Thursday, August 02, 2007

Mematahkan Gengsi Melawan Kemiskinan

Pada 1989, Anggoro Aji, belum pernah membaca buku Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran. Buku yang sarat dengan amunisi, untuk menggebrak masa depan pendidikan rakyat Jepang. Pada tahun 1882, buku ini terjual 600.000 naskah.

Di antara pesan penting yang ada di dalam buku itu, menyatakan: Manusia tidak dilahirkan mulia atau hina, kaya atau miskin, tetapi dilahirkan sama dengan yang lain. Siapa yang gigih belajar dan menguasai ilmu
dengan baik akan menjadi mulia dan kaya, tetapi mereka yang jail akan menjadi papa dan hina.

Anggoro Aji, bocah gunung yang lahir terpanggang paceklik pada 1977, di pedesaan lereng pegunungan Abimanyu. Sebuah desa yang tandus dan kering, di selatan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Pada 1989, ia turun gunung untuk melanjutkan sekolah ke bangku SMP, di pusat kota. Sendirian.


Dalam kurun tiga tahun, ia me
nyiasati hidup dan menyelesaikan sekolahnya dengan kerja di rumah seorang petani cukup mampu di kota itu. Mencangkul, mencari kayu bakar, dan kerja kasar lainnya, dilakoni dalam umur belasan tahun. Cucuran peluh bocah itu pun, mengantarkannya sampai lulus SMP.

Anggoro Aji, dengan bangga kembali ke kampungnya di lereng Abimanyu. Kedua orang tuanya, tak mampu menepis haru. Anggoro Aji, si bocah hilang telah kembali. Tetapi para tetangganya mencibir, “Kalau derajatnya orang miskin gak perlu ngoyo (nekat)”. Telinga bocah itupun memerah. Seharian, ia menangis di pangkuan ibunya.


Beberapa hari di kampung, Anggoro Aji diusik gelisah. Kegigihannya untuk sekolah tak lagi terbendung. Ia makin tak tahan melihat kemiskinan keluarganya yang akut.


“Bapak, Ibu, ijinkan aku menuntut ilmu. Aku mau merantau ke kota, aku ingin membuat bapak dan ibu bangga”, pinta Anggoro Aji memelas.


Untuk kedua kalinya, bocah itu meninggalkan tanah kelahirannya. Tak cukup bekal yang ia bawa, kecuali selembar ijazah. Surabaya, kota yang padat dan panas menjadi tujuannya. Enam jam naik bus, ditempuh dari daerah asalnya. Belum tahu, kemana ia mau singgah dan menetap. Anggoro Aji, mulai mengetuk pintu di perumahan-perumahan elit. Ia menawarkan diri, untuk bekerja sembari menunjukkan ijazahnya.


“Saya mau kerja apa saja, asal saya bisa sekolah”, Anggoro Aji menawarkan diri.
Dalam ingatannya, pada pintu rumah ke-29 lamarannya diterima. Ia mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sejak pukul empat pagi. Hingga ia dapat lulus SMA negeri di kota itu. Sayang, ia tak sempat membagi kebahagiaan dengan ayahnya. Saat pulang kampung ia hadapi kenyataan, ayahnya telah tiada. Anggoro Ajipun melanjutkan pengembaraannya sampai Jakarta. Kuliah, kerja, dan menikah.

Patahkan Gengsi

Senin lalu, saat tengah bercengkerama dengan istrinya, Anggoro Aji kedatangan seorang anak gadis. Anak itu datang ke rumahnya, di bilangan Depok untuk minta pekerjaan. Menurutnya, anak itu sedang butuh biaya sekolah. Ia mau jadi pembantu dan kerja halal lainnya, agar sekolahnya tidak putus.

“Saya terharu. Teringat masa lalu. Dia anak yang hebat, karena di Jakarta banyak orang mendewakan gengsi, tetapi dia mampu mematahkan gengsi. Tidak semua orang miskin mampu membunuh gengsinya. Mereka lebih suka ambil jalan pintas, korupsi atau merampok. Hanya untuk menutupi malu miskin itu”, kata bapak dua anak yang kini jadi pekerja sosial.

Hidup dalam jerat kemiskinan, menurut Anggoro Aji, yang pertama harus dimatikan adalah gengsi. Banyak anak putus sekolah, karena ketiadaan biaya. Tetapi mereka kerap menyerah oleh keadaan. Malu, jika tidak punya standar hidup setara dengan teman-teman sekolahnya yang mampu.

“Tak perlu malu jadi kuli, jadi pembantu, buruh, jika ingin hidup berubah. Banyak orang besar lahir dari kemiskinan. Tetapi mereka mencapai dengan perjuangan tanpa gengsi. Percayalah, tiap bulir keringat kita yang jatuh, Allah telah memberi nilai di dalamnya”, pesannya.

Anggoro Aji meyakini, jika anak muda kita lebih gede gengsi, bangsa ini tak akan pernah maju. Anak-anak muda kita perlu diberi teladan kebangkitan, layaknya Jepang. Negeri matahari terbit itu, memberi banyak inspirasi untuk generasinya bangkit dari Perang Dunia II. Dunia dibuat terbelalak. Bagaimana sebuah bangsa yang luluhlantak oleh bom atom dan kalah dalam Perang Dunia II, mampu menyalip peradaban Barat dalam berbagai bidang.

Profesor Ezra Vogel dari Harvard University, mengatakan, bahwa kejayaan Jepang Terjadi berkat kepekaan pemimpin, institusi, dan rakyat Jepang terhadap ilmu dan informasi serta kesungguhan mereka, menghimpun dan menggunakan ilmu untuk kehidupan mereka.

Ketika sedang berselancar di ruang maya, Anggoro Aji menemukan sebuah artikel yang ditulis Jaahid Nafsak berjudul Asas Kebangkitan Peradaban. Artikel itu, meresensi buku Prof. Dr. Wan Mohd. Nor Wan Daud, seorang guru besar di International Institut of Islamic Thought and Civilization—International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), yang memaparkan tentang budaya ilmu dan kebangkitan bangsa Jepang.

Diceritakan, bagaimana Jepang bangkit. Jepang telah menempatkan ilmu dalam posisi penting sejak Zaman Meiji (1860-an-1880-an). Pada akhir 1888, dikatakan, terdapat sekitar 30.000 pelajar yang belajar di 90 buah sekolah swasta di Tokyo. Sekitar 80 persennya berasal dari luar kota. Pelajar miskin diberi beasiswa. Sebagian mereka bekerja paroh waktu sebagai pembantu rumah tangga.

Namun, mereka bangga dan memegang slogan: “Jangan menghina kami, kelak kami mungkin menjadi menteri!” Para pelajar disajikan kisah-kisah kejayaan individu di Barat dan Timur. Salah satunya, buku Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran.

Sebagai potret orang yang pernah mengalami saat sulit menempuh pendidikan, Anggoro Aji merasakan, aroma pendidikan kita hanya berkutat pada mahalnya biaya sekolah. Anak-anak muda kita tak diajarkan ketangguhan, layaknya anak-anak kurang mampu berjuang untuk sekolah. Anak-anak muda kita, makin terbawa ke ranah dunia hiburan, ketimbang ditarik ke area perjuangan memajukan bangsa. Pergaulan bebas lebih cepat populer, ketimbang penguasaan terhadap sain dan teknologi.

Dalam pengalaman Anggoro Aji, kemiskinan tak boleh membuat hidup ciut dan takut. Kemiskinan harus dilawan. Dengan tekad dan semangat. Sebagaimana seorang pemuda Jepang bernama Kinjiro Ninomiya, yang hidup pada awal abad ke-20. Kegigihannya dalam memburu ilmu, menjadi inspirasi masyarakat Jepang. Kegigihannya terukir dalam puisi Jepang yang melegenda:

Pada awal pagi

Dia mendaki gunung mencari kayu api

Sehingga larut malam

Dia menganyam selipar (jerami padi)

Sambil berjalan

Dia tidak pernah berhenti membaca.

1 comment:

Maria Sedner said...

Halo,
Apakah Anda secara finansial turun? mendapatkan pinjaman sekarang dan bisnis Anda menghidupkan kembali, kami adalah pemberi pinjaman yang handal dan kami mulai program pinjaman untuk memberantas kemiskinan dan menciptakan peluang bagi orang yang kurang beruntung untuk memungkinkan mereka untuk mengembangkan diri dan menghidupkan kembali bisnis mereka. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami melalui email: (mariasednerloanfirm@gmail.com). informasi debitur mengisi formulir di bawah ini:

Nama lengkap: _______________
Negara: __________________
Sex: ______________________
Umur: ______________________
Jumlah Pinjaman Dibutuhkan: _______
Pinjaman Durasi: ____________
Pinjaman bunga: _____________
Nomor telepon: ________

silahkan mengajukan permohonan perusahaan yang sah.