan tempat tinggal Laode bersama istri dan enam anaknya. Lokasi yayasan, berada lebih kurang 10 kilo meter dari Bandara Wolter Munginsidi, Kendari.

Pendirian sekolah ini, bermula dari pengajian anak-anak di rumah Laode Ardin. “Dulu saya numpang di rumah kosong di ujung desa ini. Sepi dan masih hutan cukup lebat. Setiap hari banyak anak-anak bermain dengan anak saya. Ketika saya tanya apa mereka bisa baca dan mengaji, tak satupun bisa membaca. Padahal mereka sudah masuk usia sekolah”, Laode menuturkan sejarah sekolah itu berdiri.

“Seiring hari, pengajian tambah ramai. Bahkan para orang tua juga ingin ikut belajar mengaji. Tetapi jika pengajian di rumah, saya takut jadi fitnah dikira memberi ajaran sesat. Akhirnya saya putuskan cari lahan buat mushola. Agar perjuangan lebih besar manfaatnya, saya dirikan Yayasan Anshorullah. Kemudian berkembang, saya dirikan Aliyah dan Tsanawiyah, mereka semua tidak dipungut biaya yang penting mau sekolah sudah cukup. Masalah dana itu urusan Allah”, kata Laode meyakini.

Diakui Laode dan istrinya, mengurus anak-anak kurang mampu tidak mudah. Kadang, ada yang tidak masuk berhari-hari. Kalau sudah begitu, Laode akan mendatangi rumah si anak menanyakan apa masalahnya. Ternyata, karena rumah jauh dan tidak punya ongkos untuk ke sekolah lagi. Atau, sandal jepit mereka yang biasa dipakai ke sekolah putus. Agar mau sekolah lagi, Laode merogoh kocek pribadinya untuk membantu anak-anak itu.

“Anak-anak sering pinjam sandal jepit untuk sekolah. Mereka tidak semuanya pakai sepatu, hanya beberapa saja. Kehidupan anak-anak di sini sulit”, terang Endang Salmiati yang pernah mondok di Al-Irsyad Pekalongan. Saking sulitnya kehidupan mereka, anak-anak perempuan umur di bawah 10 tahun sudah kerja kasar, sebagai buruh membuat batu bata.

Sesulit apapun kehidupan, Laode menanamkan pada anak didiknya untuk tetap mengejar pendidikan. Meski kondisi sekolah jauh dari layak, tetapi murid di sekolah ini pada UAN kemarin, lulus 100 persen. Mendengar kabar ini, masyarakat di daerah itu timbul kebanggaannya. Mereka mulai banyak yang menyekolahkan anaknya di Anshorullah. Sekolah yang gratis dan berpihak pada masyarakat miskin.

Untuk menghidupi pendidikan di sekolah ini, Laode sesekali dibantu uluran tangan donatur. Namun, tidak sering. Beruntung, di sekolah ini terdapat 10 relawan guru teman Laode dari Universitas Haluoleo (Unhalu) dan teman istrinya di IAIN Kendari.

Akhir-akhir ini, Laode sedang perih hati. Banyak anak-anak yatim yang ditinggal ayahnya pergi, atau ibunya meninggal. Mereka biasanya numpang di rumah kerabatnya dan harus kerja kasar. Rumah Laode yang sempit, kerap jadi pelipur lara saat-saat sulit bagi mereka. Maka, ia tengah merancang membangun panti asuhan. Tetapi ia akui butuh dana besar, dan itu cukup berat.

Laode dan istrinya adalah pejuang. Ia memancangkan tiang bendera di sekolahnya. Mengibarkannya tiap hari senin dan memeriahkannya tiap 17 Agustus. Pun, Laode telah ikut mengambil peran menjalankan amanat bangsa ini, untuk mengurusi orang miskin dan anak-anak terlantar.

Upacara hari itu, memang tak semeriah upacara di istana negara, yang menelan dana ratusan juta rupiah. Tetapi, upacara bendera di Anshorullah berlangsung khidmad, hikmah, dan wujud dari menghargai makna merdeka di negeri ini. Diam-diam, kita boleh merasa kerdil menatap perjuangan Laode dan istrinya.

Read More......

Etos di Kolong Jalan Tol

Geli mendengar kejujuran Ardi (29), yang berusaha melucu untuk mengurangi kekeluannya. Matanya nanar, melihat arang hitam, bekas puing rumah dan harta bendanya yang hangus terbakar. Setelah lebih dari sepuluh tahun tinggal di bawah jalan layang tol dalam kota, di Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, jerih payah pedagang kelontong itu musnah begitu saja.

“Enak, di sini adem. Nggak banyak polusi”, katanya sembari berusaha terkekeh. Lelaki asal Solo itu, seperti memaksakan diri untuk terbahak.

Setelah sempat terbakar, 22 Mei lalu, kolong jalan tol yang didiami kurang lebih 500 gubug ini, kembali ludes terbakar pada, selasa (7/8), pukul 9.45. Banyak di antara korban yang tidak ada di tempat, saat kejadian. Akhirnya mayoritas harta benda di rumah tidak bisa diselamatkan.

Sepertihalnya Eli (47), warga asli Tanjung Priok yang sudah tak punya kampung halaman ini, saat kejadian tengah bekerja di pabrik garmen Manggadua. Mengetahui tempat tinggalnya musnah, ia gemetar. Nyaris pingsan. Tetapi, ia mengaku berusaha untuk bertahan. Ia masih ingat anak-anaknya yang selamat.

“Untung anak saya bisa nyelametin surat-surat dan ijazahnya. Biarlah semua habis asal ijazah anak-anak selamat. Insya Allah rezeki masih bisa dicari”, tutur Eli berusaha tegar.

Dalam banyak musibah bencana dan kebakaran, kebanyakan orang berpikir seperti Eli. Masih merasa beruntung jika nyawa masih di kandung badan dan kertas-kertas berharganya selamat. Orang seperti Eli meyakini, ijazah, misalnya, telah menjadi sebuah harapan. Semua boleh habis, tetapi harapan itu tak boleh mati, untuk menata kehidupan yang baru.

Tak seberuntung Eti, Wardi (41), hanya bisa menyelamatkan baju yang melekat di badannya. Lelaki asal Wonogiri yang sudah tujuh tahun menetap di kolong jalan tol itu, saat kejadian tengah kerja buruh di Kebunjeruk. Tatkala pulang, sepasang suami istri itu lunglai. Tidak ada yang tersisa. Nasib serupa juga dialami Susi (49), asal Demak yang bekerja sebagai pedagang sayur.

“Semua habis mas. Kerja dari jam tiga pagi nggak ada yang sisa sama sekali. Terus nyandi arep njaluk tulung (kemana mau minta tolong)”, kata Susi berkaca-kaca. Saat ini, bersama korban kebakaran lainnya, Susi tinggal di tenda-tenda darurat sekitar lokasi kebakaran.

Usai kebakaran ini, para korban sebenarnya tidak ingin terlarut-larut meratapi kesedihan. Mereka ingin segera membangun kembali tempat tinggalnya seperti dulu. Tetapi kebakaran hebat hari itu, telah merusak struktur bangunan jalan tol. Dinas Pekerjaan Umum, juga sudah memasang papan peringatan. Berisi larangan membangun kembali di atas lahan bekas kebakaran.

Mempercayai Orang Miskin

Kebakaran menjelang satu hari pesta demokrasi pemilihan gubernur DKI Jakarta itu, mengingatkan akan perjuangan orang-orang kecil menyiasati hidup. Jakarta, makin sesak, semrawut, dan liar. Jakarta, kejam, kata sebagian yang berputus asa. Jakarta, sorga, bagi yang beruntung nasibnya. Ia kota yang dicaci dan dicintai. Jakarta menebar pesona, sekaligus mala petaka.

Ini tanah Tohan. Gelitik seorang pendatang dari Jawa Timur. Bagi warga miskin, tanah Tuhan seakan memberi pembenaran untuk tidak menyia-nyiakan lahan kosong di Ibukota. Biaya hidup tinggi, mendorong orang di Jakarta untuk kreatif. Mulanya kardus sebagai dinding dan plastik bekas sebagai atap. Hari berganti bulan, tiba-tiba, gubug itu berubah jadi rumah permanen. Anehnya, dilengkapi sarana PLN dan jaringan telepon. Resmi, dari pemerintah setempat.

Tiba waktunya, lahan kosong yang tiba-tiba berpenghuni padat itu digusur. Atau tiba-tiba kebakaran. Tak pelak, konflik sosial pecah. Sebuah rumah tangga dan masa depan anak-anak tercerai berai karenanya. Mencari siapa bertanggung jawab, inilah yang sulit. Meski, UUD 45 yang dibanggakan itu, mengamanahkan orang miskin dan anak terlantar diurus oleh negara, naskahnya masih tetap rangkaian kata yang indah.

“Yang diamanahi UUD kan negara, bukan pemerintah to?” celetuk seorang pemangku jabatan suatu saat.

Selama ini, permukiman padat dan kumuh selalu dipandang sarang kerawanan sosial. Rumah bagi para kriminal dan sebagainya. Tetapi jika diintip dari celah kemanusiaan, komunitas ini dipenuhi orang-orang yang tak mau menyerah pada nasib.

Seperti mereka yang menghuni kolong jalan tol Pluit, tatkala kebakaran terjadi, mereka sebagian besar tak ada di rumah karena bekerja. Mereka kebanyakan bekerja di sektor informal sebagai pedagang kecil. Mereka juga hidup tidak membebani negara, apalagi merugikannya. Diurus atau tidak, hidup mereka tetap berlanjut.

Setelah musibah terjadi – penggusuran, kebakaran, dan pengusiran – memotong urat nadi kehidupan mereka yang tinggal di lahan kosong, kolong jembatan, dan kolong jalan tol. Mereka harus mengawali dari titik nol – biasanya tanpa bantuan pemerintah – untuk kembali merintis usahanya. Pada tahap inilah, mereka hanya punya semangat dan harapan. Muskil, jika pemerintah dan perbankan mau megucurkan pinjaman modal pada mereka. Karena orang miskin tak punya jaminan apa-apa, selain nyawanya.

Padahal, banyak orang miskin, dengan modal semangat dan harapan mampu membunuh kemiskinannya. Seperti halnya Ardi, Eli, dan Susi. Tetapi itu tak lama dan harus terampas oleh musibah. Kini, mereka dalam kemiskinan di titik nadir kembali. Mereka, kelompok orang-orang kecil yang punya etos tinggi. Tetapi tidak punya modal untuk membangun kembali usahanya yang telah jadi abu.

Maka, wejangan Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian 2006 asal Bangladesh, kepada Presiden SBY dan para pembantunya, pada selasa lalu, ibarat setitik embun di lautan padang pasir. Pejuang orang miskin itu, berwasiat agar perbankan Indonesia belajar mempercayai rakyat miskin. Tetapi, jika wasiat yang oleh Wakil Presiden, Yusuf Kalla, diakui sebagai pelajaran yang berharga itu, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, orang miskin di Indonesia akan tetap terpotong aksesnya untuk mencapai kesejahteraan. Ardi, Eli, dan Susi akan selamanya gigit jari, hidup di tengah bangsa yang bebal dan tak mau belajar.

Read More......

Thursday, August 02, 2007

Pesta Rumor di Tengah Kemiskinan


Waktu Erwin Kurniawan, mengakhiri hidup di dunia ini, ia tak sendiri. Terlebih dulu, ia diduga meracuni istrinya yang tengah hamil delapan bulan dan tiga anak lelakinya yang masih kecil. Warga Kandis, Riau itu, memilih episode singkat mengakhiri kemiskinan dengan jalan keji, pada Selasa, (5/6) dua bulan lalu.

Padahal, untuk para orang tua, Allah SWT, telah memberikan janji pada mereka. Kemiskinan mestinya tidak perlu menjadi alasan membunuh, jika ketauhidan manusia pada puncak keyakinan dan keteguhan. “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”. (al Isra: 31).

Kisah tragis anak manusia, yang menempuh jalan pintas karena tak tahan jerat kemiskinan ini, kerap terulang tiap tahunnya. Tetapi, kasusnya tidak menjadi heboh. Sehingga publik seakan menanggapi biasa-biasa saja. Bandingkan, jika kasus yang sama menimpa kalangan menengah ke atas. Beritanya, bisa jadi membombardir semua isi media massa. Pengaruhnya, penguasa segera sigap melakukan tindakan.

Orang miskin, seolah ditakdirkan untuk tercampak. Dalam banyak kebijakan mereka tersisih. Bukan komunitas yang diprioritaskan untuk segera dipikirkan. Beda, jika yang tersentuh luka kalangan atas, maka pembelaan dan pertolongan begitu cepatnya datang. Ironisnya, orang miskin hanya menjadi bintang, tatkala musim kampanye saja.

Jamaah haji kelaparan, dunia rasanya berguncang. Dari diskusi meja makan, hingga rapat kabinet ramai membicarakannya. Tetapi, ketika Erwin mengambil keputusan fatal karena tak tahan lapar, publik rasanya sepi-sepi saja. Karena derita Erwin, tidak berimbas pada kepentingan kalangan atas. Pun, negara juga tak bereaksi. Diam, membisu.

Senin lalu, saat Indonesia tengah ngerumpi tentang Zaenal Maarif dan Susilo Bambang Yudhoyono, kembali rakyatnya Presiden SBY meninggal karena kemiskinan. Tetapi, perseteruan “memalukan” itu, kelihatannya lebih penting ditonjolkan ke publik, ketimbang erangan sakaratul maut, yang menjemput nyawa orang miskin.

Ida Resdawati (36), ibu lima anak, warga Rejosari, Tenayang Raya, Pekanbaru, kehilangan dua anaknya yang meninggal, terkunci di dalam kamar kontrakan. Kejadian ini bermula, tatkala Ida berusaha menyiasati hidup untuk membesarkan anak-anaknya. Tanpa suami, menghidupi lima anak sungguh beban yang sarat. Untuk meringankan beban, dua anaknya sampai dititipkan pada kerabatnya di Pangkalan Kerinci.

Ida, meninggalkan rumah untuk bekerja sebagai tukang masak, di sebuah usaha makanan yang tak jauh dari kontrakannya. Ia berangkat sejak pukul 05.00, saat anak-anaknya masih terlelap. Ia baru akan pulang sore hari, bahkan sampai malam jika banyak pekerjaan.

Selanjutnya, peran ibu akan digantikan putrinya yang duduk di kelas 2 SD. Anak itu, akan memberi sarapan dan mengurus adiknya yang baru berumur tiga dan satu tahun. Sampai pukul 09.30, baru sang kakak akan berangkat sekolah. Untuk menjaga adiknya agar tak main keluar rumah, ia mengunci dua bayi itu di dalam kamar. Sebagaimana perintah sang ibu. Ida terpaksa menempuh cara ini, untuk mencari nafkah. Pilihan yang pelik.

Tetapi, Senin pagi itu hari naas bagi Ida. Entah mengapa, ia mengajak anaknya yang di bangku SD ikut ke tempatnya bekerja. Sebelum berangkat, Ida menyuruh anaknya membakar obat nyamuk, agar dua adiknya tetap lelap tak diganggu nyamuk. Tapi, dari situlah tragedi terjadi. Sepeninggal Ida, obat nyamuk membakar kasur, dan kebakaran di dalam kamar terkunci itupun tejadi. Dua bocah tak berdosa, meninggal. Ida pun, meratap dan menyesal.

Orang yang belum pernah miskin, barangkali enteng saja mengkritik kecerobohan Erwin dan Ida. Salah sendiri, miskin punya anak banyak. Hujatan yang kerap menyeruak, di pikiran sebagian orang. Dalam banyak hal, kaum dhuafa kerap disalahkan. Tetapi, pada lain kesempatan, kemiskinan juga ajang yang tak henti-hentinya didiskusikan dan diseminarkan. Juga lahan subur, untuk orang menjadikannya kuda troya, mencapai tampuk kekuasaan.

Dalam buku, Keresahan Pemulung Zakat, yang berisi esai-esai salah satu tokoh zakat Indonesia, Eri Sudewo, ia menulis gugahnya, Bahaya Kemiskinan. Dalam tulisannya, ia menuturkan, Islam sangat menentang kemiskinan. Namun Islam menuntun umatnya agar bisa merasai makna miskin. Puasa Ramadhan, misalnya, memaksa supaya tubuh ini bisa merasai ''nikmatnya'' lapar. Lantas, bila makan sehari cukup dua kali, mengapa mulut ini tak pernah bisa berhenti makan? Kalau kita pantas dengan pakaian yang terjangkau, mengapa harus memaksa menggapai yang mewah? Artinya kalau Islam meneladani kesederhanaan, mengapa justru kita terus berlebihan?

Dalam riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah SAW berpesan: ''Kemiskinan, kebodohan, dan penyakit merupakan musuh Islam. Ketiganya dapat menggoyah sendi kehidupan, menghancurkan ketentraman, menghalangi ukhuwah, serta meruntuhkan kemuliaan dan kejayaan bangsa''.

Menurut Eri Sudewo, pesan tersebut, maknanya tentu saja sangat dalam. Bahwa bahaya kemiskinan, tak hanya mengancam individual, melainkan juga akan melibas kehidupan masyarakat. Baik melabrak segi akidah-iman, akhlak-moral, maupun bakal merusak cara bersikap dan berpikir.

Demikian mengerikannya bahaya kemiskinan ini. Mestinya, energi pemimpin dan rakyat bangsa ini, dimanfaatkan untuk memikirkannya. Ketimbang sekadar menguras energi, untuk bisik-bisik masalah aib dan sahwat para pemimpin.

Read More......

Ketawa ala PANTAU

Ini, cara Pantau membuat peserta kursus Jurnalistik Sastrawi XII bisa terbahak-bahak. Satu, dua, tiga! Kaki kanan diangkat tinggi-tingga. Saya yang sulit senyum, tiba-tiba terkekeh-kekeh. Demikian pula teman-teman yang lain. Mengesankan. Tapi jika pijakan tak seimbang, badan bisa-bisa terjengkang.

Berikut data teman-teman yang jadi korban "Ketawa ala Pantau", dicopy dari dapurnya Mas Andreas Harsono:

Aditya Heru Wardhana, saat ini bekerja sebagai video journalist di Trans TV sekaligus aktif di Aliansi Jurnalis Independen cabang Jakarta. Ketika training broadcaster dua tahun lalu, ia mendapat tugas membaca naskah berjudul "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan" karya Alfian Hamzah. Sejak itu timbul niat ingin menulis seperti itu, yang elok dan memikat. Sejak kuliah sudah asyik membaca tulisan-tulisan di majalah Pantau. Mengikuti training jurnalisme sejak tahun 2002.

Adriana Sri Adhiati, saat ini bekerja untuk Down to Earth sebagai researcher, campaigner and websiter co-administrator (part-time) di London. Sejak tahun 2005 selalu mengkampanyekan isu-isu yang berhubungan dengan agrarian reform, policy reform in natural management and ecological justice in Indonesia.

Asep Mohammad BS, sejak tahun 2000 bergabung dengan majalah Swa sebagai wartawan. Pengalaman menulis sejak April 1999 ketika menjadi Kepala Publikasi dan Dokumentasi di organisasi non pemerintah Pusat Ilmu dan Kajian Perbukuan. Artikelnya sering dimuat diberbagai media masa seperti harian Pikiran Rakyat, Suara Karya, Galamedia, Suara Publik dan Risalah.

Edy Purnomo, setelah lulus dari sastra Universitas Indonesia tahun 1991, Edy kemudian mulai bekerja di majalah Manajemen Produktivitas hingga 1993. Tahun 1993-2000 bekerja pada harian Bisnis Indonesia, harian Indonesia Shangbao tahun 2001-2002. Sejak tahun 2002 sampai sekarang bekerja di harian Investor Daily.

Emmy Kuswandari, bergabung di harian sore Sinar Harapan sejak 2001. Semasa kuliah sudah akrab dengan jurnalistik karena mengambil jurusan jurnalistik dan ikut andil pada majalah kampus di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Emmy tercatat sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen, Coordinator for Gender Imago Dei Studi, anggota Gerakan Antikekerasan terhadap Perempuan Indonesia. Mendapat "Rule of Law and Independence Press Fellowship in Massachussets" di dekat Boston pada 2000.

Endah Imawati, bekerja di media sejak tahun 1994 di tabloid anak-anak Hoplaa. Baru tahun 2000 menulis untuk harian Surya Surabaya (masih dalam satu grup). Kebanyakan dia bercerita tentang keluarga, remaja, sedikit gaya hidup, perjalan, dan feature. Dia mengatakan tak pernah menulis tulisan yang berat. Karya yang dihasilkannya antara lain kumpulan cerita anak, novel remaja dan cerita bersambung.

Frans Obon, sejak 1994 bekerja di mingguan Dian. Bergabung dengan harian Flores Pos sejak didirikan tahun 1999 oleh Yayasan Dian dan menjabat sebagai Manajer Liputan sampai 2003. Sejak 2003 sampai sekarang menjadi Manajer Produksi (Pracetak). Secara rutin dia menulis untuk Bentara (Tajuk Flores Pos). Selain menjadi wartawan, Frans juga mengajar di Universitas Flores di Ende.

Frans S. Imung, mulai mengenal dunia jurnalistik pada awal 1997. Pertama menjadi wartawan pada majalah ekonomi, dengan fokus pasar modal, Uang & Efek (almarhum). Selanjutnya ikut membidani lahirnya majalah Investor pada masa krisis tahun 1998. Saat ini sebagai editor di majalah Investor.

Hillarius U Gani, pernah menjadi reporter Lampung Post sebelum akhirnya bergabung dengan Media Indonesia tahun 2001 sampai sekarang. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia pernah mengikuti diklat jurnalistik yang diadakan Media Indonesia (2001), pelatihan jurnalistik pemula oleh LP3Y Jogjakarta tahun 2002 dan Jurnalistik oleh UNDP di Bogor.

Lisa Suroso, saat ini menjabat sebagai redaktur majalah Suara Baru. Menulis untuk media sejak Desember 2004. Dia juga pengurus pusat Perhimpunan Indonesia Tionghoa bagian humas. Dia banyak terlibat dalam kegiatan sosial organisasinya dalam bencana alam di Aceh dan Flores.

Rozzana Ahmad Rony, panggilannya Nana, mengetahui kursus ini dari temannya, Alexander Mering, redaktur harian Borneo Tribune. Ia merupakan satu-satunya peserta dari Malaysia. Sejak tahun 2006, dia bekerja sebagai journalist di Utusan Sarawak, sebelumnya tahun 2003-2006 bergabung di Sarawak Tribune. Kegiatan lainnya adalah menjadi anggota Kuching Journalists Association dan anggota Sarawak Women for Women Society.

Said Abdullah Dahlawi, mulai menulis secara profesional sejak menjadi wartawan di harian Sijori Mandiri, Batam April 2005. Sejak mahasiswa suka mengirimkan artikel yang diterbitkan Radar Mojokerto dari Kelompok Jawa Pos di Jombang, Jawa Timur dan sering diminta untuk mengisi artikel di bulletin Motive yang dikelola secara independen oleh mahasiswa.

Stefanus Akim, merupakan salah satu wartawan Equator dari Kelompok Jawa Pos, yang keluar kemudian mendirikan harian Borneo Tribune di Pontianak. Borneo Tribune sendiri mulai launching tanggal 19 Mei 2007. Sejak duduk di bangku SMA, Akim sudah bergelut dibidang jurnalistik sebagai pemimpin redaksi majalah Sidus, dilanjutkan ketika kuliah aktif sebagai anggota dan pengurus Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura di Pontianak.

Sunaryo Adhiatmoko, saya sendiri.

Yayan Ahdiat, sejak 1989 menulis di Suara Pembaruan, Pelita, Jayakarta, Berita Buana, Suara Karya, Republika dan Media Indonesia. Tahun 1993-1998 bergabung di Majalah VISTA-TV, kemudian menjadi redaktur majalah Sportif tahun 1998-2000, redaktur Lippostar.com tahun 2000-2002. Tahun 2002 sampai sekarang menjadi redaktur pelaksana View Magazine.

Yuyun Wahyuningrum, mahasiswa penerima beasiswa di Universitas Mahidol, Thailand mengambil jurusan Human Rights and Social Development. Saat ini sedang mengerjakan tesisnya di Jakarta dan tinggal bersama ibunya di daerah Kalibata. Telah bekerja di isu-isu sosial yang berkenaan dengan gender, hak azasi manusia, pembangunan, perempuan dan anak sejak tahun 1998. Yuyun tidak pernah menulis untuk media, kebanyakan dia menulis untuk esai akademis di jurnal bukan di media massa.

Read More......

Mematahkan Gengsi Melawan Kemiskinan

Pada 1989, Anggoro Aji, belum pernah membaca buku Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran. Buku yang sarat dengan amunisi, untuk menggebrak masa depan pendidikan rakyat Jepang. Pada tahun 1882, buku ini terjual 600.000 naskah.

Di antara pesan penting yang ada di dalam buku itu, menyatakan: Manusia tidak dilahirkan mulia atau hina, kaya atau miskin, tetapi dilahirkan sama dengan yang lain. Siapa yang gigih belajar dan menguasai ilmu
dengan baik akan menjadi mulia dan kaya, tetapi mereka yang jail akan menjadi papa dan hina.

Anggoro Aji, bocah gunung yang lahir terpanggang paceklik pada 1977, di pedesaan lereng pegunungan Abimanyu. Sebuah desa yang tandus dan kering, di selatan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Pada 1989, ia turun gunung untuk melanjutkan sekolah ke bangku SMP, di pusat kota. Sendirian.


Dalam kurun tiga tahun, ia me
nyiasati hidup dan menyelesaikan sekolahnya dengan kerja di rumah seorang petani cukup mampu di kota itu. Mencangkul, mencari kayu bakar, dan kerja kasar lainnya, dilakoni dalam umur belasan tahun. Cucuran peluh bocah itu pun, mengantarkannya sampai lulus SMP.

Anggoro Aji, dengan bangga kembali ke kampungnya di lereng Abimanyu. Kedua orang tuanya, tak mampu menepis haru. Anggoro Aji, si bocah hilang telah kembali. Tetapi para tetangganya mencibir, “Kalau derajatnya orang miskin gak perlu ngoyo (nekat)”. Telinga bocah itupun memerah. Seharian, ia menangis di pangkuan ibunya.


Beberapa hari di kampung, Anggoro Aji diusik gelisah. Kegigihannya untuk sekolah tak lagi terbendung. Ia makin tak tahan melihat kemiskinan keluarganya yang akut.


“Bapak, Ibu, ijinkan aku menuntut ilmu. Aku mau merantau ke kota, aku ingin membuat bapak dan ibu bangga”, pinta Anggoro Aji memelas.


Untuk kedua kalinya, bocah itu meninggalkan tanah kelahirannya. Tak cukup bekal yang ia bawa, kecuali selembar ijazah. Surabaya, kota yang padat dan panas menjadi tujuannya. Enam jam naik bus, ditempuh dari daerah asalnya. Belum tahu, kemana ia mau singgah dan menetap. Anggoro Aji, mulai mengetuk pintu di perumahan-perumahan elit. Ia menawarkan diri, untuk bekerja sembari menunjukkan ijazahnya.


“Saya mau kerja apa saja, asal saya bisa sekolah”, Anggoro Aji menawarkan diri.
Dalam ingatannya, pada pintu rumah ke-29 lamarannya diterima. Ia mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sejak pukul empat pagi. Hingga ia dapat lulus SMA negeri di kota itu. Sayang, ia tak sempat membagi kebahagiaan dengan ayahnya. Saat pulang kampung ia hadapi kenyataan, ayahnya telah tiada. Anggoro Ajipun melanjutkan pengembaraannya sampai Jakarta. Kuliah, kerja, dan menikah.

Patahkan Gengsi

Senin lalu, saat tengah bercengkerama dengan istrinya, Anggoro Aji kedatangan seorang anak gadis. Anak itu datang ke rumahnya, di bilangan Depok untuk minta pekerjaan. Menurutnya, anak itu sedang butuh biaya sekolah. Ia mau jadi pembantu dan kerja halal lainnya, agar sekolahnya tidak putus.

“Saya terharu. Teringat masa lalu. Dia anak yang hebat, karena di Jakarta banyak orang mendewakan gengsi, tetapi dia mampu mematahkan gengsi. Tidak semua orang miskin mampu membunuh gengsinya. Mereka lebih suka ambil jalan pintas, korupsi atau merampok. Hanya untuk menutupi malu miskin itu”, kata bapak dua anak yang kini jadi pekerja sosial.

Hidup dalam jerat kemiskinan, menurut Anggoro Aji, yang pertama harus dimatikan adalah gengsi. Banyak anak putus sekolah, karena ketiadaan biaya. Tetapi mereka kerap menyerah oleh keadaan. Malu, jika tidak punya standar hidup setara dengan teman-teman sekolahnya yang mampu.

“Tak perlu malu jadi kuli, jadi pembantu, buruh, jika ingin hidup berubah. Banyak orang besar lahir dari kemiskinan. Tetapi mereka mencapai dengan perjuangan tanpa gengsi. Percayalah, tiap bulir keringat kita yang jatuh, Allah telah memberi nilai di dalamnya”, pesannya.

Anggoro Aji meyakini, jika anak muda kita lebih gede gengsi, bangsa ini tak akan pernah maju. Anak-anak muda kita perlu diberi teladan kebangkitan, layaknya Jepang. Negeri matahari terbit itu, memberi banyak inspirasi untuk generasinya bangkit dari Perang Dunia II. Dunia dibuat terbelalak. Bagaimana sebuah bangsa yang luluhlantak oleh bom atom dan kalah dalam Perang Dunia II, mampu menyalip peradaban Barat dalam berbagai bidang.

Profesor Ezra Vogel dari Harvard University, mengatakan, bahwa kejayaan Jepang Terjadi berkat kepekaan pemimpin, institusi, dan rakyat Jepang terhadap ilmu dan informasi serta kesungguhan mereka, menghimpun dan menggunakan ilmu untuk kehidupan mereka.

Ketika sedang berselancar di ruang maya, Anggoro Aji menemukan sebuah artikel yang ditulis Jaahid Nafsak berjudul Asas Kebangkitan Peradaban. Artikel itu, meresensi buku Prof. Dr. Wan Mohd. Nor Wan Daud, seorang guru besar di International Institut of Islamic Thought and Civilization—International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), yang memaparkan tentang budaya ilmu dan kebangkitan bangsa Jepang.

Diceritakan, bagaimana Jepang bangkit. Jepang telah menempatkan ilmu dalam posisi penting sejak Zaman Meiji (1860-an-1880-an). Pada akhir 1888, dikatakan, terdapat sekitar 30.000 pelajar yang belajar di 90 buah sekolah swasta di Tokyo. Sekitar 80 persennya berasal dari luar kota. Pelajar miskin diberi beasiswa. Sebagian mereka bekerja paroh waktu sebagai pembantu rumah tangga.

Namun, mereka bangga dan memegang slogan: “Jangan menghina kami, kelak kami mungkin menjadi menteri!” Para pelajar disajikan kisah-kisah kejayaan individu di Barat dan Timur. Salah satunya, buku Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran.

Sebagai potret orang yang pernah mengalami saat sulit menempuh pendidikan, Anggoro Aji merasakan, aroma pendidikan kita hanya berkutat pada mahalnya biaya sekolah. Anak-anak muda kita tak diajarkan ketangguhan, layaknya anak-anak kurang mampu berjuang untuk sekolah. Anak-anak muda kita, makin terbawa ke ranah dunia hiburan, ketimbang ditarik ke area perjuangan memajukan bangsa. Pergaulan bebas lebih cepat populer, ketimbang penguasaan terhadap sain dan teknologi.

Dalam pengalaman Anggoro Aji, kemiskinan tak boleh membuat hidup ciut dan takut. Kemiskinan harus dilawan. Dengan tekad dan semangat. Sebagaimana seorang pemuda Jepang bernama Kinjiro Ninomiya, yang hidup pada awal abad ke-20. Kegigihannya dalam memburu ilmu, menjadi inspirasi masyarakat Jepang. Kegigihannya terukir dalam puisi Jepang yang melegenda:

Pada awal pagi

Dia mendaki gunung mencari kayu api

Sehingga larut malam

Dia menganyam selipar (jerami padi)

Sambil berjalan

Dia tidak pernah berhenti membaca.

Read More......

Thursday, July 19, 2007

Korea Selatan dan Gamawan Fauzi

Tadi malam, atau mungkin hari ini, Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi, sedang memenuhi janjinya. Mentraktir seorang tamu, pengusaha kertas dari Korea Selatan. Gamawan kalah bertaruh atas pertandingan sepak bola, antara Indonesia versus Korea Selatan yang berakhir 1 – 0, untuk kemenangan Korea Selatan. Rabu kemarin.

“Kalau Indonesia menang, Anda traktir saya. Kalau Korea yang menang, Anda yang saya traktir”, tantang Gamawan. Hasilnya, sebagaimana ungkapan mantan Bupati Solok itu, bangsa kita harus banyak belajar pada Korea Selatan.

Gamawa Fauzi, sedang terkagum-kagum dengan Korea Selatan. Kunjungannya ke negeri gingseng beberapa waktu lalu, telah membuka cakrawala bagaimana kemajuan sebuah bangsa bisa dicapai dengan cepat. Ia mengaku, sedang mengorek banyak resep, dari pengusaha Pabrik Morin Paper Korea Selatan itu.

Pabrik Morin Paper, mewakili Korea Selatan menunjuk Sumatera Barat sebagai pilot project Hutan Tanaman Industri. Luas lahan yang disediakan 70 ribu hektar. Meliputi daerah luar kawasan hutan taman nasional Siberut dan arah selatan Kepulauan Mentawai. Investasi yang direncanakan bisa mencapai Rp 300 triliun.

“Saya akan belajar lagi pada dia. Di mana kunci kejayaan Korea dicapai. Saya akan menerapkan untuk masyarakat Minang ini”, tandasnya. Tersirat kekaguman dari wajah lelaki berkumis tebal itu.

Korea Selatan, menurut Gamawan, melalui kondisi sulit dengan perjuangan hebat. Penjajahan 35 tahun oleh bangsa Jepang, membuat lingkungan hidup rusak berat. Kayu-kayu hutan ditebang habis oleh Jepang. Pada 1960, pendapatan perkapita Indonesia sama dengan Korea. Kini, pendapatan bangsa itu melompat amat jauh dari Indonesia.

Sebelum perang dunia kedua, Korea tak dikenal dalam pentas dunia. Korea hanya sebuah negara pertanian yang miskin. Perang saudara juga telah meremukkan semua sendi kehidupan warga Korea. Sampai terbelah menjadi Korea Selatan dan Korea Utara. Miskin dan sengsara hingga titik nadir.

Tetapi, bangsa Korea Selatan bukan negara yang dihuni masyarakat yang selalu maingke ingke. Istilah Minang, dalam bahasa Gamawan yang berarti gemar merecoki terus menerus, atau banyak bertingkah. Mereka bangsa yang padu, dalam memompa tekad dan semangat untuk bangkit berjaya. Tidak sekadar slogan, tetapi diterapkan dalam nafas kehidupan sehari-hari.

“Pada umumnya, mereka setiap hari bekerja selama 16 jam. Mereka malu pulang terlalu cepat, karena tidak mau dianggap sebagai orang yang tidak berguna”, terang Gamawan.

Buah dari kegigihan ini, ditandai dengan kebangkitan pendidikan Korea Selatan yang dipuji sebagai salah satu negara yang angka melek hurufnya tertinggi di dunia. Ini menjadi fakta, bahwa orang Korea Selatan yang berpendidikan, menjadi modal utama percepatan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai negara itu, selama tiga dekade silam.

“Dan itu, tanpa demokrasi”, sentil Gamawan sembari mesem kecut.

Sejak didirikannya Republik Korea tahun 1948, pemerintah mulai menyusun sistem pendidikan modern. Lima tahun kemudian, 1953, pemerintah mewajibkan menyelesaikan sekolah dasar selama enam tahun pada usia antara 6 dan 11 tahun. Jumlah anak yang terdaftar pada tingkat dasar ini mencapai 99,8 persen, dan tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah. Tahun 2001 mulai diterapkan pendidikan wajib pada jenjang sekolah menengah.

Belajar dari Korea Selatan, Gamawan menemukan kunci atas keberhasilan ini. Yakni, spirit dan nilai-nilai kemandirian. Tetapi, ia dihadapkan pada kenyataan yang cukup menyesakkan. Dalam survey yang dilakukan Pemda Sumatera barat 2006, warga Sumbar 74 persen berkeinginan jadi pegawai negeri sipil. Ini, sebuah indikasi yang menurut Gamawan sebagai turunnya nilai-nilai kemandirian dan spirit.

Pegawai negeri, bagi Gamawan bukan pekerjaan yang penuh tantangan. Terutama bagi masyarakat Minang yang punya akar budaya sebagai entrepreneur sejati. Jika pola pikir pekerja malas ini yang dipakai, maka mimpi menjadi mirip Korea Selatan, hanya angan-angan di ruang kosong.

Pentingnya Spirit

Orang Indonesia pandai berdalih. Sindir Gamawan. Mengapa Singapura maju? karena negaranya secuil. Mengapa Korea Selatan hebat? karena wilayahnya kecil. Mengapa Cina jadi raksasa, karena wilayahnya besar. Indonesia? Sulit menjadi bangsa setengah-setengah. Selalu saja dalih itu cerdas untuk berkelit.

Perilaku berdalih dan berkelit itu, yang tidak akan mampu menghapus kemiskinan dan kebodohan. Gamawan benar, dalih wilayah yang juga bermakna modal, kerap dijadikan biang keladi. Padahal, modal yang dimiliki bangsa ini dengan kekayaan alam dan kepulauannya yang luas sudah lebih dari cukup. Tak beralasan, dalih yang lebih cocok disebut sebagai kemalasan itu.

Jika diselami, sesuatu yang telah lama hilang dari bangsa ini sejatinya kepercayaan diri, semangat, dan kebanggaan pada bangsa sendiri. Melihat animo hebat dari pecinta kesebelasan Indonesia, di pentas Piala Asia, tidak bisa dipungkiri banyak orang hatinya bergetar. Tiba-tiba, kita seakan menemukan pemicu sebuah kebangkitan. Hingga, Presiden SBY pun merasa perlu untuk larut dalam nafas heroik di Gelora Bung Karno itu. Sayang, Korea Selatan menghentikan momen penting ini.

Korea Selatan memang layak menang. Ia punya segalanya. Teknik, setrategi, semangat, dan kecintaan pada negaranya. Itu pula yang mampu membungkam gemuruh ribuan suporter di kandang lawan. Ini sebuah pelajaran yang mestinya dipetik bangsa ini. Semua lapisan masyarakat hendaknya berkorban untuk membangun bangsanya. Bukan orang miskin melulu, yang dipaksa sabar narimo, berkorban, dan berjuang. Sementara, pemerintah, wakil rakyat, pengusaha, dan para penikmat bumi Indonesia ini, hidup untuk pribadi dan sanak keluarganya.

Dalam buku Rahasia Bisnis Orang Korea yang ditulis Ann Wan Seng, Orang Korea adalah bangsa yang gigih, tahan serangan, tidak takut diuji dan berani mengambil risiko. Orang Korea percaya tiada jalan yang singkat untuk berjaya. Mereka perlu mengawali dari bawah.

Prinsip ini yang dipegang oleh pengusaha Korea dan menjadi asas kejayaan mereka. Mereka mempunyai cita-cita yang tinggi bukan untuk kepentingan peribadi, tetapi untuk kejayaan bangsa dan martabat negaranya. Kejayaan mereka adalah kejayaan bangsa Korea. Pencapaian mereka adalah pencapaian negaranya.

Bahkan, dalam prinsip orang-orang Korea Selatan yang dipatri sedari kecil, agar selalu berada selangkah di depan. "Ketika orang lain sedang tidur, kamu harus bangun. Ketika orang lain bangun, kamu harus berjalan. Ketika orang lain berjalan, kamu harus berlari. Dan ketika orang lain berlari, kamu harus terbang."

Gamawan terpikat karenanya. Maka, dalam pengantar usai penandatanganan launching Dompet Dhuafa Singgalang (DDS), di Rattan Room Harian singgalang, Rabu (18/7), ia berwasiat bahwa yang terpenting untuk membantu penderitaan dan kemiskinan adalah spirit, layaknya yang dimiliki bangsa Korea Selatan.

“Saya terkesan dengan Dompet Dhuafa Republika, yang membangun lembaga dan menjalankan programnya dengan landasan nilai-nilai, semangat, dan kemandirian. Bukan modal yang jadi masalah di negeri ini, tetapi spirit itulah yang utama”.

Read More......

Bilakah Tangismu Jadi Doa

”Lagi ngurusin cerai di Pengadilan Cilegon mas”. Khairunisa (34), membuka perbincangan. Nafasnya agak tersengal saat membuka pintu kontrakannya. Badannya kurus pucat. Wajahnya, seolah diselimuti kabut tebal masalah yang sarat. Buru-buru, ia mempersilakan duduk lesehan di atas karpet tua warna merah. Di pangkuannya, duduk putri keduanya yang berumur dua tahun, Dwi Mayanda Nuraini.


Anak itu, duduk di pangkuan ibunya dengan lemah. Badannya kurus, rambutnya merah keriting. Seperti kurang gizi. Pada 2006 lalu, Nuraini pernah muntah darah. Dokter tempat berobat bocah itu memvonis, Nuraini mengalami jantung bocor. Jika ingin sembuh, Khairunisa harus menyiapkan Rp 750 ribu untuk setiap kali berobat. Ia terbelalak. Sejak itu, hanya sekali Nuraini dibawa ke dokter. Tak pernah lagi hingga kini. Padahal dokter berpesan, umur dua tahun Nuraini harus menjalani operasi.

Khairunisa, sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan putrinya terus dikejar rasa sesal. Tiap melihat gerak tingkah Nuraini, seakan mencabik-cabik ulu hatinya. Pedih. Makin terasa dirajam batinnya, tatkala tahu derita Nuraini tak hanya jantungnya yang bocor. Anak yang sulit tersenyum itu, ternyata punya kelainan yang sangat mengganggu. Ia tidak memiliki lubang kelamin. Derita yang berlapis-lapis.

Khairunisa punya anak dua. Anak pertama, Dinda (9) terancam tak bisa sekolah di bangku sekolah dasar. Untuk menyiasati hidup, ia ngontrak Rp 175 ribu per bulan, di Lingkungan Serdang RT 04/08, Kota Bumi, Purwakarta, Cilegon, Banten. Dengan modal Rp 2 juta, ruang tamu disulap jadi warung untuk jualan kecil-kecilan. Tetap saja, ia tak sanggup memenuhi kebutuhan hari-hari, diri dan dua naknya. Kontrakan, kerap telat bayar.

”Kalau masih kurang untuk bayar kontrakan, saudara saya minjemin, ntar dibayar kalau sudah ada uang”, katanya lirih.

Dengan derita anaknya, ia tak sanggup mempertahankan bahtera rumah tangga. Suaminya, sudah delapan bulan pergi. Terpikat wanita lain, sampai akhirnya menikah. Sementara ia dan darah dagingnya sendiri tak dinafkahi. Cerai, setidaknya diyakini Khairunisa menanggalkan satu bebannya yang berat. Jikapun dipertahankan akan terus menikam perasaan.

”Dia tidak bertanggung jawab”.

Bahkan, rumah yang dulu ditempati Khairunisa juga sudah dijual untuk membayar utang-utang suaminya. Sudah tidak terukur, pengorbanan harta dan perasaan wanita itu. Ia hanya bisa berandai, jika suaminya tak menjual rumah itu, mungkin bisa dijual saat ini untuk membiayai operasi Nuraini.

Tetapi semua sudah habis. Ludes. Tinggal air mata yang belum kering. Masih mengalir deras sebagai pencurah segala beban. Makin kencang jeritan itu, tatkala ia menatap Nuraini tergeletak lemah. Menangis dan menangislah Khairunisa, agar isakmu menjadi doa untuk anak-anakmu.

Read More......

Friday, July 06, 2007

Teror dari Balik Tanggul


Denyut lemah, korban lumpur Lapindo. Kehidupan yang terenggut monster lumpur, perlahan-lahan, nyata, dekat, dan menyiksa.

Ketika ditanya nama, Ia memperkenalkan namanya, Bu Bambang. Perempuan yang sudah merambat tua itu, tiap sore duduk termenung di tepi tanggul penahan lumpur lapindo. Matanya, menyapu hamparan lumpur yang membentang di hadapannya. Kemudian ia berdiri, tatkala kaki mulai terasa keram. Lalu duduk berjongkok. Berdiri. Duduk lagi. Kali ini dengan menyelonjorkan kaki. Lima belas menit kemudian, kembali berdiri. Posisinya mulai berubah. Perlahan, ia membalikkan badan membelakangi danau lumpur.

Wajah cemas, dibungkus kerudung cokelat terlihat jelas. Dari tanggul setinggi kurang lebih 10 meter, Ia membayangkan, kalau tanggul itu jebol, lumpur akan menelan kehidupan di desanya, Renokenongo. Desa itu, sebagian tersisa, separonya sudah tenggelam. Di antara yang tersisa adalah keluarga dan rumahnya yang sederhana di RT tujuh.

“Rumah saya retak-retak. Kalau malam tidak bisa tidur. Kuatir”, katanya, Sabtu sore lalu.

Sejak lumpur menyembur, ia terus mengawasi pergerakannya. Mulai tanggul satu meter, hingga tingginya melampaui tiang listrik. Matanya, menjadi saksi sebuah kehidupan dan peradaban yang lenyap, pelan-pelan. Kampung-kampung mulai hilang. Gerakan Lumpur yang merayap, terus mendekat dan makin merapat ke tempat tinggalnya. Jarak itu, kini tak lebih dari perjalanan kaki 10 menit.

“Lumpure iku lo rek, tambah-tambah terus, gak mandeg-madeg. Tanggule yo tambah duwur”, badannya kembali menghadap danau lumpur. (Lumpur bertambah terus, tidak mau berhenti. Tanggulnya juga makin tinggi).

Pandangannya, berselancar menyusuri garis tanggul yang mengular , membelah Renokenongo, Kedungbendo, dan di barat, Siring, Jatirejo, Besuki.

Tanggul yang melintasi Kedungbendo dan Renokenongo, dijadikan jalur alternatif yang menghubungkan Surabaya – Gempol. Jalan pintas itu, selalu padat pada pagi dan siang hari. Terutama saat hari libur. Warga setempat, kebanyakan korban lumpur memanfaatkan kepadatan itu dengan meminta sumbangan. Jarak tiap titik cukup rapat. Tak kurang dari 300 meter. Jika tiap titik meminta, “agak maksa” diberi Rp 1000, sampai lepas jalur tikus, bisa menghabiskan Rp 20 ribu. Entah, siapa yang mengijinkan tanggul penahan lumpur itu jadi jalan raya. Padahal rawan jebol.

Di dalam danau lumpur lapindo, setahun lalu, denyut kehidupan mengisi hari-hari. Terdapat 31 pabrik yang menyedot ribuan tenaga kerja. Sebagian masyarakat bekerja sebagai wiraswasta. Pengrajin kulit, bahkan telah menempatkan ekonomi masyarakat Porong cukup sejahtera. Mendadak, harmoni tercerai berai. Berganti endapan lumpur coklat pekat, hampir hitam dengan bau menyengat. Setajam bau kaos kaki yang sudah seminggu dipakai.

“Podo setres wis kabeh. Lho, yak opo, koyo ngene susahe. Lek gak kuat-kuat yo iso iso geblak”, keluh Bu Bambang, yang betah berjam-jam duduk di tanggul. (semua setres, bagaimana seperti ini. Kalu tidak tahan bisa jatuh terlentang).

“Omah podo ilang, sawah kerendem, pabrik tutup, hancur wis urip”. (rumah semua hilang, sawah terendam, pabrik tutup, hidup hancur).

Matanya masih tertuju pada endapan lumpur di depannya. Tiap duduk di tanggul, ia mengaku berdoa. Setahun sudah, ia dilecut takut, makan tak enak, tidurpun tak tenang. Kejadian tanggul jebol yang kerap terulang, menjadi teror menegangkan. Warga yang tinggal di sekitar danau lumpur, juga mengalami kecemasan yang sama.

Tidak hanya Bu Bambang yang rutin mengunjungi tanggul. Warga lain, yang rumahnya dalam posisi terancam, juga kerap menyambangi tanggul. Mereka hendak tahu debit Lumpur yang terus bertambah.

Lingkar tanggul, pelan-pelan makin menggunung. Luas penampungan lumpur, hampir menyamai luas danau Maninjau, di Sumatera Barat. Area persawahan di bawah tanggul berubah jadi sawah lumpur. Rerumputan kering, seperti terpanggang. Pepohonan layu, untuk kemudian mati. Tanah yang pernah dilalui Lumpur panas, menjadi retak-retak setelah kering. Air sumur warga di sekitar tanggul terasa asin dan bau.

“Tak ada yang berani lagi minum air sumur. Kalau dibuat mandi kulit jadi gatel”, kata Mondro, sambil membuktikan ucapannya dengan menjilat air yang diambil dari dalam sumurnya.

Mondro, salah seorang warga Renokenongo yang mengungsi di Pasar Baru, Porong. Dinding rumahnya retak-retak. Lantainya lembab. Posisi rumah dengan tanggul kurang lebih 500 meter. Sejak lumpur lapindo membanjiri sawahnya, Mondro berhenti jadi petani.

Di pengungsian, ia banting setir jadi tukang pijat dadakan. Dengan percaya diri, Mondro pasang iklan di secarik kertas. Ia menempelnya pada dinding tiang los pasar tempatnya mengungsi. “Pak Mondro, Tukang Pijat”.

****

“Tiap saya mengunjunginya, dia seperti menangis”, Sudarto mengenang.

Sudarto seperti berdialog dengan manusia, tiap menengok kampungnya di Renokenongo yang tenggelam. Tak ada suara. Tapi ia seolah mendengar suara tangisan yang menyayat. Lelaki berkacamata minus itupun tak tahan. Semula, matanya hanya berkaca-kaca, setelah larut, Sudarto bisa nangis terguguk guguk.

“Dulu susah payah kamu buat aku. Kamu bersihkan setiap hari. Setiap lebaran kamu ganti warnaku menjadi indah dan cerah. Sekarang, aku kamu tinggalkan. Kamu tidak berbuat apa-apa, saat lumpur yang mendidih menelanku. Mengapa kamu tega sekali”. Sudarto merangkai dialog.

Lelaki itu berumur 55 tahun. Ia salah satu dari tim 10, yang mewakili warga Renokenongo menuntut haknya pada Lapindo. Kulit mukanya mulai keriput. Matanya cekung. Postur badannya kurus kering. Anaknya empat. Anak pertama baru menikah, bareng jebolnya tanggul lumpur lapindo, 22 November 2006. Kini ikut jadi pengungsi. Anak kedua dan ketiga, putus sekolah STM gara-gara lumpur. Anak terkecil, berumur sembilan bulan. Bayi yang ikut mengungsi di Pasar baru porong itu terlihat sehat. Meski hanya disuplai air tajin.

Sejak kali pertama menikah, Sudarto hidup susah. Rumah belum punya. Numpang di rumah mertua, lama kelamaan tak jenak.

“Saya ngojek, istri kerja di pabrik. Tapi pabriknya sudah tenggelam”, katanya sembari membetulkan kacamata. Motor yang biasa dipakai ngojek, motor tua produksi tahun 1970-an.

Sejenak ia diam, kemudian nafasnya dihempaskan. Seakan keran air yang terbuka, Sudarto mulai mengucurkan drama hidup dan perjuangannya.

“Motor yang saya pakai bukan punya sendiri. Milik juragan, setorannya Rp 20 ribu per hari. Saya mendidik keluarga untuk hemat jika ingin punya rumah. Saya tiap hari selalu menabung, walapun hanya seribu”.

Lebih dari lima tahun Sudarto menekuni pekerjaannya. Tempat tinggalnya yang ada di kawasan Industri membuatnya cukup mudah cari penumpang. Jalan desa yang menghubungkan desa Renokenongo sampai Siring, jalur yang ia lalui tiap hari.

Jalan itu sudah tak berbekas lagi. Tertutup danau lumpur. Sepanjang jalan itu, rezeki seperti tinggal memungut. Selain Sudarto, banyak buruh pabrik yang lalu lalang, pagi, siang, sore, dan malam hari melalui jalan itu. Bengkel dan pertokoan juga hilang tanpa bekas. Sepanjang jalan kenangan, yang menghubungkan orang-orang kecil merangkai hidup. Tak ada lagi yang tercecer kini. Kecuali kisah pahit.

“Jalan yang melintas Renokenongo sampai Siring, ibarat kantor bagi saya. Tak menduga kalau akan lenyap begitu saja. Seperti mimpi, tapi nyata. Mengapa …”, kalimatnya berhenti.

Dari kelopak mata cekung lelaki itu, terlihat basah. Kepalanya menunduk sebentar. Lalu mendongak lagi dengan sorot mata sayu. Melukiskan betapa pedih hatinya.

Sudarto pekerja keras. Keuletannya mengojek perlahan-lahan membuahkan hasil. Ia mulai punya lahan 140 meter persegi. Di sela istirahat ngojek, ia mulai mengumpulkan bambu untuk bahan rumah. Ia mulai merangkai sedikit demi sedikit. Ibarat rayap yang membangun istananya. Pelan tapi pasti.

“Setelah bambu dan gedek terkumpul, saya pergi ke kebun tebu. Saya cari daun tebu kering yang bagus-bagus. Saya kumpulkan untuk dibawa pulang. Daun itu saya anyam untuk atap rumah”, kenangnya.

Kali ini dari bibir hitam Sudarto tersungging senyum. Sedikit sekali, ia melukiskan, betapa bahagia melihat rumahnya yang berdindinding gedek dan beratap daun tebu berdiri. Sebuah keluarga kecil yang bahagia, mulai ia tata di istana beratap daun tebu itu. Lama lama, senyum Sudarto berubah makna. Senyumnya jadi getir.

Seiring hari, Sudarto makin terpacu bekerja keras. Rumah beratap daun tebu itu mulai ia bongkar. Dengan penghasilan ngojek dan gaji buruh pabrik istrinya, rumah permanen mulai dibangun. Atap daun tebu hilang, berganti genteng. Rumah Sudarto telah menjadi rumah sesungguhnya. Setara dengan rumah warga-warga lain di Renokenongo.

Amblesnya tanggul penahan Lumpur, yang diiringi ledakan hebat pipa gas Pertamina, 22 November 2006, merampas buah perjuangan Sudarto dengan cepat. Hari itu, Rabu, pukul delapan malam. Ledakan mengerikan, menjadi monster yang mulai melalap kehidupan di sekitar tanggul. Lumpur panas yang mendidih, seperti lahar merapi yang siap melumat, tiap benda yang dilewatinya.

Mulanya, perumahan Tanggul Angin Sejahtera yang kena. Permukiman itu kini hilang. Menyebabkan pengungsian besar-besaran di Pasar Baru, Porong. Hanya beberapa atap genteng rumah tingkat yang masih tampak. Saat ini mereka sudah tidak di pengungsian lagi. Mereka memilih mengontrak rumah. Belakangan, perjuangan warga pun cenderung sendiri-sendiri. Korban tidak padu dan bersatu.

Lidah Lumpur panas itupun mulai menjilat ke pekarangan rumah Sudarto. Hari itu, acara pernikahan anak pertamanya baru saja usai. Pengantin baru belum sempat istirahat. Apalagi masuk kamar.

“Kaki saya lemas. Hati saya mulai teriris-iris. Saya menangis sambil menyelamatkan barang-barang”, Sudarto berkaca-kaca.

“Saya seperti ikut merasakan sakit di sekujur tubuh, waktu lumpur panas mulai merendam rumah. Dari jauh saya lihat rumah seperti menjerit-jerit minta tolong. Saya dan istri hanya bisa diam. Rumah itu seperti punya tangan, ingin saya tarik. Kalau bisa seperti ingin ikut mengungsi”, Sudarto tertunduk. Suara isak menyumbat lobang hidungnya. Tangisnya pecah.

Sesaat kemudian ia kembali mendongak.

“Anak saya baru saja jadi penganten baru. Mereka terpaksa ikut mengungsi”, suaranya berat menahan perasaan yang ingin meledak.

“Mereka, tidur beralas terpal tanpa dinding. Saya merasa bersalah hari itu”, akunya.

“Kehidupan yang kami rintis sudah habis. Motor sudah ditarik juragan, istri berhenti kerja, anak-anak putus sekolah. Masya Allah, saya kadang berharap ini hanya mimpi. Tapi kalau saya cubit kulit, rasanya juga sakit. Ternyata ini bear-benar nyata…”, suaranya lirih.

Satu minggu dua kali, Sudarto kadang keluar dari pengungsian. Ia menengok istananya yang tinggal terlihat atap. Dia selalu berdiri, memandangai apa yang bertahun-tahun dibangun, dengan dekat. Beda dengan istrinya yang kini trauma. Tak berani untuk melihat kampungnya lagi.

“Maafkan saya, tidak berdaya menolongmu. Apa yang kamu rasakan juga saya rasakan. Saya dengar kamu menangis seperti juga saya. Kita sama-sama tidak berdaya”, pesan Sudarto, tiap kali beranjak pergi meninggalkan rumahnya untuk kembali lagi ke pengungsian.

****

Udara panas, menyengat suasana pengungsian, di Pasar Baru, Porong. Para pengungsi yang datang dari desa Renokenongo itu, menempati los-los pasar. Mereka para pengungsi yang bersatu dalam Paguyuban Rakyat Renokenongo Menolak Kontrak (PAGAR REKONTRAK). Mereka, pengungsi gelombang kedua pasca amblesnya tanggul yang diiringi ledakan hebat pipa gas pertamina, 22 November 2006.

Saat ini, terdapat lebih kurang 829 KK yang masih bertahan di pasar itu. Dari jumlah itu ada sebagian para pengungsi yang rumahnya dalam kondisi terancam, dan tak aman dari tanggul lumpur. Juga ada yang sudah terendam lumpur. Adapun, para korban lumpur yang berasal dari desa Kedungbendo, Siring, Jatirejo, Mindi, Besuki, Penjarakan, Kedungcangkring dan warga Perumtas sudah lama keluar dari pengungsian. Mereka menerima dana kontrak.

Di depan posko utama, terbentang sepanduk yang melintang di atas jalan yang menghubungkan los-los pasar. Tulisan warna merah darah di sepanduk itu berbunyi:

“TOLONG JANGAN DIGANGGU! INI TEMPAT PERTAHANAN KAMI YANG TERAKHIR TANAH, RUMAH DAN HARGA DIRI TELAH TERAMPAS! TINGGAL NYAWA YANG TERSISA SEBAGAI TARUHAN!”.

Sepanduk yang baru terpasang itu, sepertinya mengantisipasi berita yang beredar, bahwa pemerintah akan segera mengosongkan pasar itu dari pengungsian, bulan Juli ini. Kabar ini, tak pelak menyulut suasana pengungsian makin terasa panas.

“Kapan saja, kami ini siap pindah. Tapi ya bayar dulu ganti rugi rumah kami. Kan gampang saja sih”, tandas Mamun salah seorang guru ngaji yang mendirikan TPA di dalam pasar itu. Kesal.

“Kalau diusir paksa, kami ini sudah tak punya apa-apa. Silakan saja, paling tinggal caroknya!” sahut salah seorang pengungsi yang bertelanjang dada. Kumisnya tebal dan raup mukanya keras. Galak, kata anak-anak.

Tak hanya sepanduk. Dinding posko juga dipenuhi berbagai tulisan. “MANA JANJIMU WAHAI PEMIMPIN2 BANGSA JANGAN HANYA BISA MENANGIS !”. Senada dengan itu, “MENANGIS MEMANG DIBUTUHKAN, TAPI YG LEBIH PENTING DATANG KE PENGUNGSIAN, BIAR TAHU LANGSUNG KENYATAANNYA TIDAK HANYA KATANYA”.

Tulisan ini, seperti luapan kekecewaan warga Renokenongo, atas ketidakhadiran presiden SBY. Beberapa waktu lalu, SBY, mencoba menunjukkan empatinya, dengan memutuskan berkantor beberapa hari di Sidoarjo. Terakhir, SBY gagal hadir ke lokasi pengungsian maupun tanggul. Padahal, pihak unit kerja penanganan sosial lumpur sidoarjo sudah merapikan area tanggul, yang rencananya akan didatangi SBY.

Di tanggul setinggi 10 meter, yang berada di pinggir jalan tol itu, dilengkapi menara pengawas. Lima meter di bawah tanggul, disiapkan drum yang dilas menjadi rakit. Satu rakit, tersusun atas empat drum. Semua ada lima. Warna cat putih metalik masih terlihat baru. Seorang pengawas tanggul mengatakan, rakit drum itu dibuat untuk menyambut SBY.

“Rakitnya boleh dinaiki di lumpur pak”, tanya Ratno, seorang pengunjung asal Sukodono, penasaran. Dia kira rakit itu sarana untuk wisata lumpur.

“Kalau mau tenggelam boleh”, kelakar sang penjaga menimpali.

“Lho, terus untuk apa?” Ratno terkekeh.

“Ini dibuat untuk persiapan waktu SBY mau datang ke sini. Tujuannya untuk keamanan, kayak sampean gak tahu saja mas. Namanya juga sandiwara”.

Ratno, makin penasaran. “Kalau waktu itu SBY jadi kesini, terus benar-benar mau nyoba rakit ini di atas Lumpur, gimana pak”.

Penjaga tanggul keningnya berkerut. Dia seperti mencari jawaban yang tepat.

“Ya, silakan saja. Paling klelep (tenggelam). Malah bagus, biar beliau tahu kalau dikadali anak buahnya, hehe…”, jawab penjaga tanggul itu bercanda.

Ketidakhadiran SBY di lokasi pengungsian, menjadi perbincangan hangat di antara para korban. Terutama ibu-ibu penggemar SBY. Mereka menduga, SBY takut jika dikeroyok warga.

Gak kesini takut dikeroyok warga beke (barangkali) mas”, kata Suryani.

“Kami ini kan rakyat kecil, masak sih berani ngroyok presiden. Padahal kalo kemarin datang, saya sudah mau cium tangannya lho mas. Apalagi wonge ganteng. Eee… malah wedi gak teko (takut tidak datang)”.

Suryani, seorang ibu yang memiliki dua anak. Di pengungsian, sudah enam bulan. Seperti para istri yang lain, Suryani juga mengalami kesulitan ekonomi. Para suami kehilangan pekerjaan. Hidup di pengungsian, dengan mengandalkan logistik nasi bungkus.

Pengungsi di pasar ini tidak mendapat Jadup (jatah hidup), seperti yang diperoleh korban lumpur yang meneriman dana kontrak. Mereka yang ngontrak mendapatkan jadup Rp 300 ribu setiap bulan, per kepala selama enam bulan.

Tanpa penghasilan dan lapangan kerja, membuat hidup di pengungsian makin sulit. Para Ibu harus kreatif. Agar anak-anaknya bisa makan, bisa sekolah, dan bisa jajan. Kreatifitas itu, yang menuntut mayoritas para istri di pengungsian, menjemur sisa nasi bungkus. Setiap keluarga, pasti melakukannya. Nasi yang dijemur itu, setelah kering menjadi karak. Setelah terkumpul satu kaleng, lalu dijual. Pembeli, dua kali seminggu datang ke pengungsian itu. Sekali datang tiga karung karak pasti dapat.

“Satu kaleng dihargai Rp 6000. Itupun, juga seminggu sekali baru dapat, kalau pas ada nasi sisa saja dijemur. Lumayan buat jajan anak. Sehari juga habis, kadang buat nambah ongkos sekolah”, kata Suryani.

“Kadang, aqua gelas yang ada di nasi bungkus gak diminum. Disimpan, dikumpulkan sampai berjumlah 48. Nanti dijual seharga Rp 6000. Pokoknya, apa sajalah yang penting bisa hidup”.

Tak hanya pembeli karak yang mendatangi pengungsi. Para sales perumahan, hampir tiap hari menawarkan brosur perumahan. Dari rumah tipe kuecil, sampai rumah mewah. Para pengungsi itu seakan calon konsumen yang menjanjikan. Mereka dipandang sebagai orang yang bakal mendapatkan uang banyak.

“Nih mas, ada Rp 6000 hasil jual karak. Bisa gak buat DP rumah”, kelakar Suryani pada sales yang menyodorinya brosur.

****

Waktu SBY menangis di Cikeas, Imron tak dapat melupakan peristiwa itu. Ia merasa, presiden telah setulus hati memikirkan nasib korban lumpur lapindo. Imron, salah satu perwakilan warga Kedungbendo, yang ikut rombongan ke rumah presiden bersama MH Ainun Najib (Cak Nun). Sayang, ia tak melihat langsung saat bulir bening jatuh dari kelopak mata SBY.

“Saya tidak ikut bertemu presiden. Hanya perwakilan saja yang diijinkan bertemu. Saya nunggu di luar. Kata teman-teman yang masuk ke dalam, presiden menangis”, kata Ketua RT 7, yang kini ngontrak di Perumtas II ini mengisahkan. Mendengar SBY menangis, Imron merasa lega. Perjuangannya terasa tidak sia-sia.

Imron memimpin 117 KK. Keberadaan mereka terpencar kemana-mana. Ada yang ngontrak di perkampungan, ada pula yang ngontrak di perumahan. Namun, jarak tak membuat persatuan mereka untuk memperjuangkan nasibnya terbelah. Komunikasi dan pertemuan tetap berjalan rutin.

“Kami di fasilitasi Cak Nun untuk perjuangan ini. Tak ada salahnya memberi kesempatan pada pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini”, tandasnya.

Waktu Kedungbendo belum terendam Lumpur, Imron salah seorang yang cukup terpandang di desanya. Selain bekerja sebagai pegawai negeri, ia juga mengelola wira usaha toko sembako.

Kedungbendo, menurut Imron, dihuni oleh masyarakat yang secara ekonomi makmur. Kebanyakan warganya punya usaha kerajinan kulit. Salah satu produsen tas kulit Tanggulangin yang terkenal itu. Warga Kedungbendo juga masyarakat dengan etos kerja tinggi.

Saat Lumpur masih bercampur air, Imron dan keluarganya tetap bertahan. Ia tak ikut segera mengungsi saat itu.

“Mau mengungsi sayang dengan dagangan. Apalagi saat lumpur lapindo terjadi, omzet dagangan meningkat. Kami tetap bertahan”.

Imron, menunjukkan foto-foto toko dan rumahnya sebelum terendam. Besar memang.

“Kami baru meninggalkan rumah pada 13 Desember 2006. Pukul dua pagi. Itu hari yang paling mengerikan sepanjang hidup saya. Sulit melupakannya”, kenangnya.

Hari itu, Rabu jam dua pagi. Suara bergemuruh terdengar sayup di kejauhan. Mirip suara hujan. Sedetik, dua detik, tiga detik, suaranya makin keras. Gemuruh itu terus mendekat, tambah dekat, lalu semua baru tersadar itu bukan suara hujan.

“Lumpur panas!” teriak warga Kedungbendo bersahutan.

Suanana pagi buta itu panik. Semua warga berlarian mengosongkan rumah. Dalam sejam, kampung kosong, berganti lumpur panas yang jadi penguasanya. Imro sendiri termegab-megab, mengungsikan harta bendanya yang lumayan banyak itu, sampai subuh.

Esok hari, Imron melihat desanya seperti dalam mimpi. Ia sulit percaya, kampungnya benar-benar hilang. Setelah penghuni pergi mengungsi, Imron mengajak warganya ronda. Saat itu banyak penjarahan mulai terjadi. Sulit membedakan mana kawan, mana lawan.

Imron mulai merasakan tidak hanya Lumpur yang mereggut rumahnya. Kabel listrik dan spidometernya, yang mula-mula hilang. Lalu merambat pada atap seng penutup teras rumahnya amblas. Besoknya, besi tiang teras sudah tidak ada. Kali ini bukan oleh Lumpur, melainkan tangan jahil manusia. Maling.

“Malingnya benar-benar nekat. Malah saya melihat ada sekelompok orang yang sengaja membawa kerekan untuk mengambil kabel listrik. Pokoknya, banyak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesulitan ini”, keluh Imron.

Tak hanya perilaku biadab para maling yang meresahkan. Para korban Lumpur lapindo ini juga terjepit dari banyak sisi. Ketika para korban menerima dana kontrak, tiba-tiba harga sewa rumah di Sidoarjo, nilainya sama rata dengan jumlah dana kontrak yang diterima. Rp 5,5 juta per dua tahun.

“Hampir semua pemilik rumah, mematok rata harga sewa kontrakan. Kami tak diberi pilihan sama sekali. Kecuali terpaksa menerima”, ungkapan Imron ini, diamini warga korban lumpur lain yang tinggal tak jauh dari blok kontrakannya. Penderitaan bagi para korban, sebaliknya bisnis menggiurkan bagi para pemain yang doyan mencekik orang-orang susah. Kegilaan ini, belum lagi melibatkan para calo yang pandai melipat dan menikung.

Perlakuan ini amat menyakitkan. Tetapi lebih menyedihkan lagi, korban lumpur lapindo ada di persimpangan jalan. Imron dan para korban lumpur lainnya merasa jadi anak tiri. Ketua RT ini masih ingat, tatkala menggalang bantuan kemanusiaan untuk korban tsunami di Aceh. Semua hati manusia rasanya seperti bersatu. Tetapi, korban lumpur lapindo dibiarkan terseok-seok sendiri. Tak ada mobilisasi bantuan kemanusiaan, sebesar Aceh dan Yogyakarta dulu.

“Aceh dan Yogyakarta juga Indonesia, Sidoarjo juga Indonesia. Mengapa kami dianaktirikan. Semua orang diam membisu. Ada apa ini, apa tega kalau melihat kami mati perlahan-lahan”, gugat Imron meradang. Dadanya seperti bergemuruh. Ia diam sesaat.

“Bahkan, dari perbankan juga memperlakukan kami seperti nasabah umumnya. Dulu pernah ada berita, kalau BI mengijinkan penangguhan utang. Nyatanya bunga bank masih berjalan normal. Saya cek utang saya Rp 40 juta, bunganya tak berubah. Pas saya lihat, saya hampir pingsan. Kaget, mau dibayar pakai apa ini”, Imron hampir menangis, bibirnya bergetar.

“Hampir Semua korban lapindo sekarang nganggur. Masih mending yang PNS punya gaji bulanan. Mereka yang buruh dan wiraswasta bagaimana meneruskan kehidupannya. Istri mereka, sekolah anak-anaknya. Kami tinggal punya nyawa saja”. Imron mencurah isi hatinya. Berharap jika suaranya didengar.

Read More......