Friday, April 04, 2008

Dari Beras Hingga Pisang Rebus

Perlahan, matahari tenggelam di ujung barat Flores. Dari utara, Kapal Armada Bahari Mulia yang mampu mengangkut 15 ton muatan, merapat ke pelabuhan Pulau Adonara. Kapal kayu itu, dimuati biji mente dari Alor. Setelah bersandar, lima awak kapalnya turun. Mereka singgah sejenak di Desa Adonara, Kelubagolit, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kampung halaman mereka.


Pelayaran itu, dipimpin Arifudin Anwar. Ia salah seorang aktivis sosial di Adonara, yang mengelola pendidikan gratis, jenjang SMP dan SMA. Murid-muridnya, datang dari Maumere, Larantuka, Lembata, dan Alor. Mereka dari keluarga tidak mampu. Karena jarak kampung halaman mereka yang jauh, Arifudin membangunkan asrama sederhana untuk mereka tinggal.

Malam itu, ia si
nggah sejenak di rumah untuk menemui anak istri dan murid-muridnya. Ia perlu waktu empat jam, untuk bercengkerama dengan anak didiknya. Kemudian ia akan melanjutkan pelayaran, menuju Maumere untuk menjual mente.

Di dalam ruang tamu yang sederhana, istri Arifudin memanggil murid murid yang tengah belajar di dalam bilik asrama, untuk kumpul. Terdapat 69 murid SMP dan 25 murid SMA, yang sekolah di Yayasan Ikhwatul Mukminin itu. Dalam temaram penerangan lampu petromak, Arifudin bersila di hadapan anak muridnya. Tak ketinggalan, lima anak kandungnya sendiri
juga duduk berbaur dengan mereka.

“Selama ustad pergi, kata Ibu, kalian nakal ya”, kata Arifudin memecah keheningan. Anak-anak yang semula menund
uk, kaget. Mereka mendongak serentak menjawab.

“Tidak Pak Ustad!”

“Kalian makan apa hari ini?” Arifudin menyelidik.

“Alhamdulillah, masih bisa makan pisang dan ikan asin Ustad”, celetuk Ismail mewakili teman-temannya. I
a murid kelas dua SMA yang berasal dari Alor.

“Ismail! Kamu dapat salam dari mama kamu. Dia pesan, kamu tidak boleh nakal di sini. Belajar yang rajin”, tandas Arifudin. Di Alor, Arifudin menjumpai orang tua Ismail, untuk mengabarkan keadaan anaknya di sekolah. Demikian juga jika ia pergi ke Lembata, Maumere, dan Larantuka. Arifudin selalu menyempatkan bertandang ke rumah para orang tua murid. Mereka senang, tiap dapat kabar anak-anaknya sehat dan naik kelas.

“Anak-anak, malam ini saya akan melanjutkan perjalanan. Saya pesan, kalian belajar yang benar, jangan nakal. Selama saya pergi hanya ibu (istri Arifudin) yang mengawasi kalian. Jangan kecewakan guru guru
yang sudah bimbing kalian”, wasiat Arifudin, didengarkan seksama para muridnya.

Hampir dua jam, Arifudin ber
tukar pikiran dengan anak asuhnya. Ia selalu membagi pengalamannya, menempuh perjalanan dari pulau ke pulau. Dibaginya kabar orang tua mereka di kampung halaman yang hidupnya sulit. Hikmah dan nasehat selalu tersemat.

“Saya tidak menuntut apapun dari kalian. Kalian tidak perlu pikirkan bagaimana biaya sekolah. Saya hanya minta kalian ganti dengan semangat belajar. Apa yang saya makan, itulah yang kalian makan. Saya tidak beda-bedakan di antara kalian”, nasehatnya.

Pertemuan mendadak seperti itu, kerap dilakukan Arifudin untuk melihat perkembangan anak muridnya. Ia sendiri, hari-harinya sibuk untuk mendampingi masyarakat dan berdagang. Sementara, untuk belajar mengajar, ada tujuh guru yang mengajar di sekolah itu. Di antaranya, istri dan adiknya.

Meski sekolahnya be
rdiri serba sederhana, tapi muridnya berasal dari empat Kabupaten di Flores Timur. Semua berasal dari keluarga miskin. Mereka tinggal di bilik bilik sederhana di sekitar sekolah, berdekatan dengan rumah Arifudin. Bilik itu diberi dinding gedhek dengan atap ilalang.

Mencukupi kebutuhan hidup 94 anak, tidak mudah. Arifudin harus bekerja keras. Selain dari usaha berdagang,
ia memanfaatkan hasil bumi yang tumbuh di atas lahan warisan orang tuanya, untuk mendukung operasional sekolah.

Bulan Agustus hingga September, Adonara memasuki musim paceklik. Stok jagung dan beras akan menipis. Dalam keadaan begini, Istri Arifudin dituntut kreatif. Agar anak anak tidak kelaparan, ia memanfaatkan pisang untuk penggan
ti beras dan jagung. Diolahnya pisang itu, dengan sedikit lauk ikan teri asin, sayur jantung pisang, daun singkong, dan rebung. Menu itu, ia gonta ganti agar selera makan anak-anak tak menurun.

Hidup di gugusan kepulauan Flores, umumnya memang sulit. Wilayah NTT, hampir rutin mengalami tiga musim hujan, dan sembilan musim kemarau. Kala hujan, curahnya rendah dan tidak merata. Meski hidup dalam kondisi alam yang demikian keras, Arifudin selalu menekankan anak muridnya untuk tidak menyerah. Ia berpesan, agar hidup yang selalu sulit menjadi tungku api menatah masa depan.

“Hanya kalian yang dapat mengubah nasib kalian. Lihatlah mama dan bapak kalian, hidupnya susah sampai sekarang. Lihat juga adik adik kamu, di pundak kalian harapan itu mereka tunggu”, lecut Arifudin, dalam.

Sekolah itu, didirikan pada 2002. Biaya pembangunan dan operasionalnya, sebagian bantuan dari donatur. Kondisi ekonomi murid yang sulit, tak memungkinkan sekolah memungut biaya pendidikan. Apalagi, seman
gat sekolah anak-anak di sana tergolong rendah.

Selepas pertemuan itu, Arifudin pamitan. Anak muridnya berduyun duyun mengantar, sampai ujung desa di tepi pantai. Dalam temaram petromak, anak-anak bersalaman. Mereka akan jumpa lagi, lima hari kemudian. Arifudin bersama anak buahnya, menarik jangkar. Kapal perlahan melaju, menuju Maumere. Menjelang sore, biasanya kapal baru sampai.

Di ujung desa menghadap laut Flores, anak anak menadahkan tangan, mendongak ke langit. Mereka tampak khusu berdoa. Semoga sang guru selamat. Diam diam, mungkin ada yang membatin, agar ustad pulang membawa beras. Tapi tanpa itu, mereka toh tetap semangat. Rumusnya perut terisi. Pisang rebus, cukup sudah membuat kenyang.

No comments: