Friday, November 16, 2007

Keteladanan Pemimpin Kampung


“Selesaikan rumah warga dulu, saya belakangan saja”, perintah Hamdan (50), Kepala Dusun Penyangkak, Bengkulu Utara pada warganya. Tidak hanya tempat tinggal yang minta dibuat paling akhir, bantuan kemanusiaanpun ia selalu utamakan masyarakatnya terlebih dahulu.

Bukan berarti Hamdan tidak menjadi korban gempa Bengkulu, Rabu (12/9) lalu. Rumah kepala dusun itu juga luluh lantak. Sebagaimana korban gempa yang lain, Hamdan bersama istri dan tiga anaknya juga tinggal di bawah tenda. Terpal biru yang ia dapat juga terpal terakhir. Ia mengambil setelah memastikan warganya sudah berteduh sementara di bawah tenda.

“Dia masih keponakan saya, tolong pengurus posko saja yang memutuskan”, pesannya suatu saat ketika mendistribusikan sembako.

“Jangan bayari papan itu pak. Karena dia adik saya, apa nanti kata warga. Lebih baik bapak pakai papan warga saja”, larang Hamdan halus, pada seorang relawan yang hendak memakai papan untuk tiang posko.

Tiga minggu kenal lebih dekat dengan putra Rejang itu (salah satu suku di Bengkulu Utara), banyak hikmah yang bisa dipetik. Meski hanya lulus sekolah dasar, ia menjiwai betul intisari dari memimpin masyarakat. Ia mengikat keluarga dan sanak saudaranya dari fitnah. Ia pula, berusaha menahan penderitaan lebih lama dari derita yang dialami warganya. Hamdan, akan mengambil paling terakhir. Itupun jika sisa.

Pada saat, sebagian warga korban gempa di sepanjang jalur Lais hingga Muko Muko mempersempit jalan dengan meminta-minta bantuan pakai kardus, Hamdan melarang keras warganya melakukan itu.

“Kalau rezeki kita, pasti tidak kemana. Jangan memaksa orang membantu dengan mengiba-iba. Apalagi memaksa, kemana harga diri kita. Bukannya mereka mau membantu malah segan berhenti memberikan bantuan”, terangnya.

Buah dari kesabaran itu, berdampak pada suasana Dusun Penyangkak yang tenang dan teratur. Meski 90 persen rumah di dusun itu hancur total, warga tidak terpancing untuk bertindak anarkis.

“Kita tidak perlu marah pada pemerintah dan bupati. Bukan mereka yang membuat gempa ini. Biar saja, kita urus masalah kita sendiri. Kedatangan pejabat juga tidak menyelesaikan masalah, malah bisa-bisa menambah masalah. Kita tunggu dengan sabar bantuan pemerintah, sambil kita berusaha bangkit sendiri”, wasiat bijak Hamdan pada suatu rapat di hadapan warganya.

Suatu hari, posko Dompet Dhuafa yang dipimpin Hamdan kebanjiran bantuan. Semua warga Penyangkak sudah mendapat lebih dari cukup. Tetapi Hamdan tidak menghedaki warganya aji mumpung. Maka atas persetujuan dari warga, bantuan yang berlebih itu didistribusikan ke desa-desa lain. Ia memimpin sendiri pendistribusian bantuan itu hingga ke Serangai – perjalanan satu jam dari Penyangkak.

“Kami sudah dapat lebih dari cukup hingga lebaran nanti. Saudara kami di desa lain belum tentu mendapat keberkahan sebesar ini. Semoga ini bermanfaat untuk warga bapak”, kata Hamdan pada tokoh Desa Kembang Manis, Lais.

Dua hari lalu, pada sore hari, di depan posko, Hamdan termenung. Matanya tampak basah. “Saya sedih juga gembira. Saya membayangkan kami akan merayakan lebaran ini di tenda. Tetapi ini sungguh karunia Allah, saya seolah tidak percaya jika hari ini semua warga saya sudah masuk ke rumah kembali. Kami bisa menikmati lebaran nanti sebagaimana tahun lalu. Kami tidak lagi di tenda seperti korban gempa yang lain”, ungkap Hamdan menyuarakan hatinya.

“Tolong pak, sampaikan ucapan terima kasih kami pada donatur Dompet Dhuafa yang telah membangun rumah kami. Tidak ada yang bisa kami berikan atas jasa mereka. Kami terima kasih…”, pesan Hamdan, bercampur tangis yang pecah dalam pelukan relawan DD yang hendak pamit pulang ke Jakarta.

3 comments:

nurulita said...

Masya Allah, jarang sekali ada pemimpin seperti itu sekarang. Semoga Allah melindunginya d hari kiamat. salam kenal pak, saya baru menemukan blog ini dan lagsung jatuh cinta dengan tulisannya

Anonymous said...

Berbanggalah saya, karena kegiatan Kuliah Kerja Nyata UNIB periode ke 67 telah membawa saya ke Desa Penyangkak. Bertemu dengan pemimpin yang begitu peduli kepada masyarakatnya.

Nie Puspita said...

Pak hamdan, senang sekali saya bisa bertemu beliau Langsung..Sosok yang begitu pantas disebut Pemimpin..
Kegiatan KuKerTa (KKN UNIB ke 67) kami telah membawa saya dan teman-teman ke Desa Penyangkak..
Terima kasih Desa penyangkak..terima kasih Pak hamdan, pelajaran berharga serta kenangan manis ini akan slalu kami kenang