Monday, January 29, 2007

Keberpihakan Lagi


Sekali Lagi, Keberpihakan!

Daripada kita menyebut failure state jauh lebih terhormat kita mengatakan negara kita pressure under colonialism. Kemerdekaan kita baru sebatas proklamasi. Belum merdeka secara hakiki. Maka seperti kata Bung Karno, Revolusi belum selesai. Kita perlu orang-orang seperti Mahmoud Ahmadinejad, Hugo Chaves, dan Moralles jika ingin keadaan kita cepat berubah.

Demikian sebagian penggalan-penggalan pesan Revrisond Baswir yang disampaikan dalam diskusi Dewan Pakar Baznas – Dompet Dhuafa di Auditorium Gd Pusat Studi Jepang FIB UI, Depok, Rabu (17/1) lalu. Sony, demikian ia akrab disapa, juga bicara tentang penjajahan ekonomi. Juga kejahatan Mafia Berkeley. Dalam posisi ini, Amerika menjadi terang sebagai biang keladi lahirnya penjajah wajah baru.

Dalam menjawab pertanyaan audience, Sonny bicara makna merdeka, kita harus memiliki kesepakatan dulu, apakah kita sudah merdeka atau belum? “Bagi saya, kita baru sebatas proklamasi saja. Modal telah menjadi penguasa di Indonesia,” jawabnya. Ia melanjutkan, sekarang ini telah terjadi return of investment. “Bandar-bandar itu sekarang menagih janji lewat infrastructur summit. Lihat saja siapa yang datang dan mendapat proyek,” tukasnya.

Maka untuk mencapai kemerdekaan sesungguhnya, dalam sebuah kesempatan Ia menegaskan, saat ini kita harus masuk pada arah perjuangan dan menjadikannya sebagai gerakan. Langkah-langkahnya adalah pertama, ideologi kita harus jelas. Kedua, kita harus merebut negara dan menjadikannya sebagai alat instrumen rakyat untuk melawan imperialisme. Lalu, ketiga, kita harus merubah sistemnya hingga jelas dan membuat agenda-agenda ke depan secara detail.

Menyangkut subsidi yang berlahan-lahan akan hilang, Revrisond amat menyayangkan. Dengan dalih apapun tugas negara adalah memberi subsidi. Bukan subsidi sebagai instrumen yang harus diacak-acak. Tetapi strukturnya yang harus dirombak.

Sebagai contoh, eksistensi pemerintah selama ini siapa yang menikmati? Polisi misalnya, siapa yang merasakan jasanya? Bukankah lebih banyak orang kaya ketimbang orang miskin. Demikian pula pendidikan, tetap saja orang kaya yang menikmati. Orang miskin? Disubsidi saja mereka tetap tak mampu mengenyam perguruan tinggi.

Dalam berbagai event diskusi dan seminar yang digelar Dompet Dhuafa, Revrisond kali pertama hadir sebagai nara sumber. Kini ia salah satu Dewan Pakar lembaga zakat ini. Cukup hangat suasana diskusi hari itu. Revrisond berhasil mengobarkan semangat perjuangan bagi para pengelola zakat untuk menapak awal tahun 2007. Sebagaimana tema sarasehan “2007, Sebagai Tahun Keberpihakan Ekonomi Pada Rakyat Miskin”.

Namun, dalam bincang informal ia mengungkapkan keraguannya. Sungguhkan zakat mampu menjadi instrumen keberpihakan itu. Dapatkah ia menangkal serangan ekonomi imperialis yang terus mencacah-cacah rakyat miskin kita. Sementara potensi zakat yang diungkap sekian trilyun rupiah itu masih jauh panggang dari api. Maka perlu sumber baru di luar zakat yang dapat menjadi instrumen gerakan “Saatnya bayar utang kepada rakyat miskin” ini.

Memang, jika dihitung, perolehan zakat nasional baru sebatas recehan, jauh dari hitungan ideal. Salah satu faktornya masih kurangnya kesadaran masyarakat yang merelakan zakatnya dikelola oleh lembaga. Sehingga berapa jumlah zakat yang beredar di masyarakat tak terdeteksi.

Hal ini bisa disebabkan oleh dua faktor. Pertama, muzaki (pembayar zakat) tergoda untuk menyalurkan sendiri zakatnya. Kedua, faktor kredibilitas lembaga zakat yang bersangkutan. Sungguhkah jika zakat itu disalurkan via lembaga benar-benar sampai pada mustahik. Jangan-jangan menguap untuk operasional. Sebuah prasangka yang wajar.

Terlepas dari semua itu, pandangan-pandangan Revrisond seirama dengan cita-cita lembaga zakat seperti Baznas – Dompet Dhuafa. Inti dari kesamaan itu menyangkut keberpihakan kita pada rakyat, pada kaum dhuafa, dan mustadafin. Kesanalah kita berkhidmad dan berbuat sebagai lembaga milik umat.

Angin Segar

Di tengah rasa putus asa kita pada kondisi hari ini, pemerintah membuat keputusan yang sejak lama dinanti-nanti para pecinta Indonesia. Pecinta itu adalah mereka yang lebih memilih berdikari ketimbang hidup ditopang asing. Mereka yang loyal pada bangsa sendiri, mereka yang berjuang murni untuk Indonesia. Bukan kaki tangan pihak luar yang hanya memanfaatkan Indonesia sebagai sapi perah.

Seakan menjawab hujan kritik berbagai kalangan tentang lembaga keuangan International Monetary Fund (IMF) dan Consultative Group on Indonesia (CGI), yang menjadi penyebab Indonesia terbelit utang. Pemerintah bertekad mulai 2007 ini tidak akan lagi mengajukan utang pada lembaga keuangan International itu.

Sebagaimana ditegaskan Presiden SBY di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (24/1), dengan terlunasinya seluruh utang Indonesia terhadap IMF pada 2006 lalu, posisi Indonesia kini telah sejajar dengan IMF. Dengan demikian, Indonesia tidak dapat lagi didikte oleh lembaga keuangan internasional manapun dalam merencanakan program pembangunannya.

Diakui Presiden, pemerintah sering mengalami kesulitan dalam menentukan program-program pembangunan secara mandiri. Seringkali berbagai rencana program pemerintah harus dinilai dulu kelayakannya oleh lembaga donor. Sayangnya, izzah ini ternyata belum seratus persen.

Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, yang ikut mendampingi Presiden, menyatakan bahwa Indonesia baru akan meminjam dari IMF jika ada kekurangan dari neraca pembayaran.

"Pinjaman ke IMF itu terjadi jika kita mengalami defisit neraca pembayaran. Sekarang ini neraca pembayaran kita masih surplus. Jadi, ngapain kita pinjam ke IMF. Pinjaman IMF itu hanya untuk menambah cadangan devisa," ujarnya. (Media Indonesia Online/24/1). Itu artinya Indonesia belum benar-benar cerai dengan IMF.

Tetapi, sebagai pembelajaran dari sikap keberpihakan, kebijakan pemerintah ini layak diapresiasi. Sebuah sikap dan ketegasan yang sejak lama dinanti-nanti. Asal tak lagi menjadi budak asing, cukuplah jadi bukti utang-utang kepada rakyat miskin mulai terbayar. Agar kita tidak jadi failure state atau pressure under colonialism.

No comments: