Tuesday, January 02, 2007

Mustahik Sebagai Guru Kehidupan

Bila ujian menggoyang kalangan mampu, keberpihakan diputuskan cepat. Bandingkan jika ujian mendera masyarakat mustahik (miskin), lambatnya luar biasa. Semua ditakar untung rugi.

Akhir-akhir ini, jika menyusuri daerah pesisir akan kita dapati kondisi gelombang laut yang kurang baik. Angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Nelayan di Ambon ada yang seminggu tak melaut. Pencari ikan di pesisir Padang Pariaman hampir sebulan resah, lantaran cuaca yang tak menentu. Di Pulau Tunda, ada pula kabar para nelayan kelaparan karena tidak dapat melaut. Di pantai utara dan selatan Jawa juga demikian.

Alam mengalami perubahan. Tak ada yang dapat menolak. Bagi nelayan, pasrah pada Tuhan puncak dari ikhtiar menyiasahi hidup. Tidak melaut berati tidak makan. Juga siapa peduli rintihannya, karena keluh kesah mereka tersumbat kepentingan bangsa yang lebih besar. Yakni, politik. Apalagi kelas mustahik (orang miskin) golongan yang kebal terhadap derita. Kalau toh menggerutu, paling kencang juga dalam perbincangan dengan anak bini di biliknya yang sempit.

Mustahik kelaparan, kurag gizi, kehabisan cairan, dan lain sebagainya barang kali bukan berita besar. Karena memang inilah ciri-ciri mustahik. Karena tiap hari jumlah mustahik itu terus beranak pinak, rasanya sudah tak penting lagi orang sibuk mendiskusikannya. Tak perlu DPR heboh misalnya, atau Presiden membentuk tim investigasi khusus mencari musabab harga sembako yang hari ini terus menanjak.

Bicara dunia mustahik memang tidak asyik. Sekilas yang terlintas, mustahik hanya beban negara. Bukan urusan besar yang keren didiskusikan. Apalagi jika toh ada yang mendiskusikan, biasanya oleh mereka yang mengenal mustahik dari belakang meja.
Pun, kita barangkali memahami dunia mustahik baru sebatas berita dan informasi. Belum melebur langsung dengan mereka. Lantaran silaturahim yang dijalin menempatkan diri sebagi tamu bagi mustahik. Masih ada sekat yang menghijab. Belum dapat jadi sahabat yang dapat mendengar dengan nurani.

Dampaknya, banyak program yang dikemas untuk mustahik kerap menguap. Antara program dengan kemampuan mustahik menyerap informasi kadang belum nyambung. Pemahaman sederhana orang desa, “Terlalu pintar yang menggagas program, padahal orang miskin butuh yang sederhana saja”.

Dunia mustahik di sisi lain, jika diselami lebih dalam adalah sarana menatah empati dan kemanusiaan. Sifat diam, mengalah, dan legowo amat lekat dalam hidup mereka. Tidak peduli apakah kebijakan mengakali nasibnya. Tak ada urusan, apakah masa depan generasi mereka ada apa tidak yang memperjuangkan. Meski mereka paham punya namanya wakil rakyat.
Jika kita bersua mustahik di pelosok-pelosok, bolehlah coba bertanya tentang para pemimpin di masanya. Maka, Suharto adalah pemimpin yang baik, Habibie presiden yang pintar, Abdurrahman Wahid presiden yang menghibur, Megawati presidennya wong cilik, dan SBY presiden yang murah senyum, santun, dan tampan. Hampir sedikit mustahik yang mengumpat apalagi mencaci.

Lebih arif lagi, mereka amat memahami sulitnya menata negara. Wakil rakyat, presiden dan pembantunya di mata mereka hampir tak ada waktu cuti untuk keluarganya. Apalagi sampai mengunjungi mereka di desa dan pelosok. Meski kadang pendapat ini membuat telinga geli, mereka telah menunjukkan loyalitasnya. Harga-harga yang naik dan kesulitan hidup yang makin melilit tetap dinikmati sebagai bumbu-bumbu hidup.

Akhirnya, realita di lapangan, menunjukkan mustahik menghidupi diri sendiri tanpa sokongan dan tunjangan negara. Mustahik bukan beban lantaran tiap sen yang mereka keluarkan buah dari perasan peluhnya. Mustahik lebih tahan banting ketimbang komunitas mapan yang akan teriak dan oling oleh sedikit guncangan ekonomi.

Meski demikian, bukan berarti dunia mustahik boleh diabaikan. Mustahik yang jumlahnya lebih dari separo jumlah penduduk negeri ini telah berdarma bakti pada bangsanya. Tak ada demo apalagi revolusi karena sudah tak tahan oleh tempaan hidup. Mustahik sangat menyadari anarki hanya akan makin mempersulit nasib.

Lantas, apa balas jasa negara pada mustahik kini. Cukuplah keberpihakan. Tiap yang bersentuhan langsung dengan nasib mustahik, negara cepatlah tanggap. Buatlah kebijakan yang berdampak langsung ke mustahik. Jangan ada pamrih dalam merancang tiap keputusan untuk mereka. Sungguh, banyak mustahik lapar hari ini. Hanya mereka tak teriak.

Jika, mengurus jamaah haji yang kelaparan negara sedemikian cepat, untuk mustahik minimal juga demikian. Jika Senayan geger kasus catering haji, kapan anggota dewan gempar turun ke jalan karena mustahik lapar makin banyak. Mengobarkan gerakan ikat pinggang agar bangsa segera terentas dari belitan utang.

Apakah karena haji diiringi nilai trilyunan rupiah tiap tahunnya hingga istana dan senayan gonjang ganjing? Dan mustahik yang tak ada nilai rupiahnya lantas terhempas. Bukankah jika tak ditakar untung rugi, pelayanan haji mesti dipahami sebagai upaya melayani umat Islam yang hendak bertamu ke rumah Allah. Sebagaimana Raja Arab Saudi digelari khadimul haramain (pelayan dua kota suci).

Bisa pula, kelaparan ini peringatan Allah bagi golongan mampu untuk ingat pada musthaik. Amat mudah bagi Allah untuk menghadirkan lapar dan sengsara bagi orang kaya. Kita yakin, jemaah haji di sana yang kelaparan meresapi hikmah yang terkandung di dalam tragedi ini. Sembari berdoa semoga sesampai di tanah air mereka menjadi haji yang mabrur.

Demikian pula pada penyikapan tragedi Adam Air dan KM Senopati Nusantara. Negara wajib adil memperlakukan keduanya. Kapal laut yang mengangkut lebih dari 600 penumpang itu sudah pasti sarana transportasi mustahik. Jangan sampai menguap karena keluarga korban banyak dari keluarga miskin yang tak berdaya dan berharta.
Bukan mustahil, ini bentuk peringatan Allah pada pemerintah. Sejauh mana empati dan keadilan ditegakkan. Tidak hanya untuk yang kaya dan mampu tetapi juga keadilan buat mustahik.

Dunia mustahik, alam hidup yang penuh ketulusan dan pengorbanan. Guru kehidupan yang mengajarkan makna hidup dan syukur. Bukankah Rasulullah telah berwasiat “carilah aku di antara fakir miskin dan anak yatim”.
Mustahik telah banyak berkorban untuk negara ini. Kini tinggal menunggu keberpihakkan negara pada mereka.

No comments: