Monday, February 26, 2007

Pasarnya Wong Alit


Bukan karena anti kemapanan, jika Bupati Bantul, Yogyakarta, Idham Samawi menolak mal dan hypermarket menancapkan cakar bisnisnya di Bantul. Ia hendak menunjukkan keberpihakan pada ekonomi wong alit (orang kecil) melalui pasar tradisional. Dengan memberi ruang pada pasar tradisional, ekonomi pasca gempa 27 Mei 2006 lalu diyakini lebih cepat membaik.

Melalui pasar tradisional, Idham Samawi melihat adanya interaksi lebih dekat. Antara pedagang dengan pembeli. Mengenal satu sama lain hingga tertaut nuansa kekeluargaan dan kebersamaan. Ada saling tawar jika satu pihak merasa kemahalan harga. Pembeli dari orang miskin juga punya kebebasan memilih sesuai kemampuan koceknya.

Mal, di mata mantan wartawan Kedaulatan Rakyat ini, juga tidak sesuai dengan nilai-nilai dan budaya di Bantul. Dalam bertransaksi di mal misalnya. Pembeli tidak punya hak untuk menolak harga. Diatur sedemikian rupa ibarat transaksi dengan robot meski penjaga mal nya manusia. Asal tahu bandrol harga, pembeli tinggal mengambil barang pilihannya. Datang ke kasir tanpa sapa salam, membayar lantas pergi. Nyaris tanpa komunikasi dua arah.

“Sebenarnya sudah ada sembilan pengusaha yang menawarkan membangun mal di Bantul. Tetapi saya tolak karena hasilnya pasti tidak berpihak pada wong alit ”, tandas Idham Samawi usai meresmikan pasar komunitas, Pasar Kembangsari di Desa Sri Martani, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Senin (19/2). Pasar ini dibangun Baznas – Dompet Dhuafa dalam tempo 110 hari yang menghabiskan dana Rp. 847.100.000.

Saat menyaksikan bentuk fisik dan desain pasar, Idham merasa menemukan visinya tentang keberpihakan. Pasar Kembangsari memang ditata tak lazim layaknya pasar-pasar umum. Los-los yang dipakai pedagang kecil menempati ruang depan. Sementara kios-kios semacam ruko menempati bagian dalam.

Tentang konsep pasar yang tidak umum ini, Presiden Baznas – Dompet Dhuafa, Ramad Riyadi mengungkapkan. “Kami menamainya pasar komunitas. Di dalamnya ada pemerataan perputaran ekonomi dengan menempatkan pedagang-pedagang kecil di bagian depan. Sehingga pedagang kecil mudah diakses pembeli. Sementara dengan dagangannya yang lebih komplit pedagang kios tetap dapat konsumen”, terang Rahmad Riyadi.

Pemilihan pasar Kembangsari ini sebelumnya melalui proses survey dan pendekatan yang alot. “Kami mensurvey delapan pasar yang rusak pasca gempa di Bantul dan Yogyakarta. Tetapi belum ada pasar yang siap dikelola secara komunitas. Sampai akhirnya kami menemukan pasar Kembangsari yang dengan komitmen kami membangunkan pasar para pedagang siap membentuk komunitas dan mengelola pasar bersama-sama”, kata Rahmad.

Bu Sukani salah seorang pedagang Nasi Kucing turut berkomentar.

Gempa niki mbeto berkah. Nek mboten wonten gempa kula nopo nggih bakal gadah peken ingkang sae”, (gempa ini juga berkah, kalau tidak ada gempa saya tidak bakal punya pasar bagus), akunya senang. Pendapat senada juga diungkapkan oleh Bu Pawiro yang menempati los no 18. “Nggak pernah mimpi bakal punya pasar sebagus ini mas”, kometar pedagang lainnya, Bu Luluk yang menempati kios no 5.

Layak jika para pedagang tak mampu menyembunyikan keharuannya. Desain pasar dikemas sarat sentuhan artistik didukung struktur bangunan kuat, rapi, dan indah dengan los model payung. Pasar ini memiliki 163 los berukuran 23 x 1,5 meter dan 23 kios berukuran 3 x 2,5 meter.

Wong alit, dalam bahasa Idham Samawi selalu tergilas oleh paradigma ekonomi modern yang kerap menyisihkan pedagang-pedagang gurem. Maka ia akan membuka ruang pada siapapun dan lembaga manapun yang pasca gempa meremukkan ini, benar-benar memancangkan programnya untuk rakyat kecil di wilayahnya.

Pun, Idham mewanti-wanti masyarakatnya untuk pandai bersyukur dalam menerima bantuan orang lain yang datang tanpa pamrih. Wujud syukur, menurut Idham, harus diwujudkan dalam usaha-usaha produktif seperti di Pasar Kembangsari yang hasilnya harus diutamakan untuk investasi masa depan berupa pendidikan bagi anak-anak pedagang pasar. Pasar harus menjadi penopang ekonomi meralat generasi menjadi lebih baik.

Senada dengan Idham, Direktur Utama RRI yang juga Ketua Dewan Wali Amanah Dompet Dhuafa, Parni Hadi, dalam pengantarnya mengatakan jangan sampai adagium “kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange (sungai kehilangan lubuknya, pasar kehilangan keriuhannya)” benar-benar terjadi karena keberadaan pasar diabaikan.

Konsep pasar komunitas yang menempatkan pedagang kecil sebagai penguasa atas hasil jerih payahnya, hanyalah satu dari banyak cara yang dapat dilakukan untuk membantu masyarakat kecil. Namun semua ini bisa terjadi jika para pemimpin secara totalitas memberikan keberpihakannya. Juga tidak menjadikan penderitaan rakyat sebagai tarian proyek yang hanya memuaskan segelintir orang.

Semoga Idham Samawi dengan ketulusannya menginspirasi para pemimpin lainnya di negeri ini. Sebuah pesan yang ia hujamkan pada nurai kita, “Kalau saya harus mengelap sepatu orang sebagai tanda terima kasih karena telah membantu kesulitan masyarakat yang saya pimpin, saya akan lakukan. Saya tidak malu karena semua ini saya curahkan untuk membantu agar wong alit segera bangkit, agar wong alit merasakan keberpihakan kita”, ungkapnya dengan nada bergetar.

Idham Samawi memang bukan malaikat. Di balik kekurangan dan kelebihannya keberpihakan pada wong alit sebuah sikap yang layak diapresiasi. Di tengah tandusnya empati sebagian besar elit dan pemimpin negeri ini, keberanian berkata “tidak” pada pemilik modal menjadi sikap yang layak diteladani. Bukankah tugas pemimpin sejatinya lahir untuk membela yang lemah dan tertindas.