Friday, April 20, 2007

Tegaknya Kembali MI Giriloyo

“Saya mau jadi ulama,” ujar Haqi Muhammad (10) mantap, “ulama kelas internasional,” lanjut siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah (MI) Giriloyo I, Wukirsari, Imogiri, Bantul. Haqi lantas memamerkan kebolehannya mengoperasikan komputer di laboratorium komputer MI Giriloyo I, Kamis (19/4/07).

Cita-cita besar memang mengembang di dada bocah ndeso itu. Cita-cita yang nyaris sirna ketika gempa 5,9 SR (27/5/06) merubuhkan gedung MI tempatnya menimba ilmu. Rumahnya di dusun Karang Kulon, Imogiri pun porak poranda diguncang gempa. Seperangkat komputer hadiah orangtuanya ikut hancur. “Saya tidak mau bersekolah di tempat lain, pendidikan agamanya kurang. Tapi bagaimana mau melanjutkan sekolah di MI kalau gedungnya roboh?” papar Haqi masygul.

Kini cita-cita mulia bersemi kembali di dada Haqi, membuncah malah. Gedung MI Giriloyo kembali tegak, jauh lebih megah dibanding sebelumnya. Fasilitasnya pun lengkap dengan lab. Komputer, perpustakaan, dan mushola cantik menghias komplek MI Giriloyo yang terdiri atas dua lokal sekolah, MI Giriloyo I dan II. Semua itu berkat kerja keras Dompet Dhuafa yang mengemban amanah dari donatur untuk mengimplementasikan dana bantuan rekonstruksi bidang pendidikan. Kerja keras selama enam bulan, terbayar sudah. Pagi itu MI Giriloyo diresmikan.

Tegaknya kembali MI Giriloyo, menghapus mendung yang memayungi dusun di ujung timur Kabupaten Bantul. “MI Giriloyo satu-satunya sekolah tingkat dasar yang dekat dengan Giriloyo, semua anak-anak sini pasti sekolah di MI, soalnya SD Negeri yang ada lokasinya sangat jauh. Kalau MI tidak mampu tegak kembali, anak-anak mau sekolah di mana?” ujar Agus Basuki (42), salah seorang orangtua murid.

Tak heran, peresmian penggunaan gedung sekolah baru disambut gegap gempita warga Giriloyo. Mereka berduyun-duyun memadati tempat yang disediakan, bahkan meluber di kiri kanan jalan masuk MI. Tiga kelompok hadroh dikerahkan menyambut undangan. Rebana pun bertalu-talu mengiring singiran, shalawat yang didendangkan dengan iringan perkusi.

“Pengen ngliat orang-orang yang sudah membantu menyemai kembali harapan di Giriloyo,” ujar Mbah Semi (72) yang setia berpanas-panas menyambut undangan. “Anak saya lulusan MI, nanti cucu kalau sudah besar juga mau saya sekolahkan di sini,” ujar simbah dengan mata berbinar.

“Pak, boleh ndak komputernya dinyalakan?” tanya Haqi dan kawan-kawan yang bergerombol di lab. komputer. Tak tega melihat antusiasme mereka, relawan Dompet Dhuafa pun mengijinkan komputer dihidupkan. Oops.., tiba-tiba listrik padam. Tak kuat menahan beban. Padahal di podium, sedang dibacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ngapunten (maaf) ustadz.., maklum anak-anak...

1 comment:

Jazir Hamid said...

Assalamu'alaikum>>> Siswa yg menyalakn komputer dulu sekarang sekolah di Gontor.. Silahkan dilacak di sana, apa keahlian dia sekarang... Pasti lebih menakjubkan.
Wassalam