Thursday, August 02, 2007

Ketawa ala PANTAU

Ini, cara Pantau membuat peserta kursus Jurnalistik Sastrawi XII bisa terbahak-bahak. Satu, dua, tiga! Kaki kanan diangkat tinggi-tingga. Saya yang sulit senyum, tiba-tiba terkekeh-kekeh. Demikian pula teman-teman yang lain. Mengesankan. Tapi jika pijakan tak seimbang, badan bisa-bisa terjengkang.

Berikut data teman-teman yang jadi korban "Ketawa ala Pantau", dicopy dari dapurnya Mas Andreas Harsono:

Aditya Heru Wardhana, saat ini bekerja sebagai video journalist di Trans TV sekaligus aktif di Aliansi Jurnalis Independen cabang Jakarta. Ketika training broadcaster dua tahun lalu, ia mendapat tugas membaca naskah berjudul "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan" karya Alfian Hamzah. Sejak itu timbul niat ingin menulis seperti itu, yang elok dan memikat. Sejak kuliah sudah asyik membaca tulisan-tulisan di majalah Pantau. Mengikuti training jurnalisme sejak tahun 2002.

Adriana Sri Adhiati, saat ini bekerja untuk Down to Earth sebagai researcher, campaigner and websiter co-administrator (part-time) di London. Sejak tahun 2005 selalu mengkampanyekan isu-isu yang berhubungan dengan agrarian reform, policy reform in natural management and ecological justice in Indonesia.

Asep Mohammad BS, sejak tahun 2000 bergabung dengan majalah Swa sebagai wartawan. Pengalaman menulis sejak April 1999 ketika menjadi Kepala Publikasi dan Dokumentasi di organisasi non pemerintah Pusat Ilmu dan Kajian Perbukuan. Artikelnya sering dimuat diberbagai media masa seperti harian Pikiran Rakyat, Suara Karya, Galamedia, Suara Publik dan Risalah.

Edy Purnomo, setelah lulus dari sastra Universitas Indonesia tahun 1991, Edy kemudian mulai bekerja di majalah Manajemen Produktivitas hingga 1993. Tahun 1993-2000 bekerja pada harian Bisnis Indonesia, harian Indonesia Shangbao tahun 2001-2002. Sejak tahun 2002 sampai sekarang bekerja di harian Investor Daily.

Emmy Kuswandari, bergabung di harian sore Sinar Harapan sejak 2001. Semasa kuliah sudah akrab dengan jurnalistik karena mengambil jurusan jurnalistik dan ikut andil pada majalah kampus di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Emmy tercatat sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen, Coordinator for Gender Imago Dei Studi, anggota Gerakan Antikekerasan terhadap Perempuan Indonesia. Mendapat "Rule of Law and Independence Press Fellowship in Massachussets" di dekat Boston pada 2000.

Endah Imawati, bekerja di media sejak tahun 1994 di tabloid anak-anak Hoplaa. Baru tahun 2000 menulis untuk harian Surya Surabaya (masih dalam satu grup). Kebanyakan dia bercerita tentang keluarga, remaja, sedikit gaya hidup, perjalan, dan feature. Dia mengatakan tak pernah menulis tulisan yang berat. Karya yang dihasilkannya antara lain kumpulan cerita anak, novel remaja dan cerita bersambung.

Frans Obon, sejak 1994 bekerja di mingguan Dian. Bergabung dengan harian Flores Pos sejak didirikan tahun 1999 oleh Yayasan Dian dan menjabat sebagai Manajer Liputan sampai 2003. Sejak 2003 sampai sekarang menjadi Manajer Produksi (Pracetak). Secara rutin dia menulis untuk Bentara (Tajuk Flores Pos). Selain menjadi wartawan, Frans juga mengajar di Universitas Flores di Ende.

Frans S. Imung, mulai mengenal dunia jurnalistik pada awal 1997. Pertama menjadi wartawan pada majalah ekonomi, dengan fokus pasar modal, Uang & Efek (almarhum). Selanjutnya ikut membidani lahirnya majalah Investor pada masa krisis tahun 1998. Saat ini sebagai editor di majalah Investor.

Hillarius U Gani, pernah menjadi reporter Lampung Post sebelum akhirnya bergabung dengan Media Indonesia tahun 2001 sampai sekarang. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia pernah mengikuti diklat jurnalistik yang diadakan Media Indonesia (2001), pelatihan jurnalistik pemula oleh LP3Y Jogjakarta tahun 2002 dan Jurnalistik oleh UNDP di Bogor.

Lisa Suroso, saat ini menjabat sebagai redaktur majalah Suara Baru. Menulis untuk media sejak Desember 2004. Dia juga pengurus pusat Perhimpunan Indonesia Tionghoa bagian humas. Dia banyak terlibat dalam kegiatan sosial organisasinya dalam bencana alam di Aceh dan Flores.

Rozzana Ahmad Rony, panggilannya Nana, mengetahui kursus ini dari temannya, Alexander Mering, redaktur harian Borneo Tribune. Ia merupakan satu-satunya peserta dari Malaysia. Sejak tahun 2006, dia bekerja sebagai journalist di Utusan Sarawak, sebelumnya tahun 2003-2006 bergabung di Sarawak Tribune. Kegiatan lainnya adalah menjadi anggota Kuching Journalists Association dan anggota Sarawak Women for Women Society.

Said Abdullah Dahlawi, mulai menulis secara profesional sejak menjadi wartawan di harian Sijori Mandiri, Batam April 2005. Sejak mahasiswa suka mengirimkan artikel yang diterbitkan Radar Mojokerto dari Kelompok Jawa Pos di Jombang, Jawa Timur dan sering diminta untuk mengisi artikel di bulletin Motive yang dikelola secara independen oleh mahasiswa.

Stefanus Akim, merupakan salah satu wartawan Equator dari Kelompok Jawa Pos, yang keluar kemudian mendirikan harian Borneo Tribune di Pontianak. Borneo Tribune sendiri mulai launching tanggal 19 Mei 2007. Sejak duduk di bangku SMA, Akim sudah bergelut dibidang jurnalistik sebagai pemimpin redaksi majalah Sidus, dilanjutkan ketika kuliah aktif sebagai anggota dan pengurus Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura di Pontianak.

Sunaryo Adhiatmoko, saya sendiri.

Yayan Ahdiat, sejak 1989 menulis di Suara Pembaruan, Pelita, Jayakarta, Berita Buana, Suara Karya, Republika dan Media Indonesia. Tahun 1993-1998 bergabung di Majalah VISTA-TV, kemudian menjadi redaktur majalah Sportif tahun 1998-2000, redaktur Lippostar.com tahun 2000-2002. Tahun 2002 sampai sekarang menjadi redaktur pelaksana View Magazine.

Yuyun Wahyuningrum, mahasiswa penerima beasiswa di Universitas Mahidol, Thailand mengambil jurusan Human Rights and Social Development. Saat ini sedang mengerjakan tesisnya di Jakarta dan tinggal bersama ibunya di daerah Kalibata. Telah bekerja di isu-isu sosial yang berkenaan dengan gender, hak azasi manusia, pembangunan, perempuan dan anak sejak tahun 1998. Yuyun tidak pernah menulis untuk media, kebanyakan dia menulis untuk esai akademis di jurnal bukan di media massa.

3 comments:

tajjabs coecoe said...

hai mas sunar!gmana kabarnya?????kok lama ga pulang ke kampung halaman????
pa ga kangen ma family yang di nglebo.mas boleh minta e-mailnya ga!!!
ini e-mail saya :
d_tatos24@yahoo.co.id

salut buat mas sunar......!!!
"biar orang desa tapi rejeki dikota"
kata mas TUKUL

humoria said...

memang nasib kamu begitu mujur,rejeki dan pengatahuan sepertinya melekat dihati dikehidupanmu. Bravo !!!

humoria said...

memang nasib kamu begitu mujur,rejeki dan pengatahuan sepertinya melekat dihati dikehidupanmu. Bravo !!!