Loading...

Friday, February 01, 2008

Bahaya Dendam Kemiskinan


“Saya nelongso, merasa nista”, kata Soeharto, dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya. Membara api dendam, sakit hati, dan merana yang sangat. Perlakuan kakek ibunya, Notosudiro, yang menurutnya tak adil, masih terekam kuat hingga ia menjadi seorang Presiden. Meski ketika itu umurnya belum genap lima tahun.

Dalam seni memimpin bangsa ini, dari enam presiden Republik Indonesia (Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY), almarhum mantan Presiden Soeharto, adalah yang paling terbuka bicara kemiskinan di masa kecilnya. Bocah ndeso, yang melarat dan hidup terlunta-lunta, dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Hidupnya sungguh nelongso. Sebutan ini, bisa kita maknai sebagai kehidupan paling sengsara dan menderita, baik secara fisik maupun batin.

Meski dalam paripurna perjalanan hidupnya, nelongso tadi dapat ditebus Soeharto dengan terhormat. Jika saja, Notosudiro masih hidup, ia akan terperangah. Melihat cucu buyutnya, dikuburkan di Makam Astana Giribangun, atau Mangadeg, yang dibangun berdekatan dengan makam raja-raja Mataram. Kenistaan Soeharto tertebus.

Perlakuan kepada jenazah Soeharto, bahkan melebihi perlakuan kepada petinggi keraton. Prosesi pemakamannya, disiarkan langsung oleh semua televisi. Jasadnya diantar dengan iringan mobil-mobil mewah. Simbol kekayaan tumpah ruah di jalanan, hingga digenapi jalur udara melalui iring-iringan pesawat Hercules, Fokker dan Boeing. Demikian, prosesi pemakaman Sang Jenderal Besar yang dikenal hidup dalam kesederhanaan itu.

Dendam Kemiskinan

Dengan segala kontroversi yang ditinggalkannya, Soeharto telah menghadap Sang Khaliq dengan tenang. Sebuah pelajaran besar, dapat dipetik dari mendiang anak seorang ulu ulu (penjaga air irigasi) ini. Yakni, pelajaran pada perilaku dan kehidupan, tatkala orang miskin memegang tampuk kekuasaan.

Dalam kehidupan kita, tak sedikit orang yang dendam dengan kemiskinan. Kemiskinan dilihat sebagai monster mengerikan yang harus dibunuh. Bahkan dengan cara apapun. Pertarungan dengan monster kemiskinan ini, melibatkan banyak taktik dan tipu muslihat. Bagi yang rapuh menghadapi serangan monster ini, Iblis amat kuat sebagai pendukung dan pembisik.

Tak heran jika, orang kemudian korupsi. Pejabat main sikat. Pemimpin pun, lupa pada amanahnya sebagai pemimpin rakyat. Seorang pemimpin bisa berbalik, menjadi pemimpin untuk kelanggengan dinasti kekayaan dan keluarganya, agar kemiskinan tak terwarisi turun temurun.

Hidup miskin telah dianggap sebagai aib, bukan dilihat sebagai guru kehidupan. Karena aib, tatkala seorang miskin merangkak kaya, ia malu terciprati kemiskinan orang lain. Standar hidupnya naik, gaya hari-harinya berubah. Tiap aktivitasnya, dipenuhi polah tingkah yang neko-neko.

Di masyarakat, hal demikian selalu hadir dalam rutinitas hidup di desa dan perkotaan. Berjuta keluarga miskin rela tak makan, tapi ia terpuaskan menonton sinetron melalui televisi layar datar di rumahnya yang reot. Meski hasil kreditan. Musik dangdut dengan sound system menggelegar, bersaing antar satu kontrakan dengan kontrakan lain. Hiburan diri yang sesaat diperjuangkan, sementara nasib pedidikan anak-anaknya dilupakan.

Mentalitas demikian, tak hanya melekat dalam diri masyarakat kecil. Ia juga telah membudaya dalam kehidupan sebagian besar elit, anggota dewan, dan pejabat pemerintah di negeri ini. Dendam kemiskinan, memaksa mereka menumpuk-numpuk kekayaan. Aji mumpung tak terbendung. Pun, hingga liang lahat kekayaan itu harus tercitrakan dalam bentuk kuburan berdinding batu pualam. Jika perlu dilapisi emas. Tak peduli, apakah kepergiannya ke alam baka, meninggalkan sanak keluarga dan tetangga yang kelaparan.

Mendiang Soeharto, menjadi cermin para pemimpin dan calon pemimpin negeri ini. Kemana amanah kepemimpinan akan dibawa. Pencitraan macam apa yang akan diteladankan pada kehidupan berbangsa. Meninggalkan negara tegak bermartabat, atau meninggalkan kebesaran semu yang menyilaukan, tapi keropos.

Mendiang Soeharto, juga cermin bagi orang-orang miskin yang kelak memegang kekuasaan. Ilmu dan pengalaman hidupnya, sah untuk diambil baiknya, dan dikuliti keburukannya untuk dibuang. Selama di dalamnya tidak ada muatan dendam pada kemiskinan. Karena pada hakekatnya, dendam akan berbuah pada aktivitas negatif yang merugikan diri sendiri, bangsa, dan orang lain. Jika orang miskin mampu tampil jadi pemimpin, tanpa ada dendam kemiskinan, mestinya ia mampu mewujud sebagai seorang pemimpin besar.

Pemimpin yang tak memiliki dendam kemiskinan, akan berkaca, menilai harga baju dan dasi yang dipakai, ketika rakyat sudah tak sanggup lagi membeli baju, apalagi dasi. Mereka akan gelisah ingat rakyat yang kelaparan, saat mereka mendatangi jamuan makan di hotel-hotel berbintang dan istana-istana kaca, baik didalam dan luar negeri. Mereka akan berhitung, berapa liter bensin diboroskan, tatkala menaiki nyamanya mobil mewah yang boros bahan bakar. Mereka akan berwasiat pada anak cucunya, untuk dimakamkan secara sederhana dan mengembalikan harta kekayaannya yang tak sah pada negara.

Nabi juga Nelongso

Nabi Muhammad saw, juga mengalami masa kecil dengan amat nelongso. Pernah pula ia diludahi bahkan dilempari batu. Lebih getir dari Soeharto, malah. Tapi Nabi, mengakhiri kehidupannya di dunia dengan cara yang sederhana. Ia bisa saja minta dipasang nisan emas dan simbol kekayaan di kuburnya. Tapi nabi, memilih gundukan tanah pasir.

Semasa hidupnya, Rasulullah dalam membela kelompok masyarakat yang tertindas, selalu membangkitkan harga diri rakyat kecil dan dhuafa. Ia senantiasa bersama orang-orang lemah. Pada suatu hari para sahabat melihat Nabi sedang memperbaiki sandal anak yatim, lain kali menjahit baju janda tua yang miskin. Bila masuk masjid Rasul memilih kelompok orang miskin, dan di sanalah ia duduk. Digembirakannya mereka, dipeluknya, hingga kadang-kadang Rasulullah tertawa bersama mereka.

Sebagai pemimpin orang kecil, Nabi memilih hidup seperti mereka. Ia hidup amat sederhana, lantaran ia mafhum sebagian besar sahabatnya masih menderita. Ditahannya rasa lapar berhari-hari, karena ia tahu sebagian sahabatnya juga tidak makan berhari-hari.

Suatu hari, sepulang perjalanan jauh ia dijamu oleh Aus bin Khaulah dengan susu dan madu. Rasulullah menolaknya, “Aku tak mengatakan bahwa ini haram, tetapi aku tak ingin pada hari kiamat nanti, Allah bertanya kepadaku tentang hidup berlebihan di dunia ini. (HR Ahmad bin Hambal).

Bahkan dalam kitab Adz-dzull wa al-Inkisar li al-Aziz al-Jabbar al-Khusyu fi al-Shalah karya Ibn Rajab al-Hambali, Ibnu Majah meriwayatkan dari hadis Abu Sa'idah al-Khudri r.a., bahwa Nabi saw., pernah mengucapkan doa, "Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkanlah aku bersama orang-orang miskin."

Jika saja, Soeharto kenal Nabi sejak dulu, ia pasti tak akan nelongso ingat kemiskinannya di masa kecil. Kepemimpinannya, bisa jadi bukan cermin retak yang kontroversial untuk diteladani dan diukir dalam sejarah bangsa Indonesia. Bahkan, bukan tidak mungkin, jika akhirnya ia memilih dikubur seperti Nabi. Selamat jalan Pak Harto.

No comments: