Tuesday, November 06, 2007

Setetes Air Mengubah Peradaban

Terik matahari memanggang Dusun Wuluh, yang kering tatkala musim kemarau begini. Di dalam rumah, udara panas. Di luar rumah kulit seperti dijilat kobaran api. Sawah dan ladang yang semula hijau di musim air, berubah jadi menguning. Tumbuhan dan pohon yang tak tahan kering, mati. Debu berhamburan, acap sepeda ontel melintasi jalan-jalan desa. Di pekarangan rumah, anak-anak asyik bermain debu, membuat gunung-gunungan dengan air seni nya. Kemarau menjadikan kampung di desa Sidokumpul, Guntur, Demak, kering kerontang.

Khosim, salah seorang tokoh tua di Dusun Wuluh masih mengingat dengan baik. Betapa sengsaranya warga di desa itu, untuk mendapatkan setetes air. Bercucur peluh, bahkan ada yang berlaku curang. Sebuah sumur tua yang dikenal peninggalan Belanda – tetapi sebagian warga meyakini sumur peninggalan Ki Ageng Pandanaran – menjadi saksi bisu derita itu. Sumur tua, yang berada di ujung desa Gaji, sekitar satu kilo meter dari Dusun Wuluh, selalu padat oleh warga yang mencari air. Selama 24 jam, tak henti. Ada empat desa yang menjadikan air di dalam sumur tua itu sebagai sumber penghidupan. Sejak puluhan, mungkin juga ratusan tahun silam.

Khosim dan warga desa lain – laki-laki dan perempuan – akan mengawali mencari air sejak jam tiga pagi. Berjalan kaki menenteng jerigen dan menggendong kendil (tempat membawa air terbuat dari tanah liat). Mereka saling berburu untuk dapat lebih dahulu. Bayangan pagi yang dianggap sepi, nyatanya tetap ramai.

Untuk memperebutkan air itu, warga tidak mungkin antri. Siapa yang punya tenaga kuat bisa mendapatkan lebih dahulu. Jika menunggu giliran, urutan terakhir dipastikan tidak akan kebagian. Apalagi jika kemarau sedang mencapai puncaknya antara Juni – September, pemandangan warga mencari air amat memilukan.

“Kadang-kadang di antara warga juga curang. Saya pernah berebut menimba air, setelah ember saya penuh, pas saya tengok ke belakang, airnya sudah kosong ada yang mengambil”, kenang Khosim.

Bahkan, menurut Khosim, sampai ada yang nekat mencuri air di penampungan air milik warga.

“Kita sudah capek-capek nampung air di rumah, tiba-tiba air dicolong uwong (dicuri orang)”, kata ustad yang pernah mondok di Banyuwangi ini. Di Bumi Blambangan, Khosim bisa merasakan betapa segar mandi berlimpah air. Kemewahan yang tak pernah ia dapat sejak bayi.

Seiring waktu, masyarakat mulai kreatif mengakali kelangkaan air dengan berkelompok membuat sumur oglekan (sumur pompa). Meski air yang dihasilkan tak sejernih air dari sumur Belanda. Tetapi keberadaan sumur oglekan hanya bertahan di musim hujan saja. Setelah kemarau, sumur kering. Warga kembali lagi berebut air di sumur tua Belanda. Kali lain, warga memanfaatkan air di sungai yang membelah desa Sidokumpul dan Desa Gaji. Airnya keruh dan bau. Tetapi jika sumur tua Belanda kering, tetap saja air itu terasa segar.

Jika air di sungai sudah kering dan sumur tua tinggal tetesan embun, para kyai di desa itu segera menyerukan untuk Sholat Istisqo (sholat meminta hujan). Setiap satu tahun sekali, di daerah itu selalu dilakukan sholat meminta hujan. Apalagi, tidak hanya untuk hidup air itu dibutuhkan, sawah juga sudah saatnya ditanam padi.

“Saya pernah membayangkan, mungkinkah di desa ini akan ada air yang mancur dari keran. Orang tidak berebut air lagi. Sepulang dari sawah langsung mandi di sumur sendiri. Tidak rekoso nguber-uber (susah payah mengejar) cari air. Ning yo opo kiro-kiro biso (tetapi apa kira-kira mungkin)”, Khosim berharap sembari diwujudkan dalam doa di tiap akhir sholatnya.

Artetis

Sabtu, pukul 11 siang, 2 November 2002, di Masjid Baiturrahman, Dusun Wuluh, masyarakat dihebohkan timbulnya semburan air dari dalam tanah. Selama 24 jam, air terus menyembur dari kedalaman 125 meter, menggenangi selokan dan pekarangan rumah warga dan halaman masjid. Anak-anak yang biasa main debu, beramai-ramai koceh banyu (main air). Banyak orang terpana hari itu.

Setelah persis satu bulan, pengeboran air untuk program sumur artetis yang dibangun Dompet Dhuafa Republika (DD) berbuah hasil. Program yang digagas Ahyudin (kini Direktur ACT) itu, sempat membuat pesimis masyarakat akan berhasil. Dalam hitungan 30 hari, ejekan datang silih berganti.

“Sini aja dicoblos gak ada airnya, masak nyoblos sana lagi”, ejekan yang ramai berseliweran di telinga kala itu. Masyarakat juga mengeluhkan, betapa lamanya. Sudah tidak betah. Mereka seperti lupa, kakek buyutnya yang telah ratusan tahun mengalami sulit air.

Menurut Zarkoni, penanggung jawab sumur artetis, awal-awal pengeboran sumur mengalami tantangan yang luar biasa. Apalagi, program ini baru dan satu-satunya di Demak. Maka, semburan hari Sabtu itu, meluruhkan semua sakwa sangka. Semua terasa adem, sesejuk air yang keluar dari dalam bumi Demak.

Mulanya, hanya 60 KK yang memanfaatkan air dari sumur artetis ini. Kemudian berkembang sampai 225 KK. Paralon mengalirkan air ke rumah-rumah warga. Mimpi Khosim puluhan tahun lalu benar-benar terwujud. Hingga hari ini, di setiap depan rumah warga terdapat paralon lengkap dengan kerannya. Jangkauan air dari sumur itu sampai 1,5 kilo meter.

Perlahan-lahan, setiap warga membuat kamar mandi di dalam rumah. Tempat buang kotoran yang dulunya kakus, kini telah berganti jamban. Mengenang masa sulit dulu, Khosim tak mampu menyembunyikan keharuannya.

“Saya seperti bermimpi, bagaimana angan-angan saya dulu hari ini benar-benar terwujud”.

Keberadaan sumur artetis di Dusun Wuluh, telah mengubah pola hidup masyarakat desa itu. Masjid dan mushola yang semula tak ada tempat berwudhu, kini telah dilengkapi padasan dengan curah air yang kuat. Dusun Wuluh, seperti lahir dalam sebuah peradaban baru. Masyarakat bisa menanam bunga di halaman rumah. Para wanita mendapatkan martabatnya dan anak-anak terpenuhi unsur kesehatannya.

“Dulu mandi itu barang mewah, anak-anak tidak setiap hari mandi. Tapi, sekarang sejak bayi mereka sudah akrab dengan air”, kata Khosim haru.

Keberadaan sumur yang menghabiskan biaya Rp 49 juta itu, juga turut mendongkrak roda ekonomi masyarakat yang biasa paceklik di musim kemarau. Sulaiman misalnya, ia memanfaatkan air dari sumur artetis untuk membuat batu bata. Juga warga lain yang memanfaatkan untuk mengguyur tanaman, dikala musim kemarau seperti saat ini.

Setelah hampir lima tahun berlalu, pinggiran Demak yang kerap dilanda kekeringan telah dipenuhi banyak sumur artetis. Sumur artetis DD, diakui Zarkoni selalu dipakai studi banding desa-desa lain untuk membangun sumur yang sama. Kini setiap desa minimal punya satu sumur artetis. Bahkan sumur tua Belanda, juga telah berubah fungsi jadi sumur artetis. Tidak ada lagi keroyokan di bibir sumur untuk menimba air. Berganti paralon yang menjalar masuk ke rumah-rumah warga.

Rabu lalu, tidak lagi dijumpai pemandangan mengenaskan seperti lima tahun sebelumnya. Pada musim dan waktu yang sama. Tidak ada lagi perempuan menggendong kendil, dengan peluh bercucuran. Jadwal tidur sudah teratur, tak lagi bangun jam tiga pagi untuk mengejar agar kebagian jatah air. Dusun Wuluh, berada dalam peradaban baru, dari sebuah desa sulit air. Kini tertata dan bermartabat.

2 comments:

Anonymous said...

assalamualaikum
wah saya sebagai orang wuluh baru detik ini baca tentang sumur artetis yang telah dibangun disamping masjid wuluh itu. sebenarnya kondisi kekeringanya tidak sampai seheboh itu. tapi bagaimanapun sungguh luar biasa dan apresiet banget untuk pihak - pihak yg telah mewujudkanya.
wassalam...

Alyson said...

Thanks for writing this.