Tuesday, December 19, 2006

Mustahik Gusung Pandang


Terik matahari memanggang kampung Gusung Pandang, Pulau Koja, Sikka, Nusa Tenggara Timur. Alamnya kering dan gersang. Musim kemarau begini bukan saja bahan makanan yang sulit. Air minum juga langka. Bertahun-tahun kondisi yang demikian keras terjadi. Selalu berulang tiap tahunnya. Mengandalkan musim tanam ladang dengan pengairan air hujan sekali setahun membuat potret kemiskinan makin nyata.

Zaidun (58), seorang kepala kampung Gusung Pandang mengisahkan. Musim kemarau begini paceklik amat mencekik. Hasil tanam di ladang delapan bulan lalu tak mencukupi untuk kebutuhan makan hingga musim penghujan tiba. Kelakar Zaidun, “Kami sama hewan itu sama, yang membedakan kami manusia dia binatang. Kalau nasib sama-sama hidup tinggal menunggu maut. Tak ada hal lain yang bisa kami harap”. Namun kata Zaidun, hidup mesti berlanjut. Sebuah keluarga harus bertahan tak boleh menyerah oleh tempaan kekeringan. Maka melihat denyut hidup mereka, kita akan mendapati sebuah semangat hidup yang hebat.

Tanah yang retak karena kepanasan, coba digali jika ada terselip ubi-ubian di dalamnya. Pengharapan lain pada buah pisang yang direbus sebagai pengganti makanan pokok. Biasanya jagung. Itupun stoknya sudah habis. Amat rumit mendiskripsikan bagaimana mereka tetap survive. Apalagi tinggal di pulau yang jauh dari fasilitas umum menambah keadaan makin memprihatinkan. Tidak ada transportasi darat kecuali jalan kaki. Menggunakan jalur laut sudah tentu perlu biaya. Apalagi harga BBM sangat besar dampaknya.

Menyusuri pulau-pulau terpencil di wilayah timur, sekilas yang tampak keindahan lautnya. Kegersangan daratan terbiaskan pemandangan bawah laut nan menawan. Kitapun berdecak. Betapa luas samudra nusantara ini. Sungguh melimpah ruahnya kekayaan laut negeri ini. Logikanya, tidak ada mestinya orang miskin apalagi sampai sulit makan. Mereka bisa memanfaatkan sumber daya laut yang kaya itu.

Bagi sebagian masyarakat yang tinggal di pesisir, laut memang bisa jadi pengharapan. Tetapi sebuah pulau juga dihuni manusia lain di dalamnya. Tak semuanya punya bakat jadi pelaut. Yang tinggal di daratan telah menemukan hidupnya dengan bekerja sebagai petani. Meski hasil panen yang dipetik hanya setahun sekali. Jika memaksa mereka melaut sama halnya menyuruhnya menjemput maut. Sebaliknya, orang pesisir seperti Suku Bajo jika dipaksa ke darat pasti mereka sulit hidup. Maka tinggal di atas air laut bagi Suku Bajo adalah ketenangan dan kenyamanan. Sementara bagi orang daratan itu amat menakutkan.

Semua sudah ada dunianya sendiri-sendiri. Tantangannya kini bagaimana membuat sinergi darat dan pesisir. Dapatkah hasil laut menjadi subsidi memenuhi kebutuhan hidup masyarakat daratan selama musim paceklik begini. Itu juga tidak mudah. Karena hasil pertanian dari daratan tidak cukup mampu menjadi barter. Buah berladang berbulan-bulan itu mayoritas untuk simpanan menyongsong masa kemarau. Akhirnya posisi tawar petani di pulau terpencil yang curah hujannya rendah menjadi lemah.

Cerita ini baru sebatas persoalan memenuhi kebutuhan perut. Pendidikan sudah pasti jauh panggang dari api. Lantas bagaimana dengan akidahnya? Ibrahim (45) seorang ustad di sana mengungkapkan statementnya yang membuat bulukuduk kita berdiri. “Kami minoritas di sini yang hidup banyak susahnya. Jarang ada yang kuat untuk mengembangkan dakwah di daerah minus dan keras masyarakatnya ini. Jangan terkejut jika berlahan-lahan Islam akan tinggal nama saja di sini”.

Bukan gertakan Ibrahim berkata. Melihat geliatnya, ada sebuah kondisi kepepet yang dapat menggiring itu menjadi kenyataan. Dan jika itu terjadi, kita lantas latah akan selalu kebakaran jenggot. Marah dan menyalahkan mengapa mereka tidak setia pada agamanya.

Memihak Lokal Melihat kondisi yang demikian pelik. Perlu mengutak-atik program apa yang sesuai untuk membantu menembus jalan buntu itu. Agar di musim paceklik begini keperihan hidup dapat tersembuhkan. Sejak beberapa tahun lalu Baznas Dompet Dhuafa sudah masuk ke wilayah tak terjamah ini melalui program Tebar Hewan Kurban (THK). Namun THK baru sebatas oase di tengah gurun tandus yang panas. Hadir setahun sekali. Membuat sekadar mesem kecut dan penyampai pesan bahwa saudara di belahan lain Indonesia masih peduli dan empati.

Harus ada program jangka panjang yang dapat mensinergikan peran dakwah, kemandirian, dan pemberdayaan ekonomi. Itulah mengapa Kapal Laut berkapasitas 30 ton hari ini berlayar dari pulau ke pulau di Flores. Dengan fasilitas kapal ini ada 18 pulau di kepulauan Flores disinggahi dan didampingi. Kapal berbendera Baznas Dompet Dhuafa ini menjadi penghubung silaturahim dan menebarkan manfaat serta amanah zakat, infak, dan sedekah.

Sebagaimana yang sudah berjalan saat ini, kapal dioperasionalkan lembaga lokal yang punya visi dakwah dan ekonomi. Mereka didorong menjadi pemain bisnis lokal yang membela kepentingan masyarakat. Untuk mensuplai kebutuhan pokok di 18 pulau terpencil itu misalnya, kapal membawa beras yang diambil langsung berlayar dari Makasar. Kapal juga mengangkut hasil laut dan pertanian masyarakat dari pulau-pulau itu untuk dipasarkan di pusat kota maupun antar pulau.

Selama ini baik hasil laut maupun bumi di Indonesia Timur sebagaian besar ditadah langsung saudagar luar negeri. Transaksi terjadi di atas laut. Masyarakat asli dibuat tak berdaya memasarkan hasil alamnya lantaran tidak punya sarana transportasi. Dalam kondisi alam yang jauh dari fasilitas umum, masyarakat dibuat tak berdaya. Menyerah pada harga yang dipatok saudagar asing. Akhirnya hasil perasan peluh masyarakat hanya mampu untuk kebutuhan makan sehari. Tak dapat belanja lebih apalagi menabung.

Direktur Program Baznas Dompet Dhuafa, Kusnandar dalam salah satu misi programnya untuk Indonesia Timur menegaskan, akan melahirkan saudagar-saudagar lokal yang berpihak pada musathik. Namun ia mengakui, selama ini kendala terbesar yang dihadapi, sulitnya mencari mitra yang punya etos dan semangat mujahid. Padahal Indonesia Timur yang kaya potensi alam memerlukan SDM yang tangguh. Dalam berbagai kasus, program bisnis mitra kerap gagal karena belum mampu menyandingkan dengan visi bisnis dengan visi sosial.

Tidak dapat dielak, kondisi minus masyarakat Indonesia Timur perlu advokasi dan perhatian khusus. Kapal-kapal besar berbendera asing yang leluasa berlayar melalui derasnya arus laut di perairan Indonesia Timur, perlu diselingi kapal-kapal lokal yang berpihak pada masyarakat asli. Meski belum terlalu berarti, namun langkah berani memulai bisa dapat nilai tertinggi dari sekadar habiskan energi di meja diskusi.

Kapal sudah berlayar. Meski baru satu namun jelajahnya menembus pelosok yang tak pernah kita tengok. Hasil alam antar pulau dampingan mulai saling ditukar. Jual beli secara syariah menjadi prinsip transaksi. Melihat tingkat kemanfaatannya, perlu ada lebih dari 10 kapal untuk Indonesia Timur yang dikelola dengan tepat. Menjadi sarana transportasi dan distribusi hasil alam yang murah dan berpihak. Juga menyambung hidup lebih baik bagi masyarakat Indonesia Timur di kala paceklik.

No comments: