Loading...

Friday, April 17, 2009

Penghuni Kota Mati


Mirip permukiman padat dengan arsitektur bangunan megah dan kuat. Di antara rumah-rumah yang rapat itu, ada bangunan-bangunan dengan kubah mirip masjid. Hanya satu pemandangan yang menyisakan tanya, mengapa permukiman yang mirip real estate itu tampak kusam. Belum hilang penasaran, teman saya berbisik, “Itu yang dinamakan Kota Mati”.



Area yang memiliki luas hampir seluas Bukit Sentul itu, ternyata kuburan. Letaknya rapat di sepanjang jalan dari daerah Dawea sampai Benteng Solahuddin. Kemudian bersambung di sepanjang jalan menuju makan Imam Syafi'i, Cairo, Mesir.

Kuburan yang memiliki arsitektur rumah ini, mempunyai ruang bawah tanah. Jika ada jenazah baru, maka pintu masuk bawah tanah tersebut dibuka. Jenazah kemudian dimasukan ke ruang bawah tanah bersama jenazah yang sudah lama. Hanya pengurus pemakaman yang boleh masuk ke dalam. Setelah selesai pemakaman, pintu ditu
tup kembali dengan batu dan sedikit ditimbali tanah. Sekilas, kita tidak akan tahu dimana pintu penyimpanan jenazah berada.

Meski itu area kuburan, ternyata juga ada penghuninya. Seperti keluarga Zaki yang sudah puluhan tahun mendiami kuburan milik seorang keluarga kaya di Cairo. Ia memanfaatkan kuburan yang mirip rumah megah itu sebagai tempat tinggal permanen.

“Kami menempa
ti kuburan ini karena tidak perlu keluar biaya. Kami tinggal membersihkan dan menjadi juru kunci kuburan”, terang Zaki. Tapi jika boleh memilih, Zaki juga tidak ingin tinggal di kuburan. Namun kehidupan dan ekonomi yang sulit memaksa zaki dan jutaan orang lainnya mendiami Kota Mati ini.

Menurut zaki, populasi penghuni kota mati makin meningkat. Mereka datang dari desa desa miskin di Mesir. Da
lam buku turis yang ditulis Malak Yakan, seorang antropologi Mesir, disebutkan lebih dari lima juta orang Mesir tinggal di kuburan ini dan membentuk komunitas sendiri.

“ Ada lima kuburan utama di area ini. Kuburan Arah Utara, Kuburan Bab el Nasr Kuburan, Kuburan Selatan, Ku
buran yang besar, dan Kuburan Bab el Wazir," kata Yakan.
Dalam sejarah kepercayaan Mesir, kuburan adalah bagian dari kehidupan masyarakat. Tidak hanya khusus untuk orang mati. “Orang Mesir tidak memikirkan bahwa kuburan tempat akhir kehidupan, tetapi kuburan adalah awal dari kehidupan abadi”, kata Yakan.

Pemandangan lain
dari Kota Mati ini, sebagai tempat pembungan sampah. Di dalamnya nuansa kumuh menyengat. Binatang seperti tikus berkeliaran. Kotoran anjing juga di mana-mana. Mereka memanfaatkan apa yang ada di dalam kuburan sebagai alat perabot rumah tangga. Di antara pagar batu nisan, mereka mebentangkan tali untuk mengeringkan pakaian. Sementara kebutuhan akan listrik mengambil dari listrik milik masjid terdekat.

Tapi, jika menatap kota mati dari dari jalan Salah Salem, Kota Mati nampak gagah dan megah. Ia seakan merekam abadi tentang sejarah Mesir yang melegenda dan berabad-abad usianya.