Friday, January 19, 2007

Menunda Makan di Pulau Tunda


SERANG - Ombak masih setinggi 1,5 meter saat Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Baznas Dompet Dhuafa Republika mengantarkan bantuan kemanusiaan ke Desa Wardasara, Pulau Tunda, Serang, Banten, Sabtu (13/1). Bahkan Kapal Very ukuran sedang yang memuat bantuan sembako dari LPM belum berani berangkat hari itu.

Sampai-sampai ada seorang penumpang yang menderita sakit terpaksa meninggal di atas kapal yang bersandar di Pelabuhan Karangantu. Ia baru saja keluar dari rumah sakit untuk pulang ke rumahnya. Ironisnya, almarhum yang di Pulau Tunda sebagai guru ngaji ini pulang dari RS lantaran ketiadaan dana untuk berobat.

Namun, empat orang team yang dipimpin Hendra Setia dan seorang relawan bernama Syarifudin dari Al-Azhar Peduli Ummat tetap memaksa menyeberang ke Pulau Tunda menggunakan perahu nelayan. Bantuan sembako senilai Rp 17 juta itu sementara ditinggal di dalam very yang akan menyeberang setelah cuaca membaik. Tiga jam lebih perjalanan ditempuh melawan angin dan ombak yang masih ganas. Tak pelak, rasa cemas tampak di raup muka lima orang itu.

Jelang Magrib, sampai juga perahu di Pulau Tunda. Di pintu gerbang masuk desa, masyarakat menyambut hangat. “Masya Allah, bapak-bapak ini berani sekali naik perahu melawan ombak”, kata seorang nelayan yang menyambut di dermaga.

“Berkat doa bapak-bapak, kami sampai dengan selamat”, balas Hendra yang di atas perahu nyaris muntah-muntah.

PulauTunda memiliki luas 257,50 ha yang dibagi menjadi dua kampung. Kampung Barat dan Kampung Timur. Memilik jumlah penduduk 1.030 jiwa, 273 KK, 24 diantaranya para janda tua. Mata pencaharian masyarakatnya 99% nelayan.

Sudah lebih dari sebulan cuaca buruk mengganggu kawasan teluk Banten. Akibatnya perahu bermotor yang menjadi andalan transportasi masyarakat di pulau itu tidak dapat mendistribusi kebutuhan sembako. Selain itu sebagian nelayan juga tidak berani memaksakan diri mencari ikan. Dampaknya, sembako menjadi langka. Bahkan sebagai pengganti beras banyak masyarakat memasak buah sukun untuk mengganjal perut.

Slamet Jamaludin, seorang tokoh masyarakat Pulau Tunda yang berhasil keluar pulau untuk menghubungi LPM menuturkan. “Kondisi cuaca tahun ini sangat ganas tak seperti waktu-waktu sebelumnya. Nelayan banyak yang tidak melaut, terus terang kami sempat satu minggu benar-benar kehabisan makanan”, katanya.

“Tetapi kami ingin ada solusi yang lebih dari sekadar bantuan sembako. Bagaimana caranya jika musim seperti ini tiba kami tidak menjadi masyarakat yang membebani orang lain. Kami malu jika tiap datang cuaca buruk kami selalu minta bantuan”, tandas Slamet berharap.

Keesokan harinya, Minggu pagi pukul 09.00 kapal very berlabuh. Tanpa dikomando masyarakat bergotong royong menurunkan bantuan sembako. Ada beras, gula, minyak goreng, dan mie instant. Di rumah Slamet, sembako dikumpulkan untuk dibagi dengan adil dan rata.

“Atas nama masyarakat kami ucapkan terima kasih atas bantuannya. Kami berharap kedatangan bapak-bapak bukan yang pertama dan terakhir. Sudi kiranya menyambangi selalu kami yang ada di pulau ini. Sampaikan salam persaudaraan dari warga pulau untuk para donatur”, pesan Jarot mewakili warga desa Wardasara.

Minggu sore, team pamit pulang. Kali ini masyarakat menyarankan agar pulang setelah subuh menunggu cuaca agak baik. Namun pekerjaan di Jakarta membuat Hendra dkk memaksa pulang sore itu. Benar saja, angin dan ombak kali ini lebih dahsyat lagi. Pecahan ombak yang dibelah body perahu membuat air laut masuk ke dalam perahu.

“Sangat menegangkan!” komentar Syarifudin yang nyaris menangis. Sesampai di darat Hendra dkk masih tampak pucat pasi.

2 comments:

thamie said...

subhanallah..udah hampir 10 tahun tinggal diserang,baru tahu ada pulau tunda..he..he..he..

Asep Rudini Setiawan said...

Arane bocah dua Pulau Tunda Sing Maliki sekarang kelas V dan Wandi Kelas II. Maliki cukup pintar dengan nilai UKK peringkat 9 dikelasnya