Monday, February 12, 2007

Sembilu Aburizal Bakrie


Kang Karmun terbelalak. Wajahnya memerah menahan amarah. Nyaris ia bangkit berdiri untuk membanting televisi yang tengah menyiarkan berita liputan petang di SCTV. Suasana di dalam kontrakan adik Kang Karmun di bilangan Cimanggis, Depok itu sempat tegang. Berita di televisi menjadi pemicu meledaknya amarah itu.

Karmun bersama istri dan dua anaknya sengaja mengungsi lantaran rumahnya di Mampang habis dilalap banjir yang mengepung Jakarta sejak Jumat (2/2) lalu. Tak ada yang dapat diselamatkan kecuali selembar pakaian yang nempel di badan. “Dasar menteri tak punya hati nurani!”, umpatnya kesal.

Rupanya pernyataan Menkokesra Aburizal Bakrie tentang, banjir di Jakarta masih biasa saja karena para korbannya masih bisa tersenyum dan tertawa yang menyulut kemarahan Karmun. Statement seorang pejabat seperti di televisi itu, bagi korban banjir seperti Karmun memang amat menyakitkan.

Tersenyum dan tertawa, sebuah prilaku misteri. Ia bisa mewakili rasa puas dan bahagia. Tetapi, jika nurani kita menyelami lebih dalam, sungguh muskil ada orang puas dan bahagia karena dilanda bencana. Sebaliknya, senyum dan tertawa dapat pula mewakili sindiran dan cemoohan. Jangan-jangan, para korban banjir tertawa lantaran mentertawakan ketidakmampuan pejabat yang hanya sekadar numpang lewat.

Karena senyum dan tertawa itu misteri, maka menghadirkan beragam penafsiran. Aburizal Bakrie mengukur dampak banjir dengan barometer senyum dan tawa korban banjir. Jika korban banjir yang harta bendanya lenyap masih tertawa, itu artinya dampak banjir belum luar biasa. Cukup mudah bukan. Jika saja Pak Menteri sempat lama bergumul di kubangan banjir, bisa jadi pernyataan yang keluar akan berbeda.

Namun, tertawa bisa juga mewakili stress diri. Lihatlah orang-orang yang bangkrut tetapi lemah imannya. Ia akan bengong kemudian meledakkan tawa. Malah ada yang sampai bunuh diri. Atau orang-orang yang diuji Allah karena kurang ingatan, ia hanya bisa menjalani hidup di dunia ini dengan tertawa. Lantas, apakah ia kita kata bahagia?

Jadi, Kang Karmun, maafkanlah Pak Ical, ia telah melihat bencana banjir ini dari perspektif jiwa malaikat. Pada tingkatan batinnya, kehilangan harta benda sudah bukan hal yang berarti. Beda dengan Kang Karmun, yang akan menyesal hanya karena kehilangan uang seratus perak. Karena penghasilan Kang Karmun amat kecil.

Berbeda juga dengan tertawanya anak-anak yang berkubang di dalam banjir. Bagi anak-anak kurang mampu, banjir telah menjadi arena bermain dan berenang yang gratis. Tanpa perlu merengek minta uang ke orang tuanya untuk menyewa kolam renang, mereka dapat bermain air sepuasnya. Tanggalkan dulu pikiran jorok dan sakit, mereka sudah lupa itu saking beratnya beban hidup.

Jika Pak Menteri memakai pikiran anak-anak ini, tertawanya korban banjir memang benar tertawa bahagia. Tetapi, bagi para orang tua yang makin hari dililit ekonomi sulit, sungguh banjir ini telah melumpuhkan sendi kehidupan. Kalau toh tertawa, tawa itu amat pahit. Mesem itu kecut. Dan tawa yang justru mentertawakan para pejabat yang hanya mampu bersafari dalam kondisi banjir begini.

Maka, tak perlu malu meminta maaf pada orang-orang kecil yang ditimpa musibah dan disakiti hatinya. Jangan sampai, doa mereka yang teraniaya menembus pintu langit hingga Allah menurunkan azab pada orang-orang dhalim. Orang-orang yang telah menyakiti dan menyepelekan penderitaan masyarakat kecil yang ditimpa bencana. Astaghfirullah.

No comments: