Monday, January 29, 2007

SBY dan Sutrisno


Sutrisno tampak berapi-api bicara tentang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presidennya kini. Betapa ia bangga punya kesamaan dengan SBY. Diantara kemiripan itu sama-sama punya nama yang diawali dengan “Su”. Menurut lelaki yang biasa disapa Tris ini, “Su” artinya baik dan indah.

Sayangnya awalan “Su” lebih cocok disandang SBY ketimbang Sutrisno. Kalah tampan. Pun, Trisno tak minder meski beda nasib, kalah wajah. Ia tetap merasa punya kesamaan dengan SBY, yakni sama-sama lahir di Pacitan, Jawa Timur. Wilayah yang masuk kategori minus.

Sebulan lalu, Sutrisno meninggalkan desanya di Worawari, Kebonagung, Pacitan untuk mencari nafkah di Jambi. Padahal istrinya tengah hamil tua. Tetapi di Worawari yang masuk kategori desa miskin, tak cukup mencukupi kebutuhan hidup hanya mengandalkan tani. Rezeki rasanya lebih dekat jika dicari di tanah rantau.

Di Pacitan dan kabupaten tetangganya seperti Trenggalek, lahan desa nyaris tak dapat mendongkrak ekonomi. Hanya cukup untuk memenuhi asupan nasi tiwul. Jika ingin nikmat sedikit dengan nasi beras, merantau ke Jakarta, Sumatera, Kalimantan, dan jadi TKI keluar negeri sudah keniscayaan. Itupun jika beruntung dan tak ditipu.

Banyak kasus penipuan di desa. Saking lugunya, sebagian masyarakat kerap terkecoh oleh oknum penyalur tenaga kerja. Mereka beroperasi di desa-desa seperti di Pacitan tempat SBY lahir. Untuk bisa menjadi TKW, mereka rela menjual sawah dan ladang. Setelah uang disetor ke agen, banyak yang gagal berangkat. Kalau toh jadi terbang keluar negeri kadang hasil yang dikumpulkan tak sepadan. Saat pulang ke kampung halaman banyak yang malah tambah susah.

Ironisnya, orang desa yang lugu selalu berkaca pada contoh dan “kata orang”. Ada satu atau dua orang yang mampu membangun rumah dari hasil TKI misalnya, akan menyebarkan virus keirian. Mereka percaya di luar negeri amat mudah menumpuk dolar. Apalagi jika si TKI yang mujur itu mengumbar cerita muluk. Mereka akan tambah semangat menyusul jejak pendahulunya. Hidup di desa dalam kondisi miskin memang penuh dilema.

Sutrisno satu dari sekian banyak orang desa lugu yang ditipu. Belitan ekonomi membuat mitra Masyarakat Mandiri (MM) ini, tergoda tawaran calo pencari kerja. Ia ditawari kerja kontrak empat bulan di sebuah perusahaan kayu di Jambi. Lantaran tergiur, Trisno membiayai keberangkatannya dengan utang. Malang tak dapat ditolak. Belum genap empat bulan, perusahaan ditutup. Pemiliknya kabur. Trisno dan 40 orang temannya pulang kembali ke Pacitan tanpa hasil.

Di Jambi Trisno dkk sempat mau menggugat hak-haknya. Tetapi niat itu urung lantaran tak ada dukungan dana. Mereka mafhum, tak ada yang gratis untuk orang miskin di negeri ini. Kini di desanya, Worawari, Sutrisno kembali ke habitatnya sebagai pekerja serabutan. Bertani di lahan sempit, nderes Nira, dan blantik apa saja yang halal dan bisa dijual.

Sutrisno, satu dari jutaan mustahik (orang miskin) yang kerap terampas hak-haknya. Di desa dikibuli, di perantauan diakali, karena keluguan dan kejujurannya. Orang-orang pintar banyak berkeliaran di desa-desa mencari mangsa. Dengan mengobral janji dan harapan mereka tega menambah sulit kehidupan mustahik. Praktik ini amat mudah ditemui seperti di tempat-tempat jasa penyalur tenaga kerja.

Sutrisno, tak perlu berkecil hati. Meski tak semujur SBY, ia masih punya “Su” sebagai makna yang diyakini punya arti kebaikan dan kebagusan. Ia telah membuktikan sebagai bendahara kelompok mitra MM yang amanah dan bertanggungjawab. “Mas Tris seorang mitra kita yang baik, bagus, dan amanah”, tandas Rudi, pendamping MM di Pacitan.

Beda memang dengan awalan “Su” pada SBY. “Su” telah mewujud dalam prilaku anggun yang selalu menebar pesona. Hmm… heri/arsawening

No comments: